[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berencana Mengajak Keluarganya ke Kota
Olyvia merebahkan diri di sofa beludru ruang tamunya. Di hadapannya, kolam renang infinity berkilau diterpa sinar matahari pagi. Bu Sri baru saja mengantarkan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng hangat. Aroma kopi dan pisang goreng bercampur menjadi satu, menciptakan sensasi nyaman yang sulit dijelaskan.
Ia menyeruput kopinya perlahan. Pikirannya melayang pada kejadian dua hari lalu. Presentasi yang sukses. Persetujuan akselerasi kelulusan. Undangan kompetisi internasional di Singapura. Kerja sama dengan profesor dari Universitas Tsinghua. Dan... insiden restoran dengan Arjuna yang hampir merusak harinya.
Tapi gue berhasil ngatasinnya. Gue pegang kendali sekarang.
Ia tersenyum tipis. Lalu matanya tertuju pada foto keluarga yang ia pajang di meja konsol. Foto itu diambil dua tahun lalu, saat ia masih menjadi mahasiswi baru. Ibu dan Bapak berdiri di tengah, Siska dan Galang di samping, dan Olyvia sendiri di ujung. Mereka semua tersenyum, tapi Olyvia bisa melihat kelelahan di mata orang tuanya. Kelelahan karena harus membiayai kuliahnya, karena harus menjaga warung dari subuh hingga tengah malam, karena harus bertani di sawah orang lain demi menghidupi tiga anak.
Mereka belum pernah lihat rumah gue. Mereka belum pernah lihat mobil gue. Mereka belum pernah ngerasain hidup enak.
Ia meletakkan cangkir kopinya dan meraih ponsel. Jemarinya mengetik pesan untuk Bu Sumarni.
Olyvia: Bu, lagi sibuk?
Tidak sampai satu menit, balasan datang.
Ibu: Enggak, Nduk. Lagi santai di warung. Tumben nge-chat pagi-pagi. Ada apa?
Olyvia tersenyum. Ia menekan tombol panggilan video.
Wajah Bu Sumarni muncul di layar. Latar belakangnya adalah warung kecil dengan etalase berisi jajanan dan sembako. Rambutnya disanggul rapi, tapi Olyvia bisa melihat kantung mata yang mulai menggelap di wajah ibunya.
"Bu, sehat?"
Bu Sumarni tersenyum. "Sehat, Nduk. Alhamdulillah. Kamu sendiri gimana? Udah makan?"
"Udah, Bu. Tadi sarapan pisang goreng sama kopi."
"Kamu jangan kebanyakan kopi. Nanti lambungnya sakit."
Olyvia tertawa kecil. "Iya, Bu. Olyvia cuma minum dikit kok."
Mereka mengobrol ringan beberapa menit. Bu Sumarni bercerita tentang warungnya yang mulai ramai lagi, tentang Bapak yang sekarang sudah lancar menyetir mobil dan sering pergi ke pasar, tentang Siska yang sedang sibuk mempersiapkan ujian masuk universitas, dan tentang Galang yang nilainya mulai membaik sejak punya PlayStation.
Olyvia mendengarkan dengan senyum. Tiap cerita tentang keluarganya membuat hatinya hangat.
"Bu," kata Olyvia akhirnya. "Olyvia punya rencana."
Bu Sumarni mengerutkan kening. "Rencana apa, Nduk?"
"Olyvia mau ngajak Ibu, Bapak, Siska, sama Galang ke kota. Ke rumah Olyvia."
Bu Sumarni terdiam. Matanya membelalak. "Ke kota? Ke rumah kamu? Yang kamu beli itu?"
Olyvia mengangguk. "Iya, Bu. Olyvia mau Ibu sama Bapak lihat sendiri. Selama ini kan cuma lewat foto sama video doang. Olyvia mau kalian semua datang, nginep beberapa hari, jalan-jalan di Surabaya."
Bu Sumarni menggeleng pelan. "Nduk, Ibu sama Bapak gak enak. Nanti ngerepotin kamu. Lagian warung siapa yang jaga?"
"Warung bisa tutup beberapa hari, Bu. Gak apa-apa. Lagian Olyvia udah kangen banget. Olyvia mau quality time sama keluarga."
Di latar belakang, Olyvia mendengar suara Siska. "Mbak Olyvia ngajak kita ke kota? Aku mau! Aku mau!"
Bu Sumarni menoleh dan menegur Siska pelan, lalu kembali menatap layar. "Nduk, seriusan? Kamu gak keberatan?"
"Justru Olyvia yang minta, Bu. Olyvia udah siapin semuanya. Nanti Olyvia sewa mobil buat jemput kalian. Nginep di rumah Olyvia. Olyvia anterin jalan-jalan ke mall, ke pantai, ke tempat-tempat bagus. Siska bisa sekalian lihat-lihat kampusnya nanti."
Bu Sumarni terdiam beberapa saat. Olyvia bisa melihat matanya berkaca-kaca. "Nduk... Ibu sama Bapak itu gak pernah mimpi bisa kayak gini. Kamu jadi anak yang sukses, punya rumah sendiri, mobil sendiri. Sekarang kamu mau ngajak kita jalan-jalan. Ibu... Ibu gak tau harus ngomong apa."
Olyvia merasakan matanya sendiri mulai panas. "Ibu gak perlu ngomong apa-apa. Cuma perlu siap-siap. Olyvia jemput hari Sabtu depan ya. Nginep di sini sampai hari Selasa. Gimana?"
Bu Sumarni mengangguk pelan. "Iya, Nduk. Ibu siap. Nanti Ibu bilangin Bapak."
"Oke, Bu. Olyvia tutup dulu ya. Sayang Ibu."
"Sayang kamu juga, Nduk."
Panggilan berakhir. Olyvia menatap layar ponselnya yang kini kembali ke halaman utama. Ia menyeka sudut matanya yang basah.
Akhirnya. Gue bisa nunjukin ke mereka. Bukan buat pamer. Tapi buat nunjukin bahwa kerja keras mereka gak sia-sia.
Ia berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya. Di sana, ia mulai membuat daftar.
Rencana Kedatangan Keluarga:
1. Sewa mobil MPV mewah + sopir (biar Bapak gak capek nyetir).
2. Siapkan kamar untuk Ibu-Bapak, Siska, Galang.
3. Minta Bu Sri siapkan masakan spesial setiap hari.
4. Itinerary: mall, pantai, tempat wisata, kampus Siska.
5. Kejutan: ajak Ibu lihat properti yang Olyvia beli atas namanya.
Ia tersenyum membaca poin terakhir. Ibu belum tau soal properti itu. Dokumennya udah jadi. Tinggal gue kasih langsung.
Bu Sri mengetuk pintu dan masuk membawa teh hangat. "Mbak Oly, kok senyum-senyum sendiri?"
Olyvia menoleh. "Bu Sri, Sabtu depan keluarga saya datang. Ibu, Bapak, sama dua adik saya. Tolong siapkan kamar ya. Sama masakan spesial. Saya mau mereka betah di sini."
Bu Sri tersenyum lebar. "Wah, Alhamdulillah. Saya senang Mbak. Saya pasti siapkan yang terbaik."
"Terima kasih, Bu."
Bu Sri keluar dengan langkah ringan. Olyvia kembali menatap daftarnya. Lalu ia membuka aplikasi rental mobil dan memesan sebuah MPV mewah lengkap dengan sopir untuk akhir pekan nanti. Harga sewa tiga hari: Rp15,-.
Lima belas rupiah. Di dunia normal mungkin jutaan. Di dunia gue sekarang? Receh.
Ia menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit. Bayangan wajah ibu dan bapaknya yang terharu memenuhi pikirannya. Bayangan Siska yang kegirangan melihat kamar mandi pualam. Bayangan Galang yang langsung nyemplung ke kolam renang.
Gue gak sabar.
Ponselnya bergetar. Pesan WeChat dari Xiao Han.
Xiao Han: Apa kabar? Presentasimu sukses?
Olyvia tersenyum dan membalas.
Olyvia: Sukses. Aku lolos ke kompetisi internasional di Singapura. Dua bulan lagi.
Xiao Han: Aku tahu kamu pasti bisa. Selamat.
Olyvia: Terima kasih. Kamu sendiri gimana? Sibuk?
Xiao Han: Biasa. Riset dan mengajar. Tapi aku selalu punya waktu untukmu.
(siapapun, beri author cowok kek Xiao han, iri banget ihಥ‿ಥ)
Olyvia menatap pesan terakhir itu. Selalu punya waktu untukmu. Kalimat sederhana, tapi entah kenapa membuat dadanya hangat.
Ia tidak membalas. Ia hanya menyimpan ponselnya dan kembali menatap daftar rencananya. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Oly, fokus. Keluarga dulu. Cowok nanti.