NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Satu Selimut, Dua Dunia

​Apartemen di kawasan Sudirman ini berada di lantai empat puluh dua, seolah sengaja dibangun untuk mengisolasi penghuninya dari realitas bising jalanan ibu kota. Di luar jendela kaca setinggi tiga meter, badai masih merajam Jakarta tanpa ampun. Kilat sesekali merobek kanvas langit malam, memantulkan pendar cahayanya ke atas lantai kayu oak yang membeku.

​Aku duduk di ujung sofa ruang tengah, masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang kupakai saat diusir dari kediaman Mahendra beberapa jam lalu. Di tanganku, secarik kertas sticky note berwarna kuning—pesan rahasia dari Ghazali yang ditulis dengan tinta Montblanc khusus itu—telah mulai lecek karena terus-menerus kuremas.

​“Lawan aku, agar kita bisa menang.”

​Kalimat itu terus berdengung di dalam rongga kepalaku bagaikan kaset rusak. Aku adalah seorang ilmuwan. Duniaku dibentuk oleh kepastian mikroskopis dan kausalitas yang tak terbantahkan. Namun pria ini... suamiku ini... memaksaku masuk ke dalam panggung teater di mana setiap kebenaran harus dibalut dengan lapis-lapis kebohongan, dan setiap cinta harus dimanifestasikan melalui kebencian.

​Suara denting elektronik dari arah pintu utama memecah kesunyian. Pip-pip-klik.

​Aku terlonjak berdiri. Jantungku seketika berpacu melawan tulang rusukku. Pintu kayu ek yang tebal itu terbuka, mendorong masuk hembusan angin koridor yang membawa serta aroma hujan, petrikor, dan wangi parfum oud yang sangat spesifik.

​Ghazali Mahendra melangkah masuk.

​Ia tidak terlihat seperti Jaksa Penuntut Umum yang beberapa jam lalu membuangku di depan ibunya dan Maia. Jas abu-abunya basah kuyup, meneteskan air ke atas karpet mahal di dekat pintu. Rambutnya yang biasanya tersisir klimis kini berantakan, menempel di dahinya yang pucat. Ia menutup pintu, menyandarkan punggungnya di sana, dan memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang.

​"Kau basah kuyup," suaraku memecah keheningan, mengudara dengan nada yang lebih mirip teguran dokter daripada sapaan seorang istri.

​Ghazali membuka matanya. Pandangannya langsung mengunci posisiku. Ia berjalan perlahan mendekat, langkahnya sedikit gontai. "Sopirku menurunkanku tiga blok dari sini. Aku harus berjalan kaki melewati lorong bawah tanah stasiun MRT agar Maia dan orang-orang suruhan ibuku yang menguntit mobilku kehilangan jejak."

​"Mereka menguntitmu?"

​"Tentu saja," Ghazali mendengus pelan, sebuah tawa kering yang hampa. Ia melepaskan jasnya yang basah dan melemparnya sembarangan ke atas kursi tunggal. "Kau pikir ibuku akan percaya begitu saja bahwa aku tiba-tiba berbalik memihaknya dan membuangmu tanpa perlawanan yang berarti? Dia adalah wanita yang merancang pembunuhan ayahnya sendiri, Keana. Paranoianya jauh lebih besar dari ambisinya."

​Aku melipat tanganku di depan dada, mencoba membangun barikade psikologis. "Dan karena paranoianya itu, kau merancang skenario perceraian ini? Kau menjadikanku martir publik agar kau bisa bergerak bebas di belakang layar?"

​Ghazali menghentikan langkahnya, menyisakan jarak sekitar dua meter di antara kami. Ia menatap kertas kuning yang masih kugenggam.

​"Aku tidak punya pilihan lain, Keana," ucapnya, suaranya berat dan bergetar menahan dingin. "Di saat Ibu menyuruh algojonya bersiap membunuh Adrian melalui layar ponsel itu, aku tahu bahwa satu-satunya cara untuk membuat mereka menurunkan senjata adalah dengan memberikan apa yang paling mereka inginkan: kehancuranku. Dan di mata mereka, kehancuranku dimulai dengan kehilanganmu."

​"Kau bisa saja memberitahuku!" suaraku meninggi, merobek dinding kesunyian apartemen. "Kau bisa saja memberiku isyarat! Kau tahu betapa hancurnya aku saat kau menepis tanganku di kamar itu? Kau membiarkanku mengira bahwa selama ini aku hanyalah sampah yang salah alamat!"

​"Jika aku memberimu isyarat, Maia akan melihatnya!" Ghazali melangkah maju, memangkas jarak kami hingga aku harus mendongak untuk menatap wajahnya. "Wanita itu adalah ular berbisa! Dia membaca mikro-ekspresi lebih baik dari mesin poligraf mana pun. Jika kau tidak benar-benar hancur, jika air matamu malam itu tidak seratus persen nyata... mereka tidak akan melepaskan Adrian!"

​Aku terdiam. Dadaku naik turun dengan cepat. Realitas dari ucapannya menghantam keras logikaku. Ia benar. Penderitaan dan keputusasaan yang kurasakan malam itu adalah satu-satunya mata uang yang bisa membeli nyawa asistenku.

​"Lalu abu itu?" tanyaku lirih, teringat pada rencanaku bersama Adrian. "Abu dari kertas pengakuan dokter Kakek yang Maia bakar. Aku berencana meminta tim Labfor kepolisian untuk menganalisis sisa abunya di karpet kamarmu."

​Ghazali menggeleng pelan. "Lima menit setelah kau menyeret kopermu keluar dari rumah, Ibu menyuruh pelayan menyedot seluruh karpet dengan vacuum cleaner, lalu membakar kantong debunya di perapian ruang baca. Tidak ada sisa residu karbon apa pun yang bisa dianalisis oleh laboratoriummu, Keana. Bukti itu telah lenyap selamanya."

​Harapanku runtuh. Lututku terasa lemas, membuatku merosot kembali ke atas sofa. "Lalu bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kakekmu dibunuh dengan Digitalis? Tanpa pengakuan tertulis itu, kita tidak punya dasar untuk membuka kasus."

​"Kita masih punya kau," Ghazali ikut duduk di ujung sofa yang sama, menjaga jarak beberapa jengkal dariku. Ia menumpukan siku di lututnya, mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau mengatakan bahwa Digitalis mengendap di sumsum tulang, bukan?"

​"Ya. Glikosida jantung dari tanaman mematikan itu akan mengikat jaringan epitel dan tulang secara permanen," jelasku, insting profesionalku seketika mengambil alih emosiku. "Meskipun sudah bertahun-tahun, jika kita melakukan ekshumasi—penggalian jenazah kembali—dan memasukkan sampel tulang Kakek ke mesin spektrometri massa, racun itu akan terbaca dengan jelas."

​"Maka itulah jalan satu-satunya," Ghazali menoleh padaku. "Kita harus mendapatkan perintah pengadilan untuk ekshumasi."

​"Itu mustahil, Ghazali! Untuk mengeluarkan izin ekshumasi, polisi membutuhkan bukti awal yang kuat bahwa terjadi tindak pidana. Kita tidak punya bukti awal itu lagi!"

​"Itulah sebabnya kita butuh Pengadilan Agama," ucap Ghazali, matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu apartemen.

​Aku mengernyitkan dahi, sama sekali tidak memahami logika hukum pria ini. "Apa hubungannya gugatan cerai kita di Pengadilan Agama dengan izin polisi untuk menggali makam Kakek?"

​Ghazali memperbaiki posisi duduknya, menahan rasa menggigil yang mulai menyerang tubuhnya karena kemejanya yang masih basah. "Di Pengadilan Agama, ada yang namanya gugatan rekonvensi dan sengketa harta bersama. Aku ingin kau menyewa pengacara paling brutal yang bisa kau temukan. Saat sidang perdana nanti, tolak mediasi. Ajukan gugatan rekonvensi, dan tuntut audit menyeluruh terhadap harta warisan Kakek yang menjadi bagian dari harta bersama kita."

​Aku mulai menangkap arah pikirannya. "Jika pengadilan memerintahkan audit..."

​"...Maka tim penilai independen akan memeriksa seluruh aliran dana yayasan Mahendra," Ghazali menyambung kalimatku. "Mereka akan menemukan transaksi gelap dari rekening ibuku ke rekening Maia tepat di hari kematian Kakek. Transaksi itu akan menjadi 'bukti awal' atau novum yang cukup bagi Komisaris Herman untuk menerbitkan surat perintah penyelidikan pidana dan izin ekshumasi tanpa bisa dihalangi oleh ibuku."

​Strategi yang sangat brilian. Namun di saat yang sama, strategi yang sangat berdarah.

​"Tapi sebagai konsekuensinya," bisikku ngeri, "seluruh media massa akan menyorot perceraian kita. Publik akan membedah kehidupan pribadimu. Reputasimu sebagai Jaksa Penuntut Umum yang bersih akan hancur lebur saat aku menggugatmu dengan tuduhan menyembunyikan harta. Kariermu akan tamat, Ghazali."

​Ghazali tersenyum tipis. Sebuah senyum tulus pertama yang pernah ia tunjukkan padaku sejak kami berdiri di altar pernikahan. "Reputasi adalah hal yang paling berharga bagi seorang pria yang tidak memiliki apa-apa. Tapi malam ini... aku menyadari bahwa aku memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga untuk dipertahankan."

​Ia menatapku lurus di mata, menembus segala pertahanan yang kubangun.

​Tiba-tiba, tubuh Ghazali bergetar hebat. Giginya bergemeretak. Hipotermia ringan mulai menyerangnya karena angin malam dan pakaian basahnya.

​Refleks profesionalku bekerja lebih cepat dari egoku. Aku bangkit berdiri, bergegas menuju kamar mandi apartemen, dan membawa keluar dua buah handuk tebal serta selembar selimut cashmere berukuran besar dari lemari Kakek.

​"Lepaskan kemejamu," perintahku tegas saat kembali ke ruang tengah.

​Ghazali mendongak, menatapku dengan alis terangkat. "Apakah ini prosedur medis standar, Dokter?" godanya dengan suara bergetar.

​"Ini prosedur untuk memastikan kau tidak mati konyol karena pneumonia sebelum sidang perceraian kita dimulai," balasku tanpa mempedulikan sarkasmenya.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Ghazali membuka kancing kemejanya satu per satu. Ia melepaskan kain basah itu, mengekspos dadanya yang bidang dan penuh dengan bekas luka memar baru—sisa pertarungannya dengan algojo Maia di dermaga dua malam lalu.

​Aku duduk di sampingnya, lebih dekat dari sebelumnya. Aku mengeringkan bahu dan rambutnya dengan handuk, mengabaikan fakta bahwa tanganku sesekali bersentuhan langsung dengan kulitnya yang dingin.

​Setelah tubuhnya cukup kering, aku membentangkan selimut cashmere raksasa itu, menyelimuti tubuhnya, lalu dengan sedikit ragu, aku ikut menyelusup ke bawah selimut yang sama. Pendingin ruangan apartemen ini disetel terlalu rendah, dan kemejaku sendiri masih sedikit lembap karena hujan saat aku keluar dari rumah sakit tadi.

​Kami berdua duduk bersisian di atas sofa, terbungkus rapat di bawah satu selimut yang sama. Bahu kami bersentuhan. Kehangatan mulai merayap pelan, mengusir gigitan hawa malam.

​Ini adalah ironi yang paling menyesakkan dada. Di malam pengantin kami, di atas ranjang raksasa milik keluarga Mahendra yang sah secara hukum, kami tidur berpisah oleh jarak yang mematikan dan kebencian yang mendalam. Namun malam ini, di sebuah apartemen persembunyian, sebagai dua orang yang sedang mempersiapkan perceraian mereka, kami justru duduk berbagi kehangatan di bawah satu selimut yang sama.

​Satu selimut. Namun entah mengapa, aku masih merasa kami berada di dua dunia yang berbeda.

​"Luka di bahumu," Ghazali bergumam pelan, pandangannya tertuju pada perban di balik kerah kemejaku akibat sayatan pisau Maia. "Apakah masih sakit?"

​"Sayatan scalpel memiliki tepi yang sangat presisi, Ghazali. Selama tidak mengenai arteri utama, jaringan epitel akan sembuh dengan cepat," jawabku, secara otomatis bersembunyi di balik terminologi medisku untuk menutupi kecanggunganku.

​Ghazali menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, memiringkan wajahnya untuk menatapku. Jarak kami sangat dekat, hingga aku bisa melihat pantulan lampu pada korneanya.

​"Kau selalu berlindung di balik bahasa kedokteranmu setiap kali kau merasa rentan, Keana. Persis seperti kau yang selalu menyemprotkan cairan disinfektan saat kau merasa gelisah," bisiknya. Tangannya bergerak perlahan dari balik selimut, mencari tanganku, lalu menggenggamnya dengan erat. "Kau tahu kenapa aku selalu menghina bau formalin di tubuhmu sejak malam pertama kita?"

​Aku menelan ludah. "Karena kau jijik. Karena bau itu mengingatkanmu pada kamar mayat yang kotor."

​"Tidak," Ghazali menggeleng pelan. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan ritme yang menenangkan. "Karena formalin memiliki sifat absolut untuk menghentikan proses alami. Ia mengawetkan hal yang sudah mati, membuatnya membeku dalam waktu tanpa pernah bisa berubah. Saat aku melihatmu, saat aku mencium aroma itu... aku takut."

​"Takut pada apa?"

​"Aku takut bahwa pernikahan ini hanya akan menjadi seperti formalin bagi luka-lukaku," suara Ghazali terdengar begitu rapuh, sangat kontras dengan sosok dominan yang ia tampilkan di luar sana. "Aku takut jika aku membiarkanmu masuk, aku hanya akan mengawetkan rasa sakit di hatiku karena pengkhianatan Kakek dan Maia, tanpa pernah bisa benar-benar menyembuhkannya. Aku sengaja mendorongmu menjauh, karena membencimu jauh lebih mudah daripada mengakui bahwa aku membutuhkanmu."

​Duniaku berhenti berputar sejenak. Pengakuan itu melucuti semua amarah yang tersisa di dadaku. Pria ini tidak pernah benar-benar membenciku; ia hanya membenci ketidakberdayaannya sendiri.

​"Kau bodoh, Ghazali," bisikku, tak kuasa menahan air mata yang kembali menggenang. "Sebagai dokter forensik, pekerjaanku bukan hanya mengurus orang mati. Tugasku adalah mencari tahu mengapa mereka mati, agar mereka yang masih hidup bisa belajar dari luka itu dan tidak mengulanginya."

​Aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang keras. "Kau seharusnya membiarkanku membedah lukamu sejak awal, bukannya membuangku ke dalam jurang."

​Ghazali merengkuh bahuku, menarikku lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara kami. Di bawah selimut cashmere yang hangat itu, kami berdua terdiam, membiarkan detak jantung kami yang berbicara. Di luar sana, di dunia publik yang kejam, kami adalah sepasang suami istri yang saling membenci dan bersiap untuk saling menghancurkan di Pengadilan Agama. Namun di bawah selimut ini, di dunia rahasia kami, kami hanyalah dua manusia yang sedang menyembuhkan sayatan di jiwa masing-masing.

​"Beristirahatlah, Keana," bisik Ghazali, mengecup puncak kepalaku dengan lembut. "Karena besok pagi, saat matahari terbit, kau harus membenciku lebih dari apa pun di dunia ini."

​"Aku akan mencoba menjadi aktris yang baik, Pak Jaksa," gumamku, sebelum akhirnya memejamkan mata dan membiarkan kelelahan ekstrem menenggelamkanku ke dalam tidur tanpa mimpi.

​Satu minggu kemudian.

​Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan dikepung oleh puluhan wartawan sejak pukul delapan pagi. Kamera-flash menyala bertubi-tubi seperti badai petir, menembakkan cahaya silau ke arahku saat aku turun dari mobil taksi online.

​Kasus perceraian Ghazali Mahendra, Jaksa Penuntut Umum bintang yang sedang menangani mega-korupsi nasional, melawan istrinya yang seorang dokter forensik, telah bocor ke media dua hari yang lalu dan langsung menjadi tajuk utama berita nasional. Spekulasi liar bertebaran: mulai dari perselingkuhan, KDRT, hingga ketidakcocokan gaya hidup elit.

​Aku berjalan dengan dagu terangkat tinggi, mengenakan setelan blazer berwarna navy yang elegan. Di sampingku, berjalan seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai tebal dan raut wajah setajam elang. Dia adalah Leo Sastra, pengacara litigasi perdata paling agresif dan ditakuti di Jakarta, persis seperti yang Ghazali perintahkan untuk kusewa.

​"Ingat rencana kita, Dokter Keana," Leo berbisik di sampingku saat kami membelah kerumunan wartawan menuju ruang sidang. "Di tahap mediasi nanti, kita tolak mentah-mentah. Begitu masuk ke persidangan awal, saya akan langsung melempar bom rekonvensi terkait pembekuan aset bersama dan permohonan audit forensik finansial terhadap yayasan keluarga suami Anda."

​"Lakukan sesadis mungkin, Pak Leo," jawabku dingin. "Jangan beri mereka ruang untuk bernapas."

​Kami memasuki ruang sidang mediasi yang sempit dan pengap. Di seberang meja kayu jati, Ghazali sudah duduk menanti. Ia terlihat sempurna dalam balutan jas hitam mahalnya. Wajahnya adalah bongkahan es yang tak tersentuh emosi.

​Namun, yang membuat darahku mendidih adalah sosok yang duduk tepat di sebelah kirinya.

​Maia Anindita.

​Wanita itu kembali hadir, kali ini berlagak sebagai "penasihat hukum keluarga" atau mungkin sekadar representasi fisik dari kemenangan Nyonya Ratna. Maia menyunggingkan senyum sinis saat aku masuk, memamerkan kedekatannya dengan Ghazali di depan mataku secara langsung.

​"Baiklah, karena kedua belah pihak prinsipal sudah hadir, mari kita mulai sidang mediasi ini," Hakim Mediator yang duduk di tengah meja membuka berkas. "Saudara Ghazali selaku Pemohon, dan Saudari Keana selaku Termohon. Sesuai prosedur, pengadilan wajib mengupayakan perdamaian sebelum masuk ke pokok perkara perceraian. Apakah masih ada ruang untuk memperbaiki rumah tangga ini?"

​Aku menatap Ghazali. Di bawah meja, tanganku mengepal kuat. Kami berada di ruang yang sama, namun batas antara 'satu selimut' seminggu yang lalu dengan 'dua dunia' hari ini terasa sangat kejam.

​Ghazali menatap Hakim Mediator dengan ekspresi pualamnya. "Tidak ada yang perlu didamaikan, Yang Mulia. Pernikahan ini adalah sebuah kesalahan sejak hari pertama. Saya hanya ingin proses ini diselesaikan secepat mungkin."

​Kata-kata itu, meskipun aku tahu adalah bagian dari skenario, tetap saja menyayat ulu hatiku bagaikan sayatan scalpel tumpul.

​Hakim menoleh padaku. "Bagaimana dengan Saudari Termohon?"

​Leo Sastra segera mengambil alih sebelum aku sempat menjawab. "Klien saya juga menolak mediasi, Yang Mulia. Faktanya, klien saya telah menjadi korban kekerasan psikologis yang masif. Kami tidak hanya menyetujui perceraian ini, tetapi kami juga secara resmi akan mendaftarkan gugatan rekonvensi berupa sita marital terhadap seluruh aset yang berafiliasi dengan Pemohon, termasuk aset Yayasan Mahendra, karena kami menduga ada upaya penyembunyian harta dan pencucian uang selama masa pernikahan."

​Senyum sinis Maia seketika luntur. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Keberatan, Yang Mulia! Gugatan rekonvensi itu tidak relevan dengan objek sengketa perceraian ini. Aset Yayasan Mahendra adalah entitas hukum terpisah!"

​"Relevansi itu akan dibuktikan melalui audit finansial yang akan kami ajukan perintahnya pada hakim pemeriksa perkara, Rekan Maia," potong Leo dengan senyum meremehkan yang jauh lebih tajam.

​Ghazali berakting dengan sangat brilian. Ia menggebrak meja dengan keras, menatapku dengan sorot mata penuh kebencian artifisial. "Kau benar-benar serakah, Keana! Kau pikir kau bisa menghancurkan keluargaku dengan fitnah kotor ini?!"

​"Aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku dari pria yang tidak pernah punya hati, Ghazali!" teriakku membalasnya, membiarkan suaraku terdengar serak dan histeris, persis seperti istri yang terluka parah. "Kita lihat saja siapa yang akan hancur saat auditor membuka brankas keluargamu!"

​Keributan di ruang mediasi itu berhasil menarik perhatian para panitera dan wartawan di luar yang mulai merangsek menempelkan telinga ke pintu. Skenario kami berjalan sempurna. Skandal ini akan meledak di media, memaksa pengadilan membuka akses finansial keluarga Mahendra, dan memberikan celah bagi polisi untuk bertindak.

​Namun, di tengah adu akting kemarahan itu, ponsel di saku blazer-ku bergetar pelan.

​Aku mengabaikannya sejenak, namun getaran itu berlanjut secara persisten. Di bawah meja, aku menyelipkan tanganku dan melirik layar ponselku.

​Itu adalah pesan masuk dengan tingkat prioritas darurat dari Komisaris Herman.

​Mataku menyapu teks singkat yang tertera di sana. Dan seketika, seluruh sandiwara kemarahan yang sedang kumainkan runtuh menjadi kengerian yang murni. Udara di ruang sidang seakan ditarik paksa.

​“Dokter Keana, gagalkan rencana rekonvensi itu sekarang juga! Kami baru saja mendapat intel dari orang dalam kuburan keluarga Mahendra. Izin ekshumasi ditolak secara permanen oleh atasan karena objeknya sudah tidak ada. Jenazah kakek mertuamu... makamnya baru saja dibongkar dan jenazahnya dipindahkan secara diam-diam tadi malam. Tulang beracun itu lenyap.”

​Aku menatap Ghazali dengan pandangan horor yang tak lagi dibuat-buat.

​Maia, yang sejak tadi mengamati perubahan ekspresiku, kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menyesap air mineral di botolnya, lalu tersenyum menatapku. Sebuah senyuman predator yang baru saja mematahkan leher mangsanya.

​Di bawah satu atap pengadilan ini, di depan suamiku yang berbagi satu selimut denganku, aku menyadari satu kebenaran yang mengerikan: kami bermain di papan catur yang sama, tetapi Nyonya Ratna dan Maia selalu selangkah lebih maju dalam permainan kematian ini.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!