Di Kekaisaran Aetherion, takdir bukan sesuatu yang bisa ditolak—ia diwariskan seperti mahkota dan pedang.
Namaku Yin Ruoxi, putri bangsawan dari wilayah selatan. Sejak usia tujuh belas, aku telah dijodohkan dengan Putra Mahkota Aetherion, Pangeran Shen Zhaoming. Semua orang menyebutnya kehormatan tertinggi. Keluargaku bangga. Rakyat bersorak saat pertunangan diumumkan.
Namun tak seorang pun bertanya.
Apakah aku menginginkannya?
Apakah aku mencintainya?
Pangeran Shen Zhaoming adalah pria yang di hormati sekaligus ditakuti. Panglima perang termuda dalam sejarah kekaisaran, dingin, disiplin, dan jarang tersenyum. Pertemuan kami selalu singkat—berjalan di taman istana dengan pengawal mengikuti dari jauh, atau duduk minum teh dalam percakapan formal yang kaku.
"Apa kabarmu hari ini?"
"Baik."
"Itu bagus."
Hanya itu.
Aku mencoba memahami dunianya. Aku mempelajari strategi militer agar bisa berbicara tentang peperangan. Aku membaca laporan wilayah agar bisa berdiskusi tentang politik. Aku belajar tata krama permaisuri dan sejarah dinasti Aetherion.
Aku berusaha menjadi wanita yang pantas berdiri di sisinya.
Namun setiap kali ia kembali dari perbatasan dengan zirah berlumur darah dan tatapan lelah, jarak di antara kami terasa makin lebar. Ia selalu datang larut malam, saat aku sudah tertidur karena menunggu terlalu lama.
Aku mulai berpikir... mungkin ia tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan ini.
Dan jika begitu, mengapa aku harus memaksakan diri?
~☆~☆~☆
Keputusan itu datang pada malam musim gugur ketika angin membawa aroma dedaunan kering ke balkon kamarku.
Aku melepas cincin pertunangan dan meletakkannya di atas meja. Tidak ada surat. Tidak ada penjelasan.
Jika aku harus pergi, biarlah aku pergi sebagai diriki sendiri—bukan sebagai calon permaisuri.
Aku melarikan diri saat Pangeran Shen Zhaoming berada di perbatasan utara. Dengan bantuan sedikit tabungan dan pakaian sederhana, aku meninggalkan Aetherion menuju kerajaan magis di barat: Lunareth.
Lunareth dikenal sebagai negeri para penyihir. Hutan-hutannya bercahaya saat malam, dan udara di sana dipenuhi bisikan sihir yang lembut. Tak seorang pun mengenal wajahku. Aku mengganti namaku menjadi Su Chenxy dan bekerja sebagai asisten seorang penyihir wanita bernama Mo Yueling.
Hidupku sederhana. Aku meracik ramuan, mengatur buku mantra dan membersihkan ruang kristal tempat Mo Yueling membaca pertanda langit. Tidak ada politik. Tidak ada tekanan mahkota.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bernapas dengan bebas.
Namun kebebasan tidak pernah benar-benar aman bagi seseorang yang pernah berdiri di bawah sorotan istana.
~☆~☆~☆
Sampai suatu malam, langit lunareth terbelah oleh cahaya hitam.
Lingkaran sihir terbuka di halaman rumah tempatku tinggal. Seorang pria berjubah gelap turun dari pusaran sihir, matanya menyala merah seperti bara.
Utusan kekaisaran.
"Akhirnya aku menemukanmu, Putri Yin Ruoxi," katanya ringan.
Jantungku membeku. "Aku bukan siapa-siapa lagi."
"Istana gempar," lanjutnya. "Pelarianmu menjadi skandal. Ada rumor bahwa kau kabur dari seorang kekasih."
"Itu bohong!"
Ia tertawa pelan. "Yang Mulia Pangeran Shen Zhaoming tidak terlihat senang."
Kata-katanya menusuk aneh di dadaku.
Sebelum sempat melarikan diri, lingkaran sihir mengurungku. Dunia berputar dan kesadaranku menghilang.
~☆~☆~☆
Saat terbangun, aku berada di kamar luas yang bergoyang perlahan. Tirai sutra putih bergerak tertiup angin laut.
Kami berada di kapal perang Aetherion.
Aku belum sampai di ibu kota. Masih ada kesempatan.
Saat fajar menyingsing, aku menyelinap keluar kamar dan menemukan pedang pendek di dalam peti. Tanganku gemetar, tetapi tekadku lebih kuat. Aku tidak akan kembali hanya untuk menjadi simbol kosong.
Aku hampir berhasil menurunkan sekoci ketika riang di depanku terbelah oleh retakan cahaya biru.
Seseorang menarikku.
Aku memejamkan mata, bersiap menghantam dek kayu.
Namun yang kurasakan hanyalah sepasang lengan kokoh menangkap tubuhku.
Aroma logam dan angin musim dingin memenuhi indra.
Aku mengenal aroma itu.
Perlahan, aku membuka mata.
Pangeran Shen Zhaoming menatapku dari jarak yang begitu dekat hingga aku bisa melihat kelelahan di garis wajahnya.
"Tunangan yang keras kepala," ucapnya pelan.
"Bahkan laut pun tak bisa menghentikanmu."
"Lepaskan aku," bisikku.
Ia tidak melakukannya.
"Siapa pria itu?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa?"
"Pria yang membuatmu kabur."
Aku menatapnya tak percaya. "Tidak ada siapa-siapa."
"Kau meninggalkan surat."
"Aku tidak pernah menulis surat apa pun."
Keheningan menegang di antara kami. Angin laut menerpa rambutku.
“Aku pergi,” kataku akhirnya, “karena kupikir kau tidak menginginkan pernikahan ini. Aku hanyalah beban politik bagimu.”
Tatapannya berubah.
"Siapa yang memberimu izin untuk memutuskan itu sendiri?" suaranya rendah, tertahan.
Aku terdiam.
“Aku bersedia jika kau ingin memiliki selir,” lanjutku pelan. “Aku tidak ingin mengikatmu secara egois. Jika kau mencintai wanita lain, aku akan melepaskanmu.”
Ekspresinya mengeras, bukan marah—melainkan terluka.
"Berbagi?" ulangnya pelan. "Kau pikir aku akan membagikan calon permaisuriku?"
Aku tak mampu menjawab.
“Aku menjaga jarak,” katanya lebih lembut, “karena aku tidak ingin kau melihatku kembali dari perang dengan darah di tubuhku. Aku ingin kau mengingatku sebagai pria yang layak, bukan monster medan perang.”
Jantungku bergetar.
“Setiap malam aku datang ke kamarmu setelah kau tertidur. Aku hanya… tidak tahu bagaimana berbicara denganmu.”
Kata-katanya membuat seluruh dinding yang kubangun runtuh.
“Aku takut,” bisikku. “Kupikir kau tidak pernah menganggapku penting.”
Tangannya terangkat, menyentuh pipiku dengan hati-hati, seolah aku sesuatu yang rapuh.
"Aku mencarimu ke setiap wilayah,” katanya. “Jika benar ada pria yang membawamu pergi, aku akan menghancurkan seluruh kerajaan untuk menemukannya.”
Air mataku jatuh.
"Aku tidak punya kekasih," ucapku pelan. "Tapi... aku menyukaimu sejak awal."
Untuk pertama kalinya, ia tersenyum tipis.
"Kalau begitu," katanya, "izinkan aku membuatmu menyukaiku lebih dari itu."
Ia mendekat perlahan, memberi waktu bagiku untuk mundur jika ingin. Namun aku tidak melakukannya.
Ciumannya lembut—bukan perintah seorang pangeran, melainkan pengakuan seorang pria yang akhirnya jujur.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku setiap hari," katanya pelan di dahiku.
Aku tersenyum.
"Kurasa kau sudah melakukannya."
Aku memeluknya, merasa detak jantungnya yang kuat di balik seragam militer.
"Aku tidak akan membagimu pada siapa pun," bisiknya di dahiku. "Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi tanpa penjelasan."
Aku tersenyum di antara air mata.
"Kalau begitu jangan buat aku merasa sendirian lagi."
Tidak akan," jawabnya mantap.
~☆~☆~☆
Kami kembali ke Aetherion bukan sebagai dua orang yang terikat takdir, melainkan sebagai dua hati yang memilih untuk tetap tinggal.
Istana masih megah. Mahkota masih berat. Politik masih kejam.
Namun kali ini, aku tidak berdiri sendirian.
Kadang cinta tidak gagal karena takdir yang salah, melainkan karena dua orang yang terlalu kuat untuk berbicara.
Dan di antara tahta dan hati, kami akhirnya memilih keduanya.
End-
- Cinta Penuh Perbedaan—GC Rumah Menulis