Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: MATAHARI JATUH DI KEDIAMAN HAN
Pilar cahaya emas yang meledak dari kedalaman bumi tidak hanya meruntuhkan Aula Utama Klan Han, tetapi juga merobek awan malam, menciptakan lubang besar yang menyingkap tabir bintang-bintang. Di tengah reruntuhan yang masih berasap, Han Jian berdiri tegak. Seluruh tubuhnya memancarkan pendar emas yang begitu padat hingga udara di sekitarnya tampak berdenting. Kulitnya kini memiliki tekstur seperti porselen giok yang tak tertembus, dan setiap helai rambutnya berkilau seperti benang emas.
Ia bukan lagi Han Jian si "ampas". Ia adalah Kaisar Tulang Emas.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari arah langit utara, sebuah tekanan spiritual yang luar biasa dahsyat datang menerjang. Tekanan ini berkali-kali lipat lebih kuat daripada Utusan Liu. Jika aura Liu terasa seperti badai, aura yang baru datang ini terasa seperti berat sebuah gunung yang dijatuhkan dari langit.
WUUUUUSSSHHH!
Sesosok pria tua berjubah putih bersih dengan sulaman naga perak turun dari langit, berdiri melayang di udara tanpa bantuan senjata apa pun. Di belakangnya, tujuh pedang raksasa yang terbuat dari energi murni melayang melingkar, menciptakan pemandangan yang menakutkan.
"Master Sekte Pedang Langit, Zhu Chen!" bisik para murid klan yang tersisa sambil bersujud dengan tubuh gemetar.
Zhu Chen menatap pemandangan di bawahnya dengan mata yang dingin. Ia melihat Utusan Liu yang pingsan dengan dada amblas, ia melihat reruntuhan Aula Utama, dan yang paling penting, ia merasakan hilangnya getaran Inti Giok Hitam yang selama ini menjadi sumber pasokan energi rahasia bagi sektenya.
"Anak muda," suara Zhu Chen menggelegar, bergetar di dalam dada setiap orang yang mendengarnya. "Kau telah menghancurkan keseimbangan wilayah ini. Kau telah mencuri jantung bumi dan membantai anggota klanmu sendiri. Dosa-dosamu sudah melampaui pengampunan langit."
Han Jian mendongak, menatap langsung ke mata sang Master Sekte. Tidak ada rasa takut di wajahnya; yang ada hanyalah ketenangan yang mematikan. "Keseimbangan? Kau menyebut sistem parasit di mana klan ini mengisap jiwa leluhurnya sendiri sebagai keseimbangan? Jika langitmu membiarkan kebusukan seperti ini terjadi, maka langitmu memang layak untuk diruntuhkan."
"Lancang!"
Zhu Chen melambaikan tangannya. Salah satu dari tujuh pedang raksasa di belakangnya melesat jatuh dengan kecepatan cahaya. Pedang itu membara dengan api putih, bertujuan untuk memaku Han Jian ke bumi.
BOOM!
Ledakan dahsyat menciptakan kawah sedalam lima meter di tempat Han Jian berdiri. Debu dan puing beterbangan. Namun, saat asap menipis, mata Zhu Chen membelalak.
Han Jian sedang menahan ujung pedang energi raksasa itu dengan satu tangan. Kakinya bahkan tidak tertekuk satu inci pun. Cahaya emas dari Tulang Emas Abadi miliknya meredam panas api putih tersebut seolah-olah itu hanyalah uap air.
"Hanya segini kekuatan Master Sekte?" Han Jian bertanya datar.
Dengan satu sentakan jari-jarinya, pedang energi raksasa itu retak dan pecah menjadi ribuan fragmen cahaya yang kemudian diserap oleh tubuh Han Jian.
Zhu Chen mulai merasakan kecemasan yang belum pernah ia rasakan selama seratus tahun terakhir. "Kau... kau tidak menggunakan Qi. Bagaimana mungkin fisik murni bisa menelan serangan tahap Transformasi Jiwa?!"
"Karena kalian terlalu sibuk membangun istana di atas pasir, sementara aku telah menempa fondasiku di dalam api neraka," jawab Han Jian.
Han Jian meledak maju. Ia tidak lagi berjalan; gerakannya begitu cepat hingga ia meninggalkan bayangan emas yang memanjang. Zhu Chen segera memicu enam pedang sisanya untuk membentuk perisai pertahanan.
BANG! BANG! BANG!
Han Jian menghantam perisai pedang itu dengan tinju telanjangnya. Setiap hantaman menghasilkan gelombang kejut yang meratakan sisa-sisa bangunan di kediaman Han. Di hantaman keempat, perisai energi Zhu Chen hancur total. Tinju emas Han Jian mendarat tepat di perut sang Master Sekte.
Zhu Chen terlempar ke langit, menembus awan, sebelum akhirnya jatuh kembali dan menghantam tanah dengan kekuatan meteorit. Pemimpin tertinggi wilayah utara itu tergeletak di tanah, jubah putihnya kini kotor oleh debu dan darah.
Han Jian mendarat perlahan di depan Zhu Chen. "Dunia ini akan berubah, Master Zhu. Kekuatan tidak akan lagi ditentukan oleh seberapa besar wadah energi yang kau miliki, tapi oleh seberapa kuat kehendak dan fondasimu."
Zhu Chen batuk darah, menatap Han Jian dengan ngeri. "Kau... kau adalah bencana bagi seluruh benua ini. Sekte-sekte pusat tidak akan membiarkanmu hidup..."
"Biarkan mereka datang," sahut Han Jian. "Aku butuh lebih banyak tulang untuk membangun tangga menuju puncak langit."
Han Jian berbalik dan melihat ke arah para murid klan Han yang masih tersisa. Mereka semua berlutut, ketakutan setengah mati. Di antara mereka, Han Jian melihat Xiao Yue, satu-satunya orang yang pernah memberinya sedikit kehangatan di masa lalu, menatapnya dengan air mata dan kekaguman.
"Xiao Yue," panggil Han Jian pelan.
Gadis itu gemetar mendekat. "Jian-ge... apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Klan Han sudah mati hari ini. Ambillah semua harta di gudang bawah tanah dan bagikan kepada penduduk kota yang selama ini diperas oleh klan ini," Han Jian menyerahkan sebuah cincin ruang milik Han Borong kepada Xiao Yue. "Aku harus pergi. Cahaya emas ini akan mengundang predator yang lebih besar. Aku tidak ingin kalian terseret ke dalam badai yang akan datang."
Han Jian menatap ke arah Puncak Meru di kejauhan, gunung tertinggi yang konon merupakan gerbang menuju Dunia Atas. Fragmen tulang hitam di tubuhnya kini bergetar dengan frekuensi yang berbeda—frekuensi kerinduan.
"Ayah... aku tahu kau masih di sana," gumam Han Jian.
Dengan satu langkah terakhir, Han Jian melesat meninggalkan reruntuhan Klan Han. Dalam satu malam, sejarah wilayah utara telah ditulis ulang. Nama Han Jian tidak lagi menjadi simbol penghinaan, melainkan legenda tentang seorang pria yang mendobrak hukum alam.
Di belakangnya, api masih melahap sisa-sisa kediaman Han, menandai berakhirnya era Dantian yang busuk dan dimulainya era Kaisar Tulang yang tak terhentikan. Han Jian kini bukan lagi seorang pelarian; ia adalah seorang pemburu yang sedang menuju ke arah matahari, siap untuk menantang dewa mana pun yang berani berdiri di jalannya.