Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Perjalanan panjang
Sesuai dengan rencana mereka kemarin maka hari ini mereka menuju padepokan milik kyai Ahmad untuk pengobatan Aina, menggunakan mobil milik mereka sendiri maka mereka berempat pergi dengan perasaan was-was di dalam hati dan juga perasaan berharap agar perjalanan kali ini memang membuahkan hasil untuk Aina itu sendiri supaya mendapat kesembuhan.
Tapi ada rasa cemas juga di dalam hati mereka karena perjalanan kali ini pasti akan mengundang sedikit berbagai macam marabahaya, kyai Ahmad sudah mengatakan bahwa perjalanan mereka mungkin memang sedikit rumit karena iblis itu tidak akan pernah membiarkan Aina sembuh, jadi sebisa mungkin mereka harus ikhtiar untuk mengusir iblis yang datang nanti.
Mata Aina sudah di tutup menggunakan kain hitam agar dia tidak bisa melihat perjalanan kali ini, menurut kyai Ahmad sendiri bila mata Aina tidak terbuka dari kain itu maka perjalanan mereka akan aman dan tidak ada gangguan sama sekali, jadi sebisa mungkin jangan sampai mata itu terbuka dan perjalanan mereka akan sangat lancar.
Wiwin sudah mengikat keras kain hitam itu agar jangan sampai terlepas selama perjalanan ini, Aina juga menurut saja sambil duduk bersandar karena dia tahu ini adalah yang terbaik untuk masa pengobatan dia, tidak ada salahnya mencoba karena segala sesuatu tidak akan pernah tahu bila kita belum mencobanya sendiri.
Berulang kali Aina mengecek kondisi kain itu agar jangan sampai terlepas, dia juga berusaha untuk mempertahankan tersebut agar tidak ada masalah dalam perjalanan ini karena dia juga ingin kesembuhan dan tidak menderita seperti ini lagi, sebab rasa sakit yang ada di dalam diri dia sungguh tidak terhingga.
Maka dari itu dia tidak ingin terus memperpanjang rasa sakit ini, lebih baik untuk sedikit menderita dan kebingungan walau di dalam mobil terasa puyeng karena mata tertutup dan terus berjalan seperti ini, sebisa mungkin Aina menahan agar semua masalah ini bisa segera hilang dari dalam diri dia dan kesembuhan itu datang menghampiri.
"Kau kalau mau muntah maka bilang saja biar aku ambilkan kantong." Wiwin berbicara kepada Aina.
"Ini masih bisa aku tahan kok rasa mual, nanti kalau sudah tidak tahan maka aku akan ngomong." jawab Aina sambil meremas tangan dia sendiri.
"Perut mu belum ada rasa sakit kan?" Wiwin bertanya dengan penuh perhatian.
Aina menggeleng karena sejak tadi dia memang belum merasakan sakit pada bagian perut, oleh sebab itu dia sejak tadi berdoa agar rasa sakit itu tidak timbul sehingga dia bisa tetap anteng seperti ini, sebab bila rasa sakit itu sudah timbul maka Aina jelas tidak akan mampu menahan dan dia akan bergerak sesuka hati tanpa bisa mengontrol diri.
"Semoga kita segera sampai dan kau mendapat kesembuhan dia di sana." harap Bu Putri sambil menatap sang anak.
"Amin, semoga setelah pulang dari padepokan itu maka Aina akan selamat dan sehat." Pak Seno mengaminkan ucapan sang istri.
"Ya, semoga dia bisa sembuh dan hidup bahagia tanpa ada yang menyakiti lagi." Wiwin juga berharap kebaikan untuk Aina.
"Amin." Aina mengangguk senang pada doa mereka semua.
"Jalan bagian depan sana nanti agak jelek, tolong pegangi Aina agar ikat mata itu jangan sampai lepas ya." pesan pak Seno kepada Wiwin yang duduk di bangku belakang.
Wiwin mengangguk paham dan dia segera memegangi tubuh Aina yang memang sedikit loyo, siapa yang tidak loyo bila terus menderita sakit seperti itu di dalam tubuh ini, sebisa mungkin dia harus menahan dan nanti saat tiba di padepokan maka bisa beristirahat dengan tenang karena mereka juga akan bermalam di padepokan itu.
Gludaaaak.
Gludaaaak.
"Aduh jelek sekali jalan ini." Bu Putri mengeluh sambil menoleh kepada Aina.
Aina memegang erat tangan Wiwin karena dia memang tidak bisa melihat keadaan jalan sehingga ada rasa takut di dalam hati, oleh sebab itu dia membutuhkan pegangan agar rasa takut yang ada di dalam hati dia bisa sedikit hilang, sebab bila tidak pegangan maka akan timbul rasa takut juga di dalam hati ini.
"Aku mau muntah ini." Aina sudah tidak sanggup menahan mual yang mendesak.
"Tunggu, aku ambil kantong dan kau bisa muntah dalam kantong itu." Wiwin segera mengambil kantong berwarna hitam.
Hueeeek
Hueeeekk.
"Ya tidak apa-apa kamu muntah saja di kantong itu." Wiwin terus memegang kantong tersebut tanpa ada rasa jijik.
Hueeeeek.
"Aaaaghhh perutku sakit sekali." Aina mulai memegang perut dia yang terasa sangat ngilu.
"Muntah nya jangan terlalu mendesak seperti itu agar perut tidak terlalu sakit." ujar Wiwin sambil menggosok punggung Aina.
"Pelan pelan agar rasa sakit itu tidak timbul ya." Bu Putri juga terlihat begitu cemas dan ingin pindah pada bagian belakang.
"Aaaahhhh perut ku sakit sekali sekarang." Aina mulai menjerit Karena rasa sakit itu kembali timbul.
"Bi ini bagaimana Karena dia mulai kesakitan?" Wiwin terlihat panik sambil menatap ke arah depan.
Mau tidak mau maka Pak Seno menghentikan mobil ini terlebih dahulu agar sang istri bisa pindah bagian belakang dan ikut mengurus keadaan Aina, kasihan bila Wiwin seorang diri yang mengurus muntah serta Aina yang mulai dilanda oleh rasa sakit pada bagian perut dia, sebisa mungkin mereka harus menahan agar Aina tidak sampai berontak.
"Berhenti saja terlebih dahulu di pinggir sini biar kita bisa mengurus Aina." pinta Bu Putri.
"Aina, Aina!" Wiwin mulai mengguncang tubuh wanita itu agar Aina tersadar.
"Ai, kamu baik-baik saja kan?" Bu Putri juga sangat cemas dan berusaha untuk membangunkan Aina yang mendadak pingsan.
"Ini bagaimana? apa kita buka saja dulu kain hitam ini." ujar Wiwin yang kebingungan.
Namun segera mencegah karena dia tidak mungkin membuka mata Aina karena nanti justru akan menjadi masalah lain yang membuat mereka semakin rumit saja, mata indah harus ditutup terus agar dia tidak bisa melihat perjalanan ini dan tidak timbul masalah baru di perjalanan mereka semua.
Wuuuttt.
"Aina!" Bu Putri kaget bukan main karena tangan Aina membuka kain hitam itu dengan sangat lancar.
"Heheeeeee...." Aina tertawa sambil menatap mereka dengan beringas.
"Aina, Kamu kenapa jadi seperti ini?" Wiwin mulai ketakutan dan berusaha untuk menjauh.
"Kalian semua tidak akan pernah bisa menyelamatkan wanita ini, dia akan segera mati dalam keadaan begitu tersiksa." ujar Aina yang sudah kerasukan.
Bu Putri ingin menjerit setelah mendengar ucapan iblis yang ada di dalam tubuh Aina itu, Karena sekarang terlihat jelas bahwa pengirim santet memang sangat ingin membuat Aina meninggal dunia, tunggu kejam orang tersebut dan pikiran Pak Seno tentu saja tidak pernah lepas dari Darno.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
g