Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Kecil yang Vandini Lakukan
Saat Arumi selesai bicara, Satura melihat senyum lelah terukir di wajahnya. Wanita itu menunduk melihat catatan, menarik diri sedikit dari percakapan. Itu ekspresi yang sangat Satura kenali. Ekspresi yang sering ia lihat di wajah Vandini. Tatapan seseorang yang memilih diam dan melangkah maju meski hatinya terluka.
Klien itu tertawa lagi, sama sekali tidak peka. Ia menatap Satura sambil mengedipkan mata.
"Kamu beruntung punya dia. Dia yang urusi hal-hal kecil, jadi Kamu bisa fokus ke hal yang benar-benar penting."
Rasa marah meledak di dada Satura. Ia muak melihat pria itu meremehkan kerja keras Arumi. Dan yang paling menyakitkan, ia sadar bahwa dulunya ia juga orang seperti itu. Buta dan tidak pernah menghargai wanita yang melakukan segalanya tanpa menuntut pujian.
Ia menatap Arumi yang kini terdiam. Tangan wanita itu saling bertaut di atas meja, berusaha menyembunyikan kekecewaan di balik wajah profesionalnya. Dan di saat itu, sebuah kenyataan pahit menghantam kesadarannya. Dia yang melakukan hal yang sama persis pada Vandini.
Selama bertahun-tahun, ia mengabaikan apa yang dilakukan istrinya. Ia tidak pernah benar-benar melihat usaha dan cinta yang Vandini curahkan.
Ia membiarkan kerja keras dan pengorbanan itu berlalu begitu saja. Hingga akhirnya, ia mengkhianati kepercayaan Vandini dengan cara yang paling kejam.
Rapat pun usai. Klien itu berdiri, bersalaman, dan pergi sambil tertawa. Ia sempat menepuk bahu Satura untuk terakhir kalinya. Satura seolah tuli. Ucapan pria itu hanya menjadi suara bising di telinganya.
Matanya tertuju pada Arumi yang mulai membereskan berkas dengan diam. Wanita itu menghindari tatapannya sebelum akhirnya berjalan keluar.
"Arumi," panggil Satura pelan.
Arumi mendongak, menyunggingkan senyum sopan namun terasa jauh.
"Kerja bagus," gumam Satura. Ia sadar kata-katanya terdengar hampa. Ia ingin mengatakan lebih banyak, ingin meminta maaf karena tidak membela tadi.
"Tapi emang nggak gampang ya ngadepin orang yang pikirannya sempit gitu," lanjut Satura.
Arumi hanya mengangguk singkat. Ada kilatan amarah dan kecewa di matanya.
"Udah biasa, kok. Yang penting kerjaan kelar," jawabnya singkat.
Setelah itu, Arumi berbalik pergi dengan bahu yang tetap tegak. Saat sosoknya menghilang di balik pintu, Satura bersandar lemas di kursi. Keheningan ruangan terasa mencekam.
Kekosongan memenuhi dadanya, disertai kesadaran menyakitkan akan semua kesalahannya terhadap Vandini.
Vandini yang hadirnya begitu berharga dalam hidupnya. Wanita yang selalu mendukungnya dalam diam dan setia, tak pernah menuntut apa pun selain cinta dan rasa hormat. Dan ia telah mengecewakannya. Bukan hanya lewat perselingkuhan itu saja, tapi selama bertahun-tahun ia menganggap remeh keberadaan Vandini.
Ia membiarkan istrinya memikul segalanya sendirian tanpa pernah menghargai kekuatan yang dibutuhkan untuk itu. Ia membayangkan wajah Vandini saat mengetahui kesalahannya. Rasa sakit dan kecewa yang terpancar di sana membuat dada Satura terasa robek.
Untuk pertama kalinya, Satura mengerti bahwa pengkhianatannya bukan hanya soal orang ketiga. Itu adalah rangkaian dari ribuan pilihan kecil yang ia ambil, yang perlahan menggerogoti fondasi kepercayaan yang telah mereka bangun bertahun-tahun.
Dan saat ia duduk sendirian di ruangan itu, hatinya hancur menyadari bahwa mungkin ia sudah kehilangan hal paling berharga yang pernah ia miliki.
Satura duduk di mejanya, menatap layar komputer yang kosong. Angka-angka di depannya tampak kabur karena pikirannya melayang jauh.
Perasaan cemas menyelimuti dadanya, mengingatkan bahwa saat ini ia sedang gagal di banyak hal. Ia merasa tidak berguna dan beban itu terus menghantuinya.
Tanpa sadar, ia membuka aplikasi perbankan di ponsel. Jarinya mengetik nominal uang yang akan dikirim ke rekening Vandini.
"Setidaknya dengan begini, aku masih bisa menafkahi mereka. Itu kan tugas utama seorang pria?" batinnya. "Meski aku nggak bisa hadir, setidaknya kebutuhan mereka terpenuhi."
Ia teringat sosok Vandini yang selalu tangguh mengurus segalanya sendirian. Dulu, wanita itu selalu memandangnya dengan penuh kepercayaan dan cinta. Kenangan itu terasa perih. Satura ingin Vandini bahagia, tapi ia sadar kini bukan dirinya lagi yang menjadi sandaran hati istrinya.
Suara bising kantor perlahan menghilang. Ia menyesali sikapnya yang dulu sering mengabaikan keluarga. Saat ini, hanya uang yang bisa ia berikan untuk meringankan beban Vandini.
Jemarinya membuka galeri foto. Wajah ceria Connan memenuhi layar dengan gigi depannya yang ompong. Hati Satura terasa diremas melihat betapa menggemaskan putranya itu. Layar digeser, muncul foto Cia yang tertawa lepas sambil berputar-putar. Keceriaan anak kecil itu membuat rasa rindu di dada Satura semakin membuncah.
Jari Satura berhenti. Napasnya tercekat saat melihat foto Vandini.
Foto itu diambil musim hujan lalu di taman. Vandini tersenyum manis ke arah kamera dengan anak-anak di sisinya. Wajahnya tampak tenang, bahagia, dan memancarkan kehangatan yang dulu menjadi tempat Satura pulang.
Rasa rindu yang luar biasa menerjangnya hingga sulit bernapas. Dadanya terasa sesak, jantung berdegup kencang, dan keringat dingin mulai keluar.
"Itu keluargaku..." gumamnya pelan. "Keluarga yang indah yang dibangun dengan cinta Vandini. Rumah yang dulu selalu aku rindukan setiap pulang kerja."
Ia pernah memilikinya. Ia pernah menggenggam kebahagiaan itu, tapi ia menyia-nyiakannya sendiri. Kini, melihat foto itu, ia merasa sangat jauh dari mereka.
Tangannya gemetar saat terus menggeser layar. Penyesalan itu memenuhi pikirannya. Momen-momen indah itu mungkin tak akan pernah terulang lagi. Ia sadar, ia telah meninggalkan mereka. Vandini dan anak-anak sudah membangun kehidupan baru, dan mungkin tak ada lagi tempat untuknya di sana.
Suara kantor kembali terdengar, tapi Satura tak bisa berkonsentrasi. Ia mengunci layar ponsel dan menyimpannya dengan tangan gemetar.
Ia merasa terperangkap. Terbelah antara masa lalu yang telah hancur dan kenyataan pahit yang harus dijalani. Rasa kehilangan itu terus menggerogoti dirinya.