NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Li Zhen menyipitkan matanya, menyadari sisa-sisa fluktuasi energi spiritual yang mengambang di udara halaman tersebut. Senyum miring yang sangat mematikan perlahan mengembang di bibirnya, menyadari bahwa sekumpulan orang tua ini baru saja bergosip di belakangnya.

"Apakah kalian pikir telepati spiritual kalian itu tidak memancarkan riak energi yang bisa kurasakan, dasar sekumpulan kakek-kakek penggosip?" sindir Li Zhen tajam. Suaranya memecah keheningan siang yang terik, menggema hingga ke sudut-sudut hutan bambu di sekeliling paviliun.

Kepala Sekte Zhao Wuji langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, berlutut dengan lutut yang bergetar hebat menahan rasa sakit. Pria berwibawa itu bersujud menyembah Li Zhen, keringat dinginnya membasahi tanah merah yang sudah mengering di bawahnya.

"S-Senior Agung, hamba mohon ampun atas kelancangan kami yang berani menggunakan transmisi spiritual di dekat Anda," ratap Zhao Wuji dengan napas tersengal. Dia sama sekali tidak berani mendongak, takut jika kilatan mata pemuda iblis itu akan menembus ke dalam jiwanya dan menghancurkannya lagi.

Para tetua lainnya segera mengikuti tindakan pemimpin mereka, berlutut serempak hingga menghasilkan suara debuk beramai-ramai yang terdengar sangat menyedihkan. Tetua Lin bahkan memukulkan dahinya ke tanah berbatu, tidak peduli jidatnya memar asalkan nyawa reputasinya terselamatkan.

Li Zhen mendecakkan lidahnya berkali-kali, melangkah menuruni satu anak tangga giok dengan postur tubuh yang sangat mendominasi dan angkuh. Dia mengayun-ayunkan botol sampo merah mudanya di udara, memamerkan benda fana aneh itu di depan para kultivator sakti mandraguna tersebut.

"Aku tidak peduli apa yang kalian gosipkan tentangku, karena tubuhku saat ini terasa sangat gatal dan bau akibat udara kotor gunung ini," ucap Li Zhen tanpa basa-basi. "Malam ini aku ingin mandi air hangat, dan aku membutuhkan sebuah bak mandi yang layak untuk merendam tubuh suciku."

Mendengar permintaan yang terkesan sederhana itu, para tetua sekte perlahan mengangkat kepala mereka dengan raut wajah yang sedikit lega. Membuat sebuah bak mandi kayu adalah pekerjaan yang sangat mudah bagi mereka yang bisa membelah gunung dengan satu tebasan pedang.

Tetua Lin buru-buru menyatukan kedua tangannya, memaksakan senyum ramah yang terlihat sangat kaku di wajah keriputnya. "Junior ini akan segera pergi ke hutan pinus untuk menebang pohon terbaik dan membuatkan bak mandi kayu untuk Anda, Senior Agung," tawarnya cepat.

Namun, senyuman lega di wajah para tetua itu langsung hancur lebur saat mereka melihat raut wajah Li Zhen yang berubah menjadi sangat gelap dan jijik. Pemuda itu memutar bola matanya ke atas, menggelengkan kepalanya dramatis seolah baru saja mendengar lelucon paling bodoh sepanjang masa.

"Bak kayu? Apakah kau pikir aku ini anak gembala miskin yang mandi di pinggir sungai menggunakan tong bekas menyimpan ikan asin?" bentak Li Zhen lantang. Suaranya menggelegar penuh amarah yang dibuat-buat, langsung membuat Tetua Lin kembali menundukkan kepalanya dengan ketakutan luar biasa.

"Aku ingin sebuah bak mandi raksasa yang dipahat utuh dari sebongkah Batu Meteorit Bintang Jatuh," tuntut Li Zhen dengan nada mutlak. "Ukir pinggirannya dengan motif awan surgawi, dan pastikan bagian dalamnya dipoles hingga sehalus sutra agar kulitku tidak tergores."

Permintaan gila itu langsung membuat Kepala Sekte Zhao Wuji terbatuk keras, dadanya sesak seakan baru saja dihantam oleh godam besi yang tidak kasat mata. Batu Meteorit Bintang Jatuh adalah material angkasa yang sangat langka, biasanya hanya digunakan untuk menempa inti dari pedang pusaka tingkat kaisar.

Material sekeras dewa itu kini diminta hanya untuk dijadikan sebuah bak mandi rendaman bagi tubuh seorang pemuda tanpa sihir. Mengukir batu meteorit yang anti sihir itu juga akan menguras energi spiritual mereka hingga tetes terakhir, sebuah penyiksaan fisik yang luar biasa brutal.

"S-Senior Agung, memahat Batu Meteorit Bintang Jatuh membutuhkan waktu berhari-hari bahkan jika kami melakukannya bersama-sama," bantah Zhao Wuji dengan suara gemetar. Dia menatap Li Zhen dengan pandangan memelas, berharap pemuda itu memiliki sedikit akal sehat untuk mengganti bahan permintaannya.

Li Zhen melipat lengannya di dada, senyum predatornya kembali muncul saat dia memanggil layar analisis sistem di atas kepala Zhao Wuji. Teks merah menyala itu berkedip menggoda, mengingatkan sang Kepala Sekte pada rahasia korset bajanya yang sangat memalukan.

"Apakah aku terlihat peduli dengan berapa lama waktu yang kalian butuhkan, pria tua penggemar kue manis?" desis Li Zhen dengan ancaman yang sangat spesifik. Zhao Wuji langsung menutup mulutnya rapat-rapat, seluruh keberaniannya menguap tanpa sisa saat rahasia perut buncitnya kembali disinggung.

"Gunakan pedang-pedang pusaka kebanggaan kalian itu sebagai pahat, dan selesaikan bak mandi itu sebelum matahari benar-benar tenggelam," perintah Li Zhen tidak kenal ampun. Dia menunjuk ke arah cincin spasial para tetua, mengetahui dengan pasti bahwa mereka menyimpan batu meteorit itu di dalam brankas dimensi mereka.

Tanpa berani menunda sedetik pun, beberapa tetua langsung mengeluarkan bongkahan batu hitam pekat berukuran raksasa dari cincin spasial mereka. Batu meteorit itu mendarat di halaman dengan suara dentuman dahsyat yang membuat tanah di sekitar paviliun berguncang hebat layaknya gempa bumi.

Mereka mulai menghunus pedang pusaka andalan masing-masing, senjata yang telah meminum darah ribuan iblis kini harus dialihfungsikan menjadi alat pahat batu. Suara dentingan logam beradu dengan batu keras mulai bergema bersahut-sahutan, menciptakan simfoni penderitaan yang memekakkan telinga.

Percikan api beterbangan ke segala arah setiap kali pedang pusaka itu mencoba menggores permukaan Batu Meteorit Bintang Jatuh yang luar biasa alot. Tangan para tetua itu bergetar hebat menahan rasa kebas, namun mereka terus memahat dengan wajah yang dipenuhi oleh keputusasaan dan air mata.

Li Zhen mengangguk puas melihat kekacauan konstruksi tersebut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sisa tetua yang tidak memiliki keahlian memahat batu. Dia mendecakkan lidahnya, memberi isyarat dengan tangannya agar kelompok kultivator pengangguran itu mendekat ke arah tangga beranda.

"Jangan pikir kalian bisa bersantai hanya karena teman-teman kalian sedang memahat batu," ancam Li Zhen kepada Tetua Yao sang alkemis dan beberapa tetua lainnya. "Sebuah bak mandi mewah tidak akan berguna jika tidak ada air panas di dalamnya, bukan?"

Tetua Yao menelan ludah dengan susah payah, firasat buruk kembali menyelimuti hatinya yang sudah hancur lebur sejak tragedi bubur lada hitam tadi pagi. "A-apakah Senior Agung ingin kami mengambilkan air dari mata air spiritual di puncak gunung utama?" tanyanya dengan sangat hati-hati.

Li Zhen tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya pelan sambil mengayunkan botol sabun fana di tangannya ke kiri dan ke kanan. "Air dari puncak gunung terlalu dingin untuk kulitku, aku ingin kalian mengambil air dari Sumber Air Panas Naga Bawah Tanah di lembah kematian."

Mendengar nama lokasi itu, seluruh tetua pengambil air langsung memucat pasi seakan darah mereka disedot habis oleh vampir tak kasat mata. Lembah kematian adalah zona terlarang yang dipenuhi oleh kabut beracun dan dijaga oleh monster tingkat raja, letaknya puluhan mil di bawah kaki gunung.

"Dan dengarkan syarat ini baik-baik," tambah Li Zhen dengan nada yang sangat mematikan, menghentikan protes yang baru saja akan keluar dari mulut Tetua Yao. "Kalian tidak diizinkan menggunakan cincin spasial untuk membawa air itu, karena dimensi sihir akan merusak kemurnian mineral air panasnya."

Syarat mutlak itu menghantam mental para kultivator layaknya hukuman mati yang dijatuhkan tanpa proses pengadilan sama sekali. Tidak boleh menggunakan cincin spasial berarti mereka harus memikul air panas tersebut menggunakan ember kayu biasa dari lembah menuju puncak gunung.

Bagi kultivator tingkat tinggi, membawa air menggunakan ember adalah sebuah pekerjaan rendahan yang biasanya hanya dilakukan oleh murid pelayan kasta terendah. Terlebih lagi, mereka harus berlari menembus zona berbahaya berkali-kali hanya untuk memenuhi satu bak mandi raksasa.

"S-Senior, jika kami tidak menggunakan cincin spasial, air panas itu pasti akan mendingin sebelum sampai ke paviliun ini," bantah seorang tetua perempuan dengan suara serak. Dia menatap Li Zhen dengan pandangan memohon, berharap syarat penyiksaan fisik itu bisa sedikit diringankan.

Li Zhen mengedikkan bahunya dengan gaya masa bodoh, sama sekali tidak mempedulikan hukum fisika perpindahan suhu di dunia nyata. "Itu adalah masalah kalian, bukan masalahku," jawabnya dengan nada angkuh. "Jika air itu sampai di sini dalam keadaan dingin, aku akan menyuruh kalian meminumnya sampai habis dan kembali mengambil yang baru."

Ancaman itu menyumbat seluruh celah bantahan yang tersisa, membuat para tetua itu menundukkan kepala dengan rasa pasrah yang absolut. Dao Heart mereka yang sudah retak parah kini benar-benar hancur menjadi debu, menyadari bahwa mereka telah menjadi budak fisik dan mental seutuhnya.

Tetua Yao dan kelompok pengambil air itu akhirnya membalikkan badan dengan langkah gontai, berjalan terseok-seok mencari ember kayu di gudang sekte. Bahu mereka merosot lemas, punggung mereka terlihat seperti orang-orang tua yang telah kehilangan seluruh harapan hidup dan masa depan cerah mereka.

Li Zhen kembali duduk santai di atas kursi beludru merahnya, memutar-mutar botol sabun mawar di tangannya dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia. Dia menyilangkan kaki kirinya, menatap matahari kembar yang terik sambil mendengarkan alunan suara dentingan pedang melawan batu meteorit.

"Kehidupan sebagai tiran bermulut sampah ternyata jauh lebih menyenangkan daripada menjadi pahlawan yang harus menyelamatkan dunia," gumam Li Zhen sambil terkekeh pelan. Dia bersandar nyaman di kursinya, menunggu bak mandi emas dan air panasnya tiba sambil menikmati penderitaan massal para dewa di halaman rumahnya.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!