NovelToon NovelToon
Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:900
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.

Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.

Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memutus Benang Cinta

[POV: VERONICA]

"Cinta adalah kelemahan terbesar manusia. Dan ketika aku melihat benih-benih itu mulai tumbuh di antara bidak-bidak permainanku, aku tidak bisa membiarkannya mekar. Cinta hanya akan membuat mereka berani melawanku, berani mempertanyakan aturan, dan berani merebut apa yang bukan haknya. Maka, sebelum cinta itu menjadi kekuatan yang mampu menghancurkanku, aku harus memotongnya, aku harus mematikannya, dan aku harus mengubahnya menjadi neraka yang akan menyiksa mereka selamanya."

...****************...

Waktu terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Rosella dan Arkan tumbuh dewasa di bawah pengawasanku yang ketat. Mereka cantik dan tampan, cerdas dan berkarisma. Sempurna, persis seperti apa yang aku inginkan.

Namun, mata seorang ibu dan seorang penguasa tidak pernah buta. Aku melihat segalanya. Aku mencatat setiap gerak-gerik kecil.

Dan suatu hari, aku melihat sesuatu yang membuat darahku mendidih kembali. Sesuatu yang mengancam seluruh rencanaku.

Aku melihat cara Hariz memandang Rosella. Mata yang menyimpan rahasia indah.

Hariz... anak dari Abraham dan Rizna Leonita, anak yang tumbuh bersama dengan Rosella. Tapi entah kenapa, sejak kecil dia selalu memiliki ikatan batin yang kuat dengan Rosella.

Awalnya aku mengira itu hanya rasa sayang sesama keluarga, atau teman bermain. Tapi semakin dewasa, tatapan itu berubah.

Aku mulai memperhatikan. Saat Hariz berada di ruangan yang sama dengan Rosella, suaranya akan menjadi lebih lembut. Matanya tidak akan pernah lepas dari wajah gadis itu. Saat Rosella tertawa, Hariz akan tersenyum, dan saat Rosella sedih, Hariz lah yang pertama kali merasakannya.

Dan yang paling membuatku waspada... Aku pernah memergoki Hariz sedang memandang foto Rosella dengan tatapan yang begitu dalam, tatapan yang bukan sekadar sayang, tapi cinta.

Cinta terlarang. Cinta yang seharusnya tidak pernah ada.

"Jahanam..." gerutuku dalam hati saat menyadari fakta itu. "Jadi kau mencintainya, ya, Hariz? Kau mencintai gadis yang kubuat dengan baik sebagai penghancur kalian?"

Rasa takut mulai menjalar di dadaku. Aku tahu betul karakter Hariz. Dia anak yang baik, dia taat, tapi jika dia sudah mencintai seseorang, dia akan melakukan apa saja untuk melindunginya. Jika dia menyadari bahwa perasaannya terbalas, atau bahkan jika dia berani mengungkapkannya... maka posisiku akan terancam.

Karena Hariz adalah anak yang disegani. Dia cerdas, dia memiliki pengaruh, dan dia pewaris yang kuat. Jika dia memihak Rosella, jika mereka bersatu karena cinta... maka mereka akan menjadi kekuatan yang tidak bisa aku kendalikan lagi. Mereka akan tahu kebenaran, mereka akan melawanku, dan Hengki... anakku yang lemah itu... akan tersingkir selamanya.

Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Cinta Hariz pada Rosella adalah bom waktu yang harus dinetralisir sebelum meledak.

Maka, aku mengambil keputusan cepat dan mematikan.

Jika Hariz menginginkan Rosella... maka aku harus mengambil Rosella dari depannya sebelum sempat dia menyentuhnya. Aku harus memberikan gadis itu kepada orang lain. Orang yang aku percaya sepenuhnya. Orang yang bisa menjaganya agar tetap di bawah cengkeramanku.

Dan siapa lagi selain anakku sendiri? Hengki.

Ya! Tentu saja Hengki!

Hengki adalah darah dagingku. Dia adalah perpanjangan tanganku. Jika Rosella menjadi istri Hengki, maka dia akan berada di dalam rumah tanggaku sendiri. Dia akan berada di bawah kekuasaan anakku. Dia tidak akan bisa lari ke mana-mana.

Dan yang paling penting... dengan cara ini, aku bisa menghancurkan hati Hariz selamanya.

Aku bisa membayangkannya. Melihat wanita yang dicintainya menikah dengan kakaknya sendiri, dengan laki-laki yang kasar dan tidak tahu cara menghargai wanita. Itu akan menjadi siksaan terbesar bagi Hariz. Dan siksaan itu akan membuatnya lemah, membuatnya patah semangat, dan membuatnya tidak akan pernah berani melawanku lagi.

"Permainan ini milikku, Hariz..." bisikku dingin sambil memandang foto mereka berdua. "Kau boleh memiliki segalanya, tapi tidak dengan dia. Dia adalah milikku, dan aku akan menyerahkannya pada siapa pun yang aku mau."

Tugas selanjutnya adalah meyakinkan semua pihak.

Pertama, aku mendekati Hengki. Anakku itu memang memiliki nafsu dan ambisi. Dia menginginkan posisi, dia menginginkan kekayaan, dan dia juga mengakui kecantikan Rosella.

"Menikahlah dengannya, Nak," bisikku padanya suatu malam. "Rosella itu gadis yang sempurna. Dia cantik, dia sopan, dan yang paling penting... dia sangat dekat dengan Hariz. Jika kau menikahinya, kau tidak hanya mendapatkan istri yang indah, tapi kau juga mendapatkan kendali penuh atas mereka. Kau akan menjadi orang terkuat di keluarga ini setelah Ayahmu."

Matanya berbinar. Ambisinya terang'sang. Tanpa perlu diberi tahu dua kali, Hengki setuju. Dia bahkan tidak peduli apakah Rosella mencintainya atau tidak. Baginya ini adalah strategi politik dan kepuasan egonya.

Kemudian giliran Rosella. Gadis malang itu. Aku tahu dia tidak memiliki perasaan apa pun pada Hengki. Aku bahkan bisa menebak bahwa diam-diam dia juga menyimpan harapan pada Hariz. Tatapan mereka sering bertukar rasa, meski mereka berusaha menyembunyikannya.

Maka aku bermain dengan emosi dan rasa hormatnya.

Aku datang padanya dengan wajah paling lembut dan penuh kasih sayang.

"Rosella, Ibu punya kabar baik," ucapku dengan senyum paling manis. "Hengki menyukaimu. Dia meminta Ibu untuk melamarmu menjadi istrinya. Ibu sangat senang, karena Ibu tahu kau akan bahagia hidup bersama anakku. Kau akan menjadi Nyonya Besar, kau akan memiliki status yang tinggi."

Aku melihat wajah Rosella pucat. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Aku tahu dia ingin menolak. Aku tahu hatinya menjerit menolak. Tapi dia tidak berani. Dia dibesarkan untuk taat. Dia dibesarkan untuk menghormati orang lain.

"Tapi... Bu..." cicitnya pelan, suaranya bergetar. "Saya... saya tidak merasa cocok dengan Mas Hengki. Dia sepertinya sangat kasar.."

"Itu hanya luarnya saja, Sayang," potongku cepat, sambil memegang tangannya dengan lembut namun mencengkeram kuat. "Laki-laki itu begitu. Nanti juga akan berubah jika sudah berumah tangga. Lagipula, ini keinginannya sendiri, apalagi Ibu. Ini juga keinginan Om Abraham. Kau tidak ingin mengecewakan kami semua, bukan? Ingatlah siapa yang sering membantumu saat susah selama ini."

Ancaman halus itu berhasil. Wajah Rosella runtuh. Dia mengangguk lemah, air matanya jatuh tanpa suara. Dia setuju. Dia menyerahkan hidupnya, menyerahkan hatinya, demi rasa bakti yang aku manfaatkan dengan sepenuh hati.

Hari pernikahan itu tiba. Suasana begitu meriah, penuh kemewahan, penuh ucapan selamat. Tapi bagiku, itu adalah hari kemenangan terbesarku.

Aku berdiri di sudut ruangan, memandang prosesi sakral itu dengan senyum puas.

Di sana, Rosella berpakaian indah, wajahnya cantik namun menyimpan rasa kecewa dan sedih. Dia dinikahkan dengan Hengki di depan penghulu. Janji suci diucapkan, ikatan resmi terjalin.

Dan di sisi lain, aku melihat Hariz.

Oh, betapa nikmatnya melihat pemandangan itu!

Hariz berdiri tegak, wajahnya pucat pasi. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tidak lepas dari wajah Rosella, dan di dalam mata itu... berkaca-kaca sehingga aku bisa melihat kepedihan yang mendalam, kekecewaan, dan cinta yang terpaksa harus dipadamkan.

Dia tahu. Dia sadar sepenuhnya. Bahwa wanita yang dicintainya kini telah menjadi milik orang lain. Menjadi milik kakaknya sendiri. Jalan untuk mencintainya kini tertutup selamanya. Cinta itu adalah dosa. Cinta itu adalah hal terlarang.

Hariz tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memendam perasaannya, memakan hati sendiri, dan melihat orang yang dia sayangi hidup di bawah atap yang sama dengan laki-laki yang tak mencintainya.

"Rasakan itu, Hariz..." bisikku dalam hati, menikmati setiap detik penderitaannya. "Itu hukuman bagimu karena berani berharap lebih. Itu pelajaran agar kau tahu batasanmu. Rosella sekarang adalah istri Hengki. Dia ada di bawah kendaliku. Dan kau... kau hanya bisa memandang dari jauh selamanya."

 Rencanaku berjalan sempurna.

Setelah pernikahan itu, segalanya berubah menjadi seperti yang aku inginkan.

Hariz memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan mengelola perusahaan cabang milik suamiku. Dia berencana tidak akan kembali dalam waktu yang lama.

Sedangkan Rosella terikat erat. Dia tidak bisa lari. Dia harus melayani Hengki, dia harus hidup dalam rumah tangga tanpa cinta, penuh keterpaksaan.

Dan dengan adanya Rosella di dekat Hengki, di dalam genggamanku... Arkan dan Hariz menjadi sangat mudah diatur.

Kelak Arkan tidak akan berani bergerak bebas karena dia tahu kakaknya ada di tangan kami.

Hariz tidak akan berani melawan dengan keras karena dia tidak ingin Rosella akan menderita di tangan Hengki.

Cinta mereka menjadi cambuk bagi diri mereka sendiri.

Aku telah menggunakan pernikahan itu sebagai alat pengikat yang paling kuat. Aku memotong jalan cinta Hariz, aku menjadikan pernikahan itu penjara bagi Rosella, dan aku menjadikan diriku satu-satunya penguasa yang memegang kendali atas emosi dan nasib mereka semua.

Mereka pikir itu adalah takdir? Mereka pikir itu adalah kebetulan?

Bodoh.

Itu semua adalah skenarioku. Aku yang menulis naskahnya. Aku yang memaksa mereka memainkannya. Dan aku yang menikmati hasilnya dengan tenang di singgasana kekuasaanku.

Hengki, Rosella, Hariz, Arkan... kalian semua hanyalah boneka-bonekaku. Dan tali pengikat kalian ada di tanganku. Selamanya.

1
Daisy
keren.
Rocean: terima kasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!