Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Panen Spiritual dan Undangan Penguasa Kota
Bau anyir darah di dasar ngarai belum sepenuhnya memudar terbawa angin, namun bagi Arya Permana, insiden pembantaian Lima Ratus Pasukan Berbaju Besi itu sudah menjadi masa lalu yang tak perlu dipikirkan lagi. Ia melangkah kembali ke dalam Ruang VIP lantai sembilan Paviliun Bintang Jatuh dengan langkah yang konstan dan tenang, seolah baru saja kembali dari membuang sampah.
Penilai Chen, pria tua yang sebelumnya meremehkan Arya, kini berlutut di sudut ruangan sambil memeluk lantai marmer. Tubuhnya gemetar hebat hingga gigi-giginya bergemeretak.
"B-Bangkitlah, Tuan Arya... Dewa Perang turun ke bumi..." racau Chen tak karuan.
Arya mengabaikan pria tua itu dan duduk kembali di kursi utamanya. Ia melemparkan sebuah gulungan perkamen ke atas meja.
"Penilai Chen. Berhenti bertingkah irasional," tegur Arya dingin. "Di dalam gulungan itu terdapat formula rasio kompresi herbal untuk menyaring residu racun spiritual. Menggunakan metode itu dengan kuali api biasa akan menghasilkan pil dengan tingkat kemurnian sembilan puluh persen. Kau adalah kepala produksi sekarang. Mulai produksi massal besok pagi."
Penilai Chen mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap gulungan itu seolah itu adalah wahyu dari langit. Pil dengan kemurnian sembilan puluh persen masih jauh di atas standar Kunlun yang hanya tujuh puluh lima persen. Ini adalah rahasia alkemi yang bisa memicu perang antar sekte, dan Arya memberikannya begitu saja!
"B-Baik, Tuan! Nyawa hamba adalah milik Anda!" Penilai Chen menyambar gulungan itu dan segera berlari keluar ruangan untuk menyiapkan tungku alkeminya, menyadari bahwa ia kini bekerja untuk monster yang paling tidak boleh disinggung di seluruh Kunlun.
Tinggal Arya dan Elena di dalam ruangan itu, sebelum Nona Feng masuk beberapa saat kemudian dengan napas memburu. Gaun merahnya sedikit berantakan, namun matanya berkilat penuh gairah bisnis.
"Tuan Arya!" Nona Feng membungkuk dalam. "Pasukan tempur Paviliun Bintang Jatuh telah dikerahkan. Kami sedang menyita puluhan gudang herbal, tambang bijih besi, dan rumah lelang milik Keluarga Mahendra. Tanpa Baskoro dan pasukan elitnya, sisa anggota keluarga mereka menyerah tanpa perlawanan. Fajar besok, sembilan puluh persen aliran dana Kota Seribu Tebing akan berada di bawah kendali kita."
Arya mengangguk pelan. "Kerja efisien. Jangan lupa mengalokasikan sepuluh persen pendapatan bersih untuk membangun jaringan intelijen yang berfokus ke arah Domain Dalam. Sekarang, tinggalkan aku. Aku butuh ruang untuk mengkalkulasi aset pribadiku."
Nona Feng mundur dengan patuh, menutup pintu rapat-rapat. Elena tetap berdiri di sudut ruangan, menjaga pintu bagaikan patung bayangan yang setia.
Arya mengeluarkan cincin spasial berlapis emas milik Baskoro Mahendra. Ia menembus segel cincin itu dengan Qi Pembentuk Fondasi-nya. Ruang penyimpanan Baskoro jauh lebih besar dari milik putranya, berukuran sebesar lapangan basket.
Di dalamnya, bertumpuk-tumpuk Batu Spiritual memancarkan cahaya yang menyilaukan.
[Ding! Analisis Inventaris Selesai.]
[Hasil Rampasan: 500.000 Batu Spiritual Tingkat Bawah, 50.000 Batu Spiritual Tingkat Menengah, dan 1.000 Batu Spiritual Tingkat Atas.]
[Benda Spiritual: 120 kotak herbal berusia ratusan tahun, 50 senjata magis kelas menengah, dan satu Gulungan Formasi Militer.]
"Kekayaan yang cukup untuk membiayai negara kecil," gumam Arya secara logis. "Namun di dunia ini, uang yang tidak dikonversi menjadi kekuatan tempur hanyalah angka mati yang mengundang pencuri."
Arya tidak ragu. Ia meraup seribu Batu Spiritual Tingkat Atas dan puluhan ribu Batu Spiritual Tingkat Menengah dari dalam cincin, membiarkan batu-batu kristal itu berserakan di atas meja dan lantai ruangan. Udara di dalam Ruang VIP seketika menjadi sangat kental oleh energi Qi murni yang menguar dari bebatuan tersebut.
"Sistem. Ekstrak dan kompresi seluruh energi spiritual ini. Arahkan langsung ke meridian utamaku."
[Sistem Merespons: Memulai Protokol Ekstraksi Massal. Peringatan: Tingkat penyerapan melebihi batas fana. Mengaktifkan Mode Fisik Naga Leluhur Tahap 1.]
WUSSSS!
Pusaran angin energi tercipta tepat di atas kepala Arya. Ribuan batu spiritual itu tiba-tiba melayang ke udara. Satu per satu, batu-batu kristal itu hancur menjadi debu putih, melepaskan energi murni yang langsung tersedot ke dalam tubuh Arya bagaikan pusaran air raksasa.
Rasa sakit yang membakar menjalar di seluruh pembuluh darah Arya. Kapasitas Dantian-nya diperluas secara paksa. Sel-sel tubuhnya dihancurkan dan dibangun kembali dengan kepadatan yang menyerupai paduan titanium. Arya memejamkan mata, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, memblokir sinyal rasa sakit dari otaknya menggunakan kontrol logis murni.
Proses itu berlangsung selama tiga jam tanpa henti. Udara di ruangan itu berderak oleh percikan listrik statis akibat gesekan Qi yang terlalu masif.
Tepat ketika batu spiritual terakhir hancur menjadi debu...
BUMMM!
Sebuah gelombang kejut tak kasat mata meledak dari tubuh Arya, menyapu perabotan mewah di Ruang VIP hingga menempel ke dinding. Elena bahkan harus menancapkan pedangnya ke lantai agar tidak terlempar.
[Ding! Terobosan Berhasil!]
[Status Tuan Muda: Ranah Pembentuk Fondasi (Tahap Puncak Kesempurnaan).]
[Peningkatan Terdeteksi: Setengah Langkah Menuju Ranah Inti Emas. Kepadatan Qi meningkat 400%. Radius Deteksi Mata Dewa meluas menjadi 5 Kilometer.]
[Fungsi Baru Terbuka: Medan Gravitasi Tirani (Mampu memanipulasi gravitasi lokal dalam radius 50 meter menggunakan tekanan Qi murni).]
Arya membuka matanya. Sebuah pendaran cahaya keemasan berkelebat di pupilnya sebelum kembali menjadi hitam pekat yang dalam. Ia menarik napas pelan, dan seluruh sisa energi liar di ruangan itu langsung tunduk dan kembali terserap ke dalam tubuhnya.
Ia kini berada di Tahap Puncak Kesempurnaan Pembentuk Fondasi. Di tingkat ini, dengan kemurnian Qi dan teknik Sistem Naga Leluhur, ia bisa membantai praktisi Inti Emas tahap awal dengan mudah.
Tepat pada saat itu, ketukan tergesa-gesa terdengar dari pintu.
Nona Feng melangkah masuk dengan ekspresi tegang. Ia melihat kekacauan di ruangan itu, namun memilih untuk tidak bertanya. Ia tahu monster di depannya baru saja menjadi lebih kuat.
"Tuan Arya," lapor Nona Feng sambil menunduk. "Ada masalah. Utusan dari Istana Penguasa Kota baru saja tiba di lobi bawah. Mereka membawa 'Undangan Darah'."
"Penguasa Kota?" Arya mengangkat sebelah alisnya.
"Ya, Tuan. Kota Seribu Tebing berada di bawah perlindungan Sekte Pedang Petir. Penguasa Kota, Tuan Besar Gao, adalah Penatua Luar dari sekte tersebut," jelas Nona Feng dengan nada bergetar. "Hancurnya Lima Ratus Pasukan Berbaju Besi milik Mahendra telah memicu fluktuasi formasi pelindung kota. Gao tidak terima mesin pencetak uangnya—Keluarga Mahendra—dihancurkan tanpa izinnya. Ia mengundang Anda ke kediamannya siang ini."
"Undangan Darah berarti jika Anda menolak, Istana Penguasa Kota akan mengaktifkan Formasi Pembunuh Kota yang tertanam di dinding tebing untuk memusnahkan seluruh Paviliun Bintang Jatuh," tambah Nona Feng, keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Arya berdiri dari kursinya. Ia merapikan kerah trench coat-nya yang sedikit berdebu akibat terobosan kultivasi. Wajahnya memancarkan rasionalitas absolut yang membekukan darah.
"Seorang penagih sewa tanah yang merasa kehilangan ternaknya," analisis Arya dengan nada merendahkan. "Secara logis, jika aku ingin menjadikan kota ini sebagai pusat logistikku secara permanen, keberadaan penguasa lokal yang tidak tunduk padaku adalah sebuah variabel yang mengganggu."
Arya melangkah menuju pintu. "Beri tahu utusan itu, Nona Feng. Aku menerima undangannya. Aku akan datang ke Istana Penguasa Kota."
Elena segera mengikuti di belakang Arya, pedangnya siap mencabut nyawa siapa pun yang menghalangi jalan.
"T-Tuan Arya, Istana Penguasa Kota dijaga oleh seribu elit Sekte Pedang Petir, dan Gao sendiri adalah seorang elit Inti Emas Tahap Awal!" Nona Feng memperingatkan dengan panik.
Arya menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Nona Feng. Senyum murni yang dikalkulasi muncul di wajahnya.
"Bagus. Aku baru saja mencapai puncak fondasi dan membutuhkan subjek uji coba yang tidak akan hancur dalam satu sentuhan," ucap Arya tenang. "Siapkan tim akuisisi Paviliun. Setelah makan siang, Istana Penguasa Kota akan membutuhkan manajemen baru."