Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Ray terduduk di sofa ruang tamu yang remang. Hanya satu lampu saja yang dinyalakan karena awalnya ia buru-buru untuk mengambil dokumen itu. Tapi kini tenaganya sudah meninggalkan tubuhnya di detik ia membaca kalimat pertama di dokumen itu.
'Akta Cerai', bukan sebuah pengajuan perceraian melainkan akta cerai. Itu artinya mereka sudah resmi bercerai. Tapi kapan ia menandatangani surat perceraian hingga muncul akta ini.
Lalu di lembar kedua adalah salinan sertifikat rumah yang kini sudah beralih nama pemilik. Ray linglung dan tidak tau harus berfikir dari mana. Ia bahkan tidak tau salahnya ada di mana, karena melihat dari waktunya jelas sekali Llyn mengajukan cerai sebelum Lilian kembali ke negara ini. Ia tidak bisa memikirkan alasan lain yang membuat istri yang selama ini tulus mencintainya tiba-tiba menceraikannya.
Keesokan harinya, Ray langsung mengadakan rapat darurat di pagi hari karena sejak semalam para investor mulai menarik investasinya. Bahkan ada beberapa proyek bernilai miliaran yang sudah dihentikan. Ia memijat keningnya, bingung bagaimana bisa semua berubah hanya dalam semalam. Urusan perceraiannya saja belum sempat ia bahas dengan Llyn, kini urusan perusahaan membuatnya tidak bisa keluar dari kantor.
"pak, investor terbesar kita resmi menghentikan dananya sejak semalam."
"kenapa bisa begini? apa yang salah?"
Ray dibantu oleh asisten dan sekertarisnya terus menghubungi relasi bisnis yang mereka kenal, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu. Jawaban dari mereka hampir sama semua, "dulu demi menghargai putri mahkota dari keluarga Pratama, saya bersedia membantu perusahaan kamu. Tapi setelah dia pergi, sudah tidak ada gunanya saya terus membantu di sana."
Ray bingung bukan main karena ia saja tidak mengenal siapa putri Mahkota itu. Setaunya, Pratama adalah keluarga terkaya nomer satu di negeri ini. Sudah berbeda status dengan keluarga William yang hanya menjadi salah satu terkaya di ibu kota.
Keluarga Pratama memiliki seorang putri tunggal yang disebut-sebut sebagai putri mahkota karena kelak dialah yang akan mewarisi seluruh aset hingga kerajaan bisnis Pratama.
"bagaimana aku bisa menyinggungnya kalau bertemu saja tidak pernah," gumamnya.
Ray seketika teringat dengan Llyn, mantan istrinya. Llyn pergi tadi malam, dan di malam yang sama bisnisnya goyah. "tidak, tidak mungkin. Sudah menikah selama ini, tidak mungkin dia tidak memberitahuku kalau dia adalah putri dari keluarga Pratama. Lagipula aku mengenal keluarganya, dan status keluarganya setara dengan William."
Keluarga Pratama selalu tertutup, tidak pernah muncul di media. Hanya orang tertentu saja yang pernah bertemu langsung dengan mereka. Selain itu, selalu asistennya yang mengurus semua hal di depan layar.
Sementara itu di sebuah kamar bercat putih dengan banyak tumpukan boneka, seseorang yang terbaring di atas ranjang mulai menggeliat. Terbangun dari tidurnya dalam kondisi linglung, ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Melihat sekeliling kamar lalu memijat kepalanya sendiri yang terasa pening.
"Maaa!" teriaknya.
"sudah pernah menikah, bangun tidur masih saja teriak mama mama."
"ya kan dulu menikahnya, sekarang jadi anak mama lagi, " ujarnya sambil memeluk pinggang mamanya dan menenggelamkan wajahnya di perut sang mama.
"sudah sudah, bangun dan siap-siap. Kalea sudah di bawah lagi sarapan, katanya berangkat jam sembilan pagi?"
"sekarang jam berapa?"
"jam delapan."
Llyn langsunh membuka matanya lalu bangkit dan berlari ke kamar mandi. Alkohol benar-benar tidak baik untuk kehidupannya.