Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
latihan para guru gila
"Heh..!! Heh...!! Heh...!! Bocah gendeng. Dengarkan baik baik aku dahulu mampu berjalan di atas tombak sewaktu umurku masih 2 tahun. Masa kamu baru mepraktekan sihir dasar itu saja sudah jatuh, lagi pula kau mau maunya saja di suruh jalan memakai kepala oleh si kera gila Bara bodoh itu... terus apa gunanya kamu di berikan kaki oleh sang maha kuasa? Aku rasa sebentar lagi otakmu memang akan beku dan gila seperti bara bodoh itu... hahaha." Seru Ki Brojol Buntung, seekor kera tua yang hanya memiliki satu tangan, dengan pakaian hitam longgar dan sebuah topeng hitam menutupi wajahnya.
Samudra hanya bisa mengomel dalam hatinya mendengar ocehan dari guru gurunya yang berada di tempat ini.. namun pada akhirnya dia malah ikut tertawa, dan membuat suasana sepi mencekam di tempat ini mendadak menjadi ramai oleh suara suara tawa tergelak lepas.
"Para kera tua ini kerjaanya kalau tidak menghayal ya menjadi orang gila, umur dua tahun sudah bisa berjalan di atas tombak? benar benar hayalan tingkat tinggi! Dasar pengarang handal." Batin Samudra.
Bamm...!!!
Samudra menghentakan satu kakinya, tubuhnya melesat cepat menuju ke atas tebing di mana tempat guru gurunya berada. Namun baru saja dia mencapai jarak setengah jalan dari tebing itu, tiba tiba empat serangan angin panas dan dingin melesat dari atas ke arah Samudra.
Whuuss....!!! Whuuuusss...!!
"Tidak ada jalan menuju puncak yang mudah dan lancar bocah gendeng, kecuali kau melewati jalur hitam, jika kau mau naik maka lewati empat cobaan dari kami!" Ucap Jagad Giri.
Samudra terperanjat sejenak merasakan serangan angin panas dan luar biasa dingin bercampur menjadi satu..
Samudra mengepalkan tinjunya, dengan tawa gilanya dia menghentakan kaki di tepian tebing dan semakin melesat ke atas dengan kuat. Ya! Ia menerobos sihir angin dan panas itu hanya dengan tubuhnya.
Bhoooss...!!!
Suara angin yang terbelah terdengar nyaring.. namun tubuh Samudra melesat tak terlalu cepat dan secara perlahan lahan mulai turun kebawah akibat tekanan dari sihir angin itu.
Blaaaass....!!!
Tubuh Samudra melesat kebawah dengan sangat kencang.
Duargh!!!
Tubuhnya menghantam tanah dengan sangat keras, tanah di sekitar tempat Samudra mendarat langsung terangkat, kepulan debu mebumbung tinggi.
Pandangan mata kera kera yang ada di atas bukit itu yang awalnya sayu dan sendu kini sedikit melebar, di saat menyaksikan ada riak pluktuasi di antara pekatnya debu. Suara tawa keras terdengar di susul oleh kemunculan sosok Samudra yang melesat keluar dari kepulan debu pekat bak elang muda yang mengepalkan sayapnya kuat kuat.. hal itu benar benar mengejutkan para kera tua yang berdiri di atas bukit itu.
"Hahaha.... maaf para guruku, aku harus menuju ke tempat guru tercantikku, Nyi Randa Lembayung sudah menunggu di sana.. tapi sebelum pergi, aku akan memberikan sesuatu yang sudah lama aku tahan sejak masih berada di bawah.. jadi terimalah ini..."
"Dentuman angin syurga!"
Bhutt!
Bunyi suara kentut terdengar keras di tempat itu, di susul oleh munculnya aura kuning cerah yang mengandung aroma busuk memabukan, membuat tiga kera tua yang berdiri di atas tebing langsung mengeluarkan sumpah serapah penuh makian.
"Hueekk.... bajingan kecil ini benar benar mempelajari sihir konyol yang aku ajarkan." Ucap Jagad Giri.
Ketika aura kuning yang membawa aroma busuk itu lenyap terbawa angin, seketika itu juga tempat ini menjadi sunyi senyap, karena para penyebab kerusuhan di tempat ini sudah menghilang semua.
Saat kesunyian melanda area tebing, kini suara gaduh berpindah di wilayah timur dari Jurang Hantu, tepatnya di atas rumah pohon yang di bangun di atas pohon kayu jati kuning purba yang ukurannya sangat besar. Memerlukan dua belas pria dewasa yang saling menggandengkan tangan untuk memeluk batang pohonnya.
Pondok rumah pohon itu memiliki dapur yang tidak terlalu besar. Tapi ini bukan dapur biasa, ini adalah dapur milik Nyi Randa Lembayung, satu satunya perempuan dari tujuh petapa kera dari Jurang Hantu.
"Kalau kau tidak bisa menahan panasnya minyak ini, bagaimana mungkin kau mampu menahan panasnya dunia, wahai cucu tampanku?" Terdengar suara Nyi Randa Lembayung yang lembut sambil menuangkan minyak hitam ke wajan besar yang ada di depannya.
Samudra sedikit ngeri menatap minyak hitam yang mendidih di wajah Nyi Randa Lembayung.
"Nek... apakah perlu seserius ini? Aku mau belajar sihir, bukan mau di goreng menjadi ikan kering." Ucap Samudra seraya sesekali menelan ludahnya akibat kerongkongannya yang terasa mengering.
"Diam! Latihan ini akan membuatmu jauh lebih kuat lagi, jika gagal paling paling kau akan benar benar menjadi ikan kering." ucap Nyi Randa kemudian terkekeh geli, tanpa ragu ia melemparkan Samudra ke udara.
WHUSSSZZHHH...!!!!
"Nek....!!! ampun.... wah salah makan apa kamu nek?" Teriak panik Samudra saat tubuhnya melesat di udara.
Pada saat itu minyak panas yang ada di wajan tampak menyembur ke atas dalam bentuk pusaran. Samudra terlihat menari di udara menghindari semburan minyak panas sembari berteriak seperti orang gila.
"Ini latihan apa eksekusi mati sebenarnya?!!" Teriak Samudra di antara deru panas minyak hitam yang berputar layaknya pusaran air hitam.
Para guru lainnya hanya duduk di pinggiran memakan ubi bakar sembari sesekali tertawa melihat penderitaan Samudra.
"Lihat itu! Anak setan gendeng itu akhirnya bisa lompat dua tombak lebih tinggi." Seru Ki Brojol Buntung sembari tertawa nyaring..
Di tengah tengah tawa tergelak dan suara teriakan Samudra, tiba tiba pusaran minyak hitam itu bertambah membesar dan langsung menyedot tubuh Samudra kedalamnya hanya dalam waktu yang singkat. Kini pusara minyak hitam itu berubah menjadi bola hitam yang menggantung di udara dengan tubuh Samudra terkurung di dalamnya.
"Hahahaha...." para Guru Samudra tertawa terbahak bahak menatap itu.
***
Waktu berlalu begitu cepat... malam hari terlihat Samudra duduk di dahan pohon sembari menatap luka luka melepuh di kulitnya, "ilmu gila, guru lebih gila!!" Batinnya kesal.
"Hei, bocah. Sekarang sudah waktunya untuk berlatih denganku." Suara seorang pria tiba tiba terdengar.
Membuat Samudra terkejut hingga terjungkal dan jatuh kebawah.
"Aduuhhh..." rintihnya. Samudra kemudian menatap ke sumber suara itu, ia melihat kera seukuran manusia, berbulu putih, dengan pakaian perak dan sehelai kain perak menutupi kedua matanya.
"Astaga... Guru Genta Gelap, selalu datang tiba tiba... hufff... apakah tidak bisa libur satu hari Guru, latihan dari Nyi Randa benar benar menyiksa."
"Itu belum apa apa bocah! Jangan cengeng, kau adalah pria. Segera ke tempat biasa kita latihan, kalau tidak aku akan menghukummu dengan hukuman yang jauh lebih mengerikan dari latihan Mantra Api Jiwa milik Randa Lembayung." Ucap Guru Genta Gelap dan menghilang begitu saja.