Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Suaka Emas dan Persiapan Penempaan Pedang
Suara dentang lonceng perunggu membelah keheningan pagi Kota Daun Gugur. Tiga dentangan panjang berturut-turut. Bagi penduduk sipil, itu hanyalah suara berisik, namun bagi para kultivator lokal, itu adalah penanda bahwa Darurat Tingkat Tinggi telah diaktifkan di dalam kompleks Klan Lin.
Di atas atap-atap rumah penduduk yang rapat, sebuah bayangan abu-abu berkelebat nyaris tanpa suara. Lin Tian melesat dengan presisi yang mengerikan, memanggul tubuh ayahnya di punggung. Setiap pijakan kakinya dihitung secara logis untuk tidak merusak genting tanah liat atau memicu suara yang bisa menarik perhatian anjing pelacak klan.
"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku," gumam Lin Tian, tatapannya sedingin es saat melihat puluhan penjaga Klan Lin berseragam abu-abu mulai memblokir gerbang timur kota. "Lin Kuang pasti langsung memeriksa gubuk saat tabibnya tidak kembali untuk melapor."
"Tian'er, turunkan ayah di lorong gelap itu. Berlarilah sendiri," bisik Lin Zhen di punggungnya, suaranya dipenuhi rasa bersalah. "Membawa beban sepertiku hanya akan membuatmu tertangkap. Kau adalah harapan terakhir garis keturunan sejati Klan Lin."
"Diam dan simpan tenagamu, Ayah," potong Lin Tian tanpa ragu. Rasionalitasnya menolak pengorbanan tak berguna semacam itu. "Menyusup keluar kota sekarang adalah tindakan bodoh. Formasi pertahanan kota pasti sudah dikoordinasikan dengan penjaga klan. Kita tidak akan lari. Kita akan bersembunyi di tempat terbuka."
Lin Tian meningkatkan aliran Qi Primordial ke kakinya. Menggunakan prinsip dasar dari Langkah Pedang Menembus Bayangan—meskipun ia belum mempelajarinya secara formal—kecepatannya melonjak. Ia menembus gang-gang sempit, menghindari patroli yang tersebar, dan dalam waktu kurang dari lima belas menit, bangunan berlantai lima dari kayu gaharu merah menjulang di depannya.
Paviliun Beribu Harta.
Di pagi hari, lobi paviliun belum terlalu ramai. Hanya ada beberapa pedagang keliling yang sedang bertransaksi di konter luar. Lin Tian melangkah masuk dengan tenang, membiarkan tudung jubahnya menutupi wajahnya, sementara jubahnya yang lebih lebar menyembunyikan sebagian besar tubuh ayahnya yang ia papah di sisinya.
"Maaf, Tuan, lantai atas belum—" seorang pelayan wanita mencoba menghentikannya secara sopan.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Lin Tian mengangkat tangan kirinya. Sebuah token emas hitam berbentuk segi delapan dengan ukiran naga melingkar memantulkan cahaya dari susunan kristal penerang di langit-langit.
Mata pelayan itu membelalak. Ia segera menelan ludahnya dan membungkuk hingga sembilan puluh derajat. "T-Tamu Kehormatan Emas... Mohon maafkan kelancangan pelayan rendahan ini. Tuan, silakan ikuti saya melalui jalur khusus VIP."
Keributan kecil itu menarik perhatian Manajer Sun yang baru saja menuruni tangga dari lantai dua. Begitu melihat sosok berjubah abu-abu itu, wajah tegang sang manajer seketika berubah menjadi senyum lebar yang dipenuhi rasa hormat absolut.
"Tuan Besar! Sungguh sebuah kehormatan Anda kembali berkunjung secepat ini!" Manajer Sun menyambut dengan menangkupkan kedua tangan. Namun, pandangannya segera beralih pada sosok tua dan pucat yang dipapah oleh Lin Tian. Dengan insting pedagangnya yang tajam, ia segera membaca situasi. "Tuan Besar sepertinya sedang membutuhkan tempat yang... tenang dan tertutup?"
"Sebuah kamar VIP dengan formasi pengumpul Qi tingkat menengah. Dan pastikan tidak ada satu ekor lalat pun dari Klan Lin yang bisa masuk ke area ini, terlepas dari alasan apa pun yang mereka bawa," ucap Lin Tian datar, suaranya mengandung tekanan yang tidak menerima bantahan.
Manajer Sun mengangguk tegas. "Tuan Besar tidak perlu khawatir. Bahkan jika Kepala Klan Lin membawa seluruh leluhurnya kemari, mereka harus berlutut sebelum berani mengetuk pintu Paviliun Beribu Harta. Silakan ikut saya ke lantai empat. Itu adalah area hunian eksklusif yang dilindungi oleh Formasi Pembunuh Inti Emas."
Logika kekuasaan di Benua Fana sangat sederhana. Klan Lin mungkin raja kecil di Kota Daun Gugur, namun Paviliun Beribu Harta adalah raksasa benua. Di hadapan raksasa, raja kecil hanyalah semut yang bisa digiling kapan saja.
Setibanya di lantai empat, Lin Tian membaringkan ayahnya di atas ranjang giok hangat di sebuah ruangan yang sangat mewah. Udara di ruangan ini dipenuhi energi spiritual yang dihisap oleh formasi dari urat bumi, sangat ideal untuk pemulihan.
"Ayah aman di sini. Tidurlah," ucap Lin Tian. Lin Zhen, yang kelelahan akibat perjalanan dan sisa-sisa efek racun, mengangguk lemah dan memejamkan matanya, akhirnya bisa bernapas tanpa dihantui bayang-bayang kematian.
Lin Tian menutup pintu kamar perlahan, lalu berbalik menatap Manajer Sun yang menunggu dengan setia di lorong.
"Tuan Muda Yun sudah stabil?" tanya Lin Tian membuka percakapan.
"Berkat tangan dewa Tuan Besar, Tuan Muda sudah siuman semalam. Beliau sedang dalam tahap pemulihan dan menyatakan ingin bertemu dengan Tuan Besar untuk menyampaikan rasa terima kasih secara langsung," jawab Manajer Sun penuh hormat.
"Itu bisa menunggu," Lin Tian menolak dengan halus. Ia tidak butuh basa-basi sosial saat ini; ia butuh kekuatan. "Manajer Sun, sebagai Tamu Kehormatan Emas, aku memiliki beberapa permintaan mendesak."
"Tuan Besar hanya perlu menyebutkannya. Kami akan memenuhi segala kebutuhan Anda dengan potongan harga maksimal."
Lin Tian mengangguk. "Pertama, aku membutuhkan sebuah tungku alkimia tingkat menengah yang kokoh, beserta api spiritual bumi yang di segel dalam kristal. Kedua, aku membutuhkan bahan-bahan ini..."
Lin Tian menyebutkan belasan jenis tanaman spiritual tingkat rendah dan menengah dengan cepat. Bahan-bahan itu adalah fondasi untuk membuat Pil Kondensasi Qi dan Pil Pemulihan Meridian tingkat dasar.
Manajer Sun sedikit terkejut. "Tuan Besar juga seorang Master Alkemis? Luar biasa. Bahan-bahan yang Anda sebutkan sangat umum dan tersedia di gudang kami. Untuk tungku alkimia... kebetulan sekali. Malam ini, Paviliun Beribu Harta cabang kota ini akan mengadakan Lelang Musim Gugur tahunan. Salah satu barang unggulan malam ini adalah Tungku Teratai Merah peninggalan seorang master alkimia tua. Tungku itu adalah artefak kelas Bumi tingkat rendah."
Mendengar kata 'Tungku Teratai Merah', mata Lin Tian memancarkan kilau ketertarikan. Tubuh Pedang Kekacauannya membutuhkan pil dengan kemurnian seratus persen, dan tungku biasa akan meledak jika ia menyalurkan Qi Primordial secara maksimal. Sebuah tungku kelas Bumi adalah investasi yang sangat rasional.
"Aku akan mengikuti lelang malam ini. Siapkan bilik VIP VIP untukku," perintah Lin Tian.
Manajer Sun ragu-ragu sejenak, merendahkan suaranya. "Sebagai informasi, Tuan Besar... karena pelelangan malam ini cukup besar, beberapa tokoh utama dari faksi lokal akan hadir. Termasuk Lin Kuang, Kepala Klan Lin, yang kabarnya sedang memburu seseorang di seluruh kota hari ini."
Sebuah senyum tipis yang mematikan terbentuk di sudut bibir Lin Tian. Lin Kuang akan hadir? Ini adalah panggung yang sempurna. Jika Lin Kuang berani membuat keributan di dalam lelang untuk merebut barang yang ia inginkan, Lin Tian akan menggunakan aturan Paviliun Beribu Harta untuk mempermalukan dan menguras kekayaan pria tua itu tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Ini adalah permainan psikologis yang mutlak.
"Bagus," jawab Lin Tian singkat. "Kirimkan daftar barang lelang ke kamarku."
Setelah Manajer Sun undur diri, Lin Tian memasuki sebuah ruang meditasi yang bersebelahan dengan kamar ayahnya. Ia duduk bersila di tengah formasi pengumpul Qi. Ia tidak punya waktu untuk membuang satu detik pun.
Dengan memutar cincin naga hitam di jarinya, ia mengeluarkan gulungan bambu giok yang berisi seni bela diri tingkat Bumi, Seni Pedang Ilusi Pemutus Bayangan.
"Kekuatan mentah dari Tubuh Pedang Kekacauan sudah cukup untuk menghancurkan kultivator di alam yang sama, namun untuk membunuh mereka yang berada di Tahap Pendirian Yayasan, aku membutuhkan teknik pembunuhan yang presisi," gumamnya pelan.
Lin Tian menutup mata, menyalurkan Qi abu-abunya ke dalam giok tersebut. Seketika, ribuan karakter emas dan diagram postur pedang membanjiri otaknya. Seni bela diri ini tidak membutuhkan pedang fisik yang sebenarnya; ia menggunakan Qi murni yang dipadatkan menjadi bilah yang tak kasat mata untuk memotong di antara celah ruang dan bayangan.
Dengan bakat pemahaman mantan jenius yang kini ditingkatkan oleh Mutiara Kekacauan Primordial, Lin Tian mulai membedah logika dan struktur dari teknik tingkat Bumi tersebut. Udara di dalam ruang meditasi perlahan-lahan mulai dipenuhi oleh niat pedang yang sangat buas dan tajam, mengiris dinding batu tanpa suara.