NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Tidak Akan Ada Yang Menyentuhmu Selain Aku

Biru melangkah maju, satu langkah yang membuat jarak di antara mereka terkikis. Aroma parfum vanila dan kertas tua yang selalu menguar dari tubuh Selena kini memenuhi indra penciumannya.

"Dengar," suara Biru merendah, berat dan sangat stabil. "Hari ini aku merasa sangat baik. Entah kenapa, tapi aku merasa punya energi untuk membereskan ini semua. Percayalah padaku kali ini saja. Kau masuk ke sana, lakukan apa yang diminta secara formal, dan aku yang akan mengurus sisanya dengan Mama."

Selena menatap mata Biru, mencari kepastian. Ia tidak tahu bahwa debaran di dada Biru semakin liar saat ia menatap balik. Pria itu sendiri merasa heran; bagaimana mungkin satu sentuhan dari wanita yang baru dikenalnya sebulan ini bisa memberikan efek fisik yang lebih kuat daripada obat-obatan dosis tinggi yang ia konsumsi setiap hari?

"Kau janji tidak akan ada prosedur yang... aneh-aneh?" tanya Selena pelan, mulai luluh oleh ketenangan Biru yang entah mengapa terasa sangat protektif.

"Aku janji," ucap Biru.

Selena mengembuskan napas panjang, merapikan rambutnya di depan cermin sebelum keluar. Namun, saat ia melangkah melewati Biru, ia sempat melirik tangan pria itu yang masih gemetar halus—bukan karena sakit, tapi karena sisa kontak fisik yang baru saja mereka lakukan.

Bagi Selena, itu adalah gangguan terhadap integritasnya. Bagi Biru, itu adalah keajaiban yang menakutkan. Satu atap, dua rahasia, dan kini... satu debaran yang mulai mengacaukan segalanya.

Sebelum keluar dari pintu, Selena berhenti.

"Dan pastikan suster atau dokter itu tidak melihat hal pribadi yang seharusnya dilihat oleh suamiku, mas Biru..."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Selena, lembut namun tajam seperti sembilu yang menyayat keheningan ruang rias tersebut. Selena tidak berbalik, ia tetap membelakangi Biru, namun bahunya yang sedikit tegang menunjukkan betapa berat baginya untuk mengucapkan kalimat itu.

Sebutan "Mas Biru" yang pertama kali keluar dari mulutnya—bukan sebagai sandiwara di depan mertua, melainkan dalam ruang privat mereka—terasa seperti guncangan hebat bagi pertahanan diri Biru.

Biru terpaku di tempatnya berdiri. Degup jantungnya yang tadi sudah liar, kini terasa seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia menatap punggung Selena, menyadari bahwa di balik integritas dan sikap kaku wanita itu, ada martabat besar yang sedang ia pertaruhkan demi kesepakatan mereka.

"Selena..." suara Biru tertahan di tenggorokan, berat dan parau.

"Aku serius, Mas," Selena menoleh sedikit, memperlihatkan profil wajahnya yang memerah namun matanya berkaca-kaca karena perpaduan rasa malu dan prinsip yang kuat. "Pernikahan ini kontrak, tapi tubuhku bukan. Aku tidak ingin orang asing melihat apa yang... yang bahkan suamiku sendiri belum pernah lihat."

Ada jeda panjang yang menyesakkan di antara mereka. Biru mengepalkan tangannya di sisi tubuh, berusaha keras menekan gejolak aneh yang merayap di dadanya. Ia merasa sangat bersalah, namun di saat yang sama, ada rasa protektif yang meledak-ledak—sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup dalam dinginnya dunia korporat.

"Aku mengerti," jawab Biru, suaranya kini terdengar sangat dalam dan penuh janji. "Aku tidak akan membiarkan prosedur itu terjadi. Masuklah, Selena. Cukup lakukan konsultasi verbal. Aku akan masuk setelahmu dan memastikan Dokter Harun membatalkan semua pemeriksaan fisik."

Selena mengangguk pelan, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat oleh janji itu. Ia merapikan gaunnya sekali lagi, menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu melangkah keluar dari pintu toilet.

Biru tetap di sana selama beberapa detik, menyandarkan kepalanya ke dinding marmer yang dingin. Ia heran pada dirinya sendiri.

Tubuhnya terasa sangat bertenaga, seolah-olah penyakit jantung kronis yang selama ini menghantuinya hanyalah mimpi buruk yang jauh.

Namun, debaran di dadanya saat ini—debaran yang dipicu oleh kata "Mas Biru" dan tatapan Selena—terasa jauh lebih berbahaya bagi kewarasannya.

Ia menyadari satu hal: rahasia tentang penyakitnya mungkin bisa ia simpan rapat-rapat, tapi rahasia tentang bagaimana Selena mulai mengacaukan seluruh sistem pertahanan hatinya... itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan lagi.

Biru menegakkan punggung, memperbaiki jasnya, dan melangkah keluar dengan sorot mata yang tak lagi sekadar dingin, melainkan penuh determinasi untuk melindungi wanita yang baru saja memanggil namanya dengan begitu tulus.

Ketegangan di dalam ruang praktik Dokter Harun mendadak berubah suhunya saat Selena melangkah ragu menuju kursi pemeriksaan yang dingin dan statis. Perawat sudah mulai menyiapkan peralatan, suara gemerincing logam alat medis yang bersentuhan dengan nampan porselen terdengar sangat nyaring di telinga Selena yang sensitif.

Baru saja tirai pembatas hendak ditarik oleh suster, pintu ruangan terbuka dengan sentakan yang tidak biasa. Biru melangkah masuk. Langkah kakinya tidak lagi santai; ada aura dominasi yang pekat, seolah ia baru saja membatalkan kesepakatan bisnis bernilai triliunan hanya karena tidak suka dengan satu poin kecil.

"Tunggu," suara bariton Biru menggelegar, rendah namun penuh otoritas.

Suster itu terhenti, tangannya menggantung di udara. Dokter Harun mendongak, sedikit terkejut. "Ada apa, tuan Biru? Kami baru saja akan memulai pemeriksaan dasar untuk nyonya Selena."

Biru tidak menjawab Dokter Harun. Matanya langsung mengunci sosok Selena yang tampak kecil dan rapuh di atas kursi pemeriksaan. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di samping Selena, lalu meletakkan tangannya di sandaran kursi—mengurung wanita itu dalam ruang pribadinya.

"Batalkan pemeriksaan fisiknya, Dok," ujar Biru. Nadanya tidak menerima bantahan. "Lakukan saja wawancara medis atau tes laboratorium melalui sampel darah. Saya tidak mengizinkan ada prosedur internal apa pun hari ini."

"Tapi tuan, untuk melihat kondisi rahim dan fertilitas yang akurat, kita butuh—"

"Saya bilang tidak," potong Biru tajam. Rahangnya mengeras. "Saya yang paling tahu kondisi istri saya. Kami tidak sedang dalam keadaan darurat medis yang mengharuskan prosedur invasif seperti ini."

Selena mendongak, menatap Biru dari bawah. Ia bisa melihat urat nadi di leher Biru berdenyut kuat. Pria itu tampak sangat... posesif. Bukan posesif yang menakutkan, tapi lebih ke arah perlindungan yang fanatik. Seolah-olah janji yang ia ucapkan di toilet tadi adalah hukum yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun, bahkan oleh dokter ahli sekalipun.

Dokter Harun menghela napas, menyadari bahwa berdebat dengan pewaris Hermawan Group yang sedang dalam mode "singa pelindung" adalah sia-sia. "Baiklah, kalau itu keinginanmu. Suster, simpan peralatannya. Kita lakukan tes darah saja."

Biru tidak melepaskan tangannya dari kursi Selena sampai suster itu benar-benar menjauhkan alat-alat medis tersebut. Ia menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Selena hingga Selena bisa merasakan deru napas hangat Biru yang memburu di kulit lehernya.

"Aku sudah bilang, kan?" bisik Biru, suaranya bergetar halus oleh emosi yang tertahan. "Tidak akan ada yang menyentuhmu selain aku."

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!