Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eliooo 32
"Laras," ucap Brigita. Dia sedikit terkejut melihat Laras yang sudah berada di rumah, atau lebih tepatnya baru kembali pulang.
"Ibu, belum tidur apa kebangun?" Laras bertanya demikian karena jam di dinding masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
Ya Laras baru saja sampai rumah. Tak di duga tadi dia baru bisa kembali ke Jakarta selepas isya. Semua itu karena temannya yang menahannya. Rindu, teman dari Laras tentu penasaran terkait pernikahan yang dijalani Laras. Meski tak menceritakan secara detail tentang apa yang terjadi padanya, Laras tetap menceritakan bahwa ia sudah tak bersama dengan Reza lagi.
Setidaknya memang ada yang harus tahu agar mereka tak bertanya-tanya tentang ketidakhadiran Reza. Dan Laras sendiri tidak keberatan ketika orang di kampung halamannya mengetahui bahwa saat ini dirinya adalah seroang janda.
"Iya mendusin. Sekalian lah sholat sunah. Kamu baru baru aja sampai ya? Ya udah istirahat gih," jawab Brigita.
Laras menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan ke arah kamar. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar ponselnya berbunyi. Kening Laras berkerut saat melihat bahwa yang menghubunginya adalah Ani, orang yang merawat Elio.
"Ehmm, ada apa Ani dini hari ini nelpon?" gumam Laras. Tak ingin terlalu bertanya-tanya, Laras pun menjawab panggilan itu.
"Ad~"
"Mbak, Mbak Saras. Elio Mbak, Elio udah nggak ada."
Degh!
Laras tercengang. Tubuhnya membeku. Tubuhnya sudah merespon tapi otaknya masih mencerna.
"Maksudnya apa Mbak Ani?"
"Elio Mbak, Elio meninggal!"
"Nggak, nggak mungkin Mbak. Elio nggak sakit."
Laras masih denial. Dia tak serta merta memercayai ucapan Ani. Hingga pada akhirnya Ani menceritakan tentang apa yang terjadi sekarang.
"NGGAK ELIOOOOO ANAKKUUU!"
Teriakan Laras yang begitu keras dan menggema itu, membuat seluruh kediaman Brajamusti terkejut. Brigita yang belum kembali ke kamarnya dan masih di dapur langsung berlari ke arah Laras. Hwan juga yang ada di kamar lansung bangun dari tidurnya dan menuju ke tempat dimana Laras berada.
"Laras, ada apa?"
"Kenapa Ras?"
Brigita dan Hwan bertanya secara bersamaan. Brigita juga langsung memeluk Laras yang menangis histeris.
Pasangan suami istri saling pandang. Mereka sangat terkejut dengan reaksi Laras yang belum pernah dilihat sebelumnya.
"Anak aku Bu, anak aku. Aaaaah."
Tangis Laras menjadi-jadi yang mana membuat Brigita bingung. Sedangkan Hwan, dia langsung menghubungi seseorang untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Tak butuh waktu lama, Hwan bisa mengetahui terkait apa yang terjadi saat ini.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun."
"Bang!"
Brigita membulatkan matanya. Hanya dengan satu kalimat itu, Brigita mengetahui segalanya.
"Ya Allah sayang," ucap Brigita sambil memeluk erat Laras. Ia pun tak bisa menahan air matanya. Kesedihan Laras saat ini benar-benar menusuk jantung. Terasa sangat sakit yang mana tak bisa ditahan.
"Eomma nggak tahu harus bilang apa. Eomma juga nggak akan bisa bilang ke kamu untuk sabar. Ayo kita lihat anak kamu,"ucap Brigita.
Laras tak bisa menjawab. Dia hanya menangis pilu.
Brigita tahu bahwa hati dan perasaan Laras kali ini sangat hancur. Dia tak perlu mendengar jawaban dari Laras karena pasti wanita itu ingin melihat anaknya untuk yang terkahir kali.
"Bang, minta ke Nataya, ah maksudku ke Nayaka. Minta beberapa orang buat ngawal kita ke kediaman Adiguna. Jangan mencolok dan jangan banyak-banyak. Yang penting bisa membuat barikade agar Laras bisa melihat Elio. Kita nggak perlu menyembunyikan sosok Laras sekarang."
Hwan mengangguk paham. Ia segera melakukan permintaan sang istri. Untuk hal-hal seperti ini, Nayaka jelas bisa diandalkan. Cucu dari serang wanita hebat pada jamannya itu mewarisi otak dan kepemimpinan dari sang nenek.
"Udah, ayo berangkat. Mereka akan bergabung di jalan nanti."
"Ya. Ayo Nak, kita temui Elio ya."
Brigita memapah Laras yang tubuhnya sangat lemas. Bibik dan Pak Jarwo hanya bisa menatap iba ke arah wanita itu. Wanita yang hidupnya sungguh-sungguh berat. Belum lama dia berjumpa dan bisa merengkuh anaknya, sekarang malah anaknya sudah berada di pangkuan Sang Pemilik Dunia.
"Eliooo, anakku ... "
TBC
Laras kuatkan hatimu ya, mungkin iniyang terbaik buat Elio
Laras, kamu pasti bisa melewati ini