Hari itu seharusnya menjadi hari biasa bagi Bima.
Bangun kesiangan.
Kehabisan sabun.
Dan dosen mengirim pengumuman tugas tambahan.
Ia berjalan keluar kos dengan wajah setengah sadar, otak masih sibuk memikirkan hidupnya yang terasa seperti bug tanpa patch update.
“Ah… beli bakso dulu lah,” gumamnya.
Ironisnya, itulah keputusan terakhirnya sebagai manusia versi lama.
Saat menyeberang jalan sambil menatap ponsel, tiba-tiba—
BRAK!
Sebuah gerobak bakso meluncur tanpa kendali. Bukan dramatis seperti di film — lebih seperti kekacauan roda berdecit, panci bergetar, dan tukang bakso berteriak:
“REMNYA NGGAK MAKAN!”
Dunia Bima gelap.
---
Ketika membuka mata, ia tidak melihat rumah sakit.
Tidak ada malaikat bersayap.
Tidak ada cahaya surgawi.
Yang ada hanya ruangan seperti kantor pelayanan publik.
Nomor antrian berkedip:
A-108 — Silakan ke loket 3
Seorang pria berkacamata duduk di balik meja.
“Nama?”
“Bima… saya di mana?”
Petugas mengetik.
“Penyebab kedatangan: tertabrak gerobak bakso. Hmm… klasik.”
“KLASIK?!”
“Ya. Tahun ini sudah 14 kasus.”
Petugas menyerahkan formulir.
“Silakan pilih paket reinkarnasi.”
Di kertas itu tertulis:
1. NPC toko alat tulis
2. Kucing rumahan rebahan
3. Pahlawan dunia fantasi level 1
4. Jadi manusia lagi (tanpa bonus apa pun)
Bima menatap kosong.
“Ini serius?”
Petugas mengangkat bahu.
“Sistem.”
Akhirnya ia memilih opsi nomor tiga. Setidaknya terdengar keren.
---
Bima membuka mata lagi.
Ia berdiri di padang rumput luas. Langit biru cerah. Kastil megah di kejauhan.
“YES. Isekai moment.”
Sebuah suara muncul di kepalanya:
> Selamat datang, Pahlawan Terpilih!
Bima tersenyum penuh percaya diri.
“Status window!”
Layar transparan muncul:
Level: 1
Kekuatan: Rata-rata
Skill: Memanaskan Mie Instan
Senjata Awal: Sendok Kayu
“… Ini bercanda kan?”
Seekor slime kecil mendekat.
Ia mencoba menyerang.
Sendoknya patah.
Ia kalah dari slime.
---
Beberapa hari kemudian, ia sadar sesuatu:
Tidak ada musik epik
Tidak ada montage latihan
Dan baju zirah mahal sekali
Akhirnya ia bekerja di kedai sup desa.
Aneh tapi nyata — skill memanaskan mie instan ternyata berguna. Supnya terkenal enak. Pelanggan berdatangan.
Suatu malam ia duduk memandang langit.
“Jadi… aku mati ketabrak gerobak, bereinkarnasi, lalu jadi tukang sup.”
Ia tertawa sendiri.
“Ya sudahlah. Setidaknya sekarang nggak ada tugas tambahan.”
---
Suatu hari pelanggan baru datang.
Mendorong gerobak makanan.
Bima menatap lama.
Penjual itu berkata santai,
“Mas, sup satu ya.”
Bima berkedip.
“Kenapa saya merasa trauma…”
Langit senja memerah.
Hidupnya tidak epik. Tidak heroik.
Tapi cukup lucu untuk dijalani.
Dan untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi, Bima menerima satu kebenaran sederhana:
Kadang takdir tidak menjadikanmu pahlawan dunia.
Kadang hanya memberimu kesempatan kedua.