Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 18.
Helena berhenti tepat di depan singgasana.
“Sudah lama sekali sejak istana terasa seramai ini.” Suaranya lembut, namun mengandung tekanan.
Raja Alexander tetap tenang. “Selamat datang kembali, Ibu Suri.”
“Salam hormat untuk Ibu Suri.” Evelyn mengikuti Alexander.
Namun Helena tidak terlihat puas. “Kudengar... kesehatan Ratu membaik secara ajaib setelah hampir mati keracunan.”
Hening.
Beberapa menteri langsung menunduk, sindiran itu terlalu jelas.
Namun Evelyn tetap tenang. “Mungkin langit belum mengizinkan saya mati.”
Jawaban itu membuat Helena menyipitkan mata tipis. Karena ratu ini, tidak bereaksi seperti yang diharapkan. Permusuhan itu terasa jelas, tidak disembunyikan sedikitpun.
Dan semua orang di aula menyadarinya.
Tak berapa lama, Pangeran William akhirnya tiba di istana. Berbeda dari biasanya, ia datang bersama rombongan besar dari kerajaan luar. Para utusan asing memakai pakaian berbeda, bahasa mereka juga tidak dipahami kebanyakan orang.
William masuk dengan senyum lembut yang selalu berhasil menipu rakyat.
“Maaf membuat semua orang menunggu,” katanya sopan.
“Aku baru kembali dari perbatasan barat.”
Tatapannya sekilas jatuh pada Alexander, lalu ke Evelyn. Senyumnya tetap ramah, namun matanya dingin.
Alexander memperhatikan adiknya beberapa detik, tenang namun jelas waspada.
William melanjutkan dengan sopan. “Aku membawa utusan dari Kerajaan Valeria, mereka ingin membahas kerja sama perdagangan.”
Beberapa menteri terlihat lega, karena hubungan dengan Valeria sangat penting. Namun William diam-diam melirik seorang pria di antara para penerjemah istana, pria itu langsung menunduk pelan. Penerjemah itu sudah disuap, dan rencana William sederhana.
Penerjemah akan sengaja membuat kesalahan, membuat Raja Alexander terlihat bodoh di depan utusan asing. Dan jika raja kehilangan muka, para bangsawan akan mulai ragu... semua sudah disiapkan.
Semua yang hadir duduk di kursi masing-masing yang telah disediakan. Utusan dari kerajaan Valeria mulai berbicara menggunakan bahasa mereka.
Cepat.
Asing.
Tidak ada yang mengerti.
Penerjemah istana lalu membungkuk pada Alexander. “Utusan berkata, mereka merasa kerajaan kita terlalu lemah untuk bekerja sama.”
Beberapa menteri langsung berubah wajah, Alexander menyipitkan mata tipis. Karena nada bicara utusan tadi tidak terdengar seperti penghinaan. Namun sebelum ia bicara, suara lain terdengar tenang dari sisi singgasana.
“Itu bukan yang mereka katakan.”
Semua orang langsung menoleh, Evelyn berdiri perlahan. Tatapannya tenang, wajah si penerjemah langsung pucat.
William juga membeku.
Berikutnya, Evelyn berbicara menggunakan bahasa Valeria dengan sangat fasih. Semua utusan langsung terlihat terkejut, bahkan Alexander menoleh padanya dengan wajah tegang.
Evelyn melanjutkan dengan lancar, nada bicaranya tenang dan elegan. Dan jelas seperti penutur asli.
“Saya meminta maaf atas kesalahan penerjemahan tadi.” Ucap Evelyn dengan lembut.
Mata para utusan langsung berubah, mereka terlihat jauh lebih hormat sekarang. Utusan utama bahkan langsung berdiri dari duduknya, lalu membungkuk sedikit pada Evelyn.
“Jarang sekali kami menemukan seseorang di kerajaan timur yang memahami bahasa kami sebaik ini.”
Evelyn tersenyum tipis. “Itu kehormatan bagi kami.”
Penerjemah istana langsung gemetar, keringat dingin turun di pelipisnya. Sementara William, untuk pertama kalinya kehilangan ekspresi tenang. Karena rencananya... hancur total.
Dan lebih buruk lagi, Evelyn justru membuat kerajaan terlihat lebih kuat.
Utusan Valeria kembali berbicara panjang, kali ini langsung pada Evelyn. Dan sekali lagi, wanita itu menjawab semuanya tanpa kesulitan.
Pembahasan perdagangan.
Distribusi bahan pangan.
Jalur laut.
Semuanya dibalas jelas.
Para menteri mulai saling melirik, kebanyakan dari mereka terlihat shock. Karena tidak ada yang pernah tahu, Ratu Evelyn menguasai bahasa asing.
Alexander sendiri menatap Evelyn cukup lama, tatapannya perlahan berubah dalam. Ia sangat bangga, dan semakin tertarik pada wanita itu.
Sementara itu, Ibu Suri Helena mulai menggenggam tangannya lebih erat. Karena ia baru sadar satu hal, Ratu ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Setelah pertemuan selesai, utusan Valeria bahkan memberikan hormat khusus sebelum pergi. “Kerajaan kalian... memiliki ratu yang luar biasa.”
Kalimat itu terdengar jelas di seluruh aula. Dan itu, tamparan langsung untuk William.
Begitu aula mulai kosong, Alexander akhirnya menoleh pada penerjemah tadi. Tatapannya dingin. “Kau tahu hukuman untuk penghinaan diplomatik?”
Pria itu langsung jatuh berlutut, tubuhnya gemetar. “Ampun, Yang Mulia!”
“Mungkin itu hanya kesalahan kecil—” William langsung maju selangkah, berusaha menyelamatkan keadaan.
“Kesalahan?” Alexander memotong dingin.
Suasana langsung membeku.
Tatapan Alexander kali dingin dan berbahaya. Dan penuh tekanan... seorang raja.
“Kalau Ratu tidak ada di sini…” Ia berdiri perlahan dari singgasana. “Kau baru saja mempermalukan seluruh kerajaan.”
Penerjemah itu langsung pucat pasi.
Alexander menatap pengawal tanpa emosi, namun saat bicara suaranya sangat dingin. “Sereetttt dia keluar! Cambuuuk 100 kali!“
Pria itu menjerit memohon saat dibawa pergi, namun tak ada yang berani bicara.
William mengepalkan tangan di balik lengan bajunya, dia sangat marah. Namun ia tetap tersenyum tenang di luar, dan itu tidak luput dari pengamatan Evelyn.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
William benar-benar melihat Evelyn sebagai ancaman, bukan sekadar ratu lemah yang bisa dibunuh kapan saja. Wanita itu, menghancurkan rencananya hanya dalam beberapa kalimat.
Saat semua orang pergi, Alexander akhirnya berjalan mendekati Evelyn. “Kau belum pernah memberitahuku soal bahasa Valeria.”
“Yang Mulia juga tidak pernah bertanya.” Jawab Evelyn tenang.
Alexander tertawa kecil, ia terdengar puas. “Kau benar-benar suka membuat orang terkejut.”
Evelyn sedikit mendekat. “Dan Yang Mulia... terlalu lama membiarkan ular bergerak di dalam istana.”
Tatapan Alexander berubah. Karena ia tahu, yang dimaksud Evelyn bukan hanya penerjemah, tapi William dan Ibu Suri Helena. Dua orang yang selama ini bergerak di balik bayangan.
Alexander menatap aula yang mulai kosong, ia tersenyum tipis. Namun kali ini, senyuman seorang predator.
“Tidak masalah.” Tatapannya kembali tertuju pada Evelyn. “Karena sekarang… aku tidak lagi berburu sendirian. Ada wanita sehebat dirimu di sisiku, Ratu.”
Tanpa peringatan, Alexander menarik pinggang Evelyn mendekat lalu mencium wanita itu dengan sedikit tak sabar. Namun perlahan, ciuman itu berubah lembut, dan Evelyn mulai membalasnya.
Di atas singgasana, keduanya tampak seperti dua penguasa yang berdiri di puncak kekuasaan. Kuat, berbahaya, dan tak mudah ditaklukkan oleh siapa pun.
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili