Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 | Topeng Kepedulian
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Suasana di halaman sekolah terasa sangat haru dan khidmat. Bendera merah putih dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung dan penghormatan atas musibah kecelakaan bus yang menimpa rombongan Olimpiade Matematika beberapa hari yang lalu. Meski begitu, kabar baiknya adalah berkat kegigihan dan keberanian Iris dalam mengevakuasi semua korban, tidak ada satu pun nyawa yang melayang. Hanya ada luka-luka fisik ringan hingga sedang yang dialami oleh siswa maupun guru.
Dalam upacara peringatan dan belasungkawa yang dihadiri oleh seluruh warga sekolah, orang tua murid, serta awak media, Kepala Sekolah berdiri di atas mimbar dengan wajah berlinang air mata namun tersenyum lega.
"Kita semua bersedih atas kejadian mengerikan ini. Namun, di tengah bencana itu, kita dipertemukan dengan keajaiban. Berkat keberanian dan ketenangan akal dari salah satu murid kita, Iris Astridewi, kita semua bisa bernapas lega karena tidak ada satu pun korban jiwa. Ia layak disebut sebagai pahlawan di antara kita," ujar Kepala Sekolah dengan suara lantang.
Tepuk tangan meriah serta sorak-sorai kagum terdengar dari seluruh penjuru lapangan. Kamera-kamera dari berbagai stasiun televisi dan media daring mengarah tepat ke wajah Iris yang berdiri di barisan terdepan. Iris tampak tersenyum tipis namun di dalam hatinya ia merasa berat dan tertekan. Ia tidak merasa menjadi pahlawan, ia hanya merasa melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai manusia biasa.
................
Setelah upacara selesai, Iris berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah gontai. Ia ingin menenangkan diri sejenak dari hiruk-pikuk media dan tatapan mata orang-orang yang bercampur aduk antara kagum, iri, maupun rasa ingin tahu.
Namun, tiba-tiba sebuah suara lembut memanggilnya dari belakang.
"Iris... Tunggu sebentar."
Iris menoleh dan mendapati Siska sedang berjalan mendekatinya dengan wajah yang dipenuhi ekspresi sedih dan simpati. Berbeda dengan sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh sebelumnya, kali ini Siska tampak sangat perhatian. Ia mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi namun wajahnya terlihat pucat dan matanya sembab seolah habis menangis.
"Siska? Ada apa?" tanya Iris bingung.
Siska berhenti tepat di hadapan Iris, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, Iris. Kalau saja kamu tidak bertindak cepat dan menyelamatkan semua orang, mungkin aku tidak akan berdiri di sini sekarang. Aku... aku sangat takut saat itu. Dan aku juga turut berduka atas apa yang terjadi. Sungguh, aku merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa saat itu," ujar Siska dengan nada suara yang bergetar seolah menahan tangis.
Iris tertegun melihat perubahan sikap Siska yang begitu drastis. Selama ini ia mengenal Siska sebagai gadis yang angkuh atau dingin, tapi kali ini ia terlihat begitu tulus dan menyedihkan.
"Eh, tidak apa-apa, Siska. Kita semua selamat kan? Itu yang terpenting. Kamu tidak perlu merasa bersalah," jawab Iris berusaha menenangkan.
Mendengar itu, Siska mengangkat wajahnya dan menatap Iris dengan tatapan yang tampak memohon perlindungan. "Bolehkah aku menemanimu sebentar, Iris? Aku... aku masih merasa sangat takut dan kesepian. Rasanya baru ada kamu yang bisa mengerti perasaanku saat ini."
Meskipun di lubuk hatinya masih ada sedikit keraguan, namun melihat ekspresi Siska yang begitu menyedihkan, hati Iris yang lembut luluh. "Tentu saja boleh. Kita sama-sama sedang berusaha pulih," jawab Iris tersenyum tipis.
Sejak saat itu, Siska mulai sering mendekati Iris. Ia menjadi pendengar yang baik, selalu ada di sisi Iris, membawakan makanan atau minuman, dan terus-menerus menanamkan kata-kata yang seolah-olah memberikan dukungan namun perlahan-lahan meracuni pikiran Iris.
"Kamu hebat sekali, Iris. Tapi, kamu tidak merasa lelah menjadi pusat perhatian semua orang? Rasanya mereka hanya memujamu karena butuh saja," bisik Siska di satu kesempatan.
atau, "Kamu tahu tidak, Iris? Ada beberapa orang yang justru merasa iri padamu dan berpikir bahwa kamu sengaja mencari panggung. Padahal niatmu kan baik," ujarnya di kesempatan lain.
Kata-kata itu halus, namun lama-kelamaan mulai membuat hati Iris menjadi gelisah dan ragu terhadap lingkungannya.
................
Di tempat yang berbeda, di ruangan kantor pribadi Stella yang luas dan dingin, suasana seketika berubah menjadi hening saat Stella menatap layar monitor yang menampilkan rekaman sosok Kim yang sedang menyelamatkan Iris di dasar jurang.
Melihat wajah Kim yang tenang namun tegas itu, tiba-tiba ingatan Stella melayang jauh ke masa lalu, tepatnya di tahun 2070-an.
Di dalam kilas balik itu, terlihat suasana markas besar pasukan perlawanan manusia yang sedang berjuang melawan invasi mesin. Di sana, Stella dan Kim berdiri berdampingan di ruang komando pusat. Keduanya mengenakan seragam militer dengan pangkat tinggi dan lencana kehormatan yang sama.
"Komandan Kim, rencana penyerangan ke basis utama pasukan Cybernite sudah disusun. Apa ada koreksi lagi?" tanya Stella saat itu dengan sikap hormat namun penuh keyakinan. Ia dikenal sebagai salah satu komandan lapangan yang paling tangguh dan setia.
Kim yang saat itu menjabat sebagai pemimpin tertinggi pasukan perlawanan, menatap peta strategi di meja dengan tatapan tajam namun bijaksana. "Rencananya sudah bagus, Komandan Stella. Tapi ingat, keselamatan pasukan adalah prioritas utama. Kita tidak boleh mengorbankan nyawa sia-sia demi sebuah kemenangan semu," jawab Kim tegas.
"Siap, Komandan! Saya pastikan misi ini akan berhasil dan kita akan mengakhiri perang ini secepatnya," jawab Stella dengan semangat membara.
Namun, kilas balik itu berubah menjadi pemandangan yang kelam dan berdarah. Terjadi perdebatan sengit di ruang komando yang sama.
"Kamu gila, Stella! Meledakkan seluruh kota hanya untuk menghancurkan satu basis musuh? Itu akan membunuh ribuan warga sipil yang tidak bersalah!" bentak Kim dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Jika kita tidak melakukannya sekarang, mereka akan maju dan membunuh kita semua! Ini pengorbanan yang harus diambil demi masa depan umat manusia! Kamu terlalu lembut, Kim! Itu sebabnya kita kalah terus!" balas Stella dengan nada tinggi dan penuh emosi.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya! Selama aku memegang kendali, aku tidak akan membiarkanmu menjadi algojo!" hardik Kim.
Sejak saat itu, hubungan kerja sama yang dulunya kokoh dan saling percaya itu retak seketika. Ambisi dan perbedaan prinsip memisahkan jalan mereka, yang pada akhirnya membawa Stella ke dalam jalan kegelapan yang ia tempuh sekarang.
Kilas balik itu memudar dan kembali ke masa kini. Stella mengusap sudut matanya yang sedikit berkaca-kaca, namun segera digantikan oleh tatapan dingin dan kebencian yang membara.
"Kamu masih sama keras kepalanya seperti dulu, Kim. Dan sekarang, kamu malah melindungi gadis itu... Ternyata takdir memang suka bercanda," gumam Stella pelan.
................
Di halaman sekolah yang mulai sepi karena jam pelajaran sudah habis, Iris baru saja berpamitan dengan Siska yang tadi menemaninya. Saat ia berjalan menuju gerbang sekolah, tiba-tiba seorang pemuda dengan wajah tertunduk menghadang langkahnya.
Itu adalah Faisal, mantan pacar Iris yang dulu sering menimbulkan masalah. Wajahnya tampak lesu dan berantakan.
"Iris... Bolehkah aku bicara sebentar?" tanya Faisal dengan nada memelas.
Iris berhenti dan menatap Faisal dengan tatapan datar. "Ada apa, Faisal? Katanya saja. Tapi aku sedang terburu-buru," jawab Iris dengan nada dingin dan tidak bersahabat. Ia masih belum bisa melupakan sikap Faisal yang dulu sering menyakiti hatinya.
Melihat sikap Iris yang masih sedingin es itu, wajah Faisal tampak sedih dan putus asa. "Aku tahu aku salah, Iris. Aku tahu aku sudah menyakitimu. Tapi aku sungguh menyesal... Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya," ujar Faisal terus berusaha mendekat.
Namun, Iris tetap bergeming. "Maaf, Faisal. Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Permisi," tolak Iris tegas, lalu berbalik badan hendak pergi.
Di sudut lain, Siska yang ternyata belum pergi dan masih mengawasi dari kejauhan, melihat interaksi dingin antara Iris dan Faisal itu. Sebuah rencana licik tiba-tiba terlintas di pikirannya.
Siska segera berjalan mendekati Faisal yang tampak kecewa dan sedih karena ditolak Iris.
"Faisal... Kamu tampaknya sedang bersedih sekali," sapa Siska dengan nada lembut namun tersirat maksud tertentu.
Faisal menoleh dan melihat Siska. "Ah, Nona Siska... Tidak ada, aku hanya sedang mencoba bicara dengan Iris, tapi dia masih sangat membenciku," jawab Faisal putus asa.
Siska tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kalau begitu, kenapa kamu tidak ikut aku saja? Mungkin aku bisa membantumu melupakan kesedihanmu sejenak," tawar Siska dengan nada menggoda namun penuh perhitungan.
Mendengar tawaran itu, Faisal yang sedang dalam keadaan emosional dan merasa tidak berharga, seolah mendapatkan secercah harapan. Ia mengangguk lemah. "Baiklah... Terima kasih, Nona Siska."
................
Malam harinya, di salah satu kamar hotel berbintang yang terletak di pusat kota, suasana tampak remang-remang dan tertutup rapat. Faisal dan Siska berada di dalam sana. Awalnya suasana terasa intim, namun di balik itu, Siska memiliki tujuan lain.
Saat keduanya sedang terlibat dalam momen keintiman fisik, di saat Faisal lengah dan pikirannya sedang tidak waras, Siska diam-diam mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam pekat yang berkilauan, persis seperti yang digunakan Stella pada Bram.
Bola hitam itu melayang perlahan menuju tubuh Faisal yang sedang terbaring di tempat tidur. Faisal sama sekali tidak menyadarinya karena pikirannya sedang dikaburkan oleh hasrat. Begitu bola hitam itu menyentuh kulit Faisal, benda itu seketika pecah menjadi partikel-partikel halus dan menyusup masuk ke dalam pori-pori kulitnya dengan kecepatan yang tidak kasat mata.
"Arghhh!!" Faisal tiba-tiba berteriak kesakitan yang amat sangat. Tubuhnya mengejang hebat, matanya melotot lebar, dan mulutnya terbuka lebar seolah ingin memuntahkan sesuatu. Namun, suaranya terhenti seketika. Dalam hitungan detik, tubuh Faisal yang tadinya hangat itu menjadi kaku dan dingin. Napasnya berhenti. Jantungnya berhenti berdetak. Ia meninggal dunia seketika.
Namun, sesaat kemudian, perubahan aneh terjadi. Tubuh Faisal yang terkulai lemas itu perlahan bergerak lagi. Matanya yang tadinya kosong dan nyalinya sudah hilang, kini terbuka kembali menampakkan bola mata yang hitam pekat tanpa putihnya, dingin, tajam, dan kosong.
Sebuah suara mekanis dan datar terdengar bergema di dalam pikiran Faisal yang kini telah diambil alih oleh sistem Nano Machine jahat itu.
[Integrasi Selesai.]
[Mengunduh Memori dan Data Inang...]
[Identitas Inang: Faisal Adhitama. Usia 17 Tahun. Status: Siswa.]
[Status: Siap Bertugas.]
Faisal bangkit berdiri dari tempat tidur dengan gerakan yang tegap namun kaku. Ia merapikan pakaiannya yang berantakan dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi. Wajahnya yang tadinya terlihat biasa saja kini memancarkan aura dingin dan mengerikan.
Siska yang duduk di tepi tempat tidur hanya menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun. "Mulai besok, lanjutkan kehidupanmu seperti biasa. Tapi ingat, setiap gerak-gerikmu harus untuk kepentingan My Queen dan misi kita. Paham?" perintah Siska dingin.
Faisal menundukkan kepalanya rendah dengan tatapan penuh kesetiaan mutlak. "Siap. Dipahami dan akan dilaksanakan," jawabnya dengan nada suara yang sama persis seperti aslinya, namun terdengar jauh lebih monoton dan mengerikan.
Mata-mata baru telah ditempatkan tepat di dekat Iris, tanpa ada satu pun yang menyadarinya.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...