NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Gema suara Aeryn di pengeras suara seolah masih menggantung di langit-langit ballroom saat ia melangkah turun dari panggung. Ia tidak menoleh. Ia tidak perlu melihat wajah ayahnya yang memerah atau Bianca yang mulai terisak histeris di pojokan. Baginya, mereka sudah mati dalam skenario hidupnya.

Langkah kakinya cepat dan stabil, membelah kerumunan tamu yang membeku seperti patung lilin. Bisik-bisik mulai pecah di belakangnya seperti ombak yang menabrak karang, tapi Aeryn hanya fokus pada pintu keluar. Ia butuh oksigen yang tidak tercemar oleh aroma kebohongan Kaelan.

Namun, sebelum ia mencapai pintu lobi, sebuah sentakan kasar di lengannya memaksa Aeryn berbalik.

"Aeryn! Berhenti! Apa-apaan semua ini?!" Kaelan berteriak, napasnya memburu, dasinya sudah miring. Wajah yang biasanya dipuja media sebagai wajah 'pangeran bisnis' itu kini tampak berantakan dan liar.

Aeryn menyentak tangannya dengan tenaga yang tak terduga, membuat Kaelan sedikit terhuyung. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja membelai Bianca, Kaelan. Itu menjijikkan."

"Itu hanya salah paham! Video itu bisa diedit, Aeryn! Kita bisa bicarakan ini baik-baik, jangan buat malu keluarga di depan wartawan!"

Aeryn tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. "Malu? Kau bicara tentang malu setelah kau berencana membuangku seperti sampah setelah setahun? Kau pikir aku sebodoh itu?"

Ia berbalik dan setengah berlari menuju area parkir VIP di lantai bawah, menghindari kilatan lampu kamera wartawan yang mulai mengejarnya. Kaelan tidak menyerah. Pria itu mengejarnya hingga ke area parkir yang luas dan sunyi, di mana hanya ada deretan mobil mewah yang mengkilap di bawah lampu neon yang berkedip.

"Aeryn, berhenti!" Kaelan mencegatnya di depan sebuah Rolls-Royce hitam. "Kau tidak bisa pergi begitu saja! Kita punya kontrak bisnis! Ayahmu tidak akan membiarkan ini terjadi!"

Aeryn berhenti, menyandarkan tubuhnya di kap mobil dingin itu. Ia mengeluarkan ponselnya, menggeser layar, lalu mengarahkannya tepat ke wajah Kaelan. "Kau ingin bicara bisnis? Mari kita bicara tentang 'bisnis' yang kau lakukan di ruang kerja tadi."

Ia memutar rekaman video itu lagi, tapi kali ini ia menghentikannya di detik-detik tertentu. Ia melakukan zoom pada tumpukan kertas di bawah tubuh Bianca.

"Lihat ini, Kael," bisik Aeryn, suaranya sangat rendah dan berbahaya. "Itu sketsa koleksi The Phoenix. Kau tahu apa yang lucu? Di pojok kanan bawah setiap kertas itu, aku sudah memasang mikrokode digital yang hanya bisa dibaca oleh pemindai milik Valerine Jewels. Begitu kau mencoba mendaftarkan desain ini atas nama Dirgantara Group, sistem hukum internasional akan mendeteksinya sebagai pencurian kekayaan intelektual dalam waktu tiga detik."

Wajah Kaelan semakin pucat. "Kau... kau menjebakku?"

"Bukan menjebak. Aku hanya menyediakan tali, dan kau dengan senang hati memasukkan lehermu sendiri ke dalamnya," Aeryn melangkah maju, memangkas jarak hingga ia bisa melihat butiran keringat di dahi Kaelan. "Aku tahu tentang pertemuan rahasiamu dengan dewan direksi minggu lalu. Aku tahu kau ingin menggulingkan ayahku. Tapi kau lupa satu hal, Kael. Ayahku memang pemilik perusahaan, tapi aku adalah jantungnya. Tanpa desainku, Valerine Jewels hanya sekumpulan logam tak berharga. Dan sekarang, kau tidak punya keduanya."

Kaelan mengeram, suaranya terdengar seperti binatang yang terpojok. "Kau pikir kau siapa? Kau hanya wanita yang aku kencani karena kasihan! Kau pikir tanpa namaku, kau bisa bertahan di industri ini? Kau akan hancur dalam semalam, Aeryn!"

"Kasihan?" Aeryn menaikkan alisnya. "Kau mencium adik tiriku karena 'kasihan' padaku? Oh, Kael, kau bahkan tidak bisa membuat kebohongan yang masuk akal. Kau melakukan itu karena kau iri. Kau iri karena aku lebih pintar darimu, lebih berbakat, dan kau butuh akses ke hartaku untuk menutupi utang-utang judi kasino yang kau sembunyikan di Makau, kan?"

Mata Kaelan membelalak. Itu adalah rahasia terdalamnya. "Dari mana kau tahu..."

"Aku punya mata di mana-mana. Dan sekarang, seluruh dunia tahu siapa kau sebenarnya. Besok pagi, saham Dirgantara Group akan terjun bebas. Investor akan menarik diri. Dan tunanganmu yang cantik, Bianca? Dia akan meninggalkanmu begitu dia tahu kau tidak punya sepeser pun uang tersisa."

"Diam kau!" Kaelan berteriak, suaranya bergema di garasi yang sunyi. Amarahnya meledak. Ia kehilangan akal sehatnya. Ia mengangkat tangannya, telapak tangannya terbuka, bersiap untuk mendaratkan tamparan keras di wajah Aeryn yang tampak begitu tenang dan meremehkannya.

Aeryn tidak berkedip. Ia tidak mundur. Ia justru menatap tangan itu dengan tatapan menantang.

Namun, tangan Kaelan tidak pernah sampai ke wajahnya.

Sebuah tangan yang jauh lebih besar, lebih kuat, dan lebih bertenaga menangkap pergelangan tangan Kaelan di udara. Bunyi tulang yang beradu terdengar cukup keras. Kaelan meringis kesakitan, tubuhnya dipaksa berlutut sedikit karena tekanan yang diberikan oleh sosok pria yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan mobil.

Xavier Arkananta berdiri di sana.

Wajahnya datar, seolah-olah ia baru saja melakukan tugas sepele seperti merapikan dasi, namun aura di sekelilingnya begitu mematikan hingga udara di garasi itu terasa membeku.

"Menyentuh milikku adalah kesalahan besar, Dirgantara," suara Xavier rendah, namun memiliki kekuatan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.

"X-Xavier? Apa urusanmu dengan jalang ini?!" Kaelan mengerang, mencoba melepaskan tangannya namun sia-sia. Cengkeraman Xavier seperti besi panas.

Xavier tidak menjawab hinaan itu dengan kata-kata. Ia justru menarik Aeryn mendekat ke arahnya. Dengan satu gerakan yang sangat posesif dan penuh otoritas, ia merangkul pinggang Aeryn dari belakang, menarik punggung wanita itu agar menempel erat di dadanya yang bidang.

Tangan Xavier yang bebas kini berada di atas perut Aeryn, seolah memberikan pagar pelindung yang tak tertembus. Aeryn bisa merasakan detak jantung Xavier yang tenang di punggungnya—sangat kontras dengan napas Kaelan yang berantakan.

Xavier menatap Kaelan dengan tatapan elang yang dingin, tatapan yang sering membuat para CEO memohon ampun di meja perundingan.

"Jaga bicaramu," ucap Xavier, setiap kata ditekan dengan intensitas yang mengerikan. "Kau sedang berbicara dengan Nyonya Arkananta."

Kaelan membeku. "Apa? Nyonya... tidak mungkin! Kalian baru saja bertemu!"

Xavier memberikan senyum tipis—senyum yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. Ia sedikit menundukkan kepalanya, membisikkan sesuatu di dekat telinga Aeryn yang cukup keras untuk didengar oleh Kaelan.

"Ayo pulang, Sayang. Tempat ini terlalu kotor untukmu."

Xavier melepaskan pergelangan tangan Kaelan dengan sentakan kasar, membuat pria itu jatuh tersungkur di atas aspal dingin. Kaelan menatap mereka dengan wajah penuh ketidakpercayaan dan kehancuran. Segala rencananya, kekuasaannya, dan harga dirinya baru saja dilumat habis oleh pria yang paling ia takuti di dunia ini.

Xavier memutar tubuh Aeryn, membimbingnya menuju sebuah Bentley hitam yang sudah menunggu dengan pintu terbuka. Seorang pria bersetelan rapi, Hugo, berdiri di samping pintu dengan wajah tanpa ekspresi.

"Silakan, Nyonya Arkananta," ucap Hugo sambil membungkuk hormat.

Aeryn menatap Xavier sejenak. Ada percikan aneh di matanya, sebuah pengakuan bahwa permainan ini baru saja dimulai dan taruhannya jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Ia masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Xavier yang langsung duduk di sampingnya.

Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan Kaelan yang berteriak frustrasi di tengah garasi yang kosong.

Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Xavier tetap duduk tegak, matanya menatap ke arah jalanan malam Jakarta yang berkilau.

"Terima kasih," bisik Aeryn pelan.

"Jangan berterima kasih padaku untuk sesuatu yang sudah menjadi hakku, Aeryn," sahut Xavier tanpa menoleh. "Mulai sekarang, kau adalah Arkananta. Dan Arkananta tidak pernah membiarkan musuhnya hidup dengan tenang."

Aeryn menyandarkan kepalanya di jok kulit yang lembut. Ia menang. Tapi saat ia menatap profil samping wajah Xavier yang keras, ia menyadari bahwa ia baru saja keluar dari kandang serigala hanya untuk masuk ke dalam sarang naga.

Mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah mansion megah bergaya gotik modern yang tampak misterius di bawah sinar rembulan.

"Selamat datang di rumah, Aeryn," gumam Xavier saat pintu otomatis terbuka perlahan.

Aeryn menatap bangunan itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia tahu, di balik kemewahan ini, ada banyak rahasia yang tersembunyi. Dan perjalanannya untuk benar-benar mengenal pria di sampingnya baru saja dimulai.

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!