NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMAN BERGOSIP

“Duh, panas banget.”

Kata Titin sambil mengipas-kipaskan map biru yang dipegangnya.

“Iya, panas mana AC-nya mati lagi.”

Keluh gadis berkacamata.

“Ani, kalau nngak mau kepanasan, rendem diri kau ke air es sono!”

Timbal gadis kecil disampingnya.

“Sialan kau.”

Sambung Ani sambil tangannya menempel di kepala gadis itu.

“Mangkanya sering mandi. Kau pasti tadi pagi nngak mandi yaaa!”

Pekik gadis lainnya di sebrangnya.

“Kau yang nngak mandi. Bau kau sampe sini, nih.”

Kata Ani sambil menutup hidungnya.

“Hi….hi…..hi…..”

Gadis itu ketawa ngakak. Kelihatan dia puas sekali.

“Untung ya, pas nngak ada bu Wati si macan garong itu. Bebas deh gosip-gosip.”

Sambung gadis kecil itu lagi.

“Ei, tau tidak gosip terbaru?”

Bisik Ani pelan.

“Ngapain sih bisik-bisik. Macam semut kecil gali di telingaku ih.”

Kata gadis kecil itu menghindar.

“Ah kau.”

“Ei, bisa tanya noh sama Titin.”

Kata gadis sebrangnya menelengkan kepala kearah Titin.

“Oi, jangan brisik. Nih aku sedang sibuk nih.”

Kata Titin pura-pura sibuk.

“Oi…hi…hi…hi…..kutengok kau malah asyik main game ih.”

Gadis kecil  itu tertawa ngakak lagi.

“Dia sibuk mainin game boy, Jihan.”

Timbal Ani.

“Oi, udahan mainnya mbak Titin yang cantik dan emmm….”

Kata gadis sebrangnya.

“Emmm apa Yun?”

“Itu tuh emmm….”

Yuyun mengedip-kedipkan matanya jenaka.

“Apaan…ih.”

Kata Jihan.

“Anu. Dia itu sukaan sih mainin ayunan boy pak Sukma. Hi…..hi…..hi…..”

Kata Yuyun sambil menutup mulutnya, tertawa.

“Ei, sembarangan kau.”

Teriak Titin pura-pura marah. Dia tahu sudah biasa mereka bersendau gurau sambil gosip apa saja.

“Khan….khan….marah. Hi…..hi….hi….”

“Kau belom kena ya. Awas aja nanti.”

Kata Titin mengepalkan tangan kearah Yuyun.

“Kudengar Ita juga kena yaaa!”

Teriak Ani.

“Tau dari mana kau.”

“Iyaaa tau dari Aris.”

“Hah. Aris. Emangnya dia itu spy gitu.”

Kata Yuyun pasang muka serius.

“Khan Aris yang pertama mergoin pak Sukma ama perempuan menor di kantor.”

Sambung Jihan sambil tangannya mengetuk-ketukkan meja.

“Oi pinter kali kau yaaa.”

“Emang daku ini pinter.”

Kata Jihan sambil menepuk-nepuk dadanya bangga.

“Itu kau kecil. Jangan ditepuk-tepuk nanti ambles kali.”

Kata Ani pura-pura prihatin.

“Ih jahat kau.”

Teriak Jihan mencubit keras lengan Ani.

“Ou sakit tau.”

Jerit Ani.

Mereka terdiam ketika Ita masuk ke kantor HRD. Mukanya kusut. Habis dari luar. Ditangannya menenteng bungkusan kecil berisi makanan ringan.

“Ei, bagi-bagi dong.”

Teriak Yuyun.

“Nih.”

Kata Ita melempar snack ringan kearah Yuyun. Yuyun segera mau menangkap, tetapi keduluan tangan Ani yang berhasil menangkap duluan.

“Oi…sialan kau.”

Teriak Yuyun.

“Udah nih dibagi-bagi, jangan kau makan sendirian.”

Kata Ani sambil membuka kantong snack dan mengambil isinya. Kemudian dia menyerahkan ke Jihan.

“It kau pas ke mas Bas, nngak kena ama pak Sukma.”

Selidik Ani dengan muka serius.

“Kau ini macam penjaga keamanan aja. Tanya-tanya mulu.”

Rutuk Ita kesal.

“Iya It. Khan kantornya mas Bas deket ama kantornya direktur.”

Sambung Jihan.

“Iya sih.”

“Hah!”

Teriak para gadis HRD itu berbarengan.

“Kau diapain aja. Moga aja tidak diajak main kuda-kudaan.”

“Sembarangan kau.”

Ita menepuk pundak Ani keras-keras.

“Ou sakit.”

“Untungnya ada mas Bas. Jadi nngak kemakan ama si Buaya Buntung itu.”

“Ou ada superhero yang gagah perkasa nolong si gadis malang Ita.”

Kata Yuyun sambil mengunyah snacknya.

“Hei, siang-siang nggosip aja. Kerjaaa!”

Teriak bu Wati yang baru saja tiba di kantor HRD.

‘IIIIyyyyaaaaa bu!”

Kata para gadis karyawan HRD berbarengan. Mereka sibuk mengatur posisi masing-masing, pura-pura membuka laptopnya masing-masing.

“It, tunggu. Nih bawa ke Bas. Suruh dia revisi.”

Kata bu Wati mencegah Ita yang mau bergabung dengan reman-temannya.

“A…a..apa bu.”

Kata Ita terbata-bata.

“Nih.”

Kata bu Wati melemparkan map ke tangan Ita. Ita menangkap map itu.

“Kutunggu siang ini juga. Harus sudah selesai.dan ingat jangan pakai lama.”

Kata bu Wati menggoyangkan telunjuk kirinya ke muka Ita.

“I….i….iyaaaa, bu.”

Kata Ita dengan sedih. Kalau dia menemui mas Bas bisa jadi ketemu lagi sama pak Sukma. Bisa-bisa kali ini tidak akan selamat. Teman-temannya menguping pembicaraan sambil pura-pura sibuk mengetik. Padahal dalam hati mereka penasaran dengan apa yang mau dilakukan Ita selanjutnya.

“Anu, bu. Boleh ajak Aris.”

“Ngapain kau ngajak Aris segala. Itu bukan tugas Aris yah.”

Teriak bu Wati keras.

“Anu bu. Minta antar aja soalnya takut kalau tiba-tiba mas Bas butuh bantuan keluar.”

“Bisa aja kau ngeles.”

“Iya bu. Mas Bas kalau kertasnya habis bisa minta tolong Aris belikan.”

Sambung Ita lagi.

“Ya udah.”

“Makasih bu.”

Kata Ita menunduk hormat.

“Ris, tunggu.”

Ita berlari ketika melihat Aris mau masuk lift ke lantai 1. Dia mau makan dulu. Sejak pagi tidak sempat makan pagi. Perutnya terasa lapar. Keroncongan sampai siang.

“Ada apa mbak. Aku mau keluar nih. Perutku laper, mbak belum makan sejak pagi.”

“Ris tolong temenin aku ke lantai 20. Mau ke mas Bas.”

“Lho mbak. Ngapain ditemenin. Khan biasanya mbak sendirian brani.”

Kata Aris lugu. Dia tidak tahu alasan permintaan Ita dibaliknya.

“Udahlah Ris tolongin. Kali ini aja ya…ya…ya….”

Bujuk Ita. Aris melihat Ita yang kelihatan butuh sekali bantuan. Apalagi mukanya yang memohon itu tambah cantik sehingga Aris pun terbujuk.

“Baik mbak. Tapi bentar aja ya. aku mau makan nih.”

“Nanti taktraktir Ris, asal kau mau nemenin aku.”

“Ei, cantik mau kemana nih.”

Kata pak Sukma tiba-tiba, melihat Ita dan Aris yang baru saja keluar dari lift karyawan.

“A…a..anu pak, mau ke mas Bas ngurus revisi.”

Kata Ita gemetaran. Dia masih ingat kejadian kemarin.

“Ei, ngapain kau kesini. Sono kau kerja ngepel lantai. Itu tuh banyak kotorannya.”

Kata pak Sukma pada Aris.

“iiiiiyaaaa pak.”

Kata Aris ketakutan. Ketika Aris mau pergi tangannya dipegang Ita.

“Pak, Aris ini bantu aku buat beliin kertas buat mas Bas. Tadi mas Bas bilang butuh orang buat beliin kertas administrasi.”

Kata Ita berbohong. Dia sebenarnya tidak dihubungi mas Bas untuk diminta cari orang buat membelikan kertas administrasi.

“Udahlah biar Bas nanti cari orang lain. Aris nih pekerjaannya masih banyak.”

kata pak Sukma beringsut maju mau meraih tangan Ita. Ita menyusut kebelakang tubuh Aris.

“Hai kau, enyahlah sono.”

Teriak Pak Sukma marah pada Aris.

“Iiiiiyaaaa pak.”

Kata Aris segera melepaskan pegangan tangan Ita. Dia lebih takut pada pak Sukma yang bisa langsung memecatnya. Padahal dia baru sebulan kerja sebagai OB. Dia tidak mau usahanya selama ini sia-sia.

“Rissss.”

Minta Ita. Tapi Aris meninggalkan Ita. Pak Sukma tersenyum puas.

“Hei….hei….hei…..jangan takut cantik.”

Kata pak Sukma beringsut mendekati Ita.

“Pakkkk, aku mau ke mas Bas.”

Kata Ita mundur ketakutan. Dia tidak mau kena lagi. Sudah dua kali.

“Aiyaaa…sini dong deket bapak. Nanti kuberi kau uang banyak.”

“Ampun pak, jangan.”

Mohon Ita ketakutan. Dia sudah hilang akal bagaimana caranya menghindari pak Sukma. Ketika dia sudah mulai terpojok tiba-tiba.

It, ngapain kau disitu katanya mau revisi. Sini lho.”

Sebuah suara membuat Ita jadi berani. Tangannya menerjang pak Sukma sehingga pak Sukma hampir jatuh. Cepat-cepat Ita ke mas Bas.

“Pak, mohon jangan gangguin Ita lagi. Dia pacarku pak.”

Mata mas Bas tajam menusuk ke pak Sukma. Muka pak Sukma merah padam. Baru kali ini ada bawahan yang berani memarahinya.

“Brani kau Bas.”

Ancam pak Sukma.

“Emangnya bapak sapa. Bapak Cuma pengganti sementara pak Dody. Kalau pak Dody kembali. Bapak juga nngak disini lagi.”

Kata mas Bas tidak kalah berani.

Pak Sukma mengepalkan tangannya. Tetapi dia tidak berani meladeni tantangan mas Bas. Dia segera berlalu dari tempat itu.

“Ayuk It jangan takut kita ke kantorku.”

Kata mas Bas sambil menggandeng tangan Ita.

“Tadi Aris ke tempatku, bilang kau diganggu pak Sukma, makanya aku cepat-cepat kesini.”

Kata mas Bas kali ini serius.

“Sukma, Sukma rendahan kau. Kau betul-betul orang tak berguna.”

Kata bu Wati dibalik tembok.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!