NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Di Kedalaman Samudra dan Redamnya Sang Harimau

​Waktu seakan melambat hingga ke titik nadir. Di dalam katedral batu kapur yang mendidih itu, hukum alam yang biasa mengatur bumi tidak lagi berlaku.

​Suara ranting yang patah, deru angin, dan gemuruh air terjun di luar gua seolah tersapu bersih, digantikan oleh suara tarikan napas sang monster dan detak jantung Dara Kirana sendiri.

​GRRRAAAARRRGHHHH!

​Makhluk setengah harimau yang terbelenggu pada stalagmit raksasa itu menerjang maju. Moncongnya yang dipenuhi taring setajam belati menganga lebar, hanya berjarak satu jengkal dari wajah Dara. Napasnya yang sepanas lahar menerpa wajah gadis itu, membawa aroma darah, sulfur, dan logam berkarat yang begitu pekat hingga membuat paru-paru Dara nyaris menolak untuk menghirup oksigen.

​Rantai baja penempa yang menahan kedua lengannya berdecit melengking, merintih di bawah tekanan tenaga yang tak masuk akal. Baja merah membara itu nyaris meregang hingga ke batas putusnya. Serpihan batu kapur berjatuhan dari atap gua saat pilar stalagmit penyangganya retak oleh tarikan monster tersebut.

​Dara berdiri mematung. Angin dari terjangan itu mengibarkan rambutnya ke belakang. Bulu matanya nyaris hangus oleh hawa panas yang memancar dari tubuh Indra.

​Di titik ini, insting paling primitif di dalam DNA manusianya menjerit sejadi-jadinya: Lari! Berbaliklah dan lari! Ini adalah kematian!

​Namun, Dara tidak membiarkan otot kakinya bergerak mundur satu milimeter pun. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Mengabaikan sengatan panas di kulitnya. Mengabaikan raungan yang bisa merobek gendang telinganya.

​Ia mengingat kembali baris-baris kalimat usang dari jurnal kulit rusa milik leluhurnya.

​Jadilah es di dasar samudra. Diam. Tenang. Tak tertembus.

​Dara memaksa pikirannya untuk turun. Jauh ke bawah, melewati permukaan kesadarannya yang dipenuhi kepanikan, melewati lapisan trauma masa lalunya, hingga ia menyentuh sebuah titik hampa di dasar jiwanya. Sebuah titik di mana darah Pawang Rimba bersemayam selama berabad-abad.

​Perlahan, ritme detak jantung gadis itu melambat. Panik yang tadi mencekik kerongkongannya kini menguap, digantikan oleh sensasi dingin yang absolut. Bukan dingin yang menyiksa seperti udara malam Marapi, melainkan dingin yang menenangkan, seperti air murni yang mengalir dari mata air terdalam di perut bumi.

​Dara membuka matanya.

​Sorot ketakutan seorang gadis remaja telah lenyap tak berbekas dari mata cokelat terangnya. Sebagai gantinya, pendar otoritas purba Sang Penengah mengambil alih. Wibawanya begitu pekat, begitu sunyi, hingga untuk sepersekian detik, monster di hadapannya menghentikan rontaannya.

​Mata emas liar sang Cindaku melebar. Hidungnya berkedut keras. Di tengah panasnya Nafsu Rimba yang membakar kewarasannya, insting binatangnya mencium sesuatu yang kontradiktif. Mangsa di depannya ini tidak memancarkan feromon ketakutan. Makhluk ini tidak bergetar. Makhluk ini adalah sebuah anomali.

​Namun, jeda itu hanya berlangsung sebentar. Insting harimau yang dikuasai Bulan Baru terlalu kuat. Dan ketika hidung monster itu tak sengaja menangkap aroma akar pasak serigala dari gelang di pergelangan tangan Dara—aroma teritorial dari kawanan Bumi Arka—kemarahannya meledak dua kali lipat.

​Sang mangsa berbau seperti musuh bebuyutannya.

​Sang monster menggeram penuh kebencian, mengangkat cakar obsidiannya tinggi-tinggi, mencoba merobek rantainya sekali lagi untuk menghancurkan Dara berkeping-keping.

​Di detik yang sama, Dara melangkah maju.

​Gadis itu mengangkat kedua tangannya yang sedingin es dan menempelkannya tepat di atas dada telanjang sang monster yang membara.

​DSSSHHHHHHH!

​Suara desisan nyaring meledak di dalam gua, persis seperti bongkahan besi pijar yang dicelupkan secara mendadak ke dalam tong berisi air es. Kabut uap putih seketika mengepul tebal, menyelimuti tubuh Dara dan Indra, menghalangi pandangan ke seluruh penjuru gua.

​Sengatan rasa sakit yang luar biasa menjalar di kedua telapak tangan Dara pada detik pertama sentuhan itu. Rasanya seolah ia menempelkan tangannya di atas kompor yang menyala. Ia nyaris menarik tangannya kembali. Namun, segel kelopak bunga di telapak tangannya merespons ancaman tersebut.

​Pendar cahaya biru pucat yang terang benderang meledak dari balik perban elastis Dara.

​Cahaya biru itu mengalir deras dari telapak tangan Dara, merayap menembus kulit Indra, dan langsung menyuntikkan gelombang energi dingin yang luar biasa masif ke dalam sistem pembuluh darah sang Cindaku.

​Waktu benar-benar berhenti bagi keduanya.

​Seketika itu juga, Dara merasa jiwanya tersedot masuk ke dalam sebuah ruang hampa. Ia tidak lagi berada di dalam gua batu kapur yang lembap. Ia berada di dalam pikiran Indra Bagaskara.

​Pemandangan di dalam sana adalah sebuah neraka literal. Dara melihat sebuah hutan pinus yang terbakar hebat oleh api berwarna keemasan. Api itu menjilat-jilat ke langit, menghanguskan segala yang hidup. Di tengah-tengah lautan api itu, Dara melihat sosok Indra dalam wujud manusia remajanya, meringkuk memeluk lututnya, menjerit tanpa suara saat kulitnya terus-menerus terkelupas oleh api kutukannya sendiri.

​Itulah penderitaan konstan sang pewaris Harimau Putih. Itulah Nafsu Rimba. Sebuah rasa sakit yang mendesaknya untuk membunuh dan merobek sesuatu di dunia nyata hanya untuk melampiaskan agoni di dalam jiwanya.

​Di dalam penglihatan batin itu, Dara tidak berlari menjauhi api. Ia berjalan dengan tenang melintasi bara yang menyala. Setiap langkah yang diambilnya memancarkan riak air berwarna biru yang langsung memadamkan api di sekitarnya.

​Dara menghampiri sosok Indra yang meringkuk. Ia berlutut, merengkuh kepala pemuda yang tersiksa itu, dan membawanya ke dalam pelukannya.

​Hujan turunlah, batin Dara memerintah dengan otoritas mutlak Sang Penengah.

​Dalam sekejap, langit di atas hutan pikiran yang terbakar itu mendung pekat. Badai air murni tumpah dari langit, mengguyur lautan api keemasan itu. Suara gemuruh api perlahan-lahan mereda, digantikan oleh suara rintik hujan yang menyejukkan, membasuh luka-luka bakar di tubuh Indra, dan mengembalikan kedamaian yang telah dirampas oleh Bulan Baru.

​Di dunia nyata, ronta-ronta mematikan dari sang monster terhenti secara drastis.

​Raungan buas yang memekakkan telinga mereda menjadi lenguhan panjang yang dipenuhi kelegaan luar biasa. Otot-otot raksasa yang merobek kulit pucat Indra perlahan-lahan mulai menyusut kembali ke ukuran normal. Bulu-bulu putih berloreng hitam yang tumbuh di bahu dan lengannya rontok dan menguap menjadi abu di udara.

​Dara masih mempertahankan posisi tangannya di dada Indra. Keringat dingin membanjiri dahi gadis itu. Mengalirkan energi Pawang dalam jumlah masif untuk memadamkan puncak Nafsu Rimba ternyata menguras vitalitas fisiknya jauh lebih brutal daripada saat ia melakukannya dari jauh tempo hari. Lututnya mulai bergetar. Kepalanya berdenyut menyakitkan seolah ditusuk oleh ribuan jarum.

​Namun ia terus menahan gelombang dingin itu, memastikan setiap titik api di dalam darah Indra benar-benar padam.

​Perlahan, struktur rahang sang monster kembali memendek dengan bunyi gemeretak tulang yang mengerikan namun melegakan. Taring-taring panjangnya menyusut ke dalam gusi. Kuku cakar obsidian sepanjang lima sentimeter itu memudar warnanya, menumpul, dan kembali menjadi kuku manusia biasa.

​Rantai penempa baja yang tadinya merah membara kini mendingin drastis, kembali menjadi logam berwarna abu-abu kusam, menggantung longgar di pergelangan tangan sang pemuda.

​Indra Bagaskara telah kembali.

​Pemuda itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Napasnya tersengal lemah. Rantai di lengannya bergemerincing pelan saat ia kehilangan kekuatan di kedua kakinya. Jika bukan karena belenggu baja itu, Indra pasti sudah ambruk ke lantai gua.

​Dara melepaskan tangannya dari dada Indra dengan sisa tenaga terakhir. Cahaya biru dari segelnya meredup, lalu padam sepenuhnya.

​Di dalam keheningan gua yang kini terasa dingin dan basah, Indra perlahan mengangkat wajahnya.

​Rambut hitamnya lepek oleh keringat dan air mata. Lingkaran hitam tebal menghiasi bawah matanya yang kini telah sepenuhnya kembali menjadi warna cokelat hazel manusiawinya. Tidak ada lagi pendar emas yang buas. Tidak ada lagi arogansi sang penguasa. Yang ada hanyalah sosok pemuda berusia delapan belas tahun yang kelelahan, rapuh, dan dipenuhi oleh rasa syukur yang mengiris hati.

​Mata Indra menatap lekat-lekat ke arah wajah Dara yang pucat pasi.

​"Kau..." suara Indra begitu serak, nyaris tak lebih dari sekadar hembusan napas yang bergetar. Bibirnya yang robek melengkungkan sebuah senyum tipis yang memilukan. "Kau benar-benar gadis paling bodoh dan... paling nekat yang pernah hidup."

​Dara tidak mampu membalas senyum itu. Batas ketahanan fisiknya telah hancur sepenuhnya. Begitu tugasnya selesai, perintah untuk 'menjadi es' di otaknya menghilang, dan segala rasa lelah, sakit, serta ketakutan yang tertunda langsung menghantamnya seperti gelombang tsunami.

​Pandangan gadis itu mengabur. Kakinya kehilangan tenaga. Dara merosot jatuh.

​Namun, sebelum tubuhnya menghantam lantai batu kapur yang keras, tangan Indra—meski masih terbelenggu rantai yang mengikatnya pada pilar—meraih maju secepat kilat. Ia tidak menggunakan tenaga monster, melainkan sisa tenaga manusianya untuk menahan bahu Dara, menarik gadis itu agar jatuh bersandar di atas dadanya yang kini terasa sedingin manusia normal.

​"Dara!" panggil Indra panik, mencengkeram lengan jaket gadis itu.

​Dara hanya bisa menghela napas panjang, bersandar pada dada pemuda itu. Detak jantung Indra terdengar normal di telinganya. Iramanya tenang. Api itu benar-benar telah padam.

​"Sudah kubilang... kau tidak akan menjadi monster malam ini," bisik Dara lemah, sebelum kegelapan yang nyaman akhirnya menelan kesadarannya, membiarkannya terlelap dalam pelukan sang pemangsa yang baru saja ia taklukkan.

​"Indra!"

​Suara jeritan tertahan memecah keheningan gua.

​Maya Bagaskara berlari menembus kabut uap tipis yang masih tersisa di lorong gua, mengabaikan bebatuan tajam yang merobek celana tempurnya. Di belakangnya, Bujang menyusul dengan langkah lebar yang cepat, membawa sebuah kunci besi raksasa yang tampak seberat jangkar kapal.

​Saat mereka tiba di ruang utama, pemandangan yang tergelar di hadapan mereka membuat langkah Maya terhenti secara mendadak.

​Air mata yang sejak tadi ditahan oleh gadis Cindaku yang terkenal dingin itu akhirnya tumpah membasahi pipinya.

​Adiknya telah kembali. Indra berlutut di tanah, masih terbelenggu oleh rantai baja di kedua sisinya. Namun ia tidak lagi meronta, ia tidak menggeram, dan kulitnya tidak lagi memancarkan uap panas yang mematikan. Pemuda itu menunduk, menggunakan sisa jangkauan rantainya untuk memeluk protektif sosok Dara Kirana yang jatuh pingsan tak sadarkan diri di dadanya.

​Mendengar langkah kaki kakaknya, Indra mendongak. Sorot matanya sangat tajam, memerintahkan mereka untuk diam agar tidak membangunkan gadis yang tertidur di pelukannya.

​"Bujang," panggil Indra pelan namun penuh otoritas. "Buka rantai ini."

​Bujang menatap Indra, lalu beralih menatap Dara dengan pandangan takjub yang sama sekali tidak ia sembunyikan. Panglima perang itu selalu menganggap manusia sebagai ras yang lemah dan tidak berguna. Namun hari ini, seorang gadis remaja telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh seratus prajurit Cindaku: memadamkan Nafsu Rimba Harimau Putih murni tanpa menumpahkan setetes pun darah.

​Tanpa banyak bicara, Bujang melangkah maju. Ia memasukkan kunci besi raksasa itu ke dalam lubang kunci di pilar stalagmit, memutarnya dengan tenaga penuh, lalu melepaskan belenggu dari kedua pergelangan tangan dan kaki Indra.

​Begitu rantainya terlepas, Indra mengabaikan memar parah di pergelangan tangannya sendiri. Ia segera memindahkan Dara dari lantai batu yang dingin, menyelipkan satu tangan di bawah lutut gadis itu dan satu tangan di punggungnya, lalu mengangkat tubuh Dara dengan hati-hati seolah ia sedang menggendong kaca tipis.

​Maya bergegas mendekat, melepas jaket hitamnya sendiri dan menyelimutkannya ke tubuh Dara yang menggigil kedinginan.

​"Dia memadamkannya, Maya," bisik Indra, menatap wajah pucat Dara yang tertidur damai di lengannya. Nada suara Indra dipenuhi oleh keajaiban sekaligus ketakutan akan ketergantungannya yang baru. "Api itu benar-benar hilang. Dia menanggung semua rasa sakitku."

​"Dia adalah Pawang Rimba, Indra. Sang Penengah," balas Maya dengan suara bergetar, mengusap bahu adiknya. Gadis yang pagi tadi mengancam akan membunuh Dara itu kini menatap sang gadis kota dengan rasa hormat yang absolut. "Dia membuktikan kata-katanya pada Sutan Agung. Dia menyelamatkan nyawamu, dan mungkin... nyawa klan kita."

​"Ayo kita keluar," sela Bujang tegas, mengambil alih pimpinan. "Sutan Agung dan Kakek Danu sudah menunggu di luar air terjun. Bau Ruruhi di tubuh gadis ini telah hilang seutuhnya karena dibakar oleh energimu. Aroma murninya sekarang menyebar bebas ke seluruh penjuru hutan. Pasukan mayat hidup Opsir Darah itu tidak bodoh. Mereka akan segera menyadari bahwa kekuatan Pawang telah digunakan di Lereng Utara malam ini."

​Indra mengangguk. Matanya menyipit, kembali memancarkan ketajaman predator, namun kali ini sepenuhnya dikendalikan oleh akal sehat manusia. Ia mengencangkan dekapannya pada tubuh Dara.

​Tidak akan ada satu pun lintah kolonial yang berani menyentuhnya, batin Indra tajam. Tidak selama aku masih bernapas.

​Mereka bertiga bergegas keluar dari dalam gua. Indra melompat ringan menyeberangi bebatuan licin di balik air terjun, kelincahan alaminya telah kembali sepenuhnya. Ia tidak mempedulikan cipratan air sedingin es yang mengguyur tubuh setengah telanjangnya, fokusnya hanya untuk melindungi tubuh Dara dari kedinginan berlebih.

​Saat mereka melangkah keluar dari tirai air terjun dan kembali ke tepian kolam Batu Ratapan, dua sosok siluet sedang berdiri menunggu di bawah rintik hujan dan kegelapan malam tanpa bulan.

​Kakek Danu nyaris menjatuhkan lenteranya saat melihat Indra muncul sambil menggendong Dara. Pria tua itu bergegas maju, menatap wajah cucunya yang pucat pasi namun bernapas teratur.

​"Dia kehabisan tenaga spiritual, Kek," Indra berbicara lebih dulu sebelum Kakek Danu sempat bertanya. Nada suara Indra sangat sopan, sangat jauh dari kesombongan yang biasanya ia tunjukkan pada manusia. "Dia pingsan setelah berhasil menetralkan suhu tubuhku. Tidak ada satu pun luka di tubuhnya."

​Kakek Danu menghela napas lega yang luar biasa panjang. Ia mengangguk terima kasih pada Indra, sebuah pengakuan hening di antara dua laki-laki yang sangat menyayangi gadis itu.

​Di belakang Kakek Danu, Sutan Agung berdiri dengan tangan terlipat di dada.

​Sang Harimau Hitam mengenakan jubah kebesarannya yang menjuntai menutupi kaki. Matanya yang segelap kopi menatap Indra, menganalisis perubahan pada keponakannya. Tidak ada hawa panas yang tidak stabil. Tidak ada raungan tertahan. Indra berdiri tegak dengan kesadaran yang utuh dan energi yang murni. Keajaiban itu benar-benar terjadi di depan matanya.

​Sutan Agung mengalihkan pandangannya pada sosok Dara yang tertidur di gendongan Indra. Ekpresi wajah sang tetua yang sekeras batu cadas itu untuk pertama kalinya melunak dalam dua abad terakhir. Ada kilat penyesalan yang samar, sekaligus rasa hormat dari seorang raja yang mengakui kekalahannya.

​"Manusia yang nekat," gumam Sutan Agung, suaranya berat bergema membelah suara air terjun. Sang tetua itu kemudian menundukkan kepalanya sedikit—sebuah gestur penghormatan yang tidak pernah diberikan oleh Sutan Agung kepada manusia mana pun selain Nyai Ratih.

​"Dia membuktikan kelayakannya," Sutan Agung menegakkan tubuhnya, kembali memancarkan otoritas absolut. "Sesuai kesepakatan, mulai detik ini, Dara Kirana berada di bawah perlindungan tak bersyarat klan Harimau Putih. Hukum Perjanjian Kesunyian akan ditekuk untuk memastikan keamanannya. Tidak akan ada Cindaku yang mempertanyakan keberadaannya di lembah ini."

​Sutan Agung menatap Indra dengan tajam. "Bawa dia pulang ke rumah kakeknya, Indra. Jaga dia. Bulan Baru ini mungkin sudah kita lewati, tapi Willem van Deventer dan pasukannya pasti telah mencium ledakan energi malam ini. Perang yang sesungguhnya baru saja mengetuk pintu Marapi."

​Indra mengangguk hormat pada pamannya. Ia mengeratkan pelukannya pada Dara, memastikan jaket Maya menutupi tubuh gadis itu dengan sempurna.

​Malam puncak ketiadaan bulan yang seharusnya menjadi akhir dari kewarasan Indra Bagaskara, justru menjadi titik balik dari segalanya. Di bawah gemuruh Air Terjun Batu Ratapan, sebuah aliansi yang mustahil telah terjalin dengan darah, api, dan air. Ratu Penengah telah mengklaim takhtanya, dan Sang Harimau telah bersumpah untuk menjadi pedangnya di dalam bayang-bayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!