Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Luka di Balik Jeruji
“Dia … Dia masuk penjara,” ucapan ibu membuatku gemetar. Tangis pecah. Melebur bersama kekalutan hatiku detik itu juga. Ridho—adik yang kukira telah benar-benar bertaubat, kini kembali berulah.
“A … apa? Gimana bisa, Bu? Dia masuk penjara karena apa?” tanyaku kembali seraya memegang dadaku cemas.
“Dia, balik nyabu, Nak. Adikmu nyusahin Ibu aja kerjaannya.”
“Ibu … Ibu tenang dulu, ya. Besok in sha Allah aku pulang.”
“Iya, Nak. Tolong adikmu, ya, Nak. Ibu takut dia kenapa-napa di dalam sana.”
“Iya … Ibu yang tenang dulu, ya.”
Aku bergegas menghubungi Mas Afwan. Tapi, panggilan itu hanya tersambung tanpa ia angkat sama sekali. Hingga dipanggilan ke lima, ia mengangkatnya.
“Halo, Sayang? Ada apa? Bentar lagi aku jalan, kok. Lagi di warung miso.”
“Mas! Cepat pulang! Ada urusan penting yang harus kita selesaikan bersama.”
“Apa? Urgent ya?”
“Iya, Mas.”
“Oke, aku pulang aja. Maaf, Buk. Nggak jadi pesan. Istri lagi ada urusan penting.”
Kumatikan telepon segera beralih mengurusi baju-baju untuk keberangkatan besok ke Jakarta.
Beberapa menit kemudian, Mas Afwan kembali. Tanpa membawa makan malam kami. Ia menatapku heran saat melihatku sedang menyiapkan baju-baju untuk dibawa pulang ke Jakarta. Sebuah tanya meluncur dari lisannya.
“Ada apa, Sayang?” tanyanya dengan alis yang mengerut. Kami terdiam beberapa saat. Saling pandang. Tiba-tiba, mataku memanas. Air mata mengalir bagai tetesan hujan. Kupeluk Mas Afwan yang masih dirundung tanya kala itu. Aku menangis dan tanpa sadar mengotori jubah Mas Afwan di dadanya. Ia memelukku erat, membelai rambutku dan menenangkanku.
“Ada apa, Sayang? Ayo, ceritalah!” izinnya seraya kedua tangannya kini memegang kedua pipiku. Kupejamkan mata, lalu berkata ….
“Ridho, Mas.”
“Iya? Ridho kenapa, Sayang?”
“Ia di penjara karena kasus narkoba lagi.”
Mas Afwan menghentikan senyum di wajahnya. Ia lantas memelukku kembali dengan erat. Membiarkan tangisku berhenti dalam dekapannya.
“Aku khawatir dengan ibu. Aku takut ibu stress dan memutuskan hal besar dalam hidupnya yaitu ….”
“Yaitu apa, Sayang?”
“Bunuh diri. Ibu sering mengancam dirinya akan bunuh diri bila adik berulah lagi. Atau ketika kami tak saling akur.
“Ya Allah. Astagfirullah hal adzim,” ucap Mas Afwan sambil memohon ampunan kepada Allah. Ia melepas pelukannya dariku, kemudian berdoa ….
“Allahumma ajirnaa fii mushibatinaa wa akhliflanaa khaira minhaa.” Mas Afwan tampak menampung tangannya.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami pahala dalam musibah yang menimpa kami dan berilah kami ganti yang lebih baik darinya.” Ia menutup doa itu. Kemudian kembali bersuara.
“Oke, kapan kita akan berangkat?”
“Apa bisa sekarang, Mas?” tanyaku mencoba bernegosiasi dengannya.
“Baik. Baju-baju kita apa sudah siap?”
“Sudah, Mas.”
“Hamzah. Hamzah ikut?” tanya Mas Afwan pada Hamzah yang kala itu tengah asyik mencoret buku gambarnya.
“Ya sudah, Hamzah kasih jaket aja. Kamu, ganti baju cepat, ya,” perintahnya lembut seraya mengelus pelan rambutku. Satu kecupan manis mendarat di keningku.
“La tahzan. Innallaha ma’ana.”
“Apa artinya, Mas?” tanyaku penasaran seraya memandangnya.
“Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita,” jelasnya kemudian seraya tersenyum padaku. Air mataku kini sepenuhnya berhenti mengalir. Hanya bersisa rasa khawatir terhadap Ibu.
“Semoga Allah melindungi ibu. Ayo, kita berangkat. Sini, biar kubawa kopernya.” Mas Afwan mendorong koper berukuran menengah itu. Meletakkannya ke dalam bagasi.
Malam yang dingin dan mencekam. Kami berjalan menyusuri kota Bandung yang mulai menunjukkan tanda-tanda sunyi di jam sepuluh malam ini. Hingga kepulangan kami ke Jakarta akhirnya berjalan mulus atas izin Allah. Kami sampai di kota Jakarta pada pukul 12.00 malam.
Kami untuk sementara waktu singgah sebentar ke rumah Umi untuk mengantarkan Hamzah yang telah terlelap di kursi belakang. Selepasnya kami kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahku.
Mobil berhenti tepat di depan pagar rumahku. Aku masuk ke dalam rumah segera. Mengetuk pintu. Memanggil ibu di dalam sana. Namun, aku tak mendengar suara ibu sama sekali menyahutku. Hingga akhirnya Mas Afwan mendobrak pintu itu dengan kuat setelah kami lama memanggilnya.
“Asalamualaikum, Bu! Ibu!” Ibu di mana?” panggilku dengan nada keras. Tapi, tak ada yang menyahut panggilanku. Hingga saat aku menuju kamar, mataku membelalak kaget. Saat melihat ibu jatuh pingsan.
“Ibu! Ibu bangun, Bu! Ya Allah, Mas!”
“Kenapa?” tanya Mas Afwan seraya berjalan cepat seolah panik melihat kondisi Ibu.
“Bawa Ibu ke rumah sakit, Mas.”
Mobil Mas Afwan membelah jalanan. Melaju dengan kecepatan tinggi, namun hati-hati di tengah malam ini. Kulihat wajah ibu yang pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal tak tahu apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Kupeluk erat ibu. Kubisikkan sesuatu pelan ke telinganya.
“Ibu, kuat, ya. Kita sebentar lagi sampai,” ujarku berusaha menenangkan Ibu walau ia belum sadar sepenuhnya.
***
Rumah sakit itu akhirnya terlihat. Bunyi brankar berjalan kini terdengar nyaring di telinga. Suasana di rumah sakit yang mulai sunyi semakin mencekam di malam ini. Hingga sampailah di ruang IGD. Infus terpasang. Ibu, kini sudah berada aman di ruangan ini. Kugenggam tangan ibu. Kuletakkan pada pipiku. Kemudian, sebuah ucapan keluar dari lisanku.
“Bu, bangun, ya. Cuma Ibu satu-satunya keluarga yang aku punya.”
Mas Afwan tampak memerhatikan di sampingku. Aku dapat melihatnya dari sudut mataku. Lantas, Mas Afwan berkata sesuatu yang dapat menenangkan jiwaku.
“In sha Allah. Ibu Allah lindungi. Kita doakan yang terbaik untuk Ibu, ya.”
“Aamiin. Syukron ya, Sayang doanya.”
“Sama-sama.” Mas Afwan membalasnya sambil tersenyum.
Setengah jam kemudian, kulihat ibu mulai membuka matanya perlahan.
“Ya Allah, kenapa aku tidak mati saja?” ucap Ibu sembari berteriak memenuhi ruangan IGD. Sontak semua perawat menoleh ke arah Ibu.
Kuanggukkan kepala kepada para perawat dan pasien lain yang mendengar ucapan Ibu barusan. Seolah tengah meminta maaf.
“Ibunya sudah sadar?” tanya seorang perawat perempuan padaku.
“Sudah, Sus,” jawabku cepat.
“Kita ukur tensi dulu, ya.” Sang perawat mengukur tensi Ibu. Kejadian Ibu ini mengingatkanku akan kejadian beberapa minggu yang lalu. Hal yang tanpa sadar memicu rasa cemas di dadaku.
Kuperhatikan Mas Afwan yang tampak terkantuk-kantuk di kursi di samping Ibu. Aku tak mungkin mengganggu kenyamanannya saat tidur. Kubiarkan diriku tenang sejenak. Tarik napas, kemudian mengembuskannya perlahan. Kulakukan berulang kali sebisaku. Hingga perlahan kecemasan itu musnah sudah.
“Ibu, di mana, Nak?” tanya Ibu setelah sadar dari siumannya.
“Ibu di rumah sakit, Bu,” jawabku pelan seraya tersenyum melihat Ibu.
“Izin tanya-tanya dengan Ibunya, ya.” Seorang dokter meminta izin padaku. Aku mendengar isi pertanyaan itu dari lisan dokter.
Hingga keputusan dokter berkata bahwasannya Ibu hanya kelelahan. Mungkin akibat stres berat. Jadi Ibu disarankan untuk tetap dijaga kewarasan serta kesehatan mentalnya. Aku mengangguk setuju. Kemudian membawa Ibu pulang setelah selesai diwawancara. Dokter menyarankanku untuk membawa Ibu ke poli jiwa. Tapi, Ibu menolaknya.
Esok itu datang. Aku dan Mas Afwan kini mengunjungi Rutan Polres untuk menemui adikku Ridho. Ibu untuk sementara waktu berada di rumah Umi. Biar dia mendapatkan kenyamanan dulu di sana. Kami menanti di ruang tunggu. Hingga tiba-tiba, Ridho keluar dengan tangannya yang masih diborgol. Kemudian, petugas melepas borgol di tangannya.
Tak kuasa lagi air mata ini kubendung. Melihat adikku Ridho yang kini tenggelam dalam dunia hitamnya. Kugapai wajahnya yang kini tampak pucat dan dingin. Ia menatap nanar lantai lapas. Sesekali tersenyum tanpa tahu makna di balik senyuman itu. Ia, seperti sudah kehilangan jiwanya.
“Kenapa Ridho? Kamu lakuin apa sampai kamu di penjara?” tanyaku padanya mencoba mengulangi pertanyaan meski aku sudah tahu jawabannya.
Ia menatapku lama dengan tatapan dingin dan tajamnya. Lalu berkata ….
“Gue muak hidup.”
“Ridho. Kakak tahu kamu lagi kalut. Tapi apa harus sampai kebablasan? Apa latar belakangnya sampai kamu begitu?” Kuulangi pertanyaanku.
Ia tertawa sumbang. Lantas bertanya.
“Yakin? Kakak nggak bakal marah?”
“Ayo cerita aja.”
Ia tertawa sumbang kemudian berkata.
“Gue habis perkosa cewek gue.”
Dadaku memanas. Jantungku berdetak tak karuan. Tak percaya dengan apa yang ia ucapkan. Sebuah tamparan melesat keras di pipinya.
“Dasar bajingan!”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?