Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Razia Dadakan dan Taktik Pembalut Wanita
Angin sepoi-sepoi yang masuk dari ventilasi kelas XII IPA 1 siang itu sukses membuat mayoritas murid mengantuk. Suara deru kipas angin di langit-langit yang berputar malas seolah menjadi lagu pengantar tidur yang sempurna, mengiringi suara monoton Bu Ningsih yang sedang menjelaskan sejarah Perang Dunia. Di bangku baris kedua, Rama Arsya Anta duduk dengan postur tegap andalannya. Di mata Bu Ningsih, Rama terlihat sangat fokus, matanya tak lepas dari papan tulis, dan tangannya sesekali mencatat.
Namun kenyataannya, otak Rama sedang traveling ke dimensi lain. Catatan di bukunya hanyalah coretan abstrak tak bermakna.
Fokus cowok itu hancur berantakan sejak insiden di gazebo taman belakang pagi tadi. Sentuhan lembut tangan Nayla saat mengoleskan salep di sudut bibirnya yang robek seolah meninggalkan jejak tak kasat mata yang terus berdenyut. Bahkan, aroma stroberi yang manis dari gadis itu rasanya masih menempel di ujung hidung Rama. Mengingat bagaimana Nayla merawatnya tanpa melontarkan ceramah panjang lebar soal masa depan—seperti yang selalu dilakukan orang tuanya—sukses membuat pertahanan es di hati sang bos geng The Ghost itu meleleh pelan-pelan.
"Woy, Ram," bisik Dika dari bangku sebelah, menyenggol siku Rama. "Lo kesambet jin penunggu UKS ya? Dari tadi gue perhatiin lo senyum-senyum sendiri natep papan tulis. Padahal Bu Ningsih lagi bahas korban perang."
Rama terkesiap, buru-buru membetulkan letak kacamatanya dan menetralkan ekspresi wajahnya menjadi datar kembali. "Ngaco lo. Gue lagi... mengagumi strategi perangnya."
Dika mencibir tak percaya, tapi sebelum dia sempat membalas, pintu kelas tiba-tiba digedor dari luar dengan cukup keras. Suara engsel pintu yang berderit nyaring membuat seluruh murid yang tadinya setengah teler langsung duduk tegak dengan mata terbelalak.
Bu Ningsih menghentikan penjelasannya. Dari ambang pintu, muncullah Pak Trisno, guru Bimbingan Konseling yang terkenal memiliki kumis setebal sikat ijuk dan tatapan mata setajam elang. Di belakangnya, mengekor tiga orang anggota OSIS dari seksi keamanan dengan wajah sok garang, salah satunya adalah Raka. Raka ini sudah lama menjadi saingan terselubung Rama dalam perebutan gelar siswa teladan, meski ujung-ujungnya Raka selalu berakhir di bayang-bayang Rama.
"Selamat siang, Bu Ningsih. Maaf mengganggu jam pelajarannya," ucap Pak Trisno dengan suara baritonnya yang menggelegar. "Kami dari tim kedisiplinan akan mengadakan razia dadakan. Tolong semua siswa letakkan tangan di atas meja! Keluarkan semua isi tas dan taruh di meja masing-masing. Sekarang!"
Kepanikan instan langsung melanda seisi kelas. Bunyi ritsleting tas yang dibuka dengan tergesa-gesa bersahut-sahutan. Beberapa anak cewek yang diam-diam membawa lip tint dan cermin kecil mulai kelabakan menyembunyikan barang haram itu ke kolong meja. Anak-anak cowok yang ketahuan membawa rokok elektrik atau bungkus kuaci langsung pucat pasi.
Darah di tubuh Rama seakan berhenti mengalir saat itu juga.
Otaknya langsung memutar ulang kejadian pagi buta tadi sebelum dia berangkat sekolah. Karena bangun kesiangan dan badannya remuk redam sehabis baku hantam dengan Kobra Besi, Rama asal memasukkan barang-barang ke dalam tas ranselnya. Dan sialnya, dia baru ingat kalau dia ikut memasukkan sebuah kain handwrap hitam yang masih ada bercak darah kering sisa pertarungan, plus sebuah knuckle besi modifikasi kesayangannya yang sangat berat dan mematikan.
Rama menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin langsung merembes di pelipisnya. Kalau knuckle besi dan kain berdarah itu sampai ditemukan oleh Pak Trisno, apalagi oleh si Raka yang hobi mencari kesalahannya, tamat sudah riwayat Rama Arsya Anta. Predikat ketua klub sains yang suci tanpa dosa akan hancur lebur. Ayahnya pasti akan membunuhnya hari ini juga, dan dia mungkin akan dikeluarkan dari SMA Taruna Citra.
"Ayo, cepat keluarkan! Raka, kamu periksa barisan sebelah kanan," perintah Pak Trisno tegas.
Rama melirik ke samping. Raka berjalan menyusuri lorong antar meja, matanya memindai dengan buas. Senyum puas tercetak di wajah anggota OSIS itu saat dia berhasil menyita sebuah novel komik dari laci meja Dika. Kini, langkah Raka semakin mendekat ke arah meja Rama.
Tangan Rama gemetar pelan saat membuka ritsleting ranselnya. Dia bisa merasakan benda logam yang berat itu bersembunyi di dasar tasnya, terbungkus kain handwrap yang mencurigakan. Tidak ada waktu lagi. Dia tidak bisa membuangnya ke luar jendela, dan kolong mejanya pasti akan diperiksa.
Duk!
Tiba-tiba, ujung sepatu seseorang menendang pelan kaki kursi Rama dari arah belakang. Rama menoleh sedikit lewat ekor matanya. Di bangku tepat di belakangnya, Nayla sedang menunduk pura-pura mencari bolpoin yang jatuh.
"Oper ke gue ke bawah meja, cepat," desis Nayla sangat pelan, nyaris seperti suara embusan angin, tapi cukup jelas tertangkap oleh pendengaran Rama yang terlatih di jalanan.
Rama terbelalak. Dia tahu persis maksud gadis itu. Tapi ini terlalu berisiko. Kalau Nayla yang ketahuan membawa benda mengerikan itu, cewek itu yang akan kena masalah besar. Rama ragu-ragu. Ego dan gengsinya sebagai laki-laki menolak untuk menjadikan cewek sebagai tameng, apalagi untuk barang bukti tawuran.
"Buruan, Babu! Lo mau mati konyol di sini hah?!" bisik Nayla lagi, kali ini nada suaranya lebih mendesak sambil mencubit pelan betis Rama dari bawah meja.
Melihat Raka yang kini sudah berada tepat satu meja di depannya, Rama tak punya pilihan lain. Dengan gerakan secepat kilat yang sudah terlatih saat mencopet kunci motor lawan di arena balap, tangan Rama merogoh dasar tasnya, menggenggam gumpalan kain dan knuckle besi itu, lalu menjatuhkannya ke bawah meja tepat ke arah tangan Nayla yang sudah menadah.
Sedetik setelah benda itu berpindah tangan, Raka berdiri di depan meja Rama dengan senyum penuh kemenangan.
"Silakan, Ketua Angkatan," ucap Raka dengan nada menyindir. "Keluarkan semua isi tas lo. Gue yakin lo nggak bawa hal-hal aneh, kan?"
Rama menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan. Dia membongkar seluruh isi ranselnya dan menjejerkannya di atas meja. Buku cetak tebal, kotak pensil, kalkulator scientific, dan botol minum. Bersih tanpa cela.
Senyum Raka langsung luntur. Cowok itu mendengus kecewa, lalu menggeledah kolong meja Rama dengan kasar, tapi hasilnya nihil. "Aman, Pak Trisno," lapor Raka dengan nada ogah-ogahan.
Pak Trisno mengangguk, lalu berjalan mendekati meja di belakang Rama. "Kamu anak baru pindahan itu ya? Nayla? Coba Bapak lihat isi tasmu."
Jantung Rama kembali melorot ke perut. Dia mematung di kursinya, tidak berani menoleh ke belakang, namun telinganya dipasang dengan sensitivitas maksimal.
Terdengar suara ritsleting tas Nayla dibuka.
"Ini buku-buku pelajaran, Pak. Dan ini... kotak bekal," suara Nayla terdengar sangat santai, tanpa ada nada panik sedikit pun. "Oh, kalau yang pouch kecil warna pink ini isinya pembalut sama perlengkapan perempuan, Pak. Bapak mau saya buka dan gelar juga isinya di meja?"
Pak Trisno yang terkenal garang itu mendadak berdehem canggung, wajahnya sedikit memerah. Pantang bagi guru laki-laki setua dia untuk menggeledah pouch pribadi siswi perempuan, apalagi di depan umum.
"Ehem, tidak usah. Langsung masukkan lagi saja ke dalam tas. Bagus, kamu siswi yang tertib," ucap Pak Trisno buru-buru, lalu beralih memeriksa meja murid di sebelahnya.
Rama mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan hingga paru-parunya terasa perih. Sialan. Cewek berjilbab ungu itu benar-benar seorang jenius yang licik. Menyembunyikan knuckle besi geng motor di dalam pouch pembalut wanita adalah taktik paling gila dan brilian yang pernah Rama temui seumur hidupnya.
Setengah jam kemudian, razia selesai. Pasukan kedisiplinan keluar dari kelas membawa sekantong penuh barang sitaan yang didominasi makeup dan rokok elektrik. Kelas kembali bernapas lega, meski masih ada sisa-sisa gerutuan dari murid yang barangnya disita.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Rama langsung membereskan bukunya secepat kilat, meninggalkan Dika yang masih bengong meratapi komiknya yang raib. Rama melangkah keluar kelas, menyusul langkah cepat Nayla yang sudah lebih dulu berjalan menyusuri koridor menuju gerbang utama.
"Nay! Tunggu," panggil Rama saat mereka sudah berada di area parkiran yang mulai sepi.
Nayla menghentikan langkahnya dan berbalik. Gadis itu menaikkan satu alisnya, lalu dengan santai merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan pouch pink bermotif bunga-bunga. Dia melempar pouch itu ke dada Rama, yang dengan sigap ditangkap oleh cowok itu.
"Barang haram lo. Lain kali kalau mau jadi berandal, manajemen packing tasnya dibenerin dong. Masa knuckle besi dicampur sama buku biologi, amatir banget," sindir Nayla dengan senyum mengejek andalannya.
Rama menggenggam pouch itu. Rasa bersalah dan kagum bercampur aduk di dadanya. "Lo... kenapa lo nekat bantuin gue lagi? Kalau Pak Trisno tadi nekat buka pouch ini, lo bisa kena skorsing. Lo bisa dituduh bawa senjata tajam ke sekolah."
Nayla memutar bola matanya malas. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka berdua, lalu menunjuk dada Rama dengan telunjuknya.
"Gue udah bilang, kan? Lo itu aset berharga gue, Babu. Kalau lo sampai dikeluarin dari Taruna Citra gara-gara benda bodoh ini, gue yang rugi," ucap Nayla santai. "Lagi pula, gue lagi butuh lo buat sore ini."
Rama mengernyitkan dahi. "Sore ini? Lo mau nyuruh gue antre martabak di pasar malam atau gimana lagi?"
"Nggak," Nayla menggeleng pelan, senyum jahilnya semakin lebar. "Gue mau ke toko buku di pusat kota Yogyakerto, tapi angkot ke sana susah kalau jam pulang kerja begini. Kebetulan banget, babu gue ini kan katanya pembalap paling jago se-Wana Asri. Jadi..."
Rama menatap Nayla tak percaya. "Lo minta gue boncengin lo? Naik motor gue yang bising itu? Lo nggak takut ketahuan teman-teman lo kalau jalan sama berandal jalanan?"
"Teman apaan? Teman gue di sini kan cuma lo doang, Babu," sahut Nayla acuh tak acuh. "Jadi gimana? Lo mau nolak setelah gue nyelamatin leher lo dari tiang gantungan OSIS tadi?"
Sebuah tawa pelan meluncur dari bibir Rama. Ya, dia benar-benar sudah masuk perangkap gadis ini tanpa bisa berkelit lagi. Dan anehnya, dia sama sekali tidak ingin mencari jalan keluar.
"Tunggu di halte depan perempatan. Gue ambil motor dulu. Jangan bawel kalau nanti rambut lo bau asap knalpot," ucap Rama akhirnya, menyembunyikan senyum lebarnya di balik raut wajah yang sok datar.
"Oke, Bos Besar The Ghost. Jangan ngebut-ngebut, nyawa gue lebih mahal dari motor rongsokan lo itu!" seru Nayla berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Rama yang masih berdiri mematung di parkiran, menatap punggung gadis itu dengan dada yang dipenuhi desiran aneh yang semakin hari semakin kuat mengakar di hatinya. Kehidupan ganda Rama yang dulunya terasa sepi dan melelahkan, kini pelan-pelan menemukan warna baru—sebuah warna ungu pastel yang berisik, nekat, dan sangat memabukkan.