NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaget nikah 3

Akhirnya, waktu yang ditunggu pun tiba. Laras, dengan wajah cantiknya, mengurai senyum ketika menemui Samudra dan Bundanya. Laras mengucapkan salam pada keduanya, dan mereka menyambutnya dengan raut muka yang ramah dan bahagia pula.

Laras duduk di samping ibunya. Sesekali dia melirik ke arah Samudra—laki-laki yang akhir-akhir ini disebut-sebut terus oleh ibunya.

_Hmm... Cakep. Kayaknya nggak mungkin laki-laki dengan ketampanan di atas rata-rata ini masih jomblo. Atau setidaknya pasti banyak perempuan yang menyukainya,_ gumam Laras dalam hati.

Ibu menyenggol Laras yang sepertinya tengah melamun. "Gimana, Ras?" tanya Ibu.

"Aku ikut Ibu saja," jawab Laras spontan.

Sungguh, dia sangat menyesali jawaban yang baru saja dia ucapkan. Dia bilang apa? _Ikut Ibu saja?_ Itu artinya...?

_Ya Tuhan, kenapa jadi begini?_ Laras menyesali ucapannya sendiri yang meluncur begitu saja dari mulutnya.

Sementara laki-laki yang ada di hadapannya ini cuma tersenyum melihat tingkah Laras yang kebingungan dan salah tingkah. Laras bahkan tidak tahu apa yang tengah dibicarakan karena dia terlalu sibuk dengan isi kepalanya sendiri.

"Ibu tadi bicara apa?" bisik Laras kepada ibunya.

Ibu juga hanya tersenyum menanggapinya, membuat Laras menjadi semakin bingung.

Kemudian Ibu bertanya kepada Samudra, "Bagaimana dengan Nak Samudra?"

"Insyaallah... Bu, saya juga ikut saja. Yang penting Bunda setuju. Selama Bunda merestui, saya tidak keberatan," jawab Samudra dengan begitu yakin.

_Tunggu, tunggu, dia bilang apa? Setuju?_ Mudah dan ringan sekali dia menjawabnya. Apa dia nggak bisa mikir dulu? Main setuju-setuju aja. Sementara aku sendiri juga nggak tahu apa yang tengah terjadi saat ini. Ini terlalu cepat, ya Tuhan. Eh, bukannya tadi secara nggak langsung aku juga sudah menyetujuinya?

Dan setelah pertemuan itu, seketika semua berubah. Ibu begitu bahagia sebab akhirnya aku akan menikah. Aku sendiri masih kaget setengah mati, merasa ini hanya mimpi. Baru kemarin aku bilang tidak ingin menikah, eh tiba-tiba hari berikutnya aku dilamar. Dan anehnya, aku iya-iya saja tanpa berpikir panjang. Apa waktu itu aku terhipnotis karena ketampanannya, ya? What?_ Sepertinya otakku ini memang sedang bermasalah. Aku bahkan mengakui tanpa sadar kalau dia begitu tampan.

Dan hari ini Samudra datang ke rumah. Dia ingin mengajakku pergi keluar. Sekadar ingin mengajakku jalan, katanya, agar kami bisa lebih saling mengenal. Aku masih sangat canggung dengannya. Tapi berbeda dengan Ibu, dia bahkan terlihat lebih antusias dariku, seolah-olah Ibulah yang mau pergi bersama pujaan hatinya. Bagaimanapun juga, aku sudah menyetujui perjodohan ini. Jadi aku pun harus berusaha menerima apa pun yang sudah menjadi keputusan yang telah kubuat kemarin.

Samudra mengajakku pergi ke suatu tempat. Sekadar ingin berbincang-bincang denganku, katanya dia ingin lebih mengenalku. Aku mengerti, dia pasti ingin tahu seperti apa aku ini yang sebenarnya. Sekalipun waktu itu dia mengatakan akan menurut apa kata Bundanya, tapi rasanya tidak mungkin dia tidak akan menyeleksi terlebih dahulu seseorang yang akan menjadi istrinya nanti. Jadi, menurut kesimpulanku, semua laki-laki adalah sama: menginginkan yang sempurna sebagai pendampingnya. Kita lihat apakah Samudra akan mundur setelah tahu seperti apa diriku ini yang sebenarnya.

"Mas Samudra bener udah yakin sama aku? Apa nggak akan nyesel nantinya? Mas kan belum mengenalku dengan baik. Gimana kalau nanti aku nggak seperti yang Mas harapkan?" tanyaku tanpa basa-basi.

Sementara Samudra hanya tersenyum mendengar kata-kataku. _Kenapa dia bisa sesantai itu?_ pikirku.

"Insyaallah, aku tidak akan menyesal. Aku yakin dengan ketetapan Allah, Ras. Allah telah memudahkan segala urusan, lantas untuk apa lagi aku ragu?" jelasnya dengan bijak dan seolah begitu yakin sekali dengan apa yang ia ucapkan.

Aku yang tengah berusaha membuatnya berubah pikiran, kenapa dia tidak terhasut sama sekali dengan semua ucapanku? Jelas sekali kelihatan kadar kedewasaannya. Tidak seperti laki-laki yang selama ini telah kutemui. Samudra memang beda. Mungkin benar aku harus seyakin itu juga terhadapnya.

"Terima kasih, Mas. Aku juga akan berusaha. Tapi Mas Sam bener nggak keberatan dengan perjodohan kita ini? Kalau Mas nggak suka, aku bisa bilang kok sama Ibu. Mas nggak usah memaksakan diri," kataku. Lagi-lagi aku masih berusaha meyakinkan.

"Insyaallah, aku yakin, Ras. Bismillah saja, semoga memang inilah yang Allah takdirkan untuk kita. Hmm... atau jangan-jangan kamu sendiri yang keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Samudra kepadaku.

Aku hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya yang barusan. Seketika Samudra pun bertanya lagi, "Maksudnya kamu keberatan, Ras?"

"Enggak kok, maksudku tidak seperti itu. Aku hanya... entahlah, Mas. Kita kan baru kenal, rasanya aku masih sedikit bingung. Aku sedikit kaget, itu saja," jelasku.

"Ya sudah, kalau begitu, aku anggap kamu setuju. Yang penting kita jalani saja dulu. Kalau kamu masih belum yakin juga, tanyakan pada Allah, Ras. Salat istikharah. Semoga nanti Allah akan memberi petunjuk. Aku pun juga begitu, Ras, selalu melibatkan Allah dalam setiap keputusanku," jelasnya dengan penuh arti.

Sungguh, aku takjub mendengar kata-katanya. Aku akui Samudra memang baik sekali dan begitu istimewa. Dan aku bisa melihatnya dengan begitu jelas, dia benar sosok laki-laki dewasa yang bijaksana.

_Tuhan, semoga langkah yang kuambil ini adalah benar dan selalu di bawah rida-Mu._

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!