Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis yang Mulai Kabur
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela besar apartemen Arkan terasa lebih terang dari biasanya. Arkan terbangun lebih dulu dan menemukan Sia masih tertidur meringkuk di sofa dengan selimut yang hampir merosot ke lantai. Wajah Sia saat tidur terlihat sangat damai, jauh dari sosok sekretaris cerewet yang hobi memprotes diksi novelnya.
Arkan berdeham pelan, mencoba mengusir bayangan ciuman intens semalam yang terus berputar di kepalanya. Ia segera menuju dapur untuk menyeduh kopi, berusaha kembali ke mode "CEO Dewangga" yang disiplin. Namun, setiap kali ia melirik ke arah sofa, konsentrasinya buyar.
"Eungh..." Sia menggeliat, perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit apartemen yang asing, sampai akhirnya matanya bertemu dengan Arkan yang sedang memegang cangkir kopi.
Kesadaran Sia pulih seketika. Ia langsung duduk tegak, merapikan rambutnya yang berantakan dengan panik. "Aduh, jam berapa ini, Pak? Saya telat ya? Maaf, sofanya terlalu nyaman!"
Arkan tersenyum tipis. "Masih jam enam lewat sedikit, Sia. Santai saja. Kita tidak ada jadwal rapat sampai jam sepuluh."
Sia mengembuskan napas lega, tapi kemudian keheningan canggung menyelimuti mereka. Bayangan "riset" semalam mendadak memenuhi ruangan. Sia berdeham, mencoba mencari topik profesional. "Ehem... jadi, gimana Bab 16-nya? Sudah selesai?"
Arkan mengambil tabletnya dan menyerahkannya pada Sia. "Coba kamu baca. Saya menyelesaikannya setelah kamu ketiduran semalam."
Sia mulai membaca. Kali ini, tidak ada lagi istilah teknis. Arkan menuliskan setiap detak jantung dan sentuhan dengan sangat jujur. Kata-katanya mengalir begitu intim, seolah Sia bisa merasakan kembali panasnya ciuman semalam di setiap baris kalimatnya.
Sia terdiam lama setelah selesai membaca. Pipinya perlahan merona merah. "Pak... ini gila. Ini draf terbaik yang pernah Bapak tulis. Pembaca Nightshade pasti bakal jantungan baca ini."
Arkan merasa bangga. "Berarti risetnya berhasil, kan?"
"Berhasil banget, Pak. Malah saya rasa Bapak sudah nggak butuh konsultan lagi," jawab Sia sambil tertawa kecil, meskipun ada sedikit rasa aneh di hatinya saat mengatakan itu.
Arkan mendekat, berdiri tepat di depan Sia. "Siapa bilang? Ini baru Bab 16. Masih banyak bab lagi sampai novel ini selesai. Dan saya rasa, Bima masih butuh banyak belajar dari Raya."
Di kantor, Arkan berusaha keras menjaga wajah datarnya. Namun, menjaga profesionalitas ternyata jauh lebih sulit setelah apa yang terjadi semalam. Pukul sebelas siang, Gibran masuk ke ruangan Arkan dengan gaya tegapnya untuk membahas progres kerja sama dengan vendor.
"Ini data yang lo minta kemarin, Kan. Semua vendor sudah setuju dengan termin pembayaran kita," ujar Gibran sambil meletakkan map di meja.
Arkan memeriksa dokumen itu dengan serius, namun Gibran justru memperhatikannya dengan tatapan menyelidik. Gibran menyipitkan mata, meneliti wajah sahabatnya dari jarak dekat.
"Kenapa, Gibran? Ada yang salah dengan datanya?" tanya Arkan tanpa mendongak.
"Bukan datanya. Tapi muka lo," Gibran terkekeh sambil menyilangkan tangan di dada. "Muka lo seger banget hari ini. Beda sama kemarin yang kusut kayak kertas gorengan. Terus itu... bibir lo kenapa ada luka sedikit? Lo sariawan?"
Arkan refleks menyentuh bibirnya. "Iya. Kurang vitamin C."
Gibran tertawa pendek, suaranya memenuhi ruangan. "Sariawan di situ? Hati-hati, nanti orang-orang kantor salah paham kalau lo habis diculik cewek seksi."
Tepat saat itu, Sia masuk membawa baki berisi air mineral. Ia mendengar kalimat terakhir Gibran dan hampir saja menjatuhkan gelasnya. Arkan dan Sia sempat bersitatap selama satu detik yang terasa sangat lama, sebelum Sia buru-buru menunduk dan meletakkan gelas dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Terima kasih, Saffiya," ucap Arkan dengan nada seformal mungkin.
"Sama-sama, Pak," jawab Sia singkat, lalu segera keluar dari ruangan tanpa berani menoleh lagi.
Gibran memperhatikan Sia yang pergi dengan terburu-buru, lalu kembali menatap Arkan dengan senyum penuh arti. "Sekretaris lo juga aneh hari ini. Biasanya dia paling jago nyaut kalau gue bercanda, ini tadi malah diem seribu bahasa. Kalian lagi berantem?"
"Kami hanya sedang fokus pada banyak laporan yang harus diselesaikan, Gibran. Tidak semua orang punya waktu untuk bercanda seperti lo," sahut Arkan datar, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oke, oke. Galak banget Bos kita satu ini," Gibran berdiri dan menepuk bahu Arkan. "Gue balik ke ruangan dulu. Jangan lupa minum vitamin C-nya, biar 'sariawan' lo itu nggak makin parah."
Setelah Gibran pergi, Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap pintu ruangannya yang tertutup. Garis antara profesionalitas dan perasaan pribadinya benar-benar mulai kabur. Ia menulis tentang Bima yang mulai tergantung pada Raya, tapi di dunia nyata, Arkan-lah yang mulai tidak bisa melewati hari tanpa gangguan manis dari Sia.
Pukul lima sore, Sia masuk ke ruangan Arkan untuk menyerahkan jadwal pertemuan besok pagi. Kantor sudah mulai sepi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan. Saat Sia hendak memutar kenop pintu untuk keluar, suara berat Arkan menghentikannya.
"Sia, tunggu sebentar."
Sia berbalik, menemukan Arkan masih menatap layar monitornya dengan kening berkerut. "Ya, Pak?"
"Bukan soal jadwal. Ini soal draf Bab 17," Arkan berdiri, lalu berjalan mendekati Sia. Ia berhenti dalam jarak yang cukup dekat—jarak yang menurut standar karyawan dan atasan mungkin sudah melewati batas, tapi Arkan tampak tidak sadar. "Ada satu transisi emosi yang membuat saya bimbang. Bima mulai merasa kalau interaksinya dengan Raya terasa... terlalu nyata. Dia mulai kesulitan membedakan mana yang tuntutan situasi dan mana yang bukan."
Sia mengangkat alisnya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu. "Maksud Bapak, Bima mulai baper?"
Arkan terdiam sejenak, menimbang istilah "baper" yang menurutnya terlalu tidak ilmiah. "Bukan baper. Lebih ke... kehilangan objektivitas sebagai karakter. Dia mulai merasa butuh kehadiran Raya lebih dari sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Menurut kamu, apakah transisi ini masuk akal? Atau pembaca akan merasa Bima terlalu lemah karena terbawa suasana?"
Sia menatap Arkan. Mata pria itu sangat fokus, benar-benar terlihat seperti seorang penulis yang sedang membedah konflik, bukan pria yang sedang menyatakan perasaan.
"Pak, dalam novel spicy, justru momen 'kehilangan kendali' itu yang dicari pembaca," jawab Sia pelan, berusaha menjaga suaranya tetap profesional. "Bima nggak lemah kalau dia mulai terbiasa sama kehadiran Raya. Itu namanya manusiawi. Selama Bapak bisa nulis kalau itu semua demi 'tujuan akhir' mereka, pembaca bakal tetap suka."
Arkan mengangguk pelan, jemarinya tanpa sadar mengetuk meja di samping Sia. "Tujuan akhir... ya, benar. Semuanya harus memiliki tujuan yang jelas untuk plotnya."
Arkan menatap Sia cukup lama, seolah sedang mempelajari ekspresi wajah asistennya itu untuk dimasukkan ke dalam deskripsi bab selanjutnya. Ada ketegangan yang menggantung di udara, jenis ketegangan yang membuat ruangan itu terasa lebih sempit dari aslinya, namun tak satu pun dari mereka yang mau mengakuinya sebagai sesuatu selain "riset".
"Kalau begitu, saya butuh kamu tetap di posisi ini," ucap Arkan datar, namun tatapannya tidak lepas dari Sia. "Maksud saya, tetap sebagai asisten riset saya. Jangan biarkan objektivitas saya hilang sepenuhnya. Saya butuh kamu untuk terus memancing emosi itu keluar supaya draf Bab 17 tidak kembali jadi kaku."
Sia tersenyum tipis, meski ada sedikit rasa aneh yang mencubit hatinya karena Arkan benar-benar menganggap ini semua hanya demi tulisan. "Tentu, Pak. Selama bayarannya cocok dan risetnya nggak bikin saya jantungan."
Arkan kembali ke meja kerjanya, seolah sihir yang sempat membuat ruangan itu terasa panas tadi menguap begitu saja. "Bayarannya adalah kemajuan karier kamu dan... martabak dua kotak malam ini. Saya butuh asupan gula untuk menulis adegan yang lebih intens nanti malam."
"Dua kotak? Siap, Pak Penulis!" seru Sia sambil melangkah keluar dengan perasaan campur aduk.
Di lantai 42 yang sunyi, Arkan kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia memijat pangkal hidungnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa berdebar di dadanya barusan hanyalah efek sisa adrenalin karena terlalu mendalami karakter Bima. Ya, pasti karena itu. Arkan sang CEO tetap harus logis, meski di dalam kepalanya, karakter Nightshade mulai menuntut sesuatu yang jauh lebih nyata.