"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: BISIKAN YANG TERSESAT
Menjadi Penjaga Gerbang ternyata bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi soal ketahanan mental yang terus dikikis. Setiap kali aku mengayunkan belati bayangan itu untuk memutus rantai jiwa lain, aku merasa ada bagian dari kemanusiaanku yang ikut terkelupas. Namun, setiap kali aku kembali ke kamar rawat Kinaya dalam wujud "angin", semua rasa bersalah itu seolah menguap, digantikan oleh candu kasih sayang yang sangat berbahaya.
Malam ini adalah malam ketiga aku menjalankan tugas. Tugasku kali ini relatif mudah: mengusir bayangan-bayangan lapar yang berkumpul di ventilasi rumah sakit. Mereka bukan hantu, hanya gumpalan emosi negatif yang ingin menghisap energi kehidupan dari pasien yang sedang lemah. Setelah tugas selesai, aku langsung menggunakan hak satu jamku.
Aku muncul di sudut kamar. Kinaya sudah tidak lagi memakai alat bantu napas yang rumit. Wajahnya mulai kembali merona, tanda kehidupan sudah mengalir deras di pembuluh darahnya. Di sampingnya, Rina sedang membereskan pakaian ke dalam tas. Sepertinya mereka akan segera diizinkan pulang ke rumah.
"Kinaya, besok kita pulang ke rumah ya, Sayang," ucap Rina lembut.
"Rumah yang ada boneka beruangnya itu ya, Bu?" tanya Kinaya polos.
Rina terhenti sejenak, tangannya gemetar memegang baju Kinaya. "Iya. Tapi nanti bonekanya kita cuci dulu ya, biar bersih."
Aku mendekat, berdiri tepat di antara mereka berdua. Aku bisa merasakan kehangatan tubuh Rina yang sangat kurindukan. Ingin sekali aku membisikkan bahwa aku ada di sini, bahwa aku yang menjaga Kinaya setiap malam dari gangguan penghuni Niskala. Tapi aku teringat aturan si Jubah Putih: Menjadi Keheningan.
Tiba-tiba, Rina berhenti bergerak. Dia menatap ke arahku. Bukan menatap wajahku, tapi dia seolah-olah merasakan perubahan suhu di titik tempatku berdiri. Matanya mencari-cari, tampak bingung namun penuh harap.
"Mas...?" bisik Rina lirih.
Jantungku berdegup kencang. Apakah frekuensiku bocor? Rina melangkah mendekat ke arahku. Dia mengulurkan tangannya, meraba udara kosong tepat di depan dadaku. "Haidar... kamu di sini ya?"
Air mata Rina jatuh. Dia tidak ingat detail kecelakaanku karena perjanjian itu—seharusnya. Tapi kenapa dia menyebut namaku dengan begitu yakin? Aku menoleh ke arah bayanganku di lantai dimensi Niskala. Sial! Karena aku terlalu sering menggunakan kekuatan belati bayangan, keberadaanku menjadi terlalu "padat". Aku mulai meninggalkan jejak dingin di dunia nyata yang bisa dirasakan oleh orang yang sangat mencintaiku.
"Ibu kenapa panggil nama itu lagi?" tanya Kinaya sambil mengerutkan kening. "Haidar itu siapa? Teman Ibu?"
Rina tersentak, seolah baru saja tersadar dari lamunan panjang yang menyakitkan. Dia mengusap air matanya dengan cepat, mencoba tersenyum di depan anaknya. "Enggak, Sayang. Ibu cuma... Ibu cuma salah sebut. Mungkin Ibu terlalu lelah."
Rina kembali membereskan baju, tapi gerakannya jauh lebih lambat. Dia terus mencuri pandang ke arah sudut kamar tempatku berdiri. Di duniaku, aku melihat sosok The Watcher berjubah putih muncul di langit-langit kamar, menatapku dengan tatapan memperingatkan yang sangat tajam.
"Kau melanggar batas, Penjaga," suaranya bergema hanya di kepalaku, dingin seperti es. "Istrimu mulai menyelaraskan frekuensi dengan keberadaanmu yang seharusnya sudah dihapus. Jika ini berlanjut, Niskala akan mengambil paksa sisa nyawa anakmu sebagai denda atas kebocoran memori ini."
Aku terperanjat. Rasa takut yang luar biasa menghantamku lebih keras dari apa pun. Aku tidak boleh membuat Rina ingat. Aku harus menjadi sosok yang asing, atau bahkan sosok yang ditakuti agar mereka aman di dunia cahaya.
Dengan berat hati, aku menggunakan kekuatan belatiku untuk menciptakan aura yang tidak nyaman. Aku merubah energi kasih sayangku menjadi hawa kegelapan yang mencekam. Seketika, suhu di kamar itu turun drastis hingga membuat uap napas terlihat. Lampu neon di atas kepala Kinaya berkedip kasar dan mengeluarkan suara berdengung yang menyakitkan telinga.
"Ibu! Kinaya takut! Kamarnya jadi seram!" teriak Kinaya sambil menutupi wajahnya dengan selimut.
Rina juga tampak menggigil ketakutan. Aura yang kusebarkan benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Dia segera memeluk Kinaya erat-erat. "Iya, Sayang. Ayo kita berdoa. Mungkin ada angin malam yang jahat lewat."
Melihat mereka ketakutan karenaku adalah siksaan yang lebih berat daripada kematian itu sendiri. Aku harus menyakiti perasaan mereka agar mereka tidak "melihatku" lebih jauh. Aku harus menjadi monster di mata mereka supaya mereka bisa tetap hidup.
Waktuku habis. Tubuhku ditarik kembali ke Menara Pemantau dengan kasar. Begitu sampai di sana, si Jubah Putih sudah menungguku dengan buku besarnya yang terbuka lebar.
"Kau melihatnya sendiri, bukan? Cinta adalah anomali paling berbahaya di dimensi ini," ucapnya dingin. "Besok, tugasmu akan lebih berat. Ada jiwa yang mencoba membangunkan memori orang-orang di Kota Arcapada tentang dirimu."
Aku mengepalkan tangan, menahan amarah yang mulai membara. "Siapa jiwa itu?"
"Seseorang dari masa lalumu yang menolak melupakanmu. Dia sedang mencari tahu tentang kecelakaanmu dan mencari sisa-sisa motor kesayanganmu di kantor polisi."
Aku terdiam. Jika ada orang yang mencari tahu tentangku, itu artinya jalan pulangku mungkin masih memiliki celah. Tapi jika aku membiarkannya, Kinaya akan terancam oleh aturan Niskala yang haus darah.
Aku berdiri di puncak menara, menatap kegelapan yang menyelimuti kota bayangan ini. Aku adalah Haidar, sang Penjaga Gerbang, dan aku baru saja menyadari bahwa musuh terbesarku bukanlah para The Watcher, melainkan sisa-sisa cinta yang menolak untuk mati di hati orang-orang yang kutinggalkan.