Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24 : PENYADAP DI BALIK DINDING DAN TABUNGAN RAHASIA SANG ISTRI
Hujan di Jakarta tidak pernah sekadar air yang turun dari langit; ia adalah simfoni kemacetan, bau tanah basah, dan kegelisahan yang merambat di antara gedung-gedung beton. Di dalam ruang kerja pribadinya di mansion Arkatama, Devan sedang menatap layar monitor dengan tatapan yang bisa membekukan air. Laporan finansial menunjukkan bahwa arus kas perusahaan untuk divisi Eropa sedang dibekukan oleh bank mitra karena adanya dugaan aktivitas ilegal yang dilaporkan secara anonim.
"Valerie... apa yang sebenarnya kamu rencanakan?" desis Devan sambil meremas pulpen peraknya hingga buku jarinya memutih.
FLASHBACK OF
Tiga hari yang lalu, saat Devan dan Anya masih berada di Bali untuk resepsi kedua, Valerie sebenarnya telah melakukan gerakan yang sangat berisiko. Dengan menggunakan kunci cadangan yang ia dapatkan dari duplikat yang pernah ia miliki dulu—dan belum sempat diganti oleh Devan karena kesibukan pernikahan—Valerie menyelinap masuk ke dalam mansion Arkatama.
Ia tidak datang untuk mencuri perhiasan atau uang. Ia datang untuk mencuri privasi.
Malam itu, Valerie melangkah dengan sepatu hak tingginya yang dibalut kain agar tidak bersuara, menuju kamar utama. Ia menatap ranjang pengantin Devan dan Anya dengan tatapan penuh kebencian. Dengan gerakan cepat dan lihai, ia mengeluarkan sebuah alat penyadap kecil (bug) seukuran kancing baju dengan teknologi terbaru dari Prancis.
Ia menempelkan alat itu di balik bingkai foto besar yang memperlihatkan Devan dan Anya sedang tersenyum—foto yang diambil saat mereka di butik pengantin. Ia juga memasang satu lagi di bawah meja kerja Devan.
"Nikmati kemesraan kalian sekarang, Anya. Karena setiap desah napas dan rahasia kalian akan menjadi senjataku untuk menghancurkan kalian," gumam Valerie saat itu sambil mengusap bingkai foto tersebut dengan kuku panjangnya yang dicat merah darah.
Itulah alasannya mengapa Valerie di hotelnya bisa tertawa terbahak-bahak saat mendengar rekaman suara Mama Sarah yang mengamuk menggunakan sapu lidi. Ia mendengar semuanya: bunyi plak-plak sapu yang menghantam Devan, teriakan manja Anya, hingga bisikan mesra mereka sebelum tidur. Baginya, itu adalah komedi sekaligus bahan bakar untuk rencana penghancurannya.
FLASHBACK ON
Kembali ke masa kini. Di ruang tengah, Mama Sarah sedang sibuk dengan ritual barunya: meditasi ketenangan. Namun, ketenangannya terusik ketika ia melihat sebuah lampu kecil berkedip sangat tipis di balik bingkai foto saat ia sedang mengelap debu dengan daster sutranya yang bermotif macan tutul.
"Anya! Sini! Sini cepat!" teriak Mama Sarah dengan suara yang melengking, membuat Anya yang sedang merancang sketsa di ruang makan hampir saja menumpahkan tintanya.
Anya berlari menaiki tangga. "Ada apa, Ma? Ada kecoa lagi?"
"Bukan kecoa! Ini... ini apa ya? Kayak mata mata-mata di film James Bond!" Mama Sarah menunjuk ke balik bingkai foto.
Anya mengambil pinset dari kotak peralatannya dan menarik benda kecil itu. Wajahnya seketika memucat. "Ma... ini alat penyadap. Dan ini masih aktif."
Mama Sarah langsung melotot. Ia mengambil sapu lidinya yang legendaris dari pojok ruangan. "Siapa yang pasang?! Apa ini si ular sanca Valerie itu?! Berani-beraninya dia dengerin Mama nyanyi di kamar mandi?!"
Tanpa pikir panjang, Mama Sarah mendekatkan alat penyadap itu ke mulutnya dan berteriak sekeras mungkin, "VALERIE! DENGERIN YA! MAMA SARAH TAHU KAMU LAGI NGUPING! BESOK MAMA BELIIN KAMU OBAT CACING BIAR OTREK-OTREK DI DALAM PERUT KAMU ITU ILANG! JANGAN GANGGU ANAK MAMA LAGI, DASAR MODEL KEKURANGAN GIZI!"
Anya hanya bisa menepuk dahinya melihat kelakuan mertuanya. "Ma, dia mungkin sudah mematikan speakernya karena kaget!"
...****************...
Setelah keributan itu mereda, Anya masuk ke ruang kerja Devan. Ia melihat suaminya sedang memijat pelipisnya dengan sangat lelah. Masalah di divisi Eropa bukan sekadar angka; itu menyangkut reputasi keluarga Arkatama di mata internasional.
"Devan," panggil Anya lembut.
Devan mendongak, matanya yang biasanya tajam kini tampak redup. "Anya... maafkan aku. Sepertinya aku harus kembali lembur malam ini. Ada dana jaminan sebesar lima puluh miliar yang harus segera disetor ke bank mitra agar kapal-kapal kita tidak disita di Marseille, dan bank di sini sedang mempersulit proses likuidasi asetku karena laporan palsu Valerie."
Anya berjalan mendekat. Ia meletakkan sebuah buku tabungan tua dan beberapa sertifikat deposito di atas meja Devan.
"Apa ini?" tanya Devan bingung.
"Ini tabunganku, Devan. Selama lima tahun membangun Green Soul Studio, aku selalu menyisihkan keuntungan untuk masa depan. Dan ada beberapa warisan dari almarhum Papa yang dulu tidak aku gunakan untuk melunasi hutang Mama karena jumlahnya belum cukup. Totalnya ada sekitar tiga puluh lima miliar," ucap Anya dengan tenang.
Devan tertegun. Ia menatap angka-angka di buku tabungan itu, lalu menatap istrinya. "Anya... aku tidak bisa mengambil uangmu. Ini hasil keringatmu, hasil kerja kerasmu di bawah terik matahari dan lumpur."
"Dengarkan aku, Devan Arkatama," Anya memegang kedua tangan Devan. "Dulu kita menikah karena uang. Kamu menyelamatkan nyawa keluargaku dengan dua belas miliarmu. Sekarang, aku bukan lagi arsitek yang kamu sewa. Aku istrimu. Uang ini tidak ada artinya jika perusahaamu hancur dan kamu menderita. Gunakan ini untuk menutupi selisih dana di Eropa. Anggap saja ini investasi untuk masa depan... masa depan kita."
Devan menarik Anya ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat. Air mata hampir menetes dari mata sang CEO yang biasanya tak berperasaan itu. "Aku tidak pernah menyangka akan menemukan wanita sehebat kamu, Anya."
Pekerjaan Devan sebagai CEO maritim memang sangat kompleks. Ia harus memahami hukum laut internasional, memantau rute kapal melalui satelit untuk menghindari zona perang atau wilayah bajak laut, hingga mengelola logistik bahan pangan yang bisa busuk jika kapal tertahan satu hari saja. Setiap keputusannya melibatkan nyawa ribuan awak kapal dan nasib ekonomi ribuan karyawan.
Anya pun tidak kalah sibuk. Pekerjaannya sebagai arsitek lanskap mengharuskan ia memahami topografi tanah, sirkulasi air bawah tanah agar tidak terjadi banjir di proyek yang ia bangun, hingga pemilihan vegetasi yang sesuai dengan iklim mikro Jakarta. Ia harus berurusan dengan kontraktor yang sering curang dan klien yang mau segalanya cepat tapi murah.
Namun, di tengah kesibukan profesional itu, mereka kini menyadari bahwa musuh terbesar mereka, Valerie, telah masuk ke area paling privat mereka.
Malam itu, setelah Devan mengirimkan dana talangan dari Anya ke Eropa, suasana di rumah menjadi sedikit lebih rileks. Namun, Mama Sarah masih tidak tenang. Ia mengenakan daster macan tutulnya dan membawa senter, memeriksa setiap celah di mansion—mulai dari bawah sofa hingga ke dalam vas bunga—untuk memastikan tidak ada lagi alat penyadap.
"Awas ya kalau Mama temuin lagi! Mama kasih cabe rawit itu alatnya!" gumam Mama Sarah sambil merangkak di bawah meja makan, sebuah pemandangan yang membuat Anya dan Devan yang sedang minum teh di ruang tengah hanya bisa saling pandang dan tertawa kecil.
...****************...
Namun, di hotel The Grand Suites, Valerie sedang membanting gelas wine-nya setelah mendengar teriakan Mama Sarah di alat penyadapnya. "Mereka menemukannya? Dan Anya memberikan uangnya?! Sial! Wanita itu benar-benar mengganggu!"
Valerie mengambil ponselnya dan menelepon Om Bram. "Bram, jalankan rencana B. Kita akan serang butik Mama Clarissa lagi, tapi kali ini, kita gunakan masalah limbah kain ilegal. Pastikan polisi datang besok pagi!"
Badai belum usai. Saat satu lubang tertutup oleh pengorbanan Anya, Valerie sudah menggali lubang lain yang lebih dalam.