Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Warisan Tubuh Sampah
Arga berdiri di depan cermin perunggu yang sudah kusam, menatap bayangan wajah yang bukan miliknya.
Pemuda di cermin itu berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Rambut hitamnya kusut dan kotor, jatuh menutupi sebagian wajah yang kurus dan pucat. Tulang pipinya menonjol, matanya cekung, dan bibirnya kering pecah-pecah. Di lengannya, luka-luka memar lama dan baru berbaur menjadi satu kanvas penderitaan.
Ini tubuhku sekarang, pikirnya. Tubuh seorang yatim piatu yang ditindas di klannya sendiri.
Perlahan, ia menutup mata dan membiarkan ingatan-ingatan tubuh ini mengalir ke dalam benaknya. Bukan ingatannya sendiri—ingatan Kaisar Langit tetap utuh dan terpisah—melainkan ingatan milik pemuda malang yang kini jiwanya telah tergantikan.
Nama pemuda ini sama: Arga. Arga Sanjaya. Putra tunggal dari Ardan Sanjaya, mantan Kepala Klan Sanjaya yang meninggal secara misterius tiga tahun lalu.
Setelah kematian ayahnya, pamannya—Arman Sanjaya, ayah dari si gemuk Ardi—mengambil alih kepemimpinan klan. Sejak saat itu, Arga yang seharusnya menjadi pewaris sah justru didorong ke posisi paling rendah. Kamarnya dipindahkan ke gudang tua di belakang kompleks utama. Hak-haknya dicabut. Ia dipaksa bekerja seperti pelayan, seringkali tanpa makanan yang layak.
Dan yang paling menyedihkan, ia bahkan tidak bisa melawan.
Tubuh ini memiliki cacat bawaan. Meridian-meridian spiritualnya—saluran energi yang menjadi dasar setiap kultivator—tersumbat oleh sesuatu yang oleh para tabib klan disebut sebagai "Racun Langit Bawaan". Sebuah kondisi langka yang membuat penderitanya nyaris mustahil menyerap Qi dari alam.
Racun Langit Bawaan, Arga mengulang dalam hati. Menarik. Dalam tiga ribu tahun hidupku, aku hanya mendengar tentang kondisi ini dari kitab-kitab kuno. Itu bukan penyakit. Itu adalah...
Pikirannya terpotong oleh suara langkah kaki di luar.
Satu orang. Ringan. Perempuan.
Pintu kamarnya yang masih terbuka—karena dirusak Ardi tadi—menampilkan sesosok gadis muda berusia sekitar lima belas tahun. Ia mengenakan pakaian pelayan sederhana berwarna cokelat pudar, dengan rambut hitamnya diikat ekor kuda sederhana. Wajahnya mungil dan polos, dengan mata cokelat besar yang selalu tampak khawatir.
"Tuan Muda!"
Gadis itu bergegas masuk, membawa sebuah nampan kayu berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Matanya langsung membelalak melihat luka-luka baru di lengan Arga.
"Mereka memukulimu lagi?" Suaranya bergetar, campuran antara marah dan sedih. "Ardi dan anak buahnya? Aku akan melaporkan ini pada—"
"Pada siapa, Sari?" potong Arga tenang. "Pamanku? Dia yang memberi perintah."
Sari—nama gadis itu, satu-satunya pelayan yang masih setia pada keluarga Arga setelah kematian ayahnya—terdiam. Bibirnya bergetar menahan tangis. Ia tahu itu benar.
Arga menatap gadis itu lekat-lekat. Ingatan tubuh ini memberitahunya bahwa Sari adalah putri dari pelayan setia ibunya. Sejak kematian kedua orang tua Arga, Sari-lah satu-satunya yang masih peduli. Ia rela menerima hukuman dan potongan jatah makan hanya untuk tetap bisa melayani Tuan Mudanya.
"Sebaiknya kau pergi saja, Sari," kata Arga pelan. "Melayaniku hanya akan membawa masalah bagimu."
Air mata akhirnya jatuh dari pelupuk mata Sari. "Tuan Muda... jangan katakan itu. Aku... aku berjanji pada mendiang Nyonya. Aku akan menjagamu."
Janji pada ibuku. Sesuatu yang aneh bergetar di dada Arga. Perasaan yang asing baginya. Sebagai Kaisar Langit, ia terbiasa dengan kesetiaan yang dibeli oleh kekuasaan atau ketakutan. Tapi kesetiaan tulus dari seorang gadis pelayan yang tidak memiliki apa-apa? Ini... langka.
"Baiklah." Arga mengangguk singkat. "Tinggalkan bubur itu. Lalu kunci pintu dari luar. Aku butuh waktu sendiri."
Sari mengangguk patuh, meski raut wajahnya menunjukkan kebingungan. Tuan Mudanya biasanya akan mengeluh kesakitan atau menangis diam-diam setelah dipukuli. Tapi hari ini... ada sesuatu yang berbeda. Cara bicaranya. Tatapan matanya. Seolah-olah ia bukan lagi pemuda lemah yang ia kenal.
Setelah Sari pergi dan suara kunci pintu terdengar dari luar, Arga duduk bersila di atas ranjang kayunya yang keras.
Waktunya bekerja.
Ia menutup mata dan mulai memeriksa kondisi tubuh ini lebih dalam. Sebagai Kaisar Abadi, ia memiliki teknik pemeriksaan internal yang disebut Mata Batin Langit—teknik yang memungkinkannya melihat aliran Qi dan kondisi meridian tanpa perlu membuka mata fisik.
Dalam keheningan, ia menyelami tubuhnya sendiri.
Yang ia temukan sungguh... menyedihkan.
Meridian-meridian utama tersumbat total. Delapan jalur energi besar yang seharusnya menjadi jalan raya bagi Qi kini bagaikan selokan kotor yang dipenuhi lumpur dan sampah. Meridian-meridian sekunder bahkan lebih parah—beberapa di antaranya tampak seperti sudah mati total.
Tidak heran tubuh ini tidak bisa berkultivasi. Dengan kondisi seperti ini, bahkan menghirup Qi paling murni sekalipun akan sia-sia. Qi-nya akan tersangkut di sumbatan-sumbatan ini dan menguap begitu saja.
Tapi...
Arga memperhatikan sesuatu. Di tengah lautan sumbatan dan kotoran energi itu, ada sesuatu yang aneh. Sebuah inti kecil berwarna ungu gelap—nyaris hitam—yang tersembunyi jauh di dalam Dantian-nya. Bukan Inti Emas, bukan pula Pondasi. Ini adalah sesuatu yang bahkan ia, dengan tiga ribu tahun pengalamannya, belum pernah melihatnya secara langsung.
Racun Langit Bawaan...
Ia mengamatinya lebih dekat. Inti ungu itu tampak tenang, tidak aktif, seolah-olah sedang tidur. Tapi Arga bisa merasakan potensi yang luar biasa di dalamnya. Potensi yang menakutkan.
Kitab kuno itu menyebutkan... Racun Langit Bawaan bukanlah penyakit. Ia adalah warisan. Darah dari Langit Kesepuluh yang terlupakan. Mereka yang memilikinya tidak bisa menyerap Qi biasa bukan karena tubuh mereka cacat, melainkan karena tubuh mereka hanya bisa menerima jenis energi yang lebih tinggi. Energi yang tidak ada di dunia fana ini.
Jantung Arga berdetak lebih cepat.
Jika teoriku benar... maka tubuh ini bukan sampah. Tubuh ini adalah harta karun terbesar yang pernah ada di seluruh alam semesta. Hanya saja, tidak ada seorang pun di dunia fana ini yang tahu cara membangkitkannya.
Ia membuka mata, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, sebuah senyuman tipis—senyuman khas Kaisar Langit saat menemukan sesuatu yang menarik—melengkung di bibirnya.
"Menarik," bisiknya. "Sangat menarik."
---
Sore harinya, Arga sudah berdiri di depan lumbung beras milik klan. Sebuah bangunan kayu besar yang menyimpan persediaan pangan untuk seluruh anggota Klan Sanjaya. Tugasnya—seperti yang diingatkan Ardi pagi tadi—adalah membersihkan seluruh lumbung ini seorang diri.
Biasanya, pekerjaan ini akan memakan waktu seharian penuh dan membuat tubuhnya remuk redam. Tapi Arga punya rencana lain.
Pekerjaan fisik yang berat adalah kesempatan sempurna untuk melatih tubuh ini kembali. Aku mungkin tidak bisa menyerap Qi, tapi aku masih bisa memperkuat otot dan tulang dengan metode kuno yang tidak bergantung pada energi spiritual.
Senam Penguat Tubuh Kuno—sebuah teknik dasar yang ia pelajari saat masih menjadi anak yatim piatu di jalanan, ribuan tahun lalu. Teknik yang tidak membutuhkan Qi sama sekali, hanya gerakan-gerakan tertentu yang dirancang untuk memaksimalkan kekuatan otot, kepadatan tulang, dan kelenturan sendi.
Ia mulai menyapu lantai lumbung, tapi bukan dengan cara biasa. Setiap ayunan sapunya ia lakukan dengan postur tertentu. Kakinya membentuk kuda-kuda yang sempurna. Punggungnya lurus. Napasnya teratur dalam ritme tujuh detik masuk, tujuh detik tahan, tujuh detik keluar.
Sapuan pertama. Sapuan kedua. Sapuan ketiga.
Gerakan-gerakan sederhana itu mulai terasa berat. Otot-ototnya yang lemah menjerit protes. Keringat mulai membasahi dahinya. Tapi Arga terus melakukannya, mengabaikan rasa sakit dan kelelahan.
Rasa sakit adalah teman lamaku. Sudah tiga ribu tahun aku tidak merasakan sakit seperti ini. Anehnya... aku merindukannya.
Di tengah pekerjaannya, bayangan melintas di sudut matanya. Seseorang sedang mengawasinya dari balik tumpukan karung beras.
Arga tidak menoleh. Ia terus menyapu dengan gerakan-gerakan anehnya. Tapi kewaspadaannya—naluri seorang Kaisar yang telah melalui ribuan percobaan pembunuhan—tetap aktif.
Dua orang. Tingkat kultivasi rendah. Pemurnian Qi tahap ketiga dan keempat. Mereka bukan ancaman.
"Apa-apaan yang kau lakukan, Sampah?"
Suara itu berasal dari seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun yang muncul dari balik karung. Tubuhnya kekar, dengan lengan berotot hasil latihan bela diri. Di belakangnya, seorang pemuda lain yang lebih kurus mengikuti sambil menyeringai.
Arga mengenali mereka dari ingatan tubuh ini. Yang kekar adalah Reno, salah satu murid terbaik dari Sekte Awan Kelabu—sekte kecil yang menjadi afiliasi Klan Sanjaya. Yang kurus adalah adiknya, Beno. Mereka berdua adalah pengikut setia Ardi.
"Aku sedang membersihkan lumbung," jawab Arga datar, tanpa menghentikan gerakannya. "Bukankah itu jelas terlihat?"
Reno mendengus. "Membersihkan lumbung? Dengan gerakan-gerakan konyol seperti itu? Kau kira kau sedang menari?"
Beno menambahkan sambil tertawa, "Mungkin dia sudah gila karena terlalu sering dipukuli, Kak."
Arga tidak menjawab. Ia terus menyapu dengan ritme yang sama.
Sikap acuhnya itu rupanya membuat Reno tersinggung. Dengan gerakan cepat, ia melompat ke depan dan menendang tumpukan beras yang baru saja disapu Arga. Butiran-butiran beras berhamburan ke segala arah, mengotori lantai yang sudah setengah bersih.
"Hei, Sampah. Aku bicara padamu. Lihat aku saat aku bicara."
Arga menghentikan gerakannya. Perlahan, ia menegakkan tubuh dan menoleh. Matanya yang tenang bertemu dengan tatapan penuh ancaman Reno.
"Aku mendengarmu," katanya pelan. "Tapi aku tidak punya kewajiban untuk melihatmu. Kau bukan siapa-siapa."
Rahang Reno mengeras. "Otakmu sudah rusak rupanya. Mungkin aku perlu memukulmu lagi agar kau ingat di mana posisimu."
Ia melangkah maju, tangan kanannya mengepal, siap melayangkan pukulan.
Dan sekali lagi, sesuatu yang aneh terjadi.
Sebelum pukulan itu mendarat, tubuh Arga bergerak dengan sendirinya. Bukan gerakan bela diri tingkat tinggi yang membutuhkan Qi. Hanya gerakan sederhana—ia menurunkan tubuhnya beberapa senti, memutar pinggangnya lima belas derajat ke kiri, dan mengangkat tangannya dalam sudut tertentu.
Pukulan Reno meleset beberapa mili dari wajah Arga.
"Brengsek—"
Reno mencoba memukul lagi, kali ini dengan tangan kirinya. Dan lagi-lagi, Arga bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, dan pukulan itu kembali meleset.
"Apa...?!"
Reno semakin marah. Ia mulai melayangkan pukulan bertubi-tubi, menggunakan seluruh kekuatannya sebagai kultivator Pemurnian Qi tahap keempat. Pukulannya cepat, kuat, dan terarah.
Tapi tidak satu pun yang mengenai sasaran.
Arga bergerak seperti air. Seperti angin. Gerakan-gerakannya minimal—hanya beberapa senti ke kiri, beberapa derajat ke kanan, sedikit membungkuk, sedikit berputar—tapi setiap gerakannya tepat dan efisien. Seolah-olah ia bisa membaca setiap serangan sebelum serangan itu dilancarkan.
Bagaimana mungkin? pikir Reno di tengah amukannya. Dia bahkan bukan kultivator! Dia sampah yang bahkan tidak bisa menyerap Qi! Tapi kenapa... kenapa aku tidak bisa mengenainya?!
Beno yang menonton dari samping hanya bisa melongo. Ia melihat kakaknya—seorang kultivator yang cukup disegani di Sekte Awan Kelabu—kewalahan menghadapi pemuda lemah yang bahkan tidak melawan balik. Ia hanya... menghindar.
"KAK! HENTIKAN!" teriak Beno akhirnya. "Ini... ini aneh! Ada yang tidak beres!"
Reno mundur beberapa langkah, napasnya memburu. Matanya menatap Arga dengan campuran kemarahan dan... ketakutan. Ya, ketakutan. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh melampaui pemahamannya.
Arga, di sisi lain, berdiri tenang di tempatnya. Bahkan napasnya teratur. Seolah-olah ia baru saja melakukan pemanasan ringan, bukan menghindari puluhan pukulan mematikan.
"Kau... apa yang kau lakukan barusan?" tanya Reno, suaranya bergetar.
Arga menatapnya datar. "Aku hanya membersihkan lumbung. Kau yang tiba-tiba menyerangku."
"Itu bukan jawabanku!"
"Kau tidak berhak menuntut jawaban dariku." Nada suara Arga tetap tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat bulu kuduk Reno meremang. "Sekarang, kau dan adikmu akan memunguti setiap butir beras yang kau tumpahkan. Lalu membersihkan sisa lumbung ini. Setelah itu, kalian boleh pergi."
Reno tertawa sinis, meski tawanya terdengar dipaksakan. "Kau pikir kau siapa? Memerintahku? Aku adalah kultivator Pemurnian Qi tahap keempat! Aku bisa membunuhmu dengan satu—"
"Dengan apa?" potong Arga. "Dengan pukulan-pukulanmu yang bahkan tidak bisa menyentuhku?"
Wajah Reno memerah. Ia membuka mulut untuk membalas, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Karena Arga benar. Semua serangannya tadi tidak ada yang mengenai sasaran.
"Puluhan serangan, dan tidak satu pun yang kena. Jika aku ingin melawan balik, kau sudah mati sejak pukulan pertamamu meleset." Arga berjalan mendekat, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan dingin di matanya. "Tapi aku tidak ingin membunuhmu. Bukan karena aku baik hati. Tapi karena membunuhmu akan merepotkan. Jadi lakukan saja apa yang kuperintahkan, dan anggap ini sebagai pelajaran."
Reno ingin membantah. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih kuat. Tapi saat ia menatap mata Arga, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir dingin.
Itu bukan mata seorang pemuda lemah yang ditindas. Itu mata seekor predator puncak. Mata yang telah melihat kematian jutaan makhluk. Mata yang tidak lagi memandangnya sebagai ancaman, melainkan hanya sebagai... serangga kecil yang menjengkelkan.
Tanpa sadar, Reno mundur selangkah. Lalu selangkah lagi.
"A-ayo, Beno," gumamnya pelan. "Kita... kita pergi."
"Tapi, Kak—"
"AYO!"
Reno menarik lengan adiknya dan bergegas keluar dari lumbung. Langkahnya cepat, hampir berlari.
Arga menatap kepergian mereka dengan ekspresi datar. Setelah mereka menghilang di balik pintu, ia menghela napas panjang.
Itu terlalu berisiko. Aku hampir menggunakan teknik menghindar tingkat lanjut yang tidak seharusnya diketahui oleh pemuda desa biasa. Jika ada yang cukup pintar untuk menyadarinya...
Tapi ia juga tidak bisa terus-terusan berpura-pura lemah dan menerima pukulan. Tubuh ini sudah terlalu banyak menerima siksaan. Terlalu banyak pukulan bisa merusak fondasi tubuhnya secara permanen, dan itu akan mempersulit rencananya.
Aku harus lebih berhati-hati. Tapi aku juga tidak bisa terus menjadi bulan-bulanan.
Ia menatap beras yang berhamburan di lantai dengan malas. Seharusnya ia yang membersihkan ini. Tapi ia memutuskan untuk tidak melakukannya.
Biarlah. Anggap saja ini pesan kecil untuk mereka yang ingin menggangguku.
---
Malam harinya, setelah membersihkan sisa lumbung (yang tidak jadi dikerjakan Reno dan Beno), Arga kembali ke kamarnya. Tubuhnya terasa remuk, tapi ada kepuasan aneh di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya tubuh ini merasakan latihan fisik yang sebenarnya.
Sari sudah menunggunya dengan semangkuk nasi dan sedikit sayur. Makanan yang lebih baik dari bubur pagi tadi, tapi tetap saja jauh dari layak.
"Tuan Muda, kau terlambat. Aku khawatir terjadi sesuatu," ujarnya cemas.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Arga duduk di ranjangnya dan mulai makan. Makanan itu hambar dan dingin, tapi ia tidak mengeluh. Tubuh ini butuh energi, tidak peduli dari mana asalnya.
Sari memperhatikannya dengan tatapan aneh. "Tuan Muda... apa kau baik-baik saja?"
"Kenapa kau bertanya?"
"Aku... aku tidak tahu. Kau terlihat berbeda hari ini. Cara bicaramu. Cara jalanmu. Bahkan cara makanmu. Semuanya berbeda."
Arga berhenti mengunyah sejenak. Anak ini cukup peka. Aku harus lebih berhati-hati di depannya.
"Aku hanya... lelah," jawabnya akhirnya. "Lelah menjadi lemah. Lelah ditindas. Mungkin aku harus mulai berubah."
Mata Sari berbinar. "Benarkah? Kau akan mulai berkultivasi lagi, Tuan Muda? Mungkin... mungkin tabib klan salah. Mungkin kau sebenarnya bisa—"
"Sari." Arga memotongnya dengan lembut. "Aku menghargai perhatianmu. Tapi ada hal-hal yang harus kulakukan sendiri. Kau hanya perlu percaya padaku."
Gadis itu terdiam, lalu mengangguk pelan. "Aku selalu percaya pada Tuan Muda."
Setelah Sari pergi dan malam semakin larut, Arga kembali duduk bersila di ranjangnya. Kali ini, ia tidak mencoba menyerap Qi. Ia tahu itu sia-sia.
Sebaliknya, ia mulai melakukan sesuatu yang berbeda.
Teknik Pernapasan Kaisar Kuning. Sebuah teknik kuno dari zaman sebelum sistem kultivasi modern ditemukan. Teknik ini tidak bergantung pada Qi eksternal, melainkan pada "Qi Internal"—energi kehidupan murni yang ada di dalam setiap makhluk hidup, tidak peduli seberapa tersumbat meridiannya.
Ini adalah teknik yang lambat. Sangat lambat. Dibutuhkan waktu puluhan tahun hanya untuk mencapai efek yang sama dengan kultivasi normal selama sebulan.
Tapi Arga tidak punya pilihan lain. Untuk saat ini.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu menarik lagi. Dan menghembuskan lagi. Setiap siklus napas ia lakukan dengan ritme dan visualisasi tertentu.
Bayangkan energi di dalam tubuhmu. Bukan Qi dari luar. Tapi api kecil di dalam inti dirimu. Api itu redup. Hampir padam. Tapi ia masih ada. Selama kau hidup, ia akan selalu ada.
Sekarang... beri ia makan. Bukan dengan kayu bakar. Tapi dengan kehendakmu.
Perlahan, sangat perlahan, ia mulai merasakan sesuatu. Bukan Qi. Sesuatu yang lebih halus. Lebih dalam. Lebih... primordial.
Api kecil di Dantian-nya—yang tadi nyaris tak terlihat—berkedip. Sekali. Dua kali.
Bagus. Ini cukup untuk malam ini.
Arga mengakhiri meditasinya dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Matanya menatap langit-langit bambu yang gelap.
Langkah pertama sudah diambil. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Tapi aku sudah pernah menempuh jalan ini sekali. Kali kedua seharusnya lebih mudah.
Lian Xi. Hao Chen. Aku tidak tahu apakah kalian masih hidup di zaman ini. Tapi jika kalian masih ada... bersiaplah.
Karena Kaisar Langit akan segera kembali.
Tepat saat ia hendak memejamkan mata, sesuatu terjadi.
Dari dalam Dantian-nya, inti ungu gelap itu—Racun Langit Bawaan—tiba-tiba berdenyut. Sekali. Pelan, tapi jelas.
Arga langsung membuka mata dan duduk tegak.
Apa itu?
Ia menutup mata dan kembali memeriksa Dantian-nya dengan Mata Batin Langit. Inti ungu itu masih di sana, masih tenang, tapi... ada perubahan kecil. Sangat kecil, nyaris tak terlihat.
Di permukaan inti itu, seutas benang energi—bukan Qi, bukan juga energi kehidupan biasa—merambat keluar. Benang itu sangat tipis, lebih tipis dari rambut, dan berwarna perak kebiruan.
Benang itu merayap perlahan, menyentuh dinding Dantian-nya.
Dan seketika, seluruh tubuh Arga menegang.
Karena untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh ini, ia merasakan sesuatu yang familiar. Sesuatu yang sudah tiga ribu tahun menjadi bagian dari dirinya.
Qi.
Benang itu adalah Qi. Bukan Qi biasa dari dunia fana. Tapi Qi dengan kualitas yang bahkan melebihi Qi di Langit Kesembilan. Qi murni yang hanya ada di...
Langit Kesepuluh.
Arga membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdetak kencang.
Racun Langit Bawaan... dia tidak menyumbat meridianku. Dia hanya... menunggu. Menunggu aku cukup kuat untuk menerima warisannya.
Di keheningan malam, di dalam kamar gudang yang reyot, seorang mantan Kaisar Langit tersenyum.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga