Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Arga menatap ujung sepatunya yang sedikit berdebu. Sisa-sisa kemarahan dari perdebatan semalam masih mengendap di dasar hatinya, namun ada rasa lega yang aneh setelah semua rahasia itu tumpah. Di koridor SMA Nusa Bangsa Buana yang masih sepi pagi itu, ia berharap tidak perlu berpapasan dengan siapa pun, terutama Nala.
Langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah belakang. Arga tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik langkah tersebut. Aroma parfum vanila yang lembut namun gigih itu sudah sangat akrab di indra penciumannya selama bertahun-tahun.
"Aga, tunggu," panggil sebuah suara yang terdengar sedikit parau.
Arga menghentikan langkahnya tepat di depan loker nomor empat puluh dua. Ia menghela napas panjang sebelum berbalik. Nala berdiri di sana dengan napas sedikit tersengal dan wajah yang tampak sembap, seolah tidurnya semalam tidak nyenyak sama sekali.
"Namaku Arga, Nal," sahutnya dengan nada yang jauh lebih tenang daripada kemarin.
Nala menggelengkan kepala dengan cepat. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Buatku, kamu tetap Aga. Anak laki-laki yang menangis waktu jatuh dari pohon mangga di belakang rumah lama kita."
Arga tertegun. Ingatan itu muncul begitu saja tanpa permisi. Ia ingat bagaimana lututnya berdarah dan Nala, yang saat itu masih memakai pita rambut berwarna merah muda, sibuk meniup lukanya sambil mengoceh tidak keruan.
"Kamu benar-benar ingat?" tanya Arga lirih.
"Aku mulai ingat semuanya, Ga. Perlahan-lahan," ujar Nala sambil menunduk. Ia memainkan ujung seragamnya dengan gelisah. "Maafkan aku karena butuh waktu terlalu lama. Maaf karena aku sempat menganggap semua ini cuma lelucon."
Suasana di koridor itu mendadak terasa lebih ringan. Ketegangan yang membeku selama berbulan-bulan mulai mencair seperti es yang terkena sinar matahari pagi. Arga menyandarkan punggungnya ke deretan loker besi yang dingin.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya terus-menerus," gumam Arga. "Hanya saja, melihatmu tertawa bersama Satria dan teman-temanmu yang baru, aku merasa seperti orang asing yang mencoba memaksakan diri masuk ke duniamu."
Nala mendongak, menatap langsung ke mata Arga dengan tatapan yang dalam. "Duniaku dulu adalah duniamu juga. Kamu ingat janji di bawah pohon mangga itu? Kita bilang tidak akan pernah saling melupakan, sejauh apa pun kita pergi."
Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak ia tunjukkan pada gadis di depannya. "Kita masih kecil saat itu, Nal. Janji anak berumur sembilan tahun biasanya mudah menguap bersama angin."
"Tapi buktinya kamu masih menyimpannya," potong Nala cepat.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, namun kali ini bukan keheningan yang menyesakkan. Ada sebuah rasa hangat yang merayap di dada Arga. Ia melihat Nala mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. Sebuah gantungan kunci berbentuk robot kecil yang warnanya sudah mulai pudar dan kusam.
"Aku menemukannya di kotak lama pagi ini. Kamu yang memberikan ini waktu aku berpamitan mau pindah ke luar kota, kan?" tanya Nala dengan binar mata yang kembali muncul.
Arga terpaku. Ia tidak menyangka Nala masih menyimpan benda remeh itu. Robot plastik murah yang ia beli dengan uang sakunya selama satu minggu penuh hasil menyisihkan uang jajan.
"Aku pikir benda itu sudah lama berada di tempat sampah," ujar Arga dengan suara yang sedikit bergetar.
Nala tertawa kecil, suara yang selama ini dirindukan Arga lebih dari apa pun di dunia ini. "Ternyata tidak. Dia hanya terselip di antara buku-buku lama di gudang. Sama seperti ingatanku tentangmu yang cuma terselip, bukan hilang sepenuhnya."
Langkah kaki siswa lain mulai terdengar memenuhi koridor, menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Namun, baik Arga maupun Nala seolah enggan beranjak dari posisi mereka saat ini.
"Nal," panggil Arga pelan.
"Ya?" sahut Nala pendek.
"Terima kasih sudah mengingatnya," kata Arga tulus.
Nala tersenyum manis, tipe senyuman yang membuat jantung Arga kembali berdetak tidak beraturan. "Harusnya aku yang bilang begitu. Terima kasih sudah menunggu selama delapan tahun, Arga."
Saat mereka berjalan beriringan menuju kelas, Arga merasa beban berat yang selama ini menindih pundaknya terangkat sepenuhnya. Harapan yang sempat ia kubur dalam-dalam kini mulai tumbuh kembali, lebih hijau dan lebih kuat dari sebelumnya. Ia melirik Nala yang mulai bercerita tentang ibunya yang masih sangat menyukai masakan ibu Arga.
Di pojok kelas, Dimas sudah duduk dengan gaya santainya yang seperti biasa. Ia menatap Arga dan Nala yang masuk bersamaan dengan alis terangkat tinggi karena terkejut.
"Wah, ada apa ini? Angin dari mana yang membuat kalian tidak lagi bersikap seperti kucing dan anjing?" tanya Dimas dengan nada jahil yang sangat khas.
Arga hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum misterius. Ia duduk di kursinya, sementara Nala kembali ke tempat duduknya di barisan depan. Sebelum duduk, Nala sempat menoleh ke arah Arga dan memberikan lambaian tangan kecil yang hampir tidak terlihat oleh orang lain.
Tania, yang duduk tepat di depan Arga, memperhatikan interaksi itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia membalikkan badan dan menatap Arga dengan senyum yang tampak sedikit dipaksakan.
"Tampaknya suasana hatimu sedang sangat bagus hari ini, Arga," komentar Tania lembut.
Arga mengangguk pelan tanpa ragu. "Begitulah, Tan. Ada beberapa hal yang akhirnya kembali ke tempat yang seharusnya."
Tania hanya mengangguk kecil lalu kembali menghadap ke depan, sementara Arga kembali larut dalam pikirannya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia tidak lagi merasa seperti pengamat yang terabaikan di pojok ruangan. Ia merasa menjadi bagian dari cerita yang sedang berlangsung secara nyata.
Di seberang sana, Satria masuk ke kelas dengan bola basket di bawah ketiaknya. Ia sempat berhenti di depan meja Nala untuk menyapa, namun Nala hanya membalasnya dengan sapaan singkat dan kembali fokus pada buku catatannya. Ada sesuatu yang berubah secara drastis, dan Arga tahu itu adalah awal dari babak baru yang selama ini ia dambakan.
Delapan tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah penantian dalam sunyi. Namun, saat melihat Nala menoleh sekali lagi dan memberikan senyuman rahasia padanya, Arga tahu bahwa setiap detik yang ia lalui ternyata tidak sia-sia. Harapan itu kini bukan lagi sekadar bayangan masa lalu, melainkan sesuatu yang nyata dan bisa ia genggam erat.