"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Mual
Suasana di rumah kecil itu terasa semakin sesak. Bianca mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang luasnya bahkan tidak sebanding dengan kamar mandi di mansion keluarga mereka. Ia beralih menatap Elena dengan dahi berkerut.
"Elena, jelaskan padaku. Kenapa kau tinggal di lubang tikus ini? Aku tahu Kakek masih menyimpan seluruh dana warisan untukmu. Kenapa kau tak memakainya?" tanya Bianca dengan nada menuntut.
Bi Ina yang sedang menyajikan teh hangat baru saja membuka mulutnya hendak bercerita, namun Elena memotongnya dengan tatapan tajam. Ia tidak ingin rahasia tentang janin itu bocor sekarang.
"Kakek mengusirku, Kak," ujar Elena tenang, meski tangannya sedikit bergetar saat memegang cangkir.
"Mengusirmu? Atas dasar apa?!"
Elena menarik napas panjang.
"Kakek memberiku ultimatum. Dia memaksaku nikah dengan pria pilihannya agar garis keturunan keluarga kita tetap terjaga dan harta itu bisa cair. Dia ingin aku punya anak, tapi aku harus menjadi budak dari pria yang tidak kukenal. Aku menolak. Aku bilang padanya bahwa aku tidak butuh laki-laki untuk melanjutkan hidupku. Hasilnya? Dia membuangku tanpa sepeser pun uang."
Mendengar itu, Bianca meledak. Ia berdiri dan mulai memaki, suaranya melengking memenuhi ruangan sempit itu.
"Tua bangka itu benar-benar sudah gila! Apa dia pikir kita ini mesin? Beraninya dia melakukan itu padamu! Harusnya dia sadar, tanpa kita, rumah besar itu hanya akan menjadi kuburan untuknya!" teriak Bianca terus memaki dengan kata-kata kasar, wajahnya merah padam karena amarah yang meluap-luap.
Di sudut ruangan, Bi Ina hanya bisa mengelus dada, merasa ngeri melihat tingkah laku cucu majikannya yang satu ini. Di matanya, Bianca memang sangat cantik dan "bar-bar", tapi di sisi lain, Bianca sangat bodoh.
Sama-sama malang.
Batin Bi Ina sedih.
Yang satu diusir karena tak mau menikah, yang satu lagi dulu dilarang menikah dengan Adrian tapi tetap nekat sampai hak warisnya dicabut, lalu sekarang malah diceraikan dan diusir suami.
Bi Ina menatap kedua wanita muda itu dengan mata berkaca-kaca. Mereka adalah cucu dari majikannya, tumbuh besar dalam kemewahan namun berakhir tragis karena keras kepala mereka sendiri. Meskipun Bianca terkadang sangat menyebalkan dengan sifat liarnya, Bi Ina teringat akan janjinya pada almarhum orang tua mereka.
"Sudahlah, Non Bianca... Non Elena..."
Bi Ina menyela dengan suara parau.
"Mau bagaimanapun keadaannya, Bibi sudah berjanji pada Tuan dan Nyonya besar untuk menjaga kalian berdua. Biar kita hidup susah di sini, yang penting kita bersama."
Bianca yang tadi meledak-ledak tiba-tiba terdiam. Ia kembali memeluk Elena dengan erat.
"Dengar, Elena. Kita akan buktikan pada Kakek dan pada si gendut bodoh itu kalau kita bisa sukses tanpa mereka! Kita wanita hebat yang tidak butuh laki-laki!"
Elena hanya bisa tersenyum pahit, sambil mengelus perutnya secara sembunyi-sembunyi di balik pelukan Bianca. Ia merasa sangat bersalah, karena di saat Bianca mengutuk semua laki-laki, Elena justru sedang membesarkan satu-satunya garis keturunan pria yang paling dibenci Bianca saat ini.
"Iya, Kak. Kita akan bertahan," bisik Elena lirih.
***
Pagi itu di apartemen Adrian kini berubah menjadi medan perang antara lemak dan disiplin. Willy tidak main-main. Ia telah menyulap ruang tamu mewah itu menjadi pusat pelatihan yang menyiksa.
"Satu lagi, Bos! Angkat kakinya lebih tinggi! Jangan manja!" teriak Willy sambil memegang stopwatch.
Adrian terengah-engah, wajahnya merah padam seolah mau meledak. Keringat membanjiri tubuh tambunnya, membasahi matras yoga yang malang itu.
"Willy... cukup... jantungku... rasanya mau lepas..."
"Belum cukup! Bos mau tetap jadi bahan tertawaan? Ingat rekaman Nona Bianca tadi? Dia bilang setiap kali Bos menyentuhnya, dia ingin muntah! Apa Bos mau selamanya dianggap sebagai gumpalan lemak sapi yang membosankan?"
Adrian ambruk ke lantai, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit di otot-ototnya tidak sebanding dengan rasa perih di hatinya saat mengingat hinaan adiknya, terutama mantan istrinya.
Willy berlutut di samping Adrian, suaranya kini merendah namun penuh penekanan.
"Dengarkan saya, Bos. Perubahan ini bukan cuma soal kesehatan. Ini soal harga diri. Bayangkan suatu hari nanti, saat Bos sudah bertransformasi menjadi pria yang gagah dan atletis, Bos berjalan melewati Bianca. Saat itu, dia yang akan memohon-mohon untuk kembali, dan Bos hanya perlu menatapnya dengan dingin lalu berlalu begitu saja. Biarkan dia tenggelam dalam penyesalan seumur hidup karena telah membuang permata yang ia anggap batu kali."
Adrian terdiam. Bayangan Bianca yang melihat sosok barunya mulai menari-nari di kepalanya. Seringai tipis muncul di wajahnya yang kelelahan. Tekadnya yang tadi sempat goyah kini kembali mengeras.
"Bantu aku berdiri, Willy," bisik Adrian dengan suara parau.
"Kita lanjut ke sesi berikutnya."
***
Sementara itu, di rumah sempit yang kini ditinggali dua bersaudara itu, ketegangan mulai terasa. Bianca masih sibuk mengumpat di sofa, sementara Elena duduk di sudut ruangan sambil memegang perutnya yang mendadak terasa mual.
"Kakek benar-benar pilih kasih, Elena!" keluh Bianca tanpa henti. "Hanya karena kau menolak menikah, dia mengusirmu. Padahal kau itu adikku, satu-satunya keluarga yang dia punya selain aku yang malang ini."
Elena hanya mengangguk lemah, mencoba menahan rasa gejolak di lambungnya.
"Sudahlah Kak, setidaknya kita masih punya atap untuk berteduh."
"Tapi atap ini terlalu rendah! Aku merasa seperti tikus got di sini."
Bianca berdiri, hendak menuju dapur saat ia melihat wajah Elena yang pucat. "El? Kau kenapa? Wajahmu seperti orang yang habis melihat hantu."
Elena membekap mulutnya, tidak sanggup menjawab. Ia berlari ke kamar mandi. Suara muntahnya terdengar jelas.
“HUEK! HUEKKKK!”
Bi Ina yang sedang mencuci piring langsung menoleh dengan panik.
"Non Elena!" seru Bi Ina pelan, hampir keceplosan.
Bianca menyusul ke depan pintu kamar mandi. "El! Kau sakit? Apa kau keracunan makanan murah yang kita beli tadi?"
Di dalam sana, Elena bersandar pada pintu kayu yang rapuh, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini baru permulaan. Ia tidak hanya harus berjuang melawan rasa mual, tapi juga harus bersembunyi dari tajamnya lidah kakaknya yang sangat membenci ayah dari janin yang dikandungnya.
"Aku... aku hanya masuk angin, Kak! Jangan masuk!" teriak Elena dari dalam, sementara air mata mulai mengalir di pipinya.
Ia tahu, jika Bianca sampai tahu ia mengandung anak dari mantan suaminya, rumah kecil ini akan menjadi neraka kedua setelah mansion Kakek mereka.
chi...dari tanah sengketa🤣🤣