Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Maira menghentikan mobil nya di halaman rumah, sebelum nya dia meminta mbak Rini untuk membuka pintu garasi agar dia bisa memasuk kan mobil nya.
Bersama dengan mbak Rini, Maira melangkah kan kaki nya dengan anggun memasuki rumah. Di ruang tamu dia di sambut dengan tatapan nyalang dan penuh kebencian oleh seluruh penghuni rumah.
"Dari mana saja kau? Kenapa baru pulang sekarang?" Tanya Azam dengan nada yang di penuhi dengan kemarahan.
"Aku dari rumah Mama, aku menjemput mbak Rini!" Jawab Maira dengan jujur.
"Kenapa kau tidak mendengarkan aku hah? Aku adalah kepala keluarga di sini, seharusnya kau patuh pada ucapan ku. Sudah ku bilang, tidak perlu pakai pembantu, kenapa kau begitu keras kepala?" Tanya Azam sambil mencengkram bahu Maira dengan kasar.
Maira dengan gerakan yang gesit langsung menyingkirkan tangan Azam dari bahu nya, dia tidak suka suami nya mulai main kekerasan.
"Apa ada masalah dengan mu mas? Aku sudah katakan tadi malam, bahwa aku sendiri yang akan membayar jasa mbak Rini, bukan diri mu. Dan jika kau tidak setuju aku menggunakan jasa pembantu, maka kau bisa meminta ibu, mbak Nia dan Lara yang mengerjakan pekerjaan di rumah ini!" Maira berkata dengan tenang.
"Aku bukan babu mu, dan sudah menjadi kewajiban mu mengerjakan semua nya. Kau cuma numpang di rumah anak ku!" Mama Wina langsung berkata dengan cepat.
"Benarkah begitu Ma? Rumah ini milik putra mu?" Maira bertanya dengan nada miring.
"Itu memang benar, anak ku bekerja keras membeli rumah ini. Sementara kau cuka numpang di sini, harus nya kau tahu diri!" Sindir Mama Wina sambil tersenyum sinis.
"Baik lah jika memang seperti itu, akan ku wujud kan semua ucapan Mama. Mas karena kau adalah kepala keluarga, jadi mulai hari ini aku akan kembalikan semua nya pada mu. Mulai dari cicilan rumah ini, hingga seluruh biaya yang ada di dalam nya!" Maira berkata dengan tegas.
Wajah Azam langsung pias seketika mendengar ucapan Maira, selama ini Maira lah yang membayar cicilan rumah ini selama 3 tahun berjalan. Semua gaji nya sudah habis untuk menafkahi Nia dan juga Ayu, serta Mama nya dan Lara. Bahkan setiap bulan nya, Maira yang menambah lagi uang bulanan mereka dengan uang pribadi nya.
Tapi setahu keluarga nya, itu adalah uang nya Azam. Karena mereka mengira yang manager adalah Azam dan Maira hanya lah staf biasa, padahal justru semua itu terbalik. Uang Maira lah yang di gunakan untuk menopang semua kehidupan orang di rumah ini.
"Oh ya, rumah ini bukan penampungan, untuk apa punya rumah sendiri tapi setiap hari selalu berada di sini!" Sindir Maira pada Nia yang sedang duduk di sofa.
Wajah Nia merah padam menahan amarah saat mendengar Maira menyudutkan diri nya, dia ingin melawan tapi seperti nya Maira sangat tangguh malam ini.
"Bu, aku pulang saja, maaf jika kehadiran ku tidak di ingin kan di sini!" Nia memulai drama nya.
Nia langsung menyeret tangan Ayu dan membawa nya keluar, tidak lupa dia mengeluarkan air mata buaya nya agar Mama Wina dan Azam tersentuh. Tapi Maira tidak perduli dengan apa yang di lakukan oleh Nia, dia menatap kepergian Nia dengan senyum di sudut bibir nya.
"Mai, kenapa sekarang kau berubah? Kenapa kau begitu kasar sama mbak Nia? Dia tidak punya siapa- siapa lagi selain kita!" Azam mulai menurun kan nada suara nya.
Azam takut pada ancaman Maira, karena jika Maira benar- benar melakukan apa yang dia katakan tadi. Maka dia sendiri yang akan kelimpungan, selama ini Azam memang mengatakan bahwa dia seorang manager dan rumah ini dia lah yang membeli nya. Itu lah sebab nya, Mama Wina dan Lara memutuskan untuk tinggal di rumah ini.
"Aku lelah dan aku ingin istirahat, oh ya mbak Rini di sini aku yang bayar gaji nya. Jadi jangan ada yang berani memberi perintah pada nya!" Maira memperingatkan semua orang.
"Mari mbak!" Maira langsung mengajak mbak Rini ke kamar belakang.
Setelah menujuk kan kamar nya mbak Rini, Maira langsung pergi ka kamar nya. Dia tidak perlu makan malam lagi, karena tadi dia dan mbak Rini sudah makan malam.
Maira langsung merebah kan tubuh nya di atas tempat tidur, dia sudah lelah menghadapi keluarga suami nya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Azam masuk ke dalam kamar dan langsung duduk di sisi tempat tidur.
"Dek, mas mau bicara!" Nada suara Azam begitu lembut.
Selama ini jika Azam bicara dengan suara lembut, Maira merasa bahagia, tapi sekarang dia muak. Karena dia tahu Azam pasti punya tujuan khusus datang dan bicara lembut pada nya.
"Katakan saja!" Maira pun duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
"Dek, mas mohon jangan terlalu keras sama Mama dan mbak Nia. Siapa lagi yang akan bertanggung jawab sama mbak Nia dan Ayu jika bukan kita!" Azam mulai bicara dengan Maira.
"Mas, aku tahu kita memang harus membantu mbak Nia dan Ayu, tapi bukan berarti mas harus mengabaikan kewajiban utama mas. Sudah 3 tahun ini mas tidak memberikan aku uang nafkah lagi, bahkan aku yang seharusnya menjadi tulang rusuk malah menjadi tulang punggung untuk keluarga mu!" Maira mulai mengeluarkan segala sesuatu yang mengganjal di hati nya selama ini.
"Maaf dek, tapi mau bagaimana lagi, kamu kan tahu sendiri berapa gaji mas!" Azam berkata dengan lirih.
"Mas, sebaik nya mas bicara dengan jujur sama ibu, biar tidak salah paham. Biar ibu bisa mengerti dan mau menghargai aku sebagai istri mu. Aku muak mas, selalu di tuduh oleh ibu menghabiskan uang gaji mu. Padahal aku sendiri tidak pernah menerima gaji mu!" Maira berkata pada suami nya.
"Tapi dek, aku tidak mau ibu kecewa!" Azam menolak permintaan Maira.
"Mas, mas tidak mau mengecewakan ibu, padahal dengan mas berbohong ibu akan semakin kecewa. Dan satu hal lagi mas, membantu mbak Nia cukup seperlu nya. Ayu sudah besar dan mbak Nia bisa jika dia mau bekerja, jangan cuma bergantung sama kita!" Maira kembali berkata.
"Jika mbak Nia bekerja, lantas siapa yang mau menjaga Ayu dek?" Azam bertanya pada istri nya.
"Mas, ibu setiap hari tinggal di rumah. Ibu bisa menjaga Ayu saat mbak Nia sedang bekerja, kita tidak lepas tangan begitu saja sama mbak Nia dan Ayu. Aku akan tetap membantu mereka, tapi tidak jika harus menanggung seratus persen kehidupan mereka!" Maira berkata dengan tegas.
"Iya dek, besok mas akan bicara sama mereka. Tapi mas minta tolong sama kamu, tolong kamu kembali seperti biasa nya, penuhi semua kebutuhan di rumah ini!" Azam meminta pda Maira.
"Tergantung sikap ibu dan yang lain nya, mas. Aku capek, mau istirahat!" Maira kembali membaringkan tubuh nya dan menarik selimut nya hingga sebatas dada.
Azam memijit pelipis nya, dia pusing dengan kehidupan nya yang sekarang. Apalagi jika Maira benar - benar mengembalikan semua tanggung jawab di rumah ini pada diri nya.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH