Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Arga duduk sendirian di bangku taman kampus. Suara kendaraan di kejauhan bercampur dengan desau angin yang membawa aroma tanah basah. Ia tidak benar-benar memperhatikan sekitarnya — pikirannya sibuk menelusuri perubahan kecil yang akhir-akhir ini terasa semakin nyata.
Naila tidak lagi seperti dulu.
Dulu, setiap pagi selalu ada pesan sederhana:
“Jangan lupa sarapan.”
Atau malam hari:
“Udah istirahat belum?”
Sekarang percakapan mereka terasa seperti tugas — singkat, seperlunya, tanpa kehangatan yang biasa ia rasakan.
Arga membuka galeri ponselnya. Foto-foto lama muncul: mereka di perpustakaan, mereka tertawa di kantin, mereka berpose canggung di depan gedung fakultas. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Ia mengenal kebiasaan kecil Naila — cara ia mengerutkan hidung saat berpikir, atau bagaimana ia selalu memesan minuman yang sama.
Karena itu Arga sadar… sesuatu telah berubah.
---
Pertemuan yang Tak Direncanakan
Hari ketika semuanya mulai terasa nyata terjadi tanpa rencana.
Arga mampir ke kafe dekat perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Saat membuka pintu, ia langsung melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Naila.
Ia duduk di sudut ruangan bersama Reno — teman satu organisasi mereka. Tidak ada yang salah dengan duduk bersama teman, tentu saja. Tapi cara mereka berbicara — santai, dekat, penuh tawa — membuat Arga berhenti melangkah.
Ia berdiri beberapa detik.
Hatinya seperti ditarik antara ingin mendekat atau pergi.
Pada akhirnya, ia memilih keluar tanpa menyapa.
Sepanjang jalan pulang, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan.
---
Sahabat dan Keraguan
Malam itu Dimas datang ke kos Arga.
“Lo keliatan kayak habis kehilangan dompet,” katanya sambil membuka bungkus gorengan.
Arga tersenyum hambar. “Kalau cuma dompet, gampang gantinya.”
Ia akhirnya bercerita. Tidak berlebihan, hanya fakta-fakta sederhana.
Dimas mendengarkan tanpa menyela.
“Gini,” katanya akhirnya. “Jangan langsung berasumsi. Tapi juga jangan pura-pura nggak ngerasa apa-apa.”
Arga mengangguk. Itu nasihat yang masuk akal — tapi tetap sulit dilakukan.
---
Jarak yang Pelan-Pelan Membesar
Hari berganti minggu. Percakapan Arga dan Naila semakin jarang. Kadang pesan baru dibalas berjam-jam kemudian. Kadang pembicaraan berhenti di tengah jalan.
Sementara itu, Arga sering melihat Reno dan Naila bersama di kegiatan kampus. Tidak ada yang terang-terangan, tapi cukup membuat hatinya berat.
Ia mencoba fokus pada kuliah, tugas, dan organisasi. Namun setiap malam, pikiran itu kembali.
Apakah ia hanya terlalu cemburu?
Atau memang ada sesuatu yang sedang berubah?
---
Percakapan yang Tak Terhindarkan
Suatu sore, Naila mengirim pesan.
> Kita ketemu sebentar ya. Aku mau ngobrol.
Mereka bertemu di bangku kayu di bawah pohon flamboyan — tempat yang dulu sering mereka datangi.
Naila tampak gugup. Tangannya saling menggenggam.
“Aku nggak mau bohong sama kamu,” katanya pelan. “Akhir-akhir ini aku banyak cerita sama Reno… dan aku sadar perasaanku berubah.”
Arga tidak langsung bereaksi. Kata-kata itu seperti gema di kepalanya.
“Berubah… gimana?”
Naila menunduk.
“Aku nggak yakin bisa lanjut seperti dulu.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Arga merasa dadanya sesak, tapi ia menahan diri. Tidak ada gunanya marah. Tidak ada kata yang bisa memaksa hati seseorang kembali.
“Aku ngerti,” katanya akhirnya. “Kalau itu yang kamu rasain.”
Air mata tipis terlihat di mata Naila. “Maaf…”
Arga hanya mengangguk. Lalu berdiri, berjalan pergi dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.
---
Hari-Hari Setelahnya
Putusnya hubungan itu tidak langsung membuat segalanya selesai.
Arga masih terbiasa membuka chat mereka. Masih ingin mengirim pesan tentang hal-hal kecil. Tapi ia menahan diri.
Ia mulai mengisi waktunya dengan hal lain — olahraga pagi, membantu proyek kelompok, bahkan ikut lomba coding kecil yang sebelumnya ia abaikan.
Suatu malam Dimas berkata,
“Lo kelihatan beda sekarang.”
“Beda gimana?”
“Lebih capek… tapi juga lebih kuat.”
Arga tertawa kecil. Mungkin benar.
---
Pertemuan Tak Sengaja
Beberapa bulan kemudian, Arga bertemu Naila lagi di perpustakaan. Tidak ada Reno, tidak ada suasana canggung berlebihan — hanya dua orang yang pernah saling dekat.
Mereka berbincang sebentar. Tentang kuliah. Tentang kegiatan.
Tidak ada penyesalan besar yang diucapkan. Tidak ada konflik.
Hanya penerimaan.
Saat mereka berpisah, Arga menyadari sesuatu:
Kenangan tidak harus dilupakan —
cukup disimpan sebagai bagian dari perjalanan.
---
Senja yang Baru
Suatu sore Arga kembali duduk di taman yang sama. Langit masih berwarna jingga, tapi rasanya berbeda.
Ia tidak lagi menunggu pesan.
Ia tidak lagi mengulang-ulang pertanyaan lama.
Ia hanya menikmati angin sore — dan rasa damai yang datang pelan-pelan.
Hidup, ia sadar, bukan tentang mempertahankan semua yang datang.
Kadang tentang belajar melepaskan — dan tetap melangkah.
Dan saat matahari tenggelam di ufuk barat, Arga berdiri, memasukkan tangan ke saku, lalu berjalan pulang.
Untuk pertama kalinya sejak lama, langkahnya terasa ringan.