Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mata Bayu perlahan terbuka. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Sebuah kelegaan yang luar biasa besar menghantam dadanya. Ketegangan yang selama ini membuat lehernya kaku perlahan mengendur.
"Aku satu-satunya," batin Bayu. Sudut bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyum yang sangat lebar. "Hanya aku satu-satunya di bumi ini."
Peringatan sistem tentang aura ancaman beberapa hari lalu saat Anton lewat di depan warung hanyalah fitur radar otomatis dari sistem untuk memperingatkan penggunanya jika ada niat membunuh atau agresi fisik di sekitarnya. Bukan peringatan kehadiran pengguna sistem lain.
Fakta ini mengubah segalanya.
Bayu kini menyadari posisinya. Ia tidak perlu bersembunyi dari pertarungan antarpengguna gaib. Musuhnya murni adalah manusia biasa. Konglomerat, mafia, lintah darat, politisi korup. Sekuat apa pun mereka, sebanyak apa pun pasukan preman yang mereka miliki, pada akhirnya mereka tetap terikat pada hukum alam dan fisika.
Sementara Bayu? Ia memegang kunci untuk melanggar hukum alam itu sendiri kapan pun ia mau, selama ia memiliki uang. Ia memegang keunggulan mutlak.
Prang.
Suara pecahan kaca yang sangat keras mengejutkan Bayu dari lamunannya.
Ia langsung berdiri dari kursinya. Di area pintu masuk kafe, antrean pelanggan yang tadinya tertib kini bubar berantakan. Para pekerja kantoran itu mundur ketakutan, menempel ke dinding.
Di tengah ruangan, berdiri empat orang pria dengan wajah garang. Tiga di antaranya mengenakan kaus kutang hitam dengan tato memenuhi lengan, memegang tongkat pemukul kasti dari besi. Salah satu dari mereka baru saja menghantamkan tongkat besi itu ke etalase kaca tempat memajang kue basah di samping meja kasir, membuatnya hancur berkeping-keping.
Tari menjerit tertahan dan refleks mundur melindungi mesin kasir. Pak Slamet yang sedang menyajikan kopi langsung gemetar hebat hingga nampan di tangannya jatuh ke lantai.
"Selamat pagi, semuanya," suara serak dan berat itu berasal dari pria keempat yang berdiri paling depan. Pria berkepala plontos dengan jaket kulit hitam ketat. Tato kalajengking terlihat jelas di lehernya.
Itu adalah Anton Bison.
"Maaf mengganggu jam ngopi kalian yang mewah ini," kata Anton sambil menyeringai, memperlihatkan giginya yang menguning. Ia berjalan dengan santai mendekati meja bar, mengabaikan serpihan kaca yang berderak di bawah sepatu botnya. "Saya dengar ada tempat baru buka di wilayah kekuasaan saya. Tapi seingat saya, bos saya belum menerima uang pajak keamanan untuk bulan ini."
Pak Slamet berjalan maju dengan langkah gemetar, mencoba berdiri di antara Anton dan Tari.
"Nak Anton... warung ini baru buka hari ini. Kami belum ada pemasukan yang cukup. Tolong jangan bikin ribut di sini, kasihan pelanggan kami," mohon Pak Slamet dengan nada bergetar.
Anton menatap Pak Slamet dengan tatapan meremehkan. Ia mengangkat tangan kanannya dan mendorong bahu pria tua itu.
Bruk.
Dorongan itu terlihat pelan, namun tenaga Anton yang luar biasa membuat Pak Slamet terhuyung ke belakang dan jatuh menghantam kursi pelanggan.
"Bapak!" teriak Tari marah. Ia mengambil botol sirup kaca dari meja dan bersiap melemparnya ke arah Anton.
"Jangan bertingkah, Nona. Atau wajah cantikmu itu bakal gue ratain pakai tongkat besi ini," ancam salah satu anak buah Anton sambil mengangkat pemukul kastinya ke arah Tari.
"Gue nggak peduli warung lo baru buka atau udah lama, Slamet," kata Anton dingin. "Lo punya utang sama bos gue, dan tanah ini udah jadi incaran bos gue dari tahun lalu. Karena lo sekarang kelihatan punya banyak duit buat bangun tempat mewah begini, pajak lo naik. Lima puluh juta sekarang juga, tunai. Atau tempat ini gue hancurin sampai rata sama tanah hari ini juga."
Para pelanggan mulai berbisik panik. Beberapa dari mereka diam-diam mencoba merekam menggunakan ponsel.
"Kalian mau ngerekam? Silakan lapor polisi. Bos gue kenal semua perwira di polsek daerah sini. Paling besok gue udah keluar lagi buat bakar rumah kalian satu-satu," ancam Anton dengan tawa menggelegar, membuat para pelanggan langsung memasukkan ponsel mereka kembali karena takut.
Anton kembali menatap Pak Slamet yang masih kesakitan di lantai.
"Gimana, Slamet? Mana bos baru lo yang sok kaya itu? Suruh dia keluar dan bayar, atau gue mulai dari menghancurkan mesin kopi mahal ini dulu."
Anton mengangkat kaki kanannya yang besar, bersiap menendang meja bar kayu jati tersebut.
Brak.
Sebuah tangan mencengkeram bahu Anton dari belakang. Cengkeraman itu tidak terlihat kuat, namun mampu menghentikan gerakan Anton sepenuhnya.
Anton menoleh dengan kasar, bersiap mengayunkan tinjunya. Namun tinjunya tertahan di udara saat ia melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
Seorang pemuda berkaus hitam polos menatapnya dengan pandangan yang sangat tenang dan dingin, seolah ia sedang menatap sampah di pinggir jalan.
"Gue bos barunya," kata Bayu pelan. Suaranya tidak tinggi, tapi cukup jelas terdengar di seluruh ruangan yang mendadak hening itu.
Tari menatap Bayu dengan panik. "Bayu, jangan nekat! Mereka preman beneran dan bawa senjata!"