Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERCAKAPAN HANGAT DI KANTIN
Jam pelajaran hampir Selesai.
Suara guru masih terdengar menjelaskan rumus di depan kelas, tapi bagi Senja— kata-kata itu seperti menjauh pikirannya kembali ke pagi tadi.
Motor Keano.
Angin yang menerpa wajahnya.
Cara Keano bilang “biarin, emang harus terbiasa.”
Tanpa sadar Senja tersenyum kecil.
Ponselnya bergetar lagi di bawah meja.
Keano.
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Ia membuka pesan itu diam-diam.
Keano:
(Udah makan belum?)
Senja menggigit bibirnya menahan senyum.
Senja:
(Belum. Masih pelajaran.)
Balasan datang cepat.
Keano:
(Istirahat bareng gue?)
Deg.
Senja menatap layar beberapa detik lebih lama.
Sejak kapan… mereka jadi begini?
Bukan teman biasa, tapi juga bukan apa-apa.
Tangannya mengetik pelan.
Senja:
(Liat nanti ya.)
Tiga titik muncul di layar.
Keano:
(Gue tunggu di kantin.)
Senja langsung menutup ponsel begitu guru menoleh.
Arelina yang melihat semuanya hanya menggeleng kecil sambil tersenyum menang.
Bel berbunyi, kelas langsung ramai.
Kursi bergeser, siswa berdiri, suara obrolan memenuhi ruangan, Arelina langsung menarik tasnya.
"Gue duluan ya, ada urusan," katanya sengaja menekankan kata urusan.
Senja menyipitkan mata. "Lo sengaja ya, oh iya ini dari nenek." Senja memberikan bekal makanannya pada Arelina.
Arelina terkekeh. "Gue sahabat baik. Gue cuma kasih ruang, thanks ya kue nya sampein ke nenek."
Ia pergi sebelum Senja sempat membalas.
Senja berdiri pelan, tangannya sedikit dingin.
Entah kenapa… berjalan menuju kantin terasa seperti menuju sesuatu yang baru kantin sekolah ramai seperti biasa, suara tawa, bunyi sendok, aroma gorengan memenuhi udara.
Dan di sana—Keano duduk di meja pojok.
Sendirian.
Kakinya disilangkan santai, satu tangan memainkan botol minum, sementara matanya sesekali melihat pintu masuk.
Seperti… menunggu seseorang, saat melihat Senja datang—wajahnya langsung berubah.
Lebih hidup, ia mengangkat tangan kecil.
"Sini."
Senja mendekat, berusaha terlihat biasa meski jantungnya berisik.
"Dari tadi nunggu?"
Keano mengangkat bahu. "Gak lama."
Padahal gelas es teh di depannya sudah hampir habis, Senja duduk di seberangnya beberapa detik mereka sama-sama diam.
Aneh.
Padahal saat chat terasa mudah.
Tapi duduk berhadapan seperti ini membuat semuanya terasa nyata.
Keano mendorong satu kotak makanan ke arah Senja, "Gue udah pesenin."
Senja terkejut. "Hah? Kenapa?"
"Soalnya gue tahu lo pasti belum makan."
Kalimat sederhana.
Tapi entah kenapa membuat dada Senja hangat.
Ia tersenyum kecil. "Makasih."
Keano memperhatikannya beberapa detik.
"Si Arelina tad pasti interogasi lo ya?"
Senja langsung tersenyum. "dia emang suka posesif, Kamu nguping ya?"
Keano tertawa pelan. "Satu sekolah juga tahu kalau Arelina lagi mode FBI."
Senja ikut tertawa, dan untuk pertama kalinya—
tidak ada rasa canggung.
Hanya dua orang yang menikmati waktu tanpa sadar sedang membangun sesuatu.
Keano tiba-tiba berkata pelan,
"Senja…"
"Hm?"
"Gue boleh jujur gak?"
Senja menoleh, tatapan Keano kali ini berbeda. Lebih serius. Lebih hati-hati.
"Gue mulai suka waktu kayak gini."
Senja terdiam.
" Maksudnya?"
"Waktu sama lo." jawab Keano
Suara kantin tetap ramai, tapi bagi Senja—semuanya seperti mendadak sunyi, dan tanpa ia sadari—
sebuah hubungan tanpa nama itu… mulai berubah arah.
Keano masih berbicara tentang sesuatu— guru olahraga, pertandingan basket Minggu depan dan tentang hal-hal ringan yang biasanya membuat Senja tertawa, tapi kali ini…
suara Keano perlahan terdengar menjauh.
Senja menatap tangannya sendiri.
Hangat.
Perasaan ini terlalu hangat, dan justru itu yang membuatnya takut.
(Gue mulai suka waktu kayak gini.)
Kalimat Keano terus terulang di kepalanya.
Berulang. Berisik. Tidak mau diam.
Bagaimana kalau… dia saja yang menganggap ini spesial?
Bagaimana kalau Keano hanya nyaman, hanya senang berteman, hanya… sementara?
Dada Senja terasa sesak.
Ia tidak pernah merasakan hangat seperti ini sejak dulu, karena dia takut jika semuanya akan berakhir dengan kehilangan.
Tangannya mengepal kecil di bawah meja.
(Jangan terlalu dekat,nanti sakit, jangan berharap, please Senja )
Suara-suara di kepalanya mulai muncul satu per satu.
"Senja?" ia tersentak.
Keano memperhatikannya, lo kenapa?"
Senja buru-buru tersenyum. "Gak apa-apa."
Terlalu cepat.
Keano menyipitkan mata. "lo kaya lagi kepikiran sesuatu."
Senja tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Mungkin aku cuma… capek."
Keano tidak langsung percaya, ia bersandar, menatap Senja lebih dalam.
"Kalau ada yang ganggu pikiran lo… cerita aja."
Justru kalimat itu membuat Senja makin gugup.
Karena yang mengganggu pikirannya…
adalah Keano sendiri.
Ia menunduk, memainkan sendok makan.
"Keano…"
"Hm?"
"Menurut kamu…Apa kita terlalu dekat?"
Senja tidak berani menatapnya. "Aku cuma… takut salah ngerti."
Keano menarik napas pelan.
"Gue gak pernah nganggep waktu sama lo itu sesuatu yang main-main, Senja."
Senja perlahan mengangkat kepala.
"Gue tahu kita belum punya status," lanjutnya lembut. "Tapi kedekatan itu bukan selalu soal label."
Ia tersenyum kecil.
"Kadang… dua orang cuma lagi belajar nyaman dulu."
Senja masih diam, Keano menambahkan pelan—
"Kalau kedekatan ini bikin lo takut… gue bisa pelanin." "Bukan menjauh. Cuma… gue gak mau lo ngerasa sendirian di perasaan ini."
Deg.
Kalimat itu jatuh hangat.
"Gue gak buru-buru minta lo jadi apa-apa," katanya lagi. "Gue cuma pengen tetap ada di samping lo… sampai kita sama-sama tahu ini mau dibawa ke mana."
Ia menatap Senja lurus.
"Jadi bukan… kita terlalu dekat."
Keano tersenyum tipis.
"Mungkin kita cuma lagi menuju sesuatu yang pasti, kalau lo takut orang salah paham, ya biarin aja, yang penting gue gak lagi main-main."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Keano sendiri terlihat sedikit kaget sudah sejujur itu.
Ia cepat menambahkan, setengah bercanda—
"Lagian… kalau kita dikasih status sekarang juga, gue belum siap jawab pertanyaan ibu-ibu kantin tiap hari."
Senja tertawa kecil akhirnya.
Dan Keano tersenyum lega melihatnya.
"Gue gak mau buru-buru, Senja," katanya pelan. "Kita jalanin aja dulu. Pelan-pelan."
Ia menatap Senja sebentar.
"Kalau nanti ternyata ini jadi sesuatu… ya bagus." "Kalau belum… gue tetep mau jadi orang yang lo cari, kalau lo gak cari gue ya berarti lo minta gue culik"
Senja langsung menatapnya kaget.
"Hah?!"
Keano tertawa pelan, jelas menikmati ekspresi paniknya.
"Iya dong," katanya santai sambil menyeruput minumnya.
"Kalau lo gak nyari gue… ya gue yang nyari lo."
Senja menggeleng, menahan senyum. "Lo aneh."
"Emang," jawab Keano cepat. "Tapi anehnya khusus ke lo doang."
Deg.
Senja langsung menunduk, pura-pura fokus sama makanannya yang sebenarnya sudah hampir habis.
Suasana kantin tetap ramai— suara tawa, sendok beradu, anak-anak kelas lain berlalu lalang.
Tapi di meja kecil itu, rasanya seperti dunia mengecil hanya untuk mereka berdua.
Keano menyandarkan siku di meja.
"Senja."
"Hm?"
"Gue serius tadi." nada suaranya lebih pelan sekarang.
"Gue gak mau bikin lo mikir yang ribet-ribet." "Gue cuma pengen… tiap hari lo tetep duduk kayak gini bareng gue."
Senja menatapnya lagi.
Tidak ada gombalan berlebihan. Tidak ada janji besar, hanya keinginan sederhana.
Dan justru itu yang membuat dadanya hangat.
Bel masuk berbunyi nyaring.
Beberapa siswa mulai berdiri terburu-buru.
Senja ikut berdiri, merapikan tasnya.
"Balik kelas yuk."
Keano berdiri juga, mengambil tasnya lalu berjalan di samping Senja.
Saat mereka keluar dari kantin—
tanpa sadar langkah mereka berjalan sejajar.
Tidak terlalu dekat, tidak juga berjarak.
Keano melirik sekilas."Besok gue jemput lagi?"
Senja pura-pura berpikir, "Hmm… lihat nanti."
Keano tersenyum miring.
"Itu artinya iya."
Senja tertawa kecil dan kali ini—kepalanya masih berisik, masih penuh rasa takut…
tapi ada satu hal baru yang ikut tumbuh:
keinginan untuk tetap berjalan di samping Keano, sedikit lebih lama.