Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
Malam itu, Aula Besar Nirwana diselimuti kemegahan yang terasa menyesakkan. Ratusan lilin aromaterapi dinyalakan di sepanjang dinding marmer, memancarkan cahaya temaram yang memantul pada piring-piring emas dan sendok perak keluarga kerajaan. Musik kecapi klasik mengalun lambat, mencoba mencairkan ketegangan yang justru semakin pekat di udara.
Ibu Suri Beatrice duduk di kursi kehormatannya yang dilapisi beludru ungu. Di sebelahnya, Selir Rose tampak sangat anggun dengan gaun sutra berwarna merah muda, meskipun sesekali matanya melirik ke arah pintu dengan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
"Bang... ini baju kenapa ketat bener sih? Dada gue berasa kayak lagi diteken ban tronton," bisik Alesia sambil merapikan gaun upacara kebesarannya yang berwarna hitam dengan sulaman benang emas. Rambutnya disanggul tinggi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya.
Magnus, yang duduk di singgasana tepat di samping Alesia, melirik istrinya dengan senyum tipis yang disembunyikan di balik cangkir tehnya. "Itu gaun formal permaisuri, Alessia. Tahanlah sedikit. Ini adalah perjamuan keluarga pertama setelah kekacauan di pesta perburuan kemarin. Aku ingin kau menunjukkan wibawamu."
"Wibawa sih gampang, Bang. Tapi kalau napas aja susah, yang ada gue pingsan estetik di tengah jalan," gerutu Alesia pelan. Namun, ketika ia melihat Ibu Suri Beatrice menatapnya dari seberang meja meja panjang, Alesia langsung menegakkan punggungnya. Ia melempar senyum lebar yang terlihat sangat ramah—tapi sangat memprovokasi.
Ibu Suri Beatrice berdehem kencang, membuat suara kecapi mendadak berhenti. Seluruh anggota keluarga besar kerajaan dan para menteri yang hadir langsung menghentikan obrolan mereka.
"Magnus, Permaisuri Alessia," suara Ibu Suri bergema dengan nada anggun namun dingin. "Perjamuan malam ini diadakan untuk merayakan keselamatan kalian berdua setelah tragedi di tebing hutan kemarin. Sungguh sebuah mukjizat bahwa Permaisuri kita yang... tangguh ini, bisa menyelamatkan Selir Rose tanpa terluka parah."
Selir Rose segera menundukkan kepala, pura-pura menyeka sudut matanya yang kering. "Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan hati Permaisuri. Keberanian permaisuri benar-benar tidak tertandingi."
Alesia nyengir lebar. "Ah, biasa aja, Mba Mawar. Lain kali kalau mau main di tepi tebing, pake sandal jepit aja biar kaga licin. Sayang kan kalau gaun mahalnya robek lagi."
Wajah Rose sempat menegang sesaat sebelum ia kembali tersenyum kaku.
Ibu Suri Beatrice kembali berbicara, mengabaikan celetukan Alesia. "Untuk membersihkan segala kesalahpahaman dan mempererat kembali tali persaudaraan di antara kita, aku telah meminta pelayan pribadiku untuk menyiapkan Anggur Persaudaraan."
Seorang pelayan tua dengan pakaian serba hitam melangkah maju. Di atas nampan perak yang dibawanya, terdapat sebuah teko kristal besar berisi cairan merah pekat yang berkilau di bawah cahaya lilin, ditemani oleh dua cangkir perak murni.
"Anggur ini dibuat dari nektar bunga langka di puncak Gunung Orizon," jelas Ibu Suri dengan senyum yang terlihat sangat tulus. "Hanya disajikan pada momen-momen perdamaian agung. Minumlah, Alessia, sebagai simbol bahwa kau telah melupakan masa lalu dan menerima Rose serta seluruh keluarga kerajaan dengan hati terbuka."
Magnus mengernyitkan dahi. Tangannya yang berada di bawah meja perlahan menggenggam jemari Alesia yang masih terbalut sedikit perban. Magnus tahu betul tabiat ibunya. Ibu Suri tidak akan pernah menyajikan perdamaian tanpa ada duri di dalamnya.
"Ibu," sela Magnus dengan suara berat. "Alessia belum sepenuhnya pulih dari luka di tangannya. Tabib menyarankan agar ia tidak mengonsumsi alkohol untuk sementara waktu."
"Oh, ini bukan alkohol keras, Putraku," bantah Ibu Suri cepat dengan nada terluka yang dibuat-buat. "Ini hanyalah sari buah fermentasi ringan yang justru berkhasiat untuk menyegarkan aliran darah. Apakah Permaisuri begitu membenci kami hingga menolak segelas minuman perdamaian?"
Semua mata kini tertuju pada Alesia. Keheningan di aula itu terasa begitu mencekam hingga suara detak jarum jam dinding pun terdengar.
Pelayan tua itu menuangkan anggur merah tersebut ke dalam cangkir perak di depan Alesia. Cairan itu mengalir dengan lambat, kental, dan memancarkan aroma manis buah beri yang sangat kuat.
Alesia menatap cangkir perak itu. Sebagai anak jawara yang sejak kecil dicekoki ramuan jamu tradisional dan diajarkan cara membedakan tanaman obat oleh Abahnya di Depok, indra penciuman Alesia bukanlah indra penciuman biasa. Abahnya selalu bilang: “Siti, racun yang paling berbahaya itu biasanya disembunyiin di balik bau yang paling wangi. Lu kudu pake hidung lu, bukan cum ona mata lu.”
Alesia mendekatkan wajahnya ke cangkir, berpura-pura mengagumi keindahan ukiran cangkir tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya, menyaring aroma anggur itu di dalam kepalanya.
Wangi buah beri... wangi kayu manis... wangi cengkeh... Alesia menganalisis satu per satu.
Namun, tepat di balik aroma manis buah yang pekat itu, ada satu aroma tipis yang sangat asing bagi orang awam, tapi sangat akrab bagi Alesia. Aroma itu dingin, sedikit tajam seperti bau besi basah, dan memiliki aroma semacam biji almond pahit yang sangat samar.
Buset... ini mah bukan nektar bunga gunung! batin Alesia berteriak. Ini bau ekstrak tanaman Akar Saraf! Di tempat gue namanya racun timbal dicampur getah kecubung buntet! Kalau gue minum ini, setengah jam kemudian saraf leher gue bakal lumpuh, lidah gue bakal kaku, dan gue bakal mati muda kayak orang kena struk mendadak!
Seketika, seringai tipis muncul di sudut bibir Alesia. Ia meletakkan kembali cangkir perak itu ke meja dengan bunyi dentang yang cukup keras.
"Kenapa, Alessia? Apa kau tidak menyukai aromanya?" tanya Ibu Suri dengan mata yang menyipit tajam.
"Aromanya sih wangi bener, Ibu Suri yang cantik jelita," jawab Alesia santai sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. "Tapi ya itu... hidung gue ini kan sensitif banget ya. Di kampung gue dulu, kalau ada tikus mati di loteng tetangga tiga rumah dari tempat gue aja, gue udah bisa nyium baunya."
"Apa hubungannya tikus mati dengan anggur suci ini?!" bentak salah satu menteri dari fraksi Ibu Suri yang merasa tersinggung.
"Tenang dong, Pak Menteri. Jangan emosi, ntar tensinya naik," Alesia melambaikan tangannya. Ia kemudian menatap pelayan tua yang menyajikan anggur tersebut. Pelayan itu tampak berdiri sangat tegak, namun sudut matanya sesekali berkedut panik.
"Mba Pelayan," panggil Alesia manis. "Anggur ini katanya berkhasiat buat nyegerin aliran darah kan ya?"
"Ben-benar, Yang Mulia Permaisuri," jawab pelayan itu dengan suara sedikit bergetar.
"Nah, kalau gitu... karena gue ini orangnya suka berbagi kebaikan, gimana kalau gelas pertama ini gue kasih buat Selir Rose aja? Kan kasihan kemarin habis jatuh dari tebing pasti aliran darahnya tersumbat tuh," ucap Alesia sambil menggeser cangkir peraknya ke arah Rose.
Wajah Selir Rose seketika berubah menjadi seputih kertas. Ia menatap cangkir itu seolah-olah itu adalah ular kobra yang siap mematoknya. "Yang Mulia... hamba... hamba tidak pantas menerima kehormatan ini terlebih dahulu. Anggur ini khusus disediakan untuk Anda..."
"Dih, pake nolak segala. Sama kakak madu sendiri kaga boleh sungkan tahu!" Alesia berdiri dari kursinya. Ia mengambil cangkir perak itu, berjalan memutari meja panjang, dan berdiri tepat di belakang Rose. Ia mendekatkan cangkir itu ke bibir Rose yang gemetaran.
"Ayo, Mba Mawar. Minum dikit aja. Biar pipinya merona lagi, kaga pucat kayak mayat begini," desis Alesia dengan nada bicara yang sangat ramah namun penuh ancaman tersembunyi.
"Cukup, Alessia!" Ibu Suri Beatrice berdiri dari kursinya, tangannya menggebrak meja emas hingga beberapa cangkir terguling. "Kau benar-benar tidak tahu sopan santun! Berani sekali kau memaksa Selir Agung meminum bagianmu!"
Magnus ikut berdiri, tubuh tingginya langsung menghalangi pandangan Ibu Suri ke arah Alesia. "Ibu, kenapa Ibu tampak sangat panik? Jika anggur itu memang sehat dan tidak berbahaya, kenapa Rose tampak begitu ketakutan untuk meminumnya?"
"Magnus! Kau meragukan ibumu sendiri?!" pekik Ibu Suri dengan wajah merah padam.
"Gue kaga meragukan Ibu Suri kok," sela Alesia sambil meletakkan cangkir itu kembali ke meja di depan Rose. Ia kemudian menoleh ke arah pelayan tua yang masih berdiri gemetaran. "Tapi kalau emang semua orang kaga mau minum... gimana kalau Mba Pelayan yang bikin anggur ini aja yang minum? Lumayan kan, dapet anggur mahal gratis."
Pelayan tua itu langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, bersujud dengan tubuh gemetar hebat. "Ampun, Yang Mulia! Ampun! Hamba hanya menjalankan perintah! Hamba tidak tahu apa-apa!"
Melihat reaksi pelayan itu, seluruh menteri dan anggota keluarga kerajaan langsung tersentak. Mereka tidak bodoh. Pengakuan pelayan itu adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan anggur tersebut.
Magnus menatap pelayan itu dengan mata yang berkilat marah. "Alaric! Amankan pelayan ini dan bawa teko anggur itu ke laboratorium tabib pribadiku sekarang juga! Jika ditemukan racun di dalamnya... siapa pun yang terlibat akan dihukum gantung tanpa pengecualian!"
"Baik, Yang Mulia!" Jenderal Alaric segera maju bersama dua pengawal, menyeret pelayan tua yang menangis histeris itu keluar dari aula.
Alesia kembali ke tempat duduknya, dengan santai mengambil sebutir buah anggur segar dari piring buah lalu memakannya. "Nah, gitu dong. Hidup itu harus penuh kejujuran, Bang. Lagian ya, Ibu Suri... lain kali kalau mau racunin gue, jangan pake ekstrak Akar Saraf. Baunya terlalu murah bagi hidung anak Depok."
Ibu Suri Beatrice hanya bisa mengepalkan tangannya di balik jubahnya, sementara Selir Rose tampak lemas dan hampir jatuh dari kursinya karena ketakutan. Rencana "Perjamuan Berdarah" mereka hancur berantakan hanya dalam hitungan menit, semua karena hidung "ajaib" sang Permaisuri yang barbar.
Magnus kembali duduk di samping Alesia. Di bawah meja, ia menggenggam erat tangan Alesia, kali ini dengan tatapan yang penuh dengan rasa kagum yang luar biasa. "Kau... benar-benar luar biasa, Alessia."
Alesia nyengir lebar ke arah Magnus. "Makanya, Bang. Jangan remehin hidung tukang makan kayak gue. Sekarang, karena acaranya udah bubar... kita cari nasi goreng aja yuk di paviliun? Laper nih gue!"
Magnus tertawa pelan, sebuah tawa hangat yang terdengar begitu kontras di tengah aula yang dingin itu. "Apapun yang kau inginkan, Permaisuriku."
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii