BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Siang itu, tanpa memberitahu siapa pun, Kemuning melangkah keluar dari rumah dengan hati yang tidak lagi tenang. Pintu ia tutup perlahan, seolah takut suara sekecil apa pun bisa membongkar apa yang sedang ia lakukan. Begitu kakinya menginjak halaman, langkahnya berubah lebih cepat, seolah ia sedang mengejar sesuatu yang tak bisa ditunda lagi. Di tangannya, ia menggenggam tas kecil dengan erat. Di dalamnya, tersimpan botol kecil yang tampak biasa, tetapi kini terasa seperti bom waktu yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya.
Matahari siang itu menyengat tanpa ampun, panasnya membakar kulit dan membuat jalanan berkilau. Namun anehnya, tubuh Kemuning justru terasa dingin. Dingin yang merayap dari dalam, membuat ujung jari dan bibirnya terasa kaku. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana nanti.
Apakah dugaannya benar atau hanya ketakutan ia yang berlebihan.
Saat berhenti di lampu merah, motornya melambat. Pandangannya kosong menatap lurus ke depan, sampai sebuah suara memanggilnya dari samping.
“Mbak Kemuning?”
Kemuning menoleh. Di sana, Arkatama berdiri dengan motornya, menatapnya dengan wajah heran sekaligus khawatir. Kemuning sedikit terkejut, lalu menepi ke pinggir jalan, diikuti oleh Arkatama.
“Mbak mau ke mana?” tanya pria itu, alisnya berkerut, seolah menangkap sesuatu yang tidak biasa dari wajah Kemuning.
Kemuning terdiam sejenak. Ia menelan ludah, lalu menjawab pelan, “Aku mau ke laboratorium obat dan makanan.”
Arkatama terlihat semakin heran. “Hah? Ke sana? Mau apa?” tanyanya, nada suaranya dipenuhi kebingungan. Tempat itu bukan tempat yang biasa didatangi orang seperti mereka. Bukan tempat yang dikunjungi tanpa alasan penting.
Kemuning menarik napas pelan. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram tasnya lebih erat.
“Mas Tama ingat, kan, kata dokter waktu di rumah sakit tentang rahimku yang ada zat anti-ovulasi?” kata Kemuning dengan suaranya bergetar, namun ia tetap melanjutkan. “Aku curiga sama vitamin yang selama ini aku minum.”
Arkatama terdiam. Wajahnya langsung berubah serius. Ia mengangguk pelan, seolah potongan-potongan itu mulai masuk akal di kepalanya juga. “Aku juga kepikiran ke sana,” gumamnya.
Beberapa detik hening. Lalu, Arkatama menatapnya lagi, kali ini lebih tegas. “Kalau begitu, aku antar Mbak ke sana.”
Kemuning langsung menggeleng cepat. “Enggak usah, Mas. Nanti malah merepotkan.”
“Enggak apa-apa,” potong Arkatama ringan, namun nadanya mantap. “Aku lagi senggang. Lagian… aku enggak enak kalau Mbak pergi sendiri dengan kondisi seperti ini.”
Kemuning menatapnya sejenak. Ada sesuatu yang hangat di tengah dinginnya perasaan yang ia rasakan saat itu. Namun ia hanya mengangguk pelan. “Terima kasih, Mas.”
Perjalanan dilanjutkan. Meski mereka menggunakan kendaraan masing-masing, Arkatama tetap berada tidak jauh darinya, seperti bayangan yang diam-diam memastikan ia tidak sendirian.
Sesampainya di laboratorium, suasana langsung terasa berbeda. Dinding putih yang bersih, aroma antiseptik yang tajam, dan keheningan yang terasa dingin membuat Kemuning merasa seperti masuk ke dunia lain. Dunia yang asing.
Kemuning duduk di kursi tunggu, tubuhnya tegak namun tegang. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Arkatama duduk diam, tidak banyak bicara, namun kehadirannya cukup untuk membuat Kemuning tidak benar-benar merasa sendirian.
Perlahan, Kemuning membuka tasnya. Botol itu ia keluarkan dan menatapnya sekali lagi. Seolah itu adalah terakhir kalinya ia melihat benda itu sebelum semuanya berubah.
“Ini mau diperiksa kandungannya, ya, Bu?” tanya petugas dengan nada biasa, seolah yang dilakukan Kemuning hanyalah hal kecil.
Kemuning mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya lirih, suaranya nyaris tidak terdengar..“Berapa lama hasilnya keluar?” tanyanya lagi, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdebar tidak karuan.
“Biasanya satu sampai dua hari.”
Kemuning kembali mengangguk. Hari-hari yang akan dijalani pastinya akan terasa panjang dan menyesakkan. Karena ia tahu di ujung penantian itu, ada kebenaran. Dan kebenaran itu mungkin akan menghancurkannya.
Setelah semua selesai, Kemuning berjalan keluar dari laboratorium dengan langkah yang sedikit goyah. Udara di luar terasa panas, namun tetap tidak mampu mengusir dingin yang masih bersarang di tubuhnya.
Arkatama berdiri tidak jauh darinya. “Sudah?” tanyanya pelan.
Kemuning mengangguk lemah. “Ya, tinggal nunggu hasilnya.”
Arkatama menatapnya sejenak, lalu berkata, “Aku temani sampai rumah, ya.”
Kemuning ingin menolak, namun kata-kata itu tidak pernah keluar. Ia hanya mengangguk kecil. Mereka pulang dengan kendaraan masing-masing.
***
Dua hari kemudian, Kemuning kembali datang ke laboratorium dengan langkah yang jauh lebih berat. Tidak ada lagi kebingungan seperti sebelumnya. Ia berdiri di depan meja petugas saat namanya dipanggil.
Tanpa banyak kata, sebuah amplop diserahkan kepada Kemuning. Saat berada di tangannya, benda itu terasa seperti beban yang menekan hingga ke dada.
“Silakan dicek, Bu,” ucap petugas singkat.
Kemuning hanya mengangguk. Ia tidak langsung membukanya. Jarinya menekan sisi amplop itu beberapa detik, seolah memberi dirinya waktu terakhir sebelum semuanya benar-benar berubah.
Arkatama yang sejak tadi berdiri di sampingnya melirik sekilas. “Mbak, mau dibuka sekarang?” tanyanya hati-hati.
Kemuning menarik napas pelan, lalu mengangguk kecil. “Iya, di sini saja.”
Kemuning membuka amplop itu perlahan. Kertas hasil pemeriksaan ditarik keluar, sedikit bergetar di antara jemarinya. Matanya langsung menelusuri tulisan-tulisan di sana. Tidak semuanya ia pahami, tetapi ia tahu apa yang sedang ia cari. Baris demi baris ia lewati dengan cepat. Sampai matanya berhenti di satu bagian. Satu istilah yang langsung membuat tubuhnya menegang, anti-ovulasi.
Kemuning tidak bergerak ataupun berkedip. Seolah tubuhnya lupa bagaimana caranya bereaksi.
“Kenapa, Mbak?” tanya Arkatama terdengar pelan di sampingnya.
Kemuning tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada kertas itu. Lalu perlahan, ia menarik napas yang terasa berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
“Mas Tama,” ucap Kemuning dengan suaranya yang pelan, datar, dan terdengar aneh. “Ternyata itu bukan vitamin.”
Arkatama langsung mendekat sedikit. “Jangan-jangan ...?”
Kemuning menelan ludah, lalu menunjuk bagian itu dengan jari yang sedikit gemetar. “Ya. Obat yang aku kira vitamin itu ... ternyata obat anti-ovulasi.”
Keheningan menyelimuti mereka.
“Apa suamimu yang sudah menukar isinya, agar kamu ...?” Arkatama tidak melanjutkan kalimatnya.
Kemuning mengangguk kecil. Tidak ada tangisan atau jeritan yang meledak dari mulut wanita itu.
“Aku rasa begitu. Karena dia yang kasih aku obat itu setiap hari,” lanjut Kemuning pelan. Nada suaranya tidak meninggi. Tidak juga bergetar berlebihan. Tapi justru ketenangan itu terasa lebih menusuk.
Arkatama mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. “Mbak, ini bukan kejahatan kecil. Ini sudah keterlaluan.”
Kemuning tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap kertas itu sekali lagi, lalu melipatnya perlahan. Gerakannya pelan dan teratur. Seolah ia sedang merapikan sesuatu yang sebenarnya sudah hancur.
“Mas Tama …!” panggil wanita itu.
“Iya?” Arkatama menatapnya, tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata terasa tidak cukup untuk situasi seperti ini.
Kemuning memasukkan kembali kertas itu ke dalam amplop, lalu ke dalam tasnya. Gerakannya sangat tenang.
“Pekerjaan Mas Tama itu pengacara, kan?” tanya Kemuning, menatap pria di sampingnya.
“Iya,” jawab Arkatama mengangguk.
“Mulai sekarang aku butuh bantuan, Mas.”
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus