NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Aku berjalan melewati lorong-lorong yang berbau melati dan minyak senjata. Dua pengawal pribadi Marko mengiringiku menuju balkon lantai dua, sebuah area terbuka yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam.

Di sana, di balik meja kayu jati yang diukir tangan, duduklah Marko. Pria tua itu mengenakan kemeja linen putih bersih dengan kancing terbuka di bagian kerah, memperlihatkan kalung emas dengan liontin salib yang kontras dengan kulitnya yang kecokelatan. Ia sedang memotong ujung cerutu Cohiba dengan presisi seperti seorang ahli bedah. Di depannya, sebuah botol tequila Clase Azul yang sudah terbuka mengeluarkan aroma agave yang manis dan tajam.

"Sammy," suara Marko berat, berwibawa, dan mengandung nada kepemilikan yang membuat bulu kuduk orang biasa merinding. "Kau tidak pernah berubah. Selalu tepat waktu, selalu waspada, dan selalu membawa mobilmu sendiri. Kau tidak percaya pada jemputanku?"

Aku berdiri tegak tiga meter di depan meja. Alih-alih meletakkan koper di lantai, aku memegangnya dengan erat. "Aku hanya percaya pada apa yang bisa kukendalikan, Marko. Jemputanmu sering kali berakhir di lubang kuburan yang sudah digali sebelumnya."

Marko tertawa, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Duduklah. Minumlah. Kita punya urusan besar."

"Aku di sini untuk mendengar perintahmu, bukan untuk minum tequilamu," balasku dingin.

Akupun tetap berdiri, memposisikan diriku sehingga aku bisa melihat setiap pergerakan di lantai bawah melalui sudut mataku.

Marko mengembuskan asap cerutu yang tebal ke udara, membiarkan kabut putih itu menggantung di antara mereka. "Dimitri Volkov. Kau mengenalnya?"

"Logistik Rusia. Mantan kolonel intelijen. Dia memegang jalur distribusi di Baltik," jawabku dengan singkat.

"Dia bukan lagi sekadar logistik," desis Marko, matanya menyipit penuh amarah. "Dia mencuri dariku. Hampir dua puluh juta dolar raib dari akun pencucian uang di Panama, dan jejak digitalnya mengarah langsung ke server pribadinya di Moskow. Dia pikir jarak antara Jalisco dan Moskow cukup jauh untuk melindunginya. Dia pikir aku tidak bisa menyentuhnya."

Marko menaruh sebuah map cokelat tua di atas meja. Di dalamnya terdapat foto-foto Dimitri yang tampat tua dan lelah berada di kantornya yang megah di Moscow City, peta satelit sebuah kediaman di pinggiran kota, dan sebuah daftar yang disebut sebagai 'Buku Hitam'.

"Aku ingin kau pergi ke Moskow," lanjut Marko. "Bawa kembali Buku Hitam itu. Di dalamnya ada semua kode akses ke dana yang dia curi. Setelah kau mendapatkan aksesnya, hapus Dimitri dari peta dunia. Pastikan dia mati dan kirimkan pesan kepada siapa pun yang berniat mengkhianatiku."

Aku membuka map itu sejenak. Aku melihat detail keamanan Dimitri. Itu adalah misi bunuh diri. Menginfiltrasi Moskow untuk membunuh mantan kolonel intelijen di rumahnya sendiri adalah hal yang mustahil bagi kebanyakan agen. Dimitri punya kekuasaan yang sangat solid, baik di permukaan maupun di bawah. Semua orang tahu itu.

"Moskow adalah sarang serigala, Marko. Masuk ke sana tanpa persiapan matang sama saja dengan menyerahkan leher ke algojo," kataku "Aku akan melakukannya. Tapi ada harga yang harus kau bayar. Dan aku tidak bicara soal uang."

Marko mengangkat alisnya, tampak tertarik. "Oh? Lalu apa yang diinginkan oleh agen terbaikku?"

"Kebebasan," ujarku tajam. "Setelah Dimitri selesai, namaku dihapus dari daftar asetmu. Selamanya. Tidak ada lagi panggilan tengah malam, tidak ada lagi kontrak 'hitam', dan yang paling penting... kau menjauh dari Indonesia. Silahkan cari agen dari negara lain yang menurutmu lebih bagus."

Marko terdiam. Suasana di balkon itu mendadak menjadi sangat dingin meskipun matahari masih bersinar. Marko merogoh laci mejanya perlahan. Akupun secara naluriah otomatis menggeser posisi kakiku memasang kuda-kuda, siap untuk melakukan gerakan bela diri jika Marko mengeluarkan senjata.

Namun ternyata Marko mengeluarkan sebuah foto polaroid. Dia meletakkannya di atas meja, tepat di samping botol tequila. Foto itu menunjukkan Ghea. Ghea tampak memakai blouse biru sedang berbicara dengan Wati di teras Kedai Raos sambil memegang buku dan pulpen, tampak tenang dan anggun, tanpa dia sadari bahwa ada lensa tele yang sedang membidiknya dari kejauhan.

"Kau punya sumber daya yang hebat, Sammy," bisik Marko, suaranya kini selembut sutra namun setajam belati. "Kau punya uang untuk menyewa tentara swasta, kau punya teknologi untuk menghilang dari radar. Tapi kau punya satu kelemahan yang tidak bisa kau beli solusinya, Cinta."

Marko mengetukkan jarinya ke foto Ghea. "Selama dia masih bernapas, kau masih milikku.”

Jantungku berdegib kencang, rasa panas menjalar di dada. Rasa muak menggores pikiranku. Bisa-bisanya dia tahu Ghea secepat ini. Aku bersumpah pada diriku, siapapun yang melanggar aturanku aku akan memastikan hidupnya berakhir.

“ Pergilah ke Moskow. Bukan karena kau butuh uangku, tapi karena kau butuh izin dariku agar wanita ini bisa melihat matahari terbit besok pagi."

Darahku mendidih. Di dalam saku jaketku, tanganku menggenggam gelang batu hitam pemberian Ghea erat-erat. Kemarahan yang luar biasa bergejolak di dalam dadaku, namun aku tetap mempertahankan wajahku seperti topeng marmer yang beku yang tak bisa dia baca. Itulah yang membuat Samuel, itulah yang mebuat diriku, Ghani berbahaya, semakin aku ingin membunuh seseorang, semakin tenang penampilaku.

"Kau melakukan satu kesalahan besar, Marko," kataku dengan suara yang nyaris berupa bisikan. "Kau mengira ancaman ini akan membuatku bekerja lebih keras. Padahal, ancaman ini hanya membuatku kehilangan alasan untuk membiarkanmu tetap hidup setelah misi ini selesai." lanjutku dengan seringai tipis di bibirku.

Marko tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Buktikan padaku di Moskow, Sam. Buktikan bahwa kau lebih hebat dari Dimitri. Sekarang pergilah. Pesawat kargomu berangkat dalam tiga jam dari pangkalan udara swasta di utara. Semua kebutuhanmu sudah tersedia di sana, meskipun aku tahu kau lebih suka menggunakan mainanmu sendiri."

Aku mengambil foto Ghea dari meja, dan memasukkannya ke dalam saku dalam dekat dengan jantungku. Akupun berbalik tanpa sepatah kata pun. Langkahku mantap menuruni tangga Hacienda. Di saku dalam jaket, tepat di atas jantungku, foto polaroid Ghea terasa seperti bara api yang membakar kulit. Marko pikir ia telah menemukanku di titik terlemah. Ia salah. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal yang dilakukan setiap tiran, ia memberikan alasan bagi seorang pria yang tidak takut mati untuk menjadi iblis.

Saat aku masuk ke dalam SUVku dan mulai melaju keluar dari gerbang, aku melihat pantulan diriku sendiri di spion. Yang aku lihat adalah seorang pria yang baru saja kehilangan segalanya kecuali satu hal, tujuannya.

Aku memacu SUV menembus debu Jalisco yang mulai memerah tertelan senja. Pikiranku terbelah antara kehangatan Kedai Raos di Tora-Tora dan dinginnya salju Moskow yang sudah menanti.

'Marko pikir dia telah mengikatku dengan rantai ketakutan. Dia salah. Dia justru telah membebaskanku dari rasa ragu. Di Moskow nanti, aku tidak akan hanya mencari Dimitri. Aku akan mencari kunci untuk menghancurkan seluruh kerajaan Marko. Jika aku harus menjadi iblis untuk melindungi malaikatku di rumah, maka biarlah Moskow menjadi tempat di mana aku menanggalkan sisa kemanusiaanku.' kataku dalam hati.

Aku memacu kendaraanku menembus debu Jalisco yang mulai menggelap, menuju cakrawala yang menjanjikan salju, darah, dan pembalasan dendam. Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Perang dimana aku tak bisa berlari untuk kembali, perang dimana aku harus menang, untukku dan juga.. Cintaku.

1
Suris
hehehe.. ketemu ghea dong...
Iris Aiza: ikuti terus Kak 😍
total 1 replies
Wawan
Taburan mawar dan iklan buat Ghea 💪✍️
Iris Aiza: Terima kasih Kak 🙏🙏😇😇
total 1 replies
Suris
Novel spionase dan petualangan yg palung bagus yg pernah sy baca di NT.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/
Iris Aiza: Semoga Kakak suka dengan perjalanan Ghani dan Ghea sampai akhir 🙏🙏🙏😊😇
total 2 replies
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!