Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Badai Darah di Klub Lotus dan Akhir Sebuah Ikatan
"Arghhhh! Lenganku! Lenganku menghilang!"
Jeritan Viktor yang melengking merobek keheningan ruang bawah tanah itu. Darah segar menyembur dari pangkal bahunya yang terpotong rapi, seolah baru saja ditebas oleh pedang tak kasat mata raksasa. Tentara bayaran elit yang telah selamat dari puluhan medan perang di Timur Tengah itu kini berguling-guling di lantai, menangis seperti anak kecil.
Riana Kusuma membeku di kursinya. Cipratan darah hangat mengenai sebelah pipinya. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah pria yang berdiri santai di ambang pintu.
Jas biru malam yang pas di tubuh, postur yang tegap, dan sepasang mata yang sedingin jurang es abadi. Itu memang Arya Permana. Tapi ini bukan Arya yang selama tiga tahun mengepel lantai vilanya. Pria di hadapannya ini adalah malaikat maut, dewa yang turun ke bumi dengan membawa badai kehancuran.
"Apa yang kalian tunggu?! Tembak dia! Bunuh bajingan itu sekarang juga!" Tuan Lim berteriak histeris, wajahnya pucat pasi menyadari kekuatan tidak masuk akal yang baru saja ia saksikan.
Insting bertahan hidup para penjaga bersenjata langsung mengambil alih. Belasan laras senapan serbu otomatis langsung diarahkan ke dada dan kepala Arya.
Tratatatatatata!
Kilatan api menyala menerangi ruang bawah tanah yang berdebu. Ratusan peluru tajam melesat menembus udara, menciptakan jaring kematian yang mustahil untuk dihindari oleh makhluk biologis mana pun.
Riana menjerit, menutup matanya rapat-rapat, tidak sanggup melihat tubuh suaminya hancur berkeping-keping.
Namun, suara daging yang terkoyak tidak pernah terdengar. Alih-alih, ruangan itu dipenuhi oleh suara dentingan logam yang aneh.
Riana membuka matanya perlahan, dan napasnya seketika tercekat. Tuan Lim, Surya, dan Atmaja membelalakkan mata mereka hingga hampir keluar dari rongganya. Pemahaman mereka tentang realitas hancur berkeping-keping saat itu juga.
Peluru-peluru tajam yang melesat dengan kecepatan supersonik itu berhenti di udara kosong, tepat setengah meter dari tubuh Arya. Sebuah perisai energi transparan yang beriak seperti permukaan air menghentikan laju proyektil-proyektil mematikan tersebut. Selongsong peluru tembaga itu penyok, kehilangan momentumnya, lalu berjatuhan ke lantai beton bagaikan kerikil yang tak berguna. Ting... ting... ting...
"Monster... dia bukan manusia..." bisik salah satu penjaga, menjatuhkan senapannya karena kedua tangannya gemetar hebat.
Arya menatap tumpukan peluru di bawah sepatunya dengan wajah tanpa ekspresi. Perisai Qi dari Ranah Pembentuk Fondasi bekerja persis seperti perhitungan logisnya. Fisik manusia fana dan senjata api konvensional secara resmi telah kehilangan arti di hadapannya.
"Giliran saya," ucap Arya datar.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu menyapukannya ke depan dengan gerakan memotong horizontal.
Wusss!
Sebuah bilah energi berwarna putih kebiruan berbentuk bulan sabit raksasa melesat dari tangan Arya. Gelombang Qi itu menyapu seluruh ruangan dalam sekejap mata.
Brak! Krak!
Suara tulang yang hancur dan jeritan tertahan terdengar serentak. Belasan penjaga bersenjata yang berdiri di garis depan terpental ke udara seolah ditabrak truk berkecepatan tinggi. Dada mereka melesak ke dalam, tulang rusuk mereka hancur, organ dalam mereka hancur seketika oleh tekanan Qi murni. Mereka jatuh ke tanah sebagai mayat, bahkan sebelum otak mereka sempat memproses rasa sakit.
Hanya dalam satu sapuan tangan, pasukan bersenjata elit itu musnah tak tersisa.
Kini, yang hidup di ruangan itu hanyalah Arya, Riana yang masih terikat, dan Tiga Kepala Keluarga Besar yang kakinya telah kehilangan tenaga hingga jatuh terduduk di atas genangan darah.
Arya melangkah maju. Suara sepatunya yang menginjak serpihan kaca dan peluru menggema bagaikan detak jam kematian. Ia berhenti tepat di depan ketiga konglomerat yang dulu menguasai separuh Nusantara City itu.
"T-Tuan Arya... kami salah! Kami memiliki mata tapi tidak bisa melihat Gunung Tai!" Tuan Lim merangkak maju, bersujud hingga dahinya membentur lantai yang bersimbah darah. "Ampuni kami! Saya akan menyerahkan seluruh aset Keluarga Lim! Seratus triliun? Dua ratus triliun?! Anda bisa mengambil semuanya! Tolong, biarkan nyawa anjing ini hidup!"
Tuan Surya dan Atmaja pun ikut bersujud, membuang jauh-jauh harga diri mereka sebagai miliarder. "Benar! Kami bisa menjadi anjing Anda! Kami akan melakukan apa saja untuk Dragon Corp!"
Arya menatap mereka dengan tatapan menganalisis yang dingin. Tidak ada kepuasan sadis di matanya, hanya perhitungan rasional murni.
"Menerima penyerahan kalian secara taktis memang menguntungkan," suara Arya terdengar tenang. Ketiga pria itu sedikit mendongak, secercah harapan muncul di mata mereka.
"Namun," lanjut Arya, memadamkan harapan itu seketika, "kalian telah melanggar aturan absolutku dengan menyentuh apa yang menjadi milikku. Berdasarkan probabilitas, membiarkan musuh yang tahu kemampuanku tetap hidup memiliki risiko pengkhianatan di masa depan sebesar sembilan puluh persen. Kematian kalian adalah satu-satunya jaminan absolut untuk stabilitas wilayahku."
"Tidak! Kumohon—!"
Arya menjentikkan jari tangannya. Tiga jarum Qi tak kasat mata melesat, menembus tepat di titik tengah dahi ketiga kepala keluarga itu. Suara rintihan mereka terputus seketika. Tubuh mereka ambruk ke lantai, mata mereka terbuka lebar mencerminkan ketakutan abadi.
Tiga penguasa Nusantara City dilenyapkan seperti serangga.
Ruangan kembali sunyi, menyisakan bau anyir darah yang kental. Arya berbalik, berjalan mendekati Riana yang masih terikat di kursi baja. Wanita itu gemetar hebat, wajahnya basah oleh air mata, matanya memancarkan ketakutan, rasa takjub, dan kebingungan yang bercampur aduk.
Arya mengayunkan tangannya dengan ringan. Tali baja tebal yang mengikat Riana putus seketika seolah terbuat dari benang rapuh.
Riana kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh, namun Arya menangkap lengan wanita itu dan menahannya agar tetap berdiri. Sentuhannya dingin dan tidak mengandung sedikit pun kelembutan. Setelah Riana bisa berdiri sendiri, Arya segera melepaskan tangannya dan mundur satu langkah, menjaga jarak.
"Arya..." suara Riana bergetar, air matanya tumpah. "Kau... kau membunuh mereka semua. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku? Kenapa kau membiarkan dirimu dihina selama tiga tahun padahal kau... kau adalah dewa?"
Arya menatap wanita cantik di hadapannya. Wanita yang selama tiga tahun ia jaga diam-diam, yang ia buatkan sarapan setiap pagi, yang air mandinya selalu ia siapkan.
"Tiga tahun lalu, aku sedang menjalani hukuman dari keluargaku. Kakekmu adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui latar belakangku, dan dia menawarkan perlindungan dengan syarat pernikahan," Arya menjelaskan dengan nada tanpa emosi, menceritakan masa lalunya seolah itu adalah laporan bisnis. "Itu adalah ujian mental. Aku memilih untuk menekan otoritas dan kekuatanku untuk melihat esensi manusia yang sebenarnya."
Riana menangis tersedu-sedu. Hatinya hancur menyadari kebenaran itu. "Dan aku... aku gagal dalam ujian itu, bukan? Aku tidak pernah membelamu. Aku membiarkan ibuku dan orang lain menginjak-injak harga dirimu. Arya, aku minta maaf! Aku benar-benar menyesal! Bisakah kita... bisakah kita mulai dari awal?"
Riana mencoba meraih tangan Arya, namun Arya memiringkan tubuhnya, menolak sentuhan itu.
"Tidak ada yang perlu disesali secara fungsional. Waktu tidak bisa diputar mundur, Nona Riana," ucap Arya rasional. Penolakannya bukan berasal dari dendam, melainkan dari fakta bahwa perasaan itu telah mati, terbakar habis oleh penghinaan demi penghinaan.
"Sepuluh triliun yang aku kirim malam itu adalah kompensasi finansial untuk memutuskan hutang budi pada kakekmu," lanjut Arya, membalikkan badannya menghadap pintu keluar yang hancur. "Sistem keamananku akan membersihkan tempat ini. Pergilah dari sini, bangun kembali perusahaanmu. Dokumen perceraian yang telah ditandatangani akan dikirim ke kantormu besok pagi."
"Arya, jangan pergi! Kumohon!" Riana menjerit, jatuh berlutut di atas lantai yang dingin.
Namun Arya tidak menoleh sedikit pun. Ia melangkah keluar dari ruang bawah tanah yang berdebu itu, punggungnya terlihat kokoh, tak tersentuh, dan sangat jauh.
Malam ini, Riana akhirnya menyadari hukum paling kejam di dunia: penyesalan selalu datang setelah barang berharga itu hilang tak bersisa. Sang Naga telah kembali ke langit, dan ia, Riana Kusuma, ditakdirkan untuk tetap tinggal di bumi, meratapi arogansinya seumur hidup.