Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 8 : Sihir terlarang
Suasana di tepi Danau Air Mata berubah menjadi sangat mencekam dalam hitungan detik. Cahaya emas yang memancar dari monolit itu seolah mengunci semua orang di tempatnya. Marquess de La’ Mortine berdiri dengan pedang yang sudah terhunus setengah, wajahnya yang keras kini dipenuhi oleh keterkejutan dan kemarahan yang tertahan.
"George, menjauh darinya!" perintah Marquess dengan suara yang bergetar. "Cahaya itu bukan milik keluarga kita. Itu adalah Cahaya Aethelgard, kekuatan yang seharusnya sudah musnah seribu tahun lalu bersama dinasti pertama!"
George tidak bergerak. Ia justru menarik Celestine lebih dekat ke arahnya, menaruh tubuh sang putri di belakang punggungnya yang lebar. "Ayah, dia tidak tahu apa-apa tentang kekuatan ini. Dia hanya seorang putri dari Valley yang terjebak dalam takdir yang salah!"
"Tidak tahu?" Marquess tertawa pahit. "Monolit itu tidak akan bereaksi sedahsyat itu hanya karena ketidaktahuan. Dia adalah ancaman bagi kestabilan utara. Jika Kekaisaran tahu bahwa ada pewaris Aethelgard di tanah kita, mereka akan menghanguskan seluruh wilayah Heavenorth hanya untuk mematikan benihnya!"
Celestine mencengkeram jubah George, tangannya masih gemetar karena sisa tekanan mana yang keluar dari danau. "Siapa Aethelgard, George? Apa yang ayahmu bicarakan?"
"Penyihir matahari kuno yang mampu mengendalikan es murni," jawab George cepat tanpa menoleh. "Kekuatan yang bisa menghancurkan sekaligus menyembuhkan kutukan darah kami. Itulah sebabnya kau bisa mencairkan es di tubuhku semalam."
Marquess memberikan isyarat kepada para penjaga elit yang mengepung mereka. "Tangkap Putri Celestine. Masukkan dia ke dalam Menara Isolasi. Aku harus mengirim kabar ke Ibu Kota sekarang juga."
"Langkahi mayatku dulu, Ayah!" teriak George. Ia menghunus pedang hitamnya, dan seketika itu juga suhu di sekitar danau turun drastis. Es mulai merambat dari kaki George, membentuk dinding pelindung yang memisahkan mereka dari para penjaga.
"Kau akan mengkhianati keluargamu demi seorang wanita yang baru kau kenal seminggu?" tanya Marquess dengan nada tidak percaya.
"Aku tidak membela seorang wanita, aku membela kebenaran yang kau coba sembunyikan!" balas George. "Kau takut padanya karena dia adalah obat bagi kutukan kita, bukan? Kau takut jika kutukan ini hilang, keluarga La’ Mortine tidak lagi memiliki alasan untuk berkuasa di perbatasan!"
Pertempuran pecah di atas es yang licin. Para penjaga maju dengan tombak mereka, namun George bergerak seperti bayangan di tengah badai. Ia tidak menyerang untuk membunuh, hanya melumpuhkan gerakan mereka dengan membekukan kaki dan senjata mereka.
"Celestine, lari ke arah kuda!" teriak George sambil menangkis serangan dua penjaga sekaligus.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu!" sahut Celestine. Ia mencoba menggunakan kekuatannya lagi, namun tubuhnya masih terlalu lemah.
"Lari! Jika kau tertangkap, Ayah akan menyerahkan mu pada Kekaisaran sebagai tumbal diplomatik! Pergilah ke pondok tua di hutan barat, aku akan menyusul mu!"
Celestine akhirnya berlari menuju kuda hitam George. Dengan susah payah, ia naik ke atas pelana. Ia menoleh ke belakang sekali lagi, melihat George yang kini harus berhadapan langsung dengan ayahnya sendiri. Suara denting pedang mereka terdengar seperti guntur yang membelah kesunyian pegunungan.
"Pergilah!" perintah George terakhir kalinya sebelum ia menghilang di balik ledakan es.
Celestine memacu kudanya menembus hutan salju yang lebat. Ranting-ranting pohon menggores pipinya, dan angin dingin membuat matanya berair, namun ia tidak berhenti. Setelah hampir satu jam berkuda dalam kepanikan, ia sampai di sebuah pondok kecil yang tersembunyi di balik tebing batu. Ia masuk ke dalam, menggigil hebat, dan menunggu dalam kegelapan.
Dua jam kemudian, suara derap langkah kaki terdengar di luar. Celestine menggenggam belatinya erat-atrat. Pintu terbuka dengan kasar, dan sosok George muncul dengan pakaian yang robek dan darah yang menetes dari bahu kirinya.
"George!" Celestine berlari menghampirinya. "Kau terluka parah!"
George jatuh terduduk di lantai kayu pondok itu, napasnya tersengal. "Hanya goresan dari pedang Ayah. Dia tidak benar-benar ingin membunuhku, dia hanya ingin menghentikan ku."
Celestine segera merobek kain gaunnya untuk membalut luka di bahu George. "Kenapa kau melakukan ini? Kau baru saja kehilangan segalanya. Gelar mu, rumahmu, ayahmu..."
George menatap Celestine dengan mata yang mulai sayu. "Aku sudah kehilangan jiwaku sejak lama di tengah es ini, Celestine. Tapi saat kau menyentuh tanganku semalam, aku merasa ada bagian dari diriku yang kembali. Aku lebih baik menjadi buronan bersamamu daripada menjadi tuan muda yang membeku dalam kebohongan."
"Lalu sekarang apa?" tanya Celestine pelan. "Theodore akan mencariku, ayahmu akan memburu mu. Kita tidak punya tempat untuk pergi."
George meraih tangan Celestine, menggenggamnya dengan sisa tenaganya. "Kita akan pergi ke Utara Jauh. Ke tempat di mana legenda Aethelgard berasal. Jika kau bisa menguasai kekuatanmu sepenuhnya, kau bisa mengakhiri semua kegilaan ini."
"Tapi perjalanannya akan sangat berbahaya," kata Celestine.
"Itulah sebabnya aku ada di sini," jawab George dengan senyum miring yang tipis. "Lagipula, kau sudah memilihku sebagai suamimu, bukan? Seorang suami harus menemani istrinya sampai ke ujung dunia."
Celestine tertawa di tengah tangisnya. "Kau benar-benar sombong bahkan di saat seperti ini."
"Dan kau benar-benar berisik untuk seorang putri yang sedang dalam pelarian," balas George.
Mereka terdiam sejenak, hanya suara api kecil yang mulai dinyalakan George di sudut ruangan yang terdengar. Di tengah kesunyian itu, Celestine menyadari bahwa hidupnya yang dulu sebagai putri kerajaan telah berakhir sepenuhnya. Ia kini adalah seorang penyihir yang belum terasah, yang hidupnya bergantung pada seorang pria yang baru saja mengkhianati keluarganya demi dirinya.
"George," panggil Celestine lagi.
"Apa?"
"Terima kasih. Untuk semuanya."
George tidak menjawab, ia hanya menarik Celestine ke dalam pelukannya, membiarkan kehangatan yang tersisa di antara mereka menjadi pelindung dari badai yang pasti akan datang esok hari. Di pondok kecil itu, di tengah hutan yang dingin, sebuah janji baru diucapkan tanpa kata-kata. Janji bahwa mereka akan bertahan hidup, tidak peduli seberapa banyak jalan yang harus mereka lalui untuk menemukan kedamaian.
Namun, di luar sana, di bawah cahaya bulan yang dingin, sesosok bayangan berjubah hitam sedang mengamati pondok itu dari kejauhan. Bayangan itu memegang sebuah kompas sihir yang jarumnya menunjuk tepat ke arah Celestine.
"Sudah ditemukan," bisik bayangan itu, lalu menghilang menjadi asap hitam.
Pelarian mereka baru saja dimulai, dan musuh yang sebenarnya bahkan belum menunjukkan wajahnya.
Cahaya api di sudut pondok itu menari-nari, melemparkan bayangan panjang George dan Celestine ke dinding kayu yang berlumut. Celestine masih sibuk mengikatkan kain pada bahu George, namun tangannya sedikit gemetar setiap kali melihat darah merah segar yang merembes keluar.
"Kau harus lebih pelan, Celestine. Kau mencekik bahuku, bukan membalutnya," gumam George sambil meringis kecil.
"Maaf, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Biasanya tabib kerajaan yang mengurus luka goresan kecil pun dengan sangat hati-hati," sahut Celestine, matanya masih terfokus pada ikatan kain itu.
George menatap wajah Celestine dari jarak dekat. "Luka ini tidak seberapa dibandingkan apa yang akan kita hadapi besok. Ayahku tidak akan membiarkan kita lolos begitu saja. Dia akan mengirim unit ksatria serigala perbatasan. Mereka bisa mencium jejak mana dalam salju sejauh sepuluh mil."
Celestine mengikat ujung kain itu dengan kencang, membuat George tersentak. "Kalau begitu, kenapa kita tidak pergi sekarang? Kenapa harus menunggu di sini?"
"Karena kau baru saja menghancurkan monolit kuno dan menguras energimu, Putri," jawab George sambil mencoba menggerakkan bahunya. "Jika kita bergerak sekarang, kau akan pingsan di atas kuda sebelum kita keluar dari hutan ini. Kita butuh setidaknya beberapa jam untuk menstabilkan aliran darahmu."
Celestine duduk di lantai kayu di depan George, memeluk lututnya sendiri. "George, tentang cahaya emas itu. Marquess memanggilnya Cahaya Aethelgard. Kenapa dia tampak begitu ketakutan?"
"Legenda mengatakan bahwa Aethelgard adalah satu-satunya penyihir yang tidak bisa dikendalikan oleh Kekaisaran. Dia bisa menyembuhkan penyakit es yang membunuh keluarga kami, tapi dia juga bisa menghancurkan seluruh pasukan hanya dengan satu pemikiran. Kekuasaan dibangun di atas rasa takut akan kematian, Celestine. Jika kau punya obat untuk kematian itu, maka kau adalah ancaman bagi para penguasa."
"Berarti aku adalah obat bagi keluargamu?" tanya Celestine pelan.
George terdiam cukup lama, matanya menatap api yang mulai mengecil. "Ya. Dan itulah sebabnya ayahku ingin mengurungmu. Dia lebih suka menderita dalam kutukan yang ia pahami daripada hidup bebas di bawah kekuatan yang tidak bisa ia kontrol."
"Dan kau? Apakah kau juga takut padaku?"
George mengalihkan pandangannya pada Celestine. Tangannya yang kasar perlahan terulur, menyentuh pipi Celestine yang masih terasa dingin. "Aku sudah terbiasa dengan kegelapan dan es, Celestine. Cahaya emasmu itu... itu menyakitkan mataku, tapi itu satu-satunya hal yang membuatku merasa masih hidup. Aku tidak takut padamu. Aku takut aku tidak cukup kuat untuk menjagamu dari dunia yang ingin memadamkan mu."
Celestine meletakkan tangannya di atas tangan George yang ada di pipinya. "Kau sudah cukup kuat, George. Kau baru saja melawan ayahmu sendiri."
Tiba-tiba, telinga George bergerak. Ia segera menarik tangannya dan memadamkan api perapian dengan satu lambaian tangan, membuat pondok itu seketika menjadi gelap gulita.
"George? Ada apa?" bisik Celestine panik.
"Diam," desis George. Ia menarik Celestine ke balik tumpukan kayu tua di sudut ruangan.
Dari luar pondok, terdengar suara langkah kaki yang sangat ringan di atas salju yang membeku. Bukan suara kuda, melainkan langkah sesuatu yang lebih lincah dan berbahaya. Suara itu berhenti tepat di depan pintu pondok.
"Tuan Muda George," sebuah suara pria terdengar dari luar. Suaranya tenang, namun penuh dengan aura mengancam. "Saya tahu Anda ada di dalam. Marquess memerintahkan saya untuk membawa Anda pulang, dan menyerahkan Putri sebagai barang sitaan."
"Komandan Kael," bisik George dengan gigi terkatup. "Dia adalah tangan kanan ayahku. Dia tidak pernah gagal dalam misi."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Celestine dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Aku akan keluar untuk mengalihkan perhatiannya. Kau lewat jendela belakang, ada jalan setapak kecil menuju jurang. Tunggu aku di sana," instruksi George sambil menghunus pedangnya yang kini memancarkan hawa dingin yang luar biasa.
"Tidak! Kita tidak bisa berpisah sekarang!"
"Dengarkan aku!" George mencengkeram bahu Celestine, menatapnya tajam dalam kegelapan. "Kael adalah seorang penjejak. Jika dia menangkap kita berdua, semuanya berakhir. Aku adalah pengalihan terbaik yang kita punya. Lari sekarang, Celestine. Itu perintah dari calon suamimu!"
Sebelum Celestine bisa membantah, George sudah menendang pintu depan hingga hancur berkeping-keping. Ia melesat keluar dengan ledakan sihir es yang menerangi hutan malam itu. Celestine melihat sosok George bertabrakan dengan bayangan hitam di luar sana, suara denting logam kembali pecah.
Dengan air mata yang menggenang, Celestine memanjat jendela belakang. Ia jatuh ke salju yang dingin, namun ia segera berdiri dan berlari sekencang mungkin menuju kegelapan hutan. Ia bisa mendengar suara ledakan sihir di belakangnya, suara pohon yang tumbang, dan teriakan George yang sedang bertarung mati-matian.
"Aku tidak akan membiarkan pengorbanannya sia-sia," isak Celestine sambil terus berlari.
Langkah kaki Celestine membawanya ke tepi jurang yang dibicarakan George. Di bawah sana, sungai yang membeku tampak seperti pita perak di bawah cahaya bulan. Ia berhenti di sana, napasnya tersengal, matanya terus menatap ke arah pondok yang kini sudah dilalap api biru sihir.
Menit berlalu seperti jam. Celestine mulai merasa putus asa. Apakah George kalah? Apakah ia ditangkap?
Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari balik pepohonan. Celestine mengangkat belatinya, siap menyerang. Namun, sosok itu limbung dan jatuh di atas salju.
"George!"
Celestine berlari menghampiri sosok itu. Benar saja, itu adalah George. Namun keadaannya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Zirahnya hancur, dan wajahnya dipenuhi luka goresan. Yang paling mengerikan, tangan kanannya kini bukan lagi sekadar membeku, melainkan mulai berubah menjadi kristal bening yang permanen.
"Kael... dia sudah pergi," bisik George dengan sisa kekuatannya. "Tapi dia akan membawa pasukan yang lebih besar. Kita harus... menyeberangi sungai..."
"George, tanganmu! Apa yang terjadi?" Celestine menangis melihat kristal yang merambat ke lengan George.
"Ini harganya... menggunakan sihir tingkat terlarang dua kali dalam satu malam," George tersenyum pahit. "Sekarang kau benar-benar akan menikahi seorang pria es, Putri."
Celestine menggelengkan kepala. Ia menggenggam tangan kristal itu, mencoba menyalurkan cahaya emasnya, namun George menepisnya dengan lembut.
"Jangan sekarang. Simpan energimu. Kita harus menyeberangi jurang ini sebelum matahari terbit. Begitu kita menyeberang, kita akan berada di luar wilayah La' Mortine. Mereka tidak akan berani mengejar kita ke wilayah tak bertuan."