Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pertama tinggal bersama
Pemandangan lampu kota Jakarta yang gemerlap dari jendela setinggi langit-langit seharusnya tampak romantis, namun bagi Maya, Apartemen di lantai 28 itu masih berbau cat baru dan ruang luas ini tak lebih dari sebuah ring tinju.
Begitu pintu utama tertutup dan langkah kaki orang tua mereka menghilang di lorong lift, Maya langsung melepas sepatu hak tingginya dengan kasar. Ia tidak menunggu Arka. Ia melangkah cepat menuju meja makan marmer yang dingin, meletakkan tasnya, dan merobek selembar kertas dari buku catatan kecil yang selalu ia bawa.
"Duduk," perintah Maya tanpa menoleh. Suaranya kembali ke mode 'Ketua Panitia Ospek'—dingin, otoriter, dan tak terbantahkan.
Arka, yang sedang melonggarkan dasinya sambil mengamati interior apartemen, hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia berjalan santai, menyeret kursi di depan Maya, dan duduk dengan posisi yang terlalu santai untuk ukuran seseorang yang baru saja diancam.
"Baru sepuluh menit pindah, sudah ada rapat pleno, Kak?" goda Arka. Cengiran itu muncul lagi, cengiran yang membuat urat syaraf di pelipis Maya berdenyut.
Maya tidak membalas candaan itu. Ia menulis dengan cepat, ujung pulpennya menekan kertas hingga hampir robek. Setelah selesai, ia memutar kertas itu ke hadapan Arka.
"Ini adalah 10 Aturan Dasar Rumah Tangga. Tidak ada negosiasi. Tidak ada banding," tegas Maya.
Arka menunduk, membaca poin-poin yang ditulis dengan tulisan tangan Maya yang tajam dan miring.
Kamar Terpisah. Kamarku adalah wilayah terlarang. Kamu dilarang masuk tanpa izin tertulis atau keadaan darurat medis.
Privasi Total. Jangan menyentuh ponsel, laptop, atau barang pribadiku.
Urusan Domestik. Kita bagi tugas. Aku tidak akan mencuci bajumu, dan kamu jangan menyentuh dapurku jika hanya untuk membuat kekacauan.
Kehidupan Sosial. Di luar rumah, kita adalah suami-istri (jika terpaksa). Di dalam rumah, kita adalah orang asing yang berbagi alamat.
Dilarang Membawa Tamu. Terutama teman-teman kampusmu yang berisik itu.
Batasan Fisik. Jangan menyentuhku tanpa izin. Kejadian di pelaminan tadi tidak boleh terulang.
Karier adalah Prioritas. Jangan pernah mencampuri urusan kantorku.
Transparansi Jadwal. Aku harus tahu jam berapa kamu pulang agar aku tidak perlu berpapasan denganmu di ruang tengah.
Dilarang Jatuh Cinta. Ini adalah transaksi bisnis untuk menyenangkan orang tua. Jangan baper.
Kewajiban Akademik. Kamu harus lulus tepat waktu dengan nilai sempurna. Aku tidak mau punya suami yang dicap 'abadi' di kampus. Itu memalukan reputasiku sebagai alumni berprestasi.
Arka membaca poin kesepuluh dan tertawa pelan. "Poin sepuluh itu terdengar seperti motivasi dari dosen pembimbing, bukan istri."
"Aku serius, Arka," Maya melipat tangannya di dada. "Aku setuju dengan pernikahan ini hanya karena posisi karierku dipertaruhkan. Jadi, selama kita tinggal di sini, jalani hidupmu sendiri-sendiri. Kamu fokus lulus, aku fokus naik jabatan. Jangan jadi beban bagiku."
Maya menyodorkan pulpen. "Tanda tangan."
Arka tidak segera meraih pulpen itu. Ia justru menatap Maya dalam-dalam. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Sinar lampu gantung kristal di atas mereka memantul di mata Arka yang gelap.
"Hanya sepuluh?" tanya Arka lembut. "Boleh aku tambah satu?"
Maya mendengus. "Asal tidak aneh-aneh."
Arka meraih pulpen dari tangan Maya, jemarinya sengaja bersentuhan dengan kulit wanita itu selama satu detik lebih lama dari yang seharusnya. Maya tersentak, namun Arka sudah beralih ke kertas. Dengan tulisan tangan yang berantakan namun tegas, ia menuliskan poin nomor sebelas.
Setiap pagi, Kak Maya harus sarapan bareng aku. Masakan siapa pun, beli atau buat, kita duduk di meja ini bersama sebelum berangkat.
Arka menggeser kembali kertas itu dan membubuhkan tanda tangan besar di bawahnya.
"Kenapa harus sarapan?" tanya Maya sinis.
"Karena aku ingin memastikan 'Senior' kesayanganku ini tidak pingsan di kantor karena kurang gizi," jawab Arka sambil berdiri. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Maya, membuat Maya refleks memundurkan kepala. "Dan karena aku ingin mengingatkanmu setiap pagi, bahwa di rumah ini, ada seseorang yang punya hak untuk melihatmu tanpa topeng kaku itu."
Arka mengedipkan mata, menyampirkan jasnya di bahu, dan berjalan menuju kamar tamu—atau kamarnya sendiri sekarang—meninggalkan Maya yang terpaku menatap aturan nomor sebelas.
Aku menutup pintu kamar dan menyandarkan punggungku di sana. Wangi parfum Maya—perpaduan antara mawar dan sesuatu yang tajam seperti jeruk—masih tertinggal di indra penciumanku.
Aku menatap kamar baruku. Luas, mewah, tapi terasa kosong. Sama seperti raut wajah Maya sepanjang hari ini.
Dia pikir dia mengenalku. Dia pikir aku masih Arka si mahasiswa nakal yang hobinya hanya memprovokasi senior di lapangan basket. Dia tidak tahu bahwa sejak hari pertama ospek lima tahun lalu, saat dia meneriakiku karena kancing kemejaku lepas satu, aku sudah kalah.
Waktu itu, dia berdiri di bawah terik matahari, wajahnya merah padam karena marah, namun matanya memancarkan ketegasan yang sangat memikat. Di saat semua pria mengejarnya karena kecantikannya, aku justru jatuh cinta pada api yang ada di dalam dirinya. Dia wanita yang butuh ditaklukkan, bukan hanya dipuja.
Perjodohan ini? Itu bukan sekadar keberuntungan. Ketika Papa bilang dia punya hutang budi pada Om Baskoro, aku yang pertama kali mengusulkan ide ini. Aku tahu Maya sedang terpojok oleh ambisinya sendiri. Aku tahu dia tidak akan pernah melirik pria yang lebih muda darinya jika tidak dipaksa oleh situasi. Maka, aku menjadi situasi itu.
Aku membaca ulang salinan aturan yang tadi ia buat di pikiranku. Dilarang jatuh cinta. Aku tersenyum miring sambil melepas kancing kemejaku satu per satu. "Terlambat, Kak Maya. Aku sudah melanggar aturan itu bertahun-tahun lalu."
Kewajiban lulus tepat waktu? Dia tidak tahu kalau aku sudah menyelesaikan draf skripsiku tiga bulan lebih awal. Aku sengaja mengulur waktu pengerjaan hanya agar punya alasan untuk tetap terlihat seperti 'brondong' yang butuh bimbingannya. Aku ingin dia merasa unggul, karena itulah satu-satunya cara agar dia membiarkanku tetap dekat.
Aturan sarapan itu adalah satu-satunya celah yang kubutuhkan. Sepuluh aturan lainnya adalah dinding yang ia bangun untuk mengusirku, tapi aturan kesebelas adalah pintu yang sengaja kupasang agar aku bisa masuk ke dunianya setiap pagi.
Aku tahu dia lelah. Aku melihat kantung mata yang coba ia tutupi dengan concealer tebal. Aku melihat bagaimana tangannya sedikit gemetar saat memegang pulpen tadi. Dia butuh sandaran, tapi dia terlalu sombong untuk mengakuinya.
"Selamat datang di duniamu yang baru, Maya," bisikku pada kegelapan kamar. "Kamu boleh jadi seniorku di kantor atau di kampus. Tapi di apartemen ini, aku akan memastikan kamu jadi milikku sepenuhnya."
Aku merebahkan diri di kasur yang empati, menatap langit-langit. Besok pagi adalah sarapan pertama kami. Dan aku sudah tidak sabar melihat wajah kesalnya saat aku menagih hak poin nomor sebelas itu.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡