NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Aku melepaskan pelukanku perlahan, mundur hingga punggungku merapat pada pintu mobil. Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Air mataku masih membasahi pipi, bersaing dengan rasa perih di telapak tanganku yang baru saja ia balut.

"Kenapa kamu tetap di sini, Rez?" tanyaku dengan suara serak, hampir pecah. "Kenapa kamu masih melakukan semua ini? Padahal aku sudah menyuruhmu pergi berkali-kali. Aku sudah bersikap jahat, aku sudah mendorongmu menjauh... hubungan kita sudah berakhir, Rez. Aku yang meninggalkanmu tanpa satu pun kata lima tahun lalu."

Farez tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan punggungnya pada kursi kemudi, menatap lurus ke depan ke arah deretan pepohonan yang bergoyang ditiup angin. Hening sejenak, hanya terdengar suara napasku yang masih memburu.

"Hubungan kita masih ada, Ra," ucapnya pelan, namun setiap katanya terdengar begitu mutlak.

Ia kemudian menoleh, menatapku tepat di mata. Sorot matanya begitu dalam, seolah sedang membaca seluruh luka yang kusembunyikan. "Karena dulu itu hanya kamu yang memutuskan sepihak. Aku tidak pernah bilang setuju. Aku tidak pernah menganggap kita selesai."

"Tapi itu lima tahun yang lalu, Farez! Dunia sudah berubah, aku sudah berubah!" seruku frustrasi.

Farez tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang menyayat hati. "Dunia boleh berubah, posisiku boleh berubah, tapi perasaanku tidak punya tombol untuk berhenti begitu saja. Aku tetap di sini karena selama lima tahun ini, di dalam setiap doaku, tetap nama kamu yang selalu kusebut. Di dalam setiap langkahku membangun karier, wajah kamu yang jadi tujuanku."

Ia meraih tanganku yang terbalut plester, memegangnya dengan sangat hati-hati seolah aku adalah porselen yang mudah hancur.

"Kamu boleh merasa sudah membunuh Rana yang dulu, tapi bagiku, kamu tetap Rana-ku. Perempuan yang dunianya hancur dan memilih lari karena takut terluka lagi. Aku tidak akan pergi hanya karena kamu sedang berusaha melindungi dirimu dengan cara mengusirku."

Aku tertegun, lidahku kelu. Ketulusannya terasa seperti tamparan sekaligus pelukan yang menyesakkan. Di saat aku merasa tidak layak dicintai karena hatiku penuh dengan dendam, laki-laki ini justru berdiri dengan tangan terbuka, menolak untuk menganggapku sebagai masa lalu.

"Jadi, jangan tanya kenapa aku masih di sini," bisik Farez lagi, kali ini suaranya kembali menjadi soft-spoken yang menenangkan. "Tanyalah pada dirimu sendiri, sampai kapan kamu mau berpura-pura bahwa kamu tidak membutuhkanku?"

Aku memalingkan wajah, tidak sanggup menatap kejujuran di matanya. Di luar, langit mendung seolah ikut merasakan beratnya percakapan kami. siang ini aku sadar, pelarianku selama lima tahun ternyata tidak pernah cukup jauh untuk meninggalkan hati yang memang sudah memilih untuk tinggal.

Farez mengembuskan napas panjang, tatapannya menerawang jauh menembus kaca depan mobil. Jemarinya yang masih menggenggam lembut tanganku yang terluka perlahan mengusap plester itu, seolah ingin menyembuhkan luka di baliknya dengan sentuhan.

"Dua tahun lalu, aku memutuskan untuk memindahkan pusat operasional Abiwangsa Group ke Jakarta," mulainya dengan suara rendah yang bergetar. "Keluargaku sempat menentang. Mereka pikir aku gila karena meninggalkan kenyamanan di kota asal kita untuk bersaing di hutan rimba Jakarta. Tapi aku tetap pada pendirianku. Kenapa?"

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh menatapku dengan binar yang begitu tulus sekaligus menyayat.

"Karena aku yakin, Rana. Aku yakin wanitaku ada di kota ini. Aku tahu kamu cerdas, aku tahu kamu tangguh, dan instingku bilang Jakarta adalah tempatmu membangun mimpi baru. Selama dua tahun aku membesarkan perusahaan ini di sini, setiap langkah bisnis yang kuambil, setiap gedung yang kusinggahi, tujuanku cuma satu: menemukanmu. Dan ternyata usahaku nggak sia-sia. Takdir membawa kamu kembali tepat di depanku."

Aku terpaku, dadaku terasa sesak mendengar pengakuannya. Ternyata, kesuksesannya bukan hanya soal ambisi, tapi soal pencarian yang tak pernah putus.

"Selama beberapa minggu pertemuan kita di kantor, aku nggak pernah benar-benar fokus pada laporan atau angka-angka itu, Ra," lanjut Farez lirih. "Aku memperhatikanmu. Sangat dalam. Aku melihat bagaimana caramu menegang saat nama Wira Pratama disebut. Aku melihat getaran di tanganmu setiap kali harus berhadapan dengan Pak Wira. Aku tahu luka yang kamu simpan selama ini masih basah. Aku tahu trauma itu masih menghantuimu."

Aku mencoba menarik tanganku, tapi Farez menahannya dengan lembut namun pasti.

"Aku tahu segalanya, Ra. Aku tahu betapa hancurnya kamu saat melihat 'beliau' tertawa bersama keluarga barunya tadi. Aku memilih diam bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku tahu kamu butuh ruang untuk tetap terlihat kuat sebagai profesional. Aku tahu kamu tidak suka dikasihani."

Ia mencondongkan tubuhnya, menatap mataku yang kembali berkaca-kaca. "Tapi melihatmu melukai dirimu sendiri seperti tadi... aku nggak bisa diam lagi. Aku nggak sanggup melihatmu menghancurkan dirimu sendiri demi orang yang bahkan tidak mengingat namamu. Aku di sini bukan untuk mengungkit masa lalu, tapi untuk memastikan kamu nggak jatuh sendirian lagi."

Aku terisak pelan. Kebungkamannya selama ini ternyata bukan karena ia lupa, melainkan karena ia terlalu mengenal caraku melindungi diri. Di tengah dunia yang menuntutku untuk selalu sempurna, Farez adalah satu-satunya orang yang membiarkanku merasa hancur tanpa perlu merasa bersalah.

"Istirahatlah sebentar," bisiknya sembari menyandarkan kepalaku ke bahunya. "Siang ini, biarkan aku yang memikul bebanmu. Kamu nggak harus jadi wanita porselen di depanku."

Di bawah rindangnya pohon peneduh siang itu, aku menyadari bahwa pelarianku telah usai. Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku telah ditemukan oleh hati yang paling sabar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!