NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Bukan Ayahku!

Kegelapan di bawah Gedung Akademik bukan sekadar ketiadaan cahaya. Kegelapan itu terasa hidup dan memiliki napasnya sendiri. Arga berdiri di depan pintu besi berat yang menuju ke Sektor 7. Ruang Bawah Tanah ini selama ini hanya dianggap mitos di kalangan murid SMA Nusantara.

Tangannya yang bersisik obsidian menggenggam kunci perak yang ditemukannya di kelas XI-A. Tinta takdir di lehernya berdenyut panas dan mengirimkan sinyal peringatan. Otak monsternya mulai mengambil alih kendali tubuhnya.

"Arga... kau masih di sana?" suara Lintang terdengar samar dari serpihan alat komunikasi di telinga Arga.

"Aku... masih... bertahan," jawab Arga dengan suara yang kini lebih mirip geraman rendah. "Jaga Raka. Jangan biarkan siapapun mendekati Gedung C."

Arga memasukkan kunci ke dalam lubang pintu. Mekanisme di dalamnya bergerak bukan seperti gesekan logam biasa. Suaranya terdengar seperti tulang yang saling bergesekan. Pintu itu terbuka dan menampakkan tangga spiral yang menjulur jauh ke dalam perut bumi.

Bau yang tercium di sini bukan lagi bau formalin. Aromanya campuran antara tanah basah ozon dan listrik statis yang sangat kuat. Udara terasa berat dan menekan dada siapa saja yang berani melangkah masuk.

Saat Arga mulai menuruni tangga, sayap saraf di punggungnya bergetar hebat. Ia bisa merasakan aliran energi Sisi Lain yang memancar dari dasar tangga tersebut. Tempat ini adalah pusat syaraf seluruh sekolah dan menjadi jembatan antara dimensi manusia dan dimensi kegelapan.

Di dasar tangga, Arga sampai di sebuah aula besar yang dipenuhi ribuan kabel. Kabel-kabel itu bukan terbuat dari plastik atau tembaga melainkan urat syaraf raksasa yang masih berdenyut hidup. Cairan biru bercahaya mengalir di dalamnya menuju seluruh penjuru bangunan.

Di tengah ruangan terdapat tabung besar berisi otak manusia raksasa. Organ itu terus berputar perlahan di dalam cairan nutrisi yang jernih. Ini adalah The Core, otak organik yang mengendalikan seluruh sistem keamanan dan administrasi sekolah.

"Selamat datang di pusat pemrosesan data kami, Arga," sebuah suara digital yang datar terdengar dari pengeras suara. "Transformasimu telah mencapai 75 persen. Efisiensi tempurmu meningkat namun stabilitas mentalmu menurun drastis."

Arga mengabaikan ucapan suara tersebut. Matanya tertuju pada sebuah konsol kendali di bawah tabung otak. Di sana terdapat tumpukan berkas fisik bertuliskan EKSPERIMEN GENETIK KELUARGA WIDYA. Ia mendekat dengan cakar yang gemetar lalu membuka berkas itu perlahan.

Di dalamnya terdapat foto-foto lama milik keluarganya. Ada foto kakeknya ayahnya dan juga foto masa kecilnya bersama Raka. Yang paling mengejutkan adalah catatan tertanggal 10 April 1980. Tanggal yang sama dengan hari ini namun terjadi puluhan tahun yang lalu.

Catatan Peneliti Utama Sektor 7 berbunyi jelas. Genetik keluarga Widya memiliki anomali Resonansi Indigo Mutlak. Mereka bukan hanya bisa melihat Sisi Lain mereka bisa menjadi jembatannya. Raka Widya diciptakan untuk stabilitas mesin namun Arga Widya adalah subjek untuk evolusi.

Mereka sengaja membiarkan Raka tertangkap agar Arga terpancing masuk. Transformasi Arga adalah tujuan akhir dari Proyek Amaranth. Dia tidak sedang berubah menjadi monster dia sedang berubah menjadi Dewa Baru bagi sekolah ini.

Arga merasakan dunianya runtuh seketika. Seluruh perjuangan dan pelarian yang ia lakukan ternyata sudah diprediksi sejak lama. Ia bukan sedang melawan sistem ia justru sedang memenuhi naskah yang ditulis oleh Sang Arsitek.

"TIDAK!" Arga meraung keras lalu menghantamkan cakarnya ke tabung otak raksasa itu.

Cairan nutrisi muncrat keluar namun tabung itu segera memperbaiki dirinya sendiri. Saraf-saraf raksasa di lantai mulai bergerak dan melilit kaki Arga seperti tentakel hidup. Ia mencoba menggunakan energi Indigo namun kekuatannya justru diserap habis oleh kabel-kabel tersebut.

"Kau tidak bisa melawan fondasimu sendiri Arga," suara digital itu kembali terdengar. "Semakin kau marah semakin cepat mutasi itu selesai. Lihatlah dirimu sekarang."

Arga melihat pantulan dirinya di permukaan kaca tabung. Wajahnya kini hampir sepenuhnya tertutup topeng obsidian yang keras. Matanya tidak lagi memiliki pupil hanya berupa lubang cahaya indigo yang membara. Sosok di cermin itu bukan lagi Arga melainkan entitas purba yang haus kehancuran.

Tiba-tiba dari kegelapan sudut aula muncul sesosok pria tua. Ia mengenakan jas putih laboratorium yang kotor dan memegang tongkat kayu. Di ujung tongkat itu terikat botol kecil berisi cairan emas formula yang sama dengan yang ditemukan Arga di lab.

"Berhenti Arga. Jika kau menghancurkan The Core sekarang kau akan memicu ledakan jiwa yang memusnahkan seluruh kota," teriak pria tua itu dengan panik.

"Siapa kau?" geram Arga sambil berusaha melepaskan diri dari ikatan saraf.

"Aku adalah Profesor Johan Guru Biologi yang kau cari. Aku peneliti terakhir yang masih memiliki nurani di tempat ini," jawab pria itu sambil mendekat hati hati. "Dengarkan aku. Sang Arsitek menginginkanmu emosional agar energinya bisa diserap. Kau harus tetap tenang."

Profesor Johan menyentuhkan tongkatnya ke saraf yang melilit Arga. Cairan emas di botolnya berpendar terang dan seketika saraf itu melepaskan cengkeramannya seolah terkena sesuatu yang sangat menyakitkan bagi mereka.

"Arga mutasimu belum permanen," bisik Johan sambil membimbing Arga menuju pintu rahasia di belakang konsol. "Tapi kita tidak punya banyak waktu. Unit Pembersihan Osis Malam sedang menuju ke sini. Mereka tidak akan membunuhmu mereka akan membawamu ke Ruang Penyatuan."

Mereka masuk ke koridor sempit yang penuh uap panas. Di sini Arga bisa melihat bagian bawah dari Menara Jam yang pernah ia hancurkan. Reruntuhannya masih menggantung di langit-langit ditahan oleh jaring syaraf yang kuat.

"Kenapa kau membantuku?" tanya Arga dengan napas yang tersengal.

"Karena aku berhutang pada ayahmu," jawab Johan tanpa menoleh ke belakang. "Dia mencoba menghentikan proyek ini dua puluh tahun lalu dan gagal. Dia menitipkan pesan padaku jika suatu saat anak-anaknya kembali ke sini aku harus memberikan Kunci Terakhir."

Johan berhenti di depan brankas kecil yang tertanam di dinding beton. Ia memasukkan kode rahasia yang panjang dan pintu brankas terbuka. Di dalamnya terdapat benda yang sangat tidak terduga sebuah harmonika tua milik ayah Arga.

"Harmonika?" Arga tampak bingung melihat benda itu.

"Ini bukan sekadar alat musik. Ini adalah pengatur frekuensi Indigo yang murni. Ayahmu menyimpannya di sini agar tidak terkontaminasi mesin sekolah," jelas Johan sambil menyerahkannya. "Mainkan melodi yang sering dinyanyikan ibumu dulu. Itu satu satunya frekuensi yang tidak bisa dibaca atau diserap oleh The Core."

Tiba-tiba suara dentuman keras terdengar dari arah pintu aula utama. Para pengawal Osis Malam dengan seragam baja berat mulai menerobos masuk. Mereka membawa senjata khusus yang mampu menekan gelombang otak.

"Cepat Arga Mainkan sekarang juga!" teriak Johan sambil berdiri di depan Arga untuk melindunginya.

Arga menempelkan harmonika itu ke mulutnya. Dengan tangan gemetar yang masih bersisik ia mencoba mengingat melodi ninabobo masa kecilnya. Lagu tentang cahaya bintang dan perlindungan yang selalu menenangkannya.

Saat nada pertama keluar sesuatu yang luar biasa terjadi. Cahaya indigo yang tadinya liar dan gelap berubah menjadi biru lembut yang menenangkan. Sisik obsidian di tubuh Arga mulai melunak dan rontok satu per satu. Rasa lapar yang menyiksanya berganti menjadi rasa damai yang mendalam.

Gelombang suara itu merambat melalui kabel syaraf dan membuat otak raksasa bergetar hebat. Sistem digital di pengeras suara mati total. Para anggota Osis Malam jatuh berlutut dan memegang kepala mereka karena frekuensi itu menghancurkan chip kontrol di otak mereka.

Namun Profesor Johan justru berteriak kesakitan. "Teruslah bermain Arga Jangan berhenti Aku akan mengunci pintu ini dari luar agar kau bisa menuju ke jantung Sektor 7."

"Profesor!" seru Arga kaget.

"Pergilah Temukan Raka dan bawa dia keluar lewat jalur pembuangan Ini adalah tugas terakhirku," teriak Johan sambil mendorong Arga masuk ke lift kecil menuju bagian terdalam.

Pintu lift tertutup tepat saat para pengawal mendobrak pertahanan Johan. Arga terus meniup harmonikanya sementara air mata mengalir di pipinya yang mulai kembali normal. Ia sadar investigasi ini belum selesai dan rahasia terbesar masih menunggu di bawah sana.

Mutasinya memang terhenti namun kekuatannya kini berevolusi menjadi sesuatu yang lebih murni. Ia bukan lagi sekadar subjek percobaan ia adalah penawar bagi racun yang bernama SMA Nusantara.

Lift itu akhirnya berhenti. Pintu terbuka menuju ruangan putih bersih yang sangat kontras dengan bagian bawah tanah lainnya. Di tengah ruangan duduk seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan ayahnya namun memiliki tatapan mata yang dingin dan hampa.

"Selamat datang di rumah Arga," ujar pria itu dengan tenang. "Terima kasih sudah membawakan harmonika ayahmu. Aku sudah menunggunya selama tiga puluh tahun."

Arga menurunkan alat musiknya perlahan. "Kau... bukan ayahku."

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!