Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarang Raja Kalajengking
Matahari tenggelam di balik tebing Lembah Jarum Beracun, menggantikan langit ungu dengan kegelapan mutlak yang pekat. Penurunan suhu terjadi seketika, membekukan kabut beracun menjadi butiran-butiran es mematikan yang menempel di bebatuan tajam.
Di luar sana, jeritan para calon murid yang saling membantai perlahan mereda, digantikan oleh suara capit raksasa yang bergesekan dan desisan lapar dari pemangsa asli lembah ini. Malam hari adalah waktu berburu bagi Kalajengking Jarum Besi.
Di balik sebuah celah batu besar yang tersembunyi oleh akar berduri, Chu Chen berjongkok dalam diam. Di sebelahnya, Meng Fan bersandar dengan napas terengah-engah, wajahnya sepucat mayat. Pria berlabu arak itu telah menghabiskan setengah dari Qi-nya hanya untuk menangkis hawa racun di sepanjang perjalanan mereka menuju area dalam ngarai.
"Kita tidak bisa diam di sini," bisik Meng Fan, giginya gemeretak kedinginan. "Suhu malam ini bisa membekukan aliran darah kita. Kita harus mencari gua."
Chu Chen tidak menjawab. Matanya yang memancarkan pendaran emas vertikal menembus kegelapan malam, menatap ke arah sebuah formasi tebing raksasa berbentuk seperti capit kalajengking sekitar satu mil di depan mereka.
"Ada cahaya di sana," ucap Chu Chen pelan. "Bukan cahaya api unggun. Itu cahaya dari susunan formasi energi."
Meng Fan menyipitkan matanya, namun ia hanya melihat kegelapan. "Formasi energi? Siapa yang sempat memasang formasi di tengah neraka ini pada hari pertama?"
"Seseorang yang sudah tahu apa yang ada di dalam lembah ini, dan datang bersiap," Chu Chen berdiri. Otot-ototnya yang baru menembus Alam Penempaan Raga Lapis Keenam berderak pelan, menghasilkan panas alami yang menangkal hawa dingin. "Ayo. Kita lihat siapa yang sedang menggelar pertunjukan."
Mereka bergerak menyelinap dari balik bayangan satu batu ke batu lainnya. Setengah batang dupa kemudian, mereka tiba di mulut sebuah gua raksasa di dasar tebing capit tersebut. Bau belerang dan asam beracun dari dalam gua itu sangat pekat, cukup untuk membuat kulit manusia melepuh.
Chu Chen menahan Meng Fan di balik sebuah tonggak batu besar di dekat pintu masuk. Ia mengintip ke dalam.
Gua itu sangat luas, diterangi oleh empat pilar cahaya hijau yang dipancarkan dari bendera-bendera formasi yang ditancapkan di empat sudut ruangan. Di tengah gua, terjadi pertarungan yang mengguncang dinding batu.
Tiga orang pemuda berpakaian serba putih sedang mengepung seekor Kalajengking Jarum Besi raksasa. Namun, ini bukan kalajengking biasa. Ukurannya setinggi gubuk, cangkangnya memancarkan kilau logam hitam keunguan, dan ekor beracunnya bergerak secepat kilat, menghancurkan bebatuan di sekitarnya menjadi debu.
Raja Kalajengking Jarum Besi, batin Chu Chen mengenali binatang itu. Binatang Buas Tingkat 1 Puncak, kekuatannya setara dengan Alam Penempaan Raga Lapis Kesembilan. Hanya selangkah lagi menuju Tingkat 2.
Namun, yang menarik perhatian Chu Chen bukanlah binatang itu, melainkan pemuda yang memimpin pengepungan.
Pemuda itu memegang sebuah kipas lipat yang terbuat dari tulang manusia. Wajahnya sangat tampan, namun memancarkan hawa kejam dan angkuh. Setiap kali ia mengibaskan kipas tulangnya, bilah-bilah angin beracun melesat keluar, menahan laju Raja Kalajengking. Gejolak energi di tubuhnya sangat kental.
"Alam Penempaan Raga Lapis Kedelapan," bisik Chu Chen, matanya menyipit.
Meng Fan yang ikut mengintip menahan napasnya. "Gila! Itu Xue Ying! Tuan Muda dari Sekte Tulang Putih, salah satu sekte hitam kuat di wilayah utara! Apa yang dilakukan bakat istimewa Lapis Kedelapan di Jalur Asura? Dia seharusnya dengan mudah lulus tes Pilar Takdir dan menjadi Murid Dalam!"
"Dia sengaja menyembunyikan kekuatannya di Pilar Takdir," tebak Chu Chen dengan nada dingin. "Dia secara sadar masuk ke wilayah maut ini. Tujuannya bukan untuk lulus ujian kelangsungan hidup..."
"Tapi untuk Inti Raja Kalajengking ini," sambung Meng Fan, wajahnya menegang. "Kudengar Kipas Tulang Beracun miliknya membutuhkan inti binatang buas beracun tingkat tinggi sebagai inti formasinya. Sekte Awan Suci menggunakan lembah ini sebagai tempat pembuangan sampah, tapi bagi Xue Ying, ini adalah ladang perburuan pribadi."
Di tengah gua, Xue Ying tertawa congkak. "Tahan dia! Formasi Pengunci Jiwa Hijau akan segera melemahkan cangkangnya. Malam ini, Inti Raja Kalajengking ini akan melengkapi pusakaku!"
Dua anak buah Xue Ying, yang sama-sama berada di Lapis Ketujuh, terus melancarkan tebasan pedang Qi ke arah sendi-sendi kaki kalajengking tersebut.
Namun, binatang buas yang tersudut adalah yang paling mematikan.
SYAAAAASH!
Raja Kalajengking itu mendesis marah. Menyadari kematiannya semakin dekat, ia membakar sisa saripati kehidupannya. Cangkangnya tiba-tiba memerah. Dengan kecepatan yang di luar nalar, ekor besinya melesat menembus jaring angin Xue Ying, dan menghantam dada salah satu anak buahnya.
"Gaaargh!" Anak buah itu menjerit saat jarum beracun sebesar tombak menembus dadanya, menyuntikkan racun asam yang langsung melelehkan organ dalamnya dalam hitungan detik. Mayatnya terlempar ke dinding gua.
"Sialan! Binatang bodoh!" raung Xue Ying, merasa terhina karena anak buahnya mati.
Ia menggigit ujung jarinya dan mengoleskan darahnya sendiri ke Kipas Tulang Beracun. Kipas itu langsung membesar, memancarkan aura tengkorak hijau yang melolong.
"Mati kau! Tebasan Tulang Hantu!"
Sebuah bilah energi berbentuk bulan sabit melesat dari kipas itu, membelah udara dengan suara jeritan hantu. Bilah itu menghantam tepat di pangkal leher Raja Kalajengking, memotong melalui cangkang pelindungnya dan menciptakan luka robek yang sangat dalam. Darah berwarna ungu menyembur deras layaknya air mancur.
Raja Kalajengking itu melolong kesakitan, tubuh raksasanya terhuyung mundur sebelum akhirnya ambruk ke lantai gua, menimbulkan dentuman keras. Kaki-kakinya masih bergetar, namun nyawanya sudah berada di ujung tanduk.
Xue Ying mendarat di tanah dengan napas sedikit terengah-engah. Serangan barusan menguras lebih dari separuh Qi di Dantiannya. Anak buahnya yang tersisa, meskipun gemetar, tersenyum lega.
"Luar biasa, Tuan Muda! Raja Kalajengking berhasil ditumbangkan!"
Xue Ying menyeka keringat di dahinya dan menyeringai angkuh. "Tentu saja. Di lembah penuh sampah ini, akulah rajanya. Ambil intinya, kita tidak punya waktu untuk—"
Prok. Prok. Prok.
Suara tepuk tangan yang lambat dan bergema dari arah mulut gua memotong kalimat Xue Ying.
Xue Ying dan anak buahnya seketika menoleh, pedang dan kipas kembali terhunus. Dari balik bayangan tonggak batu, seorang pemuda berjubah hitam melangkah keluar dengan santai. Wajahnya tenang, tidak memancarkan riak perasaan apa pun. Di tangannya yang kosong, tidak ada senjata.
"Pertunjukan yang sangat bagus, Tuan Muda Xue," ucap Chu Chen datar. "Kerja kerasmu sangat dihargai."
Xue Ying memindai Chu Chen dari atas ke bawah. Saat ia tidak merasakan gejolak Qi sama sekali dari Dantian pemuda itu, tawanya langsung meledak.
"Hahaha! Aku kira siapa. Ternyata hanya seekor tikus fana yang tersesat," Xue Ying menatap Chu Chen dengan tatapan menghina. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini hidup-hidup? Ingin bersembunyi di guaku dari kedinginan? Atau kau ingin memohon agar aku memungutmu sebagai anjing peliharaanku?"
Meng Fan yang masih bersembunyi di balik batu memukul kepalanya sendiri dalam hati. Bocah gila ini! Xue Ying berada di Lapis Kedelapan! Dia bukan pria bermata satu yang bisa ditipu!
Chu Chen terus melangkah maju mendekati pusat gua, sepenuhnya mengabaikan aura membunuh dari dua ahli kultivasi di depannya. Matanya justru terkunci pada tubuh Raja Kalajengking yang sekarat. Ia bisa merasakan energi kehidupan yang sangat padat dan murni memancar dari monster itu.
"Anjing peliharaan?" Chu Chen memiringkan kepalanya menatap Xue Ying. "Tidak. Aku datang kemari... karena makan malamku sudah siap."
Wajah Xue Ying seketika mendingin. Keangkuhannya terluka oleh tatapan Chu Chen yang melihatnya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai... pelayan yang baru saja menyiapkan hidangan.
"Bunuh sampah gila ini. Potong lidahnya terlebih dahulu," perintah Xue Ying kepada anak buahnya yang berada di Lapis Ketujuh.
"Baik, Tuan Muda!"
Anak buah itu melesat maju dengan kecepatan bayangan, pedangnya menebas lurus ke arah mulut Chu Chen. Ia berniat mengakhiri nyawa fana sombong ini dalam satu kedipan mata.
Namun, di mata naga Chu Chen, gerakan Lapis Ketujuh yang kelelahan itu penuh dengan celah.
Chu Chen tidak mundur. Ia mengambil satu langkah maju, menyusup ke dalam jarak serang musuh. Tangan kirinya menjentikkan sisi bilah pedang itu dengan ketepatan mutlak, menangkisnya ke luar jalur, sementara tangan kanannya yang keras bagaikan palu baja menghantam ulu hati anak buah tersebut.
BUGH!
Udara meledak di dada sang anak buah. Kekuatan fisik Lapis Keenam Chu Chen yang disokong darah naga jauh melampaui Lapis Ketujuh biasa. Tulang rusuk anak buah itu hancur berkeping-keping, menusuk jantungnya sendiri.
Tubuh anak buah itu terlempar ke udara, mati sebelum menyentuh tanah.
Gua itu kembali hening secara mengerikan.
Senyum di wajah Xue Ying membeku. Matanya melebar melihat anak buah Lapis Ketujuhnya tewas hanya dengan satu pukulan tangan kosong dari seorang yang bahkan tidak memiliki Qi.
"Fisikmu... teknik rahasia penempaan tubuh macam apa yang kau pelajari?!" Xue Ying menggeram, kipas tulangnya mulai memancarkan cahaya hijau. Ia mundur selangkah, mengumpulkan sisa-sisa Qi di tubuhnya. Ia bukan orang bodoh; nalurinya memperingatkan bahwa pemuda ini adalah pemangsa buas yang menyamar.
"Teknik yang akan menelan kesombonganmu bulat-bulat," bisik Chu Chen.
Pupil matanya berubah menjadi celah emas vertikal. Niat Membunuh murni dari Kaisar Naga meledak dari tubuhnya, menekan udara di dalam gua hingga terasa seberat timah. Dalam sekejap mata, Chu Chen menghentakkan kakinya, menghancurkan lantai batu di bawahnya, dan melesat ke arah Xue Ying bagaikan sambaran petir hitam.
Pesta sesungguhnya di Jalur Asura baru saja dihidangkan.