Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kejutan manis
"Abang, bangun!" Suara lembut seorang perempuan membuat mimpiku buyar. Aku meregangkan urat-urat tubuhku yang kaku karena emosi semalam. Pelan-pelan kukucek mataku, antara masih sadar dan tidak aku melihat Laras tersenyum manis padaku.
"Abang sholat dulu, nanti Laras buatin sarapan untuk abang."
Ia hendak pergi meninggalkanku tapi aku buru-buru menarik tangannya. Ia terhuyung jatuh ke dalam pelukanku. Jantungku memompa dengan cepat, ada getaran hebat yang susah untuk aku kendalikan.
"Abang kenapa?"
Pertanyaan Laras membuat aku tersadar. Aku cepat-cepat melepaskan cengkeraman tanganku.
"Semalam abang tidur jam berapa? Maaf Laras udah ngantuk berat, nggak bisa nemanin abang."
Wajah cantik itu tertunduk lesu. Aku menarik dagunya, lalu melemparkan senyum.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah begitu, abang tahu kok Laras kecapean."
"Terimakasih abang,"
Jemarinya sudah bergelatut manja menjiwil pipiku.
Ah, dibandingkan Ningsih dia benar-benar menggoda. Sayang sekali aku belum berani menyentuhnya.
Laras benar-benar membuat aku melupakan indahnya kenangan bersama Ningsih.
Aku beranjak dari Tempat tidur. Laras mendekatiku berjalan menyerahkan selembar handuk putih untukku.
Ia benar-benar memperlakukanku seperti seorang raja.
"Abang mandi dulu, nanti kalau abang segan sarapan di bawah, Laras bawain makanan ke kamar, ya?"
Intonasi katanya cukup lembut. Ia tenang dan bisa jadi idaman para pria terhormat. Andai saja aku tak mengenal Ningsih lebih dulu.
Agh, sudahlah. Semua sudah jalannya.
"Abang kenapa, memandangi Laras seperti itu?"
Laras menyikut sikuku. Menyadarkan aku dari keterpesonaan kepadanya. Mukaku memanas dan cepat-cepat membalikan badan menuju kamar mandi.
Air mengguyur seluruh tubuhku, tapi ingatan ke Ningsih semalam kembali menyeruak. Benarkah itu darah dagingku? Tapi aku benar-benar tidak merasa berbuat sesuatu yang melebihi batas wajar dengannya.
Kalau memang semua terjadi di luar kesadaranku, apa yang akan terjadi setelah ini? Jika Laras dan Mama tahu?
Aku membenturkan kepalaku ke bathtup. Aku bisa gila karena ulah Ningsih.
"Bang, abang!" Sapaan lembut Laras sembari mengetuk pelan pintu kamar mandi membuat aku kembali sadar.
Aku bergegas membersihkan tubuh lalu menyambar handuk yang tergantung.
Brak, hampir saja aku menabrak sosok di depanku. Ternyata Laras tidak beranjak dari depan pintu kamar mandi.
"Maaf Laras, abang benar-benar kurang fokus." Aku merangkul pinggangnya. Kami berasa sedang syuting drama Korea. Rasanya sudah nggak sabaran menunggu hari itu terjadi. Hari dimana aku benar-benar menjadi suami seutuhnya. Pikiranku mulai tidak waras.
"Bang!" Laras mengibaskan tangannya ke mataku. Entah ini ia sengaja atau ia sedang mencoba menggodaku. Laki-laki yang mungkin baginya terlalu dingin.
"Eng, eh. Maaf abang Laras." Aku melepaskan rangkulan tangan dari pinggangnya. Mukanya tampak memerah, tersipu. Napasku juga mulai tak beraturan.
"Handphone abang dari tadi berdering, Laras intip tadi panggilan dari Mama."
Uh, hatiku langsung lega. Takut-takut kalau yang menelpon itu Ningsih.
Kulihat Laras sudah menyiapkan pakaianku diatas kasur.
"Laras ke bawah dulu ya, bang. Mau ambil sarapan untuk abang."
Aku menahan tangannya. Rasanya kurang etis kalau aku sarapan di kamar.
"Tidak usah Laras. Kita sarapan dibawah aja, bersama keluarga lain."
Ia mengangguk, lalu kembali sibuk di meja riasnya.
Selesai berpakaian, ponselku kembali berdering. Secepat kilat aku menyambarnya karena takut kalau-kalau yang menelpon adalah Ningsih.
Dan leganya, di layar ponsel yang memanggil adalah Mama.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, Raka." Balas suara itu cukup datar tidak seperti biasanya.
Perasaanku mulai tidak enak, ada sesuatu yang pasti Mama mau sampaikan.
"Ada apa, Ma?"
Ucapku penuh selidik.
"Hari ini kunjungan Laras ke rumah Mama, kan?"
"Iya Ma, tapi mungkin agak siang karena ada beberapa pamannya disini yang mau kami kunjungi juga."
Terdengar Mama menghembuskan napas berat. Pikiranku mulai campur aduk, apakah ini lagi-lagi Ningsih? Apakah dia berbuat sesuatu diluar nalar lagi?
"Ada apa Ma?" Kepalaku kembali berdenyut.
"Ningsih tiba-tiba kirim pesan ke Kania. Hasil tespek garis dua!" Suara Mama mulai meninggi.
Plak rasa ditampar di pagi buta. Tebakanku tidak lagi meleset. Ningsih benar-benar gila, dia mulai menyerang keluargaku.
"Dari mana Ningsih punya nomor Kania?"
"Itu tidak penting Raka, yang Mama mau tanya ada apa sebenarnya ini? Mama kecewa sama kamu!"
Perempuan itu menghardikku. Untuk pertama kalinya aku merasakan amarah Mama yg benar-benar kasar. Kecewa.
Suaranya mulai terisak.
"Mama mendidikmu, cukup baik, Raka. Mama kecewa kamu berbuat sejauh ini." Tuduhan itu terus menyudutkan aku.
"Ma, semua belum tentu benar. Aku merasa tidak pernah menyentuh Ningsih."
Aku berusaha membela diri. Entah ini berguna atau tidak.
"Kania benar-benar kecewa sama abang!"
Tiba-tiba saja telepon sudah berpindah tangan.
"Kalau sampai kak Laras tahu, abang mau bilang apa? Ini bukan cuma tentang abang tapi tentang keluarga kita bang!"
Kepalaku mau pecah. Ningsih sudah keterlaluan.
"Nanti di rumah abang jelaskan. Tolong sekali ini Kania, bantu abang jelaskan pada Mama." Aku merengek untuk pertama kalinya pada Kania. Otakku sudah tidak punya jalan keluar.
"Ningsih, siapa bang? Dari tadi mukanya bete banget?"
Aku menelan ludah cukup kasar. Laras hanya jarak beberapa centi di belakangku.
Aku terdiam beberapa saat. Entah apa yang harus aku jelaskan kepada wanita di depanku.
"Mantan abang, ya?"
Duar! Sekali lagi duniaku rasa mau hancur. Keadaan benar-benar tak memberi aku peluang untuk menjelaskan.
"Laras sudah tahu kok bang tentang Ningsih. Kania sudah cerita semuanya."
Aku mematung. Tak satu kalimatpun yang mampu aku keluarkan.
Namun wanita cantik itu mendekati, lalu memelukku dengan hangat.
"Laras janji bang, akan membuat abang jatuh cinta pada, Laras."
Aku benar-benar seperti lelaki bego yang tak punya harga diri.
"Asalkan bersaingnya sehat, Laras nggak akan takut sama mantan abang."
Lagi-lagi ia menunjuk-nunjuk dadaku dengan jari indahnya sambil tersenyum nakal.
What?? Apa ini, Kania? Ia adik perempuan satu-satunya sekaligus penyelamatku. Di balik tingkah lemotnya ternyata ia juga jenius. Aku yakin ia pasti menghasut Laras untuk merebut aku dari Ningsih. Oh, Tuhan. Akhirnya aku terselamatkan. Tinggal meyakinkan Mama.
"Menyesal tidak Laras memilih abang?"
Pertanyaan yang aku kumpulkan dengan penuh keberanian. Ia menggeleng.
"Laras yakin kok abang orang baik. Dan Laras yakin suatu hari abang akan mencintai Laras."
Ucapannya seperti tamparan buatku. Entah itu sindiran atau memang ia sedang menumbuhkan harapan padaku. Sekalipun tak dipintanya aku juga sudah mulai mengaguminya.
"Terimakasih, sayang. Sudah menerima abang sejauh ini."
Aku menarik dagunya mendekatkan pandanganku pada matamu. Ia tersenyum manja. Aku mendaratkan kecupan hangat di keningnya, entah sisa kekuatan dari mana. Yang jelas sentuhan ini sangat menenangkan. Kepalaku yang terasa ingin pecah dari semalam terasa mulai membaik.
"Laras juga tahu, kalau Ningsih mengirim tespek pada abang. Tapi Laras yakin abang tidak sejahat itu."
Ia berbisik lembut ditelingaku. Membuat darahku membuncah, entah senang atau ini adalah bom waktu.