Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Srak! Srak!
Suara sapu yang mengumpulkan serpihan kaca memenuhi ruangan Kafein Nusantara yang mendadak sunyi. Beberapa karyawan gedung seberang yang tadi sempat menonton adu fisik itu kini mulai kembali ke meja mereka, meski bisik-bisik kekaguman masih terdengar jelas.
Tari menghampiri Bayu dengan langkah yang masih agak gemetar. Ia memegang nampan perak yang kosong, meremas pinggirannya kuat-kuat.
"Bay, lo nggak apa-apa? Tangan lo, atau kaki lo ada yang sakit?" tanya Tari, matanya memindai tubuh Bayu dengan cemas.
Bayu menutup laptopnya dengan tenang.
"Gue baik-baik aja kok, Tar. Cuma ada debu dikit di baju," jawab Bayu santai. Ia bangkit dan membantu Pak Slamet berdiri. "Pak Slamet, Bapak nggak papa? Ada yang luka?"
Pak Slamet memegangi pinggangnya sambil meringis, tapi ia memaksakan senyum. "Bapak nggak apa-apa, Mas Bayu. Cuma kaget aja. Tapi Mas Bayu... tadi itu... Bapak baru tahu kalau Mas bayu jago silat."
Bayu hanya tersenyum tipis, lalu menepuk bahu pria tua itu.
"Dulu saya pernah ikut bela diri buat jaga diri aja, Pak. Bapak istirahat dulu di belakang, biar Nisa yang jagain. Biar barista yang beresin sisa kacanya."
'Gue nggak boleh kelihatan terlalu mencolok setelah ini. Kekuatan fisik ini cuma buat perlindungan darurat, bukan buat pamer.'
"Bay, lo harus dengerin gue," Tari menarik lengan Bayu, membawanya sedikit menjauh dari jangkauan telinga pelanggan. "Si Anton Bison itu bukan preman kacangan. Dia itu tangan kanannya Tuan Baskoro. Lo tahu siapa Baskoro?"
Bayu menggeleng pelan. "Pengusaha properti?"
"Bukan cuma properti. Dia itu gurita, Bay. Mafia tanah yang punya koneksi ke orang-orang penting di birokrasi. Katanya, kalau dia pengen satu lahan, dia nggak cuma kirim preman, tapi juga kirim surat segel dari dinas terkait. Lo baru aja mukul orang kesayangannya. Dia nggak bakal diem aja."
Bayu mengangguk paham. Ia menarik kursi dan mempersilakan Tari duduk agar tenang.
"Gue ngerti, Tar. Itulah kenapa gue butuh lo buat gerak cepet hari ini."
"Maksud lo?"
"Gue mau lo kumpulin semua data tentang aset-aset Tuan Baskoro. Terutama perusahaan-perusahaan yang kelihatannya lagi goyah atau banyak masalah hukum. Gue nggak mau cuma nunggu dia nyerang kita. Gue mau beli pelindung yang bikin dia nggak berkutik."
Tari menelan ludah. "Lo mau lawan dia pakai uang? Bay, dia itu triliuner."
"Gue juga punya cara gue sendiri buat jadi lebih kaya dari dia, Tar. Percaya sama gue."
Di sebuah gedung kantor mewah di daerah Jakarta Barat, suasana terasa sangat mencekam. Anton Bison berdiri menunduk di depan sebuah meja kerja besar dari kayu mahoni. Napasnya masih terasa sesak di ulu hati, dan ia harus memegangi perutnya yang masih terasa mulas akibat pukulan Bayu.
Brak!
Seorang pria dengan rambut yang sudah memutih namun memiliki tatapan mata tajam seperti elang menghantam meja. Itu adalah Baskoro.
"Kamu kalah sama bocah ingusan? Sendirian?" suara Baskoro terdengar sangat rendah tapi penuh ancaman.
"Maaf, Bos. Dia... dia nggak kayak orang biasa. Gerakannya bukan kayak preman pasar. Dia kayak tentara terlatih. Tiga anak buah saya tumbang dalam hitungan detik," lapor Anton dengan suara parau.
Baskoro bersandar di kursi kulitnya yang megah. Ia menyesap cerutu mahalnya dalam-dalam.
"Kalau otot nggak bisa jalan, kita pakai otak. Sudirman nomor tujuh itu lokasi strategis buat proyek apartemen baru kita. Saya nggak mau tahu, tempat itu harus rata minggu depan."
Baskoro meraih ponsel di mejanya, menekan sebuah nomor panggilan cepat.
Tut... tut...
"Halo, Pak Kepala Dinas. Ini Baskoro. Saya dengar ada bangunan baru di daerah Sudirman, Kafein Nusantara namanya. Tolong dicek kembali izin mendirikan bangunannya. Sepertinya ada masalah dengan garis batas jalan dan izin gangguan warga sekitar. Iya, saya mau tempat itu disegel sementara untuk investigasi. Terima kasih, Pak. Nanti asisten saya kirimkan 'titipan' seperti biasa."
Baskoro menutup telepon dan tersenyum sinis ke arah Anton.
"Besok pagi, kamu ikut petugas dinas ke sana. Jangan bawa tongkat besi. Bawa surat segel resmi. Kita lihat, apa dia masih bisa berlagak jagoan di depan hukum."
Esok paginya, Kafein Nusantara sedang dalam puncak keramaian. Antrean pelanggan sudah mencapai pintu luar. Namun, sebuah mobil dinas berlogo pemerintah berhenti tepat di depan kafe.
Tiga orang pria berseragam dinas turun dari mobil, didampingi oleh Anton Bison yang memakai perban di perutnya dan tersenyum mengejek.
Langkah kaki mereka yang berat masuk ke dalam kafe, membelah antrean pelanggan.
"Selamat pagi. Siapa pemilik tempat ini?" tanya salah satu petugas dengan wajah kaku, memegang sebuah map kuning.