Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jam menunjukkan pukul sebelas siang saat Annisa berjalan pulang dari pasar.
Di tangan kanannya terdapat kantong belanja berisi bahan makanan seadanya. Langkahnya pelan karena jarak pasar ke rumah cukup jauh, sementara matahari mulai terasa panas di atas kepala. Uang dua puluh ribu dari Lasmi jelas tidak cukup.
Akhirnya, Annisa harus memutar otak membeli bahan paling murah agar tetap bisa memasak ayam gulai seperti permintaan ibu mertuanya.
Saat sedang berjalan di pinggir jalan, tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah melintas perlahan di depannya.
Langkah Annisa langsung terhenti, mobil itu sangat dikenalnya. Mobil keluarga Erlangga. Matanya langsung menatap ke arah kursi depan, dan benar saja Satrio sedang mengemudi. Asisten kepercayaan ayahnya, jantung Annisa mendadak berdegup cepat.
Kalau ada Satrio, berarti ayahnya pasti ada di dalam mobil itu. Rasa rindu yang selama ini mati-matian dia tahan mendadak menyeruak begitu kuat hingga membuat dadanya sesak. Tanpa sadar Annisa melangkah maju sedikit, ingin menyebrang jalan.
Ingin memanggil, ingin melihat ayahnya walau hanya sebentar. Namun, jalanan siang itu ramai oleh kendaraan yang terus melintas tanpa henti. Mobil hitam itu pun berjalan perlahan semakin jauh.
Air matanya langsung jatuh. Dirinya hanya bisa berdiri mematung di tepi jalan sambil memandang punggung mobil tersebut menjauh. Lima tahun, sudah lima tahun dirinya meninggalkan rumah demi Haikal. Dan selama itu pula Annisa tidak pernah benar-benar bertemu ayahnya lagi.
Padahal dulu Darto Erlangga adalah pria yang paling memanjakannya di dunia ini. Annisa menggigit bibir menahan tangis. Tangannya menggenggam erat kantong belanja murah yang bahkan membuat telapak tangannya memerah.
Sementara, mobil mewah milik ayahnya perlahan hilang di ujung jalan. Meninggalkan Annisa yang kembali sadar bahwa dirinya benar-benar sendirian sekarang.
Saat langkah Annisa akhirnya tiba di halaman rumah, tubuhnya terasa begitu lelah. Tangannya pegal karena membawa belanjaan, sementara keringat membasahi pelipisnya akibat berjalan cukup jauh dari pasar.
Annisa menghela napas pelan sebelum membuka pintu rumah. Tetapi, begitu masuk dirinya langsung terdiam. Ruang tamu dipenuhi banyak bingkisan mewah.
Kotak buah impor, makanan mahal, parcel besar, hingga beberapa kotak perhiasan berjejer rapi di atas meja. Bahkan, aroma cokelat premium memenuhi ruangan itu.
Lasmi yang duduk di sofa tampak tersenyum lebar penuh kebanggaan.
“Nah itu dia!” serunya saat melihat Annisa masuk. “Cepat bantu Ibu buka bingkisannya!”
Annisa masih memandang bingkisan-bingkisan itu bingung. Matanya lalu menangkap sebuah logo perusahaan yang sangat dikenalnya. Perusahaan Erlangga Group.
Jantung Annisa langsung berdegup cepat. Itu perusahaan ayahnya, tatapannya mendadak berubah rumit. Ayahnya, benar-benar kembali ke Indonesia.
Sementara, Lasmi dengan wajah sumringah langsung berkata penuh kebanggaan,
“Perusahaan tempat Haikal kerja memang luar biasa!” katanya sambil membelai salah satu kotak hadiah. “Mereka sampai kirim bingkisan sebanyak ini karena Haikal naik jabatan.”
Annisa menunduk pelan, tenggorokannya terasa tercekat.
Di antara banyak bingkisan itu, Annisa melihat beberapa makanan favoritnya sejak kecil.
Kue kacang kesukaannya. Teh melati impor yang biasa diminumnya bersama ayahnya dulu. Bahkan, ada camilan manis yang hampir tidak pernah dijual di kota itu.
Air mata Annisa hampir jatuh saat itu juga. Ayahnya pasti yang mengirim semua ini. Namun, Lasmi justru terus membanggakan anaknya tanpa tahu apa-apa.
“Anak saya memang hebat,” katanya sombong. “Baru jadi manajer saja sudah diperlakukan spesial begini.”
Annisa menggenggam erat kantong belanja di tangannya. Dadanya terasa hangat sekaligus sakit dalam waktu bersamaan. Bahkan, setelah dirinya pergi dan memilih hidup susah Ayahnya ternyata masih diam-diam memperhatikannya.
“Hei, malah bengong!” Suara Lasmi membuat Annisa tersentak dari lamunannya.
Wanita tua itu menunjuk tumpukan bingkisan di meja dengan wajah penuh perintah.
“Cepat bawa semua ini ke dapur terus simpan di kulkas!”
Annisa mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Baru saja ia hendak mengangkat salah satu kotak buah, Lasmi kembali berkata tajam,
“Dan ingat! Kamu nggak boleh makan sembarangan!”
Langkah Annisa terhenti.
“Itu semua buat Ibu sama Haikal,” lanjut Lasmi tanpa rasa bersalah. “Jangan mentang-mentang kamu yang beresin terus seenaknya nyicip.”
Annisa menunduk pelan.
“Iya, Bu.”
Padahal di antara semua makanan itu ada banyak makanan favoritnya sendiri.
Namun, dirinya sadar, di rumah itu dia memang tak pernah punya hak atas apa pun. Lasmi lalu melirik kantong belanja yang dibawa Annisa.
“Kamu jadi beli ayam?”
Annisa mengangguk kecil. “Dapat, Bu … tapi cuma empat potong.”
Lasmi langsung mendecak.
“Ya sudah.” Wanita itu duduk santai kembali di sofa. “Itu buat ibu sama Haikal saja.”
Annisa terdiam.
“Ibu … terus aku makan apa?”
Lasmi malah memandangnya sinis.
“Masih bisa makan nasi sama kerupuk kan?”
Jawaban itu membuat hati Annisa terasa nyeri. Belum sempat dirinya berkata apa-apa lagi, Lasmi kembali memerintah seenaknya.
“Sekarang masak semur ayam. Jangan lama-lama.”
Annisa menggenggam erat kantong plastik di tangannya. Tubuhnya lelah, perutnya juga belum terisi sejak pagi. Namun, di rumah itu, rasa lapar dan lelahnya seolah tidak pernah dianggap ada.
“Iya, Bu…” jawabnya lirih sebelum berjalan menuju dapur.
Annisa memasak makanan enak untuk orang lain, sementara dirinya sendiri bahkan tidak tahu nanti akan makan apa.