.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GOSIP
Pagi hari di ibu kota Kekaisaran Nan Gong biasanya dimulai dengan suara kokok ayam dan teriakan para pedagang sayur di pasar fana. Namun, pagi ini berbeda. Atmosfer kota dipenuhi oleh satu nama yang mendadak menjadi topik terhangat di setiap kedai teh, sudut jalan, hingga aula latihan klan-klan bangsawan: Ji Huang.
Rumor telah bermutasi menjadi cerita dongeng. Ada yang bilang Tuan Muda Sampah Keluarga Ji sebenarnya adalah reinkarnasi dari Dewa Perang yang menyamar. Ada juga yang bersumpah melihat ranting pohon di tangan Ji Huang berubah menjadi naga perak raksasa yang menelan seluruh kultivasi Penatua Huo dalam satu gigitan. Kota fana itu gempar, dan pusat dari gempa kultivasi tersebut adalah sebuah kediaman tanpa gerbang di pinggiran kota.
SREKK... SREKK...
Di kamarnya yang miring, Ji Huang perlahan membuka matanya. Sinar matahari pagi menerobos masuk dengan bebas melalui sela-sela jendela. Dia menggeliat, merasakan otot-otot tubuh barunya yang masih terasa agak kaku. Namun, senyum tipis terukir di wajah tampannya. Tidur malamnya kali ini benar-benar berkualitas—tanpa belenggu, tanpa rantai, dan yang paling penting, tanpa dengung pedang yang berisik.
Pintu kamarnya diketuk dengan sangat pelan dan hati-hati, seolah-olah orang di luar takut menggores kayu pintu tersebut.
"T-Tuan Muda? Apakah Anda sudah bangun?" suara Xiao Cui terdengar dari luar, nadanya dipenuhi rasa hormat yang amat sangat dalam, jauh berbeda dengan rasa takut yang dia tunjukkan kemarin pagi.
"Masuk saja, pelayan kecil," jawab Ji Huang sambil duduk bersandar di bantalnya yang empuk.
Pintu terbuka, dan Xiao Cui melangkah masuk membawa sebuah nampan kayu yang besar. Mata Ji Huang langsung berbinar-binar. Menu sarapan pagi ini mengalami peningkatan kelas yang sangat drastis. Ada sup ayam obat yang harum, semangkuk penuh pangsit daging babi yang mengkilap oleh minyak wijen, tiga buah roti isi kacang merah yang masih mengepulkan uap panas, dan sepoci teh melati kualitas terbaik.
"Wah, apa hari ini ada festival kekaisaran?" Ji Huang bertanya dengan mata berbinar, langsung menyambar sebutir pangsit dengan sumpitnya tanpa mencuci muka terlebih dahulu. Nyam... nyam... Rasanya benar-benar surgawi.
Xiao Cui tersenyum canggung, kedua tangannya bertautan di depan dada. "Bukan, Tuan Muda. Ini... ini adalah perintah langsung dari Tuan Besar Ji Zhen. Ayah Anda menyuruh dapur untuk memberikan bahan makanan terbaik yang kita punya khusus untuk Tuan Muda. Selain itu..." Xiao Cui menjulurkan kepalanya sedikit ke luar jendela kamar, "...halaman depan kita sekarang sangat ramai, Tuan Muda."
"Ramai?" Ji Huang mengunyah roti kacang merahnya dengan malas. "Kan gerbangnya hancur kemarin. Apa orang-orang datang untuk menonton rumah tanpa pagar?"
"Bukan begitu, Tuan Muda! Sejak subuh tadi, banyak sekali kurir dari klan-klan besar di kota yang datang membawa hadiah. Bahkan, ada kereta kuda dari Keluarga Wang!" Xiao Cui berbisik dengan nada heboh. "Mereka mengirimkan surat permohonan maaf yang ditulis langsung oleh Kepala Keluarga Wang, lengkap dengan sepuluh peti koin emas dan beberapa tanaman obat spiritual untuk memulihkan 'kelelahan' Tuan Muda!"
Ji Huang mendengus geli. Membayar ganti rugi karena merusak waktu tidurnya, ya? Baguslah, Keluarga Wang itu tahu diri.
Tepat setelah Ji Huang menghabiskan pangsit terakhirnya, pintu kamar kembali terbuka. Ji Zhen, sang ayah, melangkah masuk dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Di kedua tangannya, dia membawa tiga buah kotak giok yang tampak sangat mewah dan memancarkan aroma spiritual yang tipis.
"Huang'er! Kamu sudah bangun?" Ji Zhen meletakkan kotak-kotak giok itu di atas meja kamar dengan sangat hati-hati. Wajah keriputnya tampak berseri-seri, meskipun ada lingkaran hitam di bawah matanya karena dia tidak bisa tidur semalaman akibat terlalu bingung.
"Ayah. Ada apa pagi-pagi begini membawa kotak-kotak bagus itu?" Ji Huang bertanya sambil menyeruput teh melatinya dengan suara nyaring. Sluuurp.
"Ini adalah kiriman dari beberapa klan pejabat kekaisaran, dan ada satu dari asosiasi alkemis!" Ji Zhen membuka salah satu kotak giok, memperlihatkan sebuah pil obat berwarna merah menyala yang memancarkan aura spiritual yang cukup kuat. "Ini adalah Pil Pengumpul Qi Tingkat Bumi! Pil ini sangat langka, bahkan kultivator ranah Qi Condensation tingkat atas pun harus mengantre untuk mendapatkannya. Mereka mengirimkannya sebagai hadiah perkenalan untukmu!"
Ji Zhen menatap anaknya dengan mata penuh harapan. "Huang'er, minumlah pil ini. Dengan pemahaman 'lamunan' luar biasamu kemarin, ditambah dengan pil obat ini, siapa tahu Jalur Meridian dan Dantianmu yang rusak bisa pulih, dan kamu bisa mulai berkultivasi menjadi ahli yang sesungguhnya!"
Ji Huang menatap pil merah menyala itu dengan dahi berkerut. Dia mendekatkan hidungnya, menghirup aromanya sesaat, lalu langsung memalingkan wajahnya dengan ekspresi jijik seolah-olah dia baru saja mencium bau bangkai tikus.
"Uwek... baunya aneh sekali," keluh Ji Huang sambil mendorong kotak giok itu menjauh darinya. "Bau belerang, rumput liar busuk, dan arang. Ini bukan pil obat, Ayah. Ini adalah racun pencernaan. Rasanya pasti sangat pahit dan membuat lidah mati rasa selama tiga hari."
Ji Zhen hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "P-Pahit? Huang'er, ini adalah pil spiritual berharga tinggi! Semua kultivator mengabaikan rasa pahit demi mendapatkan kekuatan!"
"Ya, makanya mereka semua hidupnya menderita dan cepat tua," jawab Ji Huang dengan logika nyelenehnya yang mutlak. Dia memindahkan pandangannya ke kotak giok ketiga, yang ternyata berisi beberapa buah persik fana yang besar dan matang, serta sebotol kecil arak beras rumahan.
Mata Ji Huang kembali cerah. Dia mengambil buah persik itu dan langsung menggigitnya dengan renyah. KREKK. "Nah, yang ini baru benar. Manis, banyak airnya, dan tidak bikin pusing. Pil merah tadi buang saja ke kolam ikan, siapa tahu ikannya bisa tumbuh sayap."
Ji Zhen memegangi dadanya, merasa jantung fananya berguncang hebat mendengar pil berharga ribuan koin emas disarankan untuk menjadi pakan ikan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya yang sekarang. Punya potensi kekuatan tingkat dewa, tapi skala prioritas hidupnya hanya berputar di sekitar makanan enak dan kenyamanan tidur.
"Sudahlah, Ayah. Jangan pasang wajah stres begitu. Ambil emas dari Keluarga Wang, lalu sewa tukang kayu terbaik untuk membuat gerbang baru yang lebih tebal agar tidak ada anjing berisik yang bisa mendobraknya lagi," kata Ji Huang sambil bangkit berdiri, membawa botol arak dan buah persiknya menuju kursi bambu di teras luar kamar untuk menikmati matahari pagi.
Namun, baru saja pantat Ji Huang menyentuh permukaan kursi bambu yang sejuk, seorang penjaga rumah Keluarga Ji berlari dari arah halaman depan yang terbuka dengan wajah penuh kepanikan.
"T-Tuan Besar! Tuan Muda!" penjaga itu berlutut dengan napas terengah-engah. "Di depan... di depan ada kereta kuda mewah berlambang burung phoenix perak!"
Ji Zhen langsung menegakkan tubuhnya, wajahnya kembali tegang. "Burung phoenix perak? Itu... itu adalah kereta pribadi dari kediaman militer Keluarga Lin!"
"Benar, Tuan Besar! Dan... dan yang turun dari kereta itu adalah Nona Muda Lin Yue'er sendiri! Beliau berkata datang untuk menjenguk Tuan Muda Ji Huang!"
Mendengar nama itu, Ji Zhen langsung menatap anaknya dengan cemas. Sementara Ji Huang yang baru saja akan meneguk arak berasnya, langsung menurunkan botol tersebut dengan wajah yang sangat masam.
"Aduh... wanita itu lagi," gerutu Ji Huang sambil bersandar lesu di kursi bambunya, memandang langit pagi dengan tatapan meratapi nasib. "Mengapa orang-orang di dunia fana ini hobi sekali bertamu di jam istirahat siang orang lain? Benar-benar tidak punya rasa tenggang rasa terhadap kaum rebahan."