Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Yang Tak Enak
Minggu, jam 9.00..
"Chandra, cepat habiskan makananmu. Ckck, anak ini."
Seorang wanita yang tengah sibuk membersihkan peralatan makan di dapur menggerutu. Sesekali menoleh pada meja makan, tempat anaknya sedang sibuk bermain handphone.
Chandra tidak menjawab. Dia terlalu fokus terhadap benda kecil yang ada ditangannya saat itu.
Sang ibu mendekatinya, lalu mengambil benda itu dengan paksa dari genggaman anaknya.
"Kau mau ibu membuang benda ini?"
Wajah galak sang ibu sudah tertera dengan jelas di hadapan Chandra, sehingga membuat Chandra bergidik ngeri.
"I-Iya bu. Aku akan makan, tapi kembalikan ponselku." rengeknya, seperti anak kecil. Wajahnya memelas, minta dikasihani. Oh, manja sekali anak ini.
"Tidak, sebelum kau menghabiskan makananmu. Cepat!" perintah ibunya dengan tegas.
Sepertinya jurus andalan Chandra tidak berhasil kali ini, ibunya tidak termakan sedikit pun dengan rayuan wajah 'minta dikasihani' nya.
Chandra mengangkat sendoknya dengan tangan kanan, dan mencari-cari garpu dengan tangan kiri. Dia kemudian mulai menyantap sarapan yang disiapkan oleh ibunya tadi sambil cemberut.
Ibu Chandra memperhatikan anaknya makan sambil melipat tangan di dada. Sudah seringkali dia melakukan hal itu. Hanya gara-gara Chandra yang susah disuruh makan karena terlalu tertarik dengan ponselnya.
Tiba-tiba ponsel itu berdering, dengan spontan sang ibu mengangkatnya.
"Halo?" jawabnya.
Chandra awalnya ingin merebut ponselnya itu dari tangan ibunya, sayang sekali dia terlalu takut.
"Chandra? Kenapa suaramu seperti suara perempuan?!" seru seseorang dari seberang. Dia terdengar sangat terkejut.
"Aah. Aku ibunya Chandra," jawab ibunya dengan sangat ramah.
"Ohh, maaf bibi." Kata orang tersebut. "Apa Chandra ada, Bi?"
Ibu Chandra melirik pada anaknya dengan sinis, lalu kembali menjawab dengan nada ramah yang dibuat-buat.
"Chandra sedang di kamar mandi. Kalau kau ada pesan, biar aku yang menyampaikan."
"Ibu jahat," kata Chandra dalam hati.
Chandra makin cemberut melihat tingkah ibunya yang iseng. Jelas-jelas dia sedang berada di hadapan ibunya sekarang.
"Ohh baiklah. Tolong sampaikan pada Chandra, berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Ini keadaan darurat, tolong ya bi."
"Baiklah, akan aku sampaikan."
Si Ibu menutup telpon sambil memandang penuh selidik pada putranya.
Sementara Chandra, dia merasa hawa di dapur mulai berubah. Siap-siap saja ditanyai yang macam-macam oleh sang ibu.
"Temanmu bilang berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Keadaan sedang darurat. Apa maksudnya?"
Chandra mengernyitkan keningnya, menandakan dia juga tidak tahu menahu tentang pesan temannya itu.
"A-aku juga tidak tau, bu."
"Jangan bohong, Chandra Wiguna!" nada suara dari ibunya memang tidak meninggi, tapi penuh dengan penekanan. Astaga, ibu Chandra benar-benar menakutkan saat penasaran seperti ini.
"Aku tidak bohong, bu. Percayalah. Yang berbicara dengan temanku tadi kan ibu? Aku saja tidak tahu siapa yang menelpon barusan."
Kegalakan di wajah sang ibu mulai mengendur. Dia baru sadar, tadi dia tidak melihat pada layar handphone untuk mengetahui siapa yang memanggil anaknya. Dengan cepat, dia membuka benda kecil itu lalu melihat history call.
"Kevin," gumam ibunya pelan, saat mendapati siapa yang menelpon Chandra.
“Kevin? Tumben dia menelpon.” Chandra ikut-ikutan bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.
Beberapa saat, Chandra menopang dagu dengan tangannya, lalu matanya membesar seketika. Sepertinya dia sadar akan sesuatu.
"Bu, maaf aku tidak menghabiskan makanannya kali ini. Aku harus cepat."
Langkahnya terhenti saat Chandra berjalan melewati ibunya. Bahunya ditangkap dengan lembut oleh tangan wanita itu.
"Kali ini jangan bertindak ceroboh, Chandra!" Seru ibunya, lalu tanpa disangka-sangka dia memberikan ponsel itu pada Chandra. "Hubungi ibu jika ada apa-apa. Mengerti?!"
Chandra tersenyum tipis, sambil menerima benda itu dari ibunya.
"Tentu saja, bu. Aku pergi," pamit Chandra dan melesat dari rumah sederhana itu dengan cepat.
***
Jalanan ramai karena akhir pekan, termasuk taman yang biasa dijadikan tempat berkumpul klub musik Harmoni. Terlihat beberapa keluarga dan muda-mudi hilir mudik melewati taman itu. Apalagi sedang musim semi, tentu saja banyak orang yang berpikir untuk menghabiskan akhir pekan bersama orang-orang yang disayangi.
Tamma dan Judika melewati taman itu sambil membawa beberapa kotak nasi. Mereka berjalan berdampingan sambil memperhatikan keadaan sekeliling.
"Sial! Pagi-pagi begini disuruh membeli makanan. Menganggu tidurku saja."
Dari tadi Tamma tidak berhenti mengumpat. Dia kesal sudah dibangunkan secara paksa oleh Yongki melalui panggilan telponnya sampai 12 kali.
Judika diam saja. Dia malah memperhatikan orang-orang yang ada di taman sambil celingak-celinguk.
"Hei, kau dengar tidak?" Tamma makin kesal karena diabaikan.
"Hm." hanya itu balasan yang diterima oleh Tamma.
Oh, anak ini benar-benar seperti iblis! Pasti itu yang terlintas dipikiran Tamma.
Tamma memajukan bibirnya, "Kapan kau akan berubah, Judika? Selalu saja mengabaikanku."
Seketika Judika melirik Tamma, lalu tersenyum tipis.
"Maaf, kak. Perhatianku terlalu fokus pada mereka."
Judika menunjuk menggunakan tangannya pada sebuah keluarga yang sedang duduk di bawah pohon Sakura. Seorang ayah, ibu, dan dua anak laki-laki yang yang berbeda besarnya. Mungkin mereka adalah kakak adik. Mereka terlihat sedang bermain sesuatu, sambil sesekali sang adik memukul kepala kakaknya. Ayah dan ibu mereka tertawa setiap kali sang kakak mengaduh kesakitan. Keluarga itu terlihat bahagia.
Tamma ikut memperhatikan mereka, tapi dia segera menarik bahu Judika dengan spontan.
"Ayo cepat, jangan sampai kak Yongki mengamuk lagi!" serunya.
Judika yang tidak mengerti dengan tindakan Tamma hanya menurut saja. Sekilas Judika bisa melihat raut wajah Tamma yang berubah panik.
Tentu saja. Apa yang dilihat Tamma berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh Judkka. Dia melihat orang yang beberapa hari lalu mencari masalah dengannya berdiri tidak jauh dari pohon Sakura, tempat keluarga tadi bernaung.
Mereka terus berjalan. Makin lama makin cepat. Tamma mengalihkan pegangannya dari bahu Judika ke lengannya. Dia menarik lengan anak itu dengan kuat membuat protes langsung keluar dari mulut Judika.
"Kakak, kau kenapa?"
Judika menarik lengannya lepas dari genggaman Tamma, lalu berhenti tiba-tiba.
"Sudahlah. Jangan banyak tanya. Kita harus pergi."
Kini Tamma benar-benar terlihat panik. Kali ini dia tidak bisa lagi menutupi rasa cemas yang menyelimuti hatinya. Tanpa berpikir panjang, dia kembali meraih tangan Judika dan menariknya sekuat tenaga, berlari secepat kaki bisa membawanya.
"Kak Tamma!"
Judika berteriak sambil melepaskan cengkraman itu dengan paksa. Raut wajahnya bercampur antara bingung dan kesal. Dia tidak mengerti kenapa sikap Tamma berubah drastis seolah baru melihat hantu.
Dengan gerakan cepat, Tamma menyeret Judika bersembunyi di balik pagar kayu besar yang ada di sekitar situ. Dinding kayu itu tertutup rapat oleh tanaman merambat yang rimbun, memastikan posisi mereka tidak terlihat dari luar.
Tamma kemudian melirik ke kanan dan ke kiri berulang kali, memastikan tidak ada mata asing yang menangkap keberadaan mereka.
"Dengar baik-baik." suara Tamma keluar nyaris berbisik. Hampir tak terdengar. "Apapun yang terjadi nanti, kau harus lari. Pergi cari kak Arjuna, suruh dia datang ke sini. Tapi jangan sampai kak Yongki dan kak Nathan tahu. Kau mengerti?"
Judika makin mengerutkan dahi. Rasa penasarannya kalah oleh rasa tidak percaya. Dia tidak mau menuruti begitu saja tanpa penjelasan apapun.
"Apa maksudmu, kak Tamma? Sebenarnya ada apa?"
Tamma melirik lagi ke arah jalanan, masih belum ada tanda bahaya tapi dia tahu mereka tidak punya banyak waktu.
"Aku melihat Jodha dan anak buahnya tadi di taman. Mereka pasti sudah membuntuti kita sejak tadi. Kita berdua tidak akan mampu melawan mereka semua." Tamma berhenti sejenak. Dia menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang.
"Karena itu, salah satu dari kita harus cari bantuan. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Sekarang pergi, jemput kak Arjuna. Kau mengerti?"
"T-tapi kak..."
"Lakukan saja apa yang aku katakan, Judika Pratama!"
Tamma kemudian mendorong tubuh Judika cukup keras hingga pemuda itu nyaris terjatuh. Sorot matanya tegas, bahkan terlihat sedikit marah.
"Untuk kali ini saja, turuti aku. Aku mohon."
Dan pada akhirnya, Judika pun pergi meninggalkan Tamma sendirian.