Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Phoenix dan Gejolak di Kota Azure
Episode 10
Napas Gu Sheng sangat teratur, setiap tarikan napasnya membawa energi spiritual (Qi) dari udara sekitar, yang kemudian diproses oleh Dantian Penelan Langit-nya menjadi uap hitam pekat. Setelah mandi herbal semalam, kulitnya kini memiliki tekstur yang aneh tampak halus seperti batu giok, namun jika disentuh, rasanya sekeras baja yang ditempa ribuan kali.
Di depannya, Qing Er duduk bersila dengan canggung. Gadis itu mencoba meniru posisi meditasi Gu Sheng, namun wajahnya tampak tegang. Keringat tipis membasahi keningnya yang putih, dan napasnya sedikit tersengal.
"Jangan mencoba melawan panas itu, Qing Er," ucap Gu Sheng tanpa membuka matanya. Suaranya rendah dan memberikan kesan menenangkan. "Panah itu bukan musuhmu. Itu adalah bagian dari darahmu. Bayangkan panas itu sebagai aliran sungai emas yang sedang mencari jalan menuju laut."
Qing Er menggertakkan giginya, mencoba mengikuti instruksi tuannya. "Tapi Tuan Muda... rasanya seolah-olah seluruh tubuh saya sedang terbakar dari dalam. Setiap kali saya mencoba mengalirkannya, dada saya terasa sangat sesak."
Gu Sheng membuka matanya, kilatan merah darah di pupilnya tampak meredup, digantikan oleh tatapan serius. Ia mengulurkan tangannya, meletakkan telapak tangannya di punggung Qing Er.
“Bocah, berhati-hatilah,” suara Kaisar Iblis memperingatkan di dalam batinnya. “Energi Phoenix adalah api suci yang paling murni. Qi Penelan Langit-mu adalah kegelapan yang paling pekat. Jika kau salah sedikit saja dalam menyeimbangkannya, kau bisa membakar jalur meridiannya hingga abu.”
"Aku tahu apa yang kulakukan," bisik Gu Sheng pelan.
Ia mulai mengalirkan Qi hitamnya masuk ke tubuh Qing Er. Begitu energinya masuk, ia segera merasakan gelombang panas yang luar biasa, sebuah energi berwarna emas kemerahan yang liar dan megah, berputar-putar di sekitar Dantian Qing Er yang baru saja terbentuk. Energi itu sangat agresif, seolah-olah seekor burung phoenix muda sedang meronta di dalam sangkar yang terlalu sempit.
Gu Sheng tidak mencoba menekan energi Phoenix itu. Sebaliknya, ia menggunakan Qi hitamnya untuk membangun dinding pelindung di sepanjang jalur meridian Qing Er. Ia menyelimuti pembuluh darah gadis itu dengan lapisan energi Penelan Langit agar panas Phoenix tidak merusak jaringan tubuhnya yang masih fana.
"Sekarang, Qing Er... tarik napas dalam-dalam. Biarkan 'Burung Emas itu terbang mengikuti jalur yang kubuka untuknya," perintah Gu Sheng.
Qing Er menarik napas panjang. Dengan bantuan panduan energi Gu Sheng, aliran panas itu mulai bergerak. Ia melewati tulang belakangnya, naik ke arah pundak, turun ke ujung jari-jarinya, dan kembali lagi ke perut. Setiap putaran membuat wajah Qing Er semakin bersinar, seolah-olah ada cahaya lampu yang menyala di balik kulitnya.
Setelah sembilan putaran penuh, Qing Er menghembuskan napas panjang yang mengeluarkan uap panas berwarna keemasan. Ia membuka matanya, dan untuk sesaat, pupil matanya yang berwarna abu-abu tampak berkilat dengan percikan api emas.
"Tuan Muda... saya merasakannya!" seru Qing Er dengan wajah ceria. "Rasa sakitnya hilang, digantikan oleh kekuatan yang sangat besar. Rasanya... seolah-olah saya bisa mematahkan batu hanya dengan tangan kosong!"
Gu Sheng menarik tangannya kembali, ia merasa sedikit lelah karena harus mengendalikan energinya dengan sangat presisi. "Kau baru saja menembus tingkat kedua Body Tempering hanya dalam satu jam meditasi. Itulah kehebatan Garis Keturunan Phoenix Purba. Namun, ingat pesanku... kau harus menyembunyikan kekuatan ini. Jangan pernah gunakan energi emas itu di depan orang lain kecuali dalam keadaan terdesak."
Qing Er mengangguk mantap. "Qing Er mengerti, Tuan Muda. Qing Er akan menjadi senjata rahasia Anda."
Tiba-tiba, pintu ruangan VIP diketuk dengan terburu-buru. Suara ketukannya terdengar kasar, tanda ada sesuatu yang mendesak.
"Tuan Muda Gu! Nyonya Su Mei meminta Anda segera turun ke aula bawah!" suara Zhao Hu, penjaga paviliun, terdengar gemetar. "Ada... ada tamu yang tidak diundang dari Sekte Pedang Langit!"
Mendengar nama itu, tatapan Gu Sheng seketika menjadi dingin dan tajam. Ia berdiri, menyarungkan pedang Penebas Dosa ke punggungnya dengan satu sentakan kuat. Suara dentuman pedang yang menghantam punggungnya membuat seluruh ruangan bergetar.
"Tetap di sini, Qing Er. Apapun yang terjadi, jangan keluar," ucap Gu Sheng.
Ia melangkah keluar kamar, menuruni tangga menuju aula utama Paviliun Seribu Harta. Di bawah sana, suasana sangat mencekam. Para tamu yang biasanya sibuk bertransaksi kini bersembunyi di sudut-sudut ruangan dengan wajah pucat.
Di tengah aula, berdiri seorang pria muda berusia sekitar dua puluh tahun. Ia mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman naga emas di lengannya tanda bahwa ia adalah seorang Murid Inti dari Sekte Pedang Langit. Di sampingnya, berdiri Lin Tian yang wajahnya masih sedikit pucat, namun matanya memancarkan rasa puas yang kejam.
Pria muda itu adalah Zhao Ruo, senior Lin Tian yang dikenal karena kejamannya. Ia sedang duduk dengan santai di kursi utama paviliun, sementara Su Mei berdiri di depannya dengan wajah yang dipaksakan untuk tetap tersenyum meskipun ia tampak sangat tertekan oleh aura yang dipancarkan pria itu.
"Su Mei, kesabaranku ada batasnya," ucap Zhao Ruo dengan suara malas namun mengandung ancaman yang nyata. "Serahkan anjing bermarga Gu itu sekarang juga, atau aku akan melaporkan paviliunmu ini ke pihak sekte karena telah menyembunyikan buronan tingkat tinggi. Kau tahu kan, apa konsekuensinya bagi bisnismu jika kau menyinggung Sekte Pedang Langit?"
Su Mei mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya. "Tuan Zhao, Paviliun Seribu Harta selalu bersifat netral. Kami tidak menyerahkan pelanggan kami begitu saja. Itu adalah aturan dasar organisasi kami."
"Aturan?" Zhao Ruo tertawa sinis. Ia menghantamkan cangkir tehnya ke meja hingga hancur berkeping-keping. "Di wilayah ini, kata-kataku adalah aturan! Jika aku bilang dia harus mati, maka dia harus mati!"
"Lalu kenapa kau tidak mencoba membunuhku sendiri, daripada berteriak seperti wanita?"
Suara dingin itu bergema dari arah tangga. Semua orang menoleh dan melihat Gu Sheng sedang menuruni tangga dengan langkah yang mantap. Setiap langkahnya seolah-olah membawa beban ribuan ton, membuat lantai marmer aula itu retak tipis di bawah setiap pijakannya.
Aura kegelapan yang pekat menyelimuti tubuh Gu Sheng, bertabrakan dengan aura tajam milik Zhao Ruo di tengah udara. Benturan dua aura ini menciptakan tekanan batin yang begitu kuat hingga beberapa pelayan paviliun yang berkultivasi rendah langsung pingsan di tempat.
Lin Tian menunjuk Gu Sheng dengan jari gemetar. "Senior Zhao! Dialah sampahnya! Lihatlah dia... dia masih berani bersikap angkuh meskipun kematian sudah menjemputnya!"
Zhao Ruo berdiri, matanya menyipit menatap Gu Sheng. Ia sedikit terkejut merasakan tekanan dari pemuda di depannya. "Jadi, kau adalah Gu Sheng? Orang yang dikabarkan menghisap Qi orang lain seperti iblis? Menarik... tingkat keenam Qi Refinement? Bagaimana mungkin sampah sepertimu bisa naik level begitu cepat?"
Gu Sheng berhenti di tengah aula, sekitar sepuluh meter di depan Zhao Ruo. "Kecepatan kultivasiku bukanlah urusanmu, orang asing. Kau datang ke sini, merusak barang-barang di paviliun rekanku, dan mengancam nyawaku. Apa kau sudah menyiapkan peti matimu sendiri?"
Seluruh aula seketika menjadi sunyi senyap. Tidak ada yang pernah menyangka Gu Sheng akan berbicara seberani itu kepada seorang murid inti yang berada di tahap Spirit Sea - Tingkat Pertama. Perbedaan level antara mereka adalah satu alam besar, sebuah jarak yang biasanya mustahil untuk dilewati.
Wajah Zhao Ruo berubah menjadi sangat gelap. Ia menarik pedang tipisnya yang bersinar perak murni. "Kau punya lidah yang sangat tajam untuk seorang mayat berjalan. Mari kita lihat, apakah pedang raksasa di punggungmu itu hanya pajangan atau kau benar-benar tahu cara menggunakannya!"
Zhao Ruo melesat maju. Kecepatannya jauh melampaui Lin Tian semalam. Ia tampak seperti seberkas cahaya perak yang membelah udara.
"Teknik Pedang Perenggut Jiwa, Tebasan Cahaya!"
Sebuah garis cahaya perak yang sangat tipis dan tajam melesat menuju tenggorokan Gu Sheng. Serangan ini tidak hanya menargetkan fisik, tapi juga mengandung getaran energi yang mampu mengacaukan kesadaran lawan.
Gu Sheng tidak bergeming. Ia menarik Penebas Dosa dengan gerakan yang terlihat lambat namun sangat bertenaga.
DUM!
Ia menghantamkan sisi pedang tumpulnya ke arah cahaya perak itu.
TING!
Suara benturan logam yang melengking memecah keheningan, diikuti oleh ledakan energi yang membuat rak-rak pajangan di sekitar mereka hancur berkeping-keping. Zhao Ruo terpaksa mundur tiga langkah, tangannya yang memegang pedang sedikit bergetar.
"Apa?!" Zhao Ruo terperangah. Serangannya yang mampu membelah batu besar justru dipatahkan dengan mudah oleh sebuah ayunan pedang tumpul.
Gu Sheng berdiri dengan tenang, pedang Penebas Dosa tertancap di lantai di depannya. "Apakah ini kemampuan murid inti? Sangat mengecewakan. Jika kau hanya sebatas ini, sebaiknya kau pulang dan belajar mengayunkan sapu saja."
Su Mei, yang melihat pertukaran serangan itu, menarik napas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa latihan Gu Sheng di ruang gravitasi telah membuahkan hasil yang jauh lebih gila dari yang ia bayangkan. Gu Sheng kini memiliki kekuatan fisik yang mampu menyaingi praktisi tingkat Spirit Sea tanpa perlu mengeluarkan banyak Qi.
Lin Tian yang melihat senionya dipukul mundur mulai merasa ketakutan. "Senior Zhao! Gunakan jurus itu! Jangan beri dia kesempatan!"
Zhao Ruo menggertakkan giginya. Rasa malunya memuncak. Ia membakar Qi-nya, membuat aura perak di sekelilingnya menjadi sangat ganas. "Bocah, kau telah memaksaku! Rasakan amukan murid inti yang sesungguhnya!"
Namun, sebelum Zhao Ruo bisa menyerang kembali, pintu Paviliun Seribu Harta terbuka lebar. Seorang pria tua dengan jubah hitam panjang dan rambut putih yang diikat rapi masuk dengan perlahan. Meskipun ia tidak memancarkan aura apa pun, kehadirannya membuat suasana aula menjadi sangat sunyi, seolah-olah seluruh energi di ruangan itu tunduk padanya.
"Hentikan keributan ini," suara pria tua itu lembut namun berwibawa.
"Penatua Gu?!" Su Mei terkejut. Pria tua itu adalah Penatua Agung Keluarga Gu, orang yang selama ini dikabarkan sedang bermeditasi di pengasingan dan tidak ikut campur dalam pengkhianatan sebulan lalu.
Penatua Agung menatap Gu Sheng dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah ia mencoba melihat menembus jiwa pemuda itu. "Gu Sheng... kau benar-benar masih hidup. Dan kau membawa aura yang... sangat gelap."
Gu Sheng menatap kakek buyutnya itu dengan tatapan waspada. Ia tidak tahu apakah orang tua ini kawan atau lawan. "Penatua Agung, apakah Anda ke sini untuk membantu sampah dari Sekte Pedang Langit ini menangkap saya?"
Penatua Agung menghela napas panjang. "Tidak. Aku ke sini untuk menghentikan pertumpahan darah yang tidak perlu sebelum Turnamen Kota Azure dimulai. Zhao Ruo, sebagai tamu di kota kami, sebaiknya kau menghormati aturan yang ada. Pertarungan antara murid sekte dan penduduk kota hanya boleh dilakukan di arena resmi."
Zhao Ruo tampak tidak puas, namun ia tahu siapa Penatua Agung ini, seorang praktisi tingkat Spirit Sea - Tingkat Ketujuh yang sangat dihormati. Ia menyarungkan pedangnya dengan kasar.
"Baiklah! Penatua Agung, aku akan memberimu muka malam ini," ucap Zhao Ruo sambil menatap Gu Sheng dengan penuh kebencian. "Gu Sheng, nikmati sisa hidupmu selama tiga hari ini. Di arena turnamen nanti, tidak akan ada siapa pun yang bisa melindungimu. Aku sendiri yang akan memisahkan kepalamu dari tubuhmu."
Lin Tian dan Zhao Ruo kemudian berbalik dan meninggalkan paviliun dengan langkah yang penuh amarah.
Aula paviliun kembali tenang, namun ketegangan baru mulai muncul saat Penatua Agung berjalan mendekati Gu Sheng. Ia berhenti tepat di depan Gu Sheng, menatap pedang Penebas Dosa.
"Gu Sheng, kau telah memilih jalan yang sangat berbahaya," bisik Penatua Agung. "Jalan kegelapan tidak pernah berakhir dengan baik. Namun... sebagai kakekmu, aku senang kau masih hidup. Ikutlah denganku ke aula leluhur. Ada sesuatu yang ditinggalkan ayahmu sebelum ia menghilang."
Mendengar tentang ayahnya, mata Gu Sheng sedikit bergetar. Inilah awal dari misteri yang lebih besar yang akan membawanya keluar dari Kota Azure menuju panggung dunia yang lebih luas.