Bima cuma anak SMA sekolah sihir biasa yang mager-nya kebangetan. Pas ujian praktek manggil familiar (hewan peliharaan sihir), dia malah kepeleset, lidahnya keseleo, dan nggak sengaja ngebaca mantra terlarang. Bukannya dapet kucing terbang yang lucu, dia malah manggil Lucifer, salah satu petinggi iblis dari kerak neraka. Apesnya, kontrak sihir mereka permanen! Sekarang Bima harus rela kamarnya diacak-acak sama cowok emo bersayap kelelawar yang ternyata cepet banget adaptasi jadi wibu, kecanduan main PS5, dan doyan seblak level 5. Tapi jujur, lumayan sih buat disuruh ngerjain PR Matematika Sihir dan ngusir preman sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Seblak Level 5 dan Mata-mata yang Nggak Tau Diri
Suasana sore di sekitar gerbang sekolah sihir ini sebenernya asri banget. Pohon-pohon mahoni yang daunnya bisa nyanyi kalau kena angin, langit warna oranye yang estetik parah, dan aroma rumput basah sisa hujan tadi siang. Tapi semua keindahan itu mendadak luntur gara-gara sosok di sebelah gue.
Luci, yang tadinya kelihatan kayak pangeran kegelapan pas duel tadi, sekarang malah sibuk benerin hoodie kegedeannya yang ada gambar karakter anime cewek rambut pink. Sayap kelelawarnya udah dia 'umpetin' ke dimensi lain, katanya biar nggak ribet pas duduk di bangku bakso.
"Bim, gue udah nyium baunya," kata Luci tiba-tiba. Hidungnya kembang kempis. "Bau penderitaan manusia yang dikemas dalam bentuk bumbu dapur. Wangi kencur yang menusuk jiwa. Itu dia, kan?"
Gue nengok ke arah yang dia tunjuk. Sebuah tenda pinggir jalan dengan spanduk mentereng bertuliskan: *SEBLAK JEDER MPOK NUR – PEDASNYA SAMPAI KE AKHIRAT.*
"Lu yakin mau level lima?" gue nanya sekali lagi, bener-bener mastiin. "Itu level yang sebenernya ilegal buat sistem pencernaan manusia normal, Luc. Gue takut lo bukannya balik ke neraka karena kontrak selesai, tapi karena usus lo meledak."
Luci ketawa ngeremehin. Suaranya yang berat dan bergema dikit itu bikin abang-abang ojek sihir yang lagi mangkal di depan gerbang langsung noleh ketakutan. "Gue ini penguasa api abadi, Bim. Cabe rawit lima kilo nggak bakal bikin gue gentar. Yuk, buruan! Sebelum gue khilaf dan makan portal dimensi lo."
Gue cuma bisa ngehela napas pasrah. Dompet gue yang udah tipis makin berasa ringan pas gue raba di saku celana. Dengan langkah gontai, gue ngikutin iblis wibu ini menuju warung Mpok Nur.
Pas kita sampe, suasana lagi rame-ramenya. Banyak anak sekolah lain yang juga lagi jajan. Begitu gue sama Luci masuk ke tenda, mendadak suasana jadi hening. Mungkin karena hawa dingin yang dibawa Luci, atau mungkin karena muka dia yang terlalu ganteng tapi kelihatan kayak orang yang belum tidur tiga tahun gara-gara marathon anime.
"Mpok, seblak dua. Satu level satu aja, kerupuknya banyakin. Satunya lagi..." gue ngelirik Luci. "Satu lagi level lima. Isinya lengkap. Pake ceker, tulang, sosis, sama... apa itu, Luc?"
"Pake telur puyuh sepuluh butir," tambah Luci tanpa dosa.
Mpok Nur yang lagi ngulek bumbu sampe berhenti. Dia natap Luci dari bawah ke atas. "Dek, serius level lima? Itu cabenya aja seons sendiri lho. Kemarin ada anak jurusan ksatria makan itu langsung pingsan di tempat, mana mulutnya keluar asep lagi."
Luci condongin badannya ke depan, matanya yang merah (yang untungnya dia tutupin pake softlens item biar nggak mencolok) natap Mpok Nur tajem. "Mpok, saya ini udah biasa sama api yang nggak bakal padam sampe kiamat. Masa sama cabe Mpok saya kalah? Udah, bikin aja. Jangan banyak nanya."
Mpok Nur cuma bisa geleng-geleng kepala terus lanjut masak.
Gue narik Luci buat duduk di pojokan, nyari tempat yang agak jauh dari kerumunan biar nggak terlalu jadi pusat perhatian. Sambil nunggu, perasaan nggak enak yang gue rasain di sekolah tadi balik lagi. Bayangan cowok berjubah hitam dari Dewan Kedisiplinan itu masih nempel di otak gue.
"Luc," panggil gue pelan. Gue mainin sedotan plastik di gelas es teh gue.
"Hm?" Luci lagi sibuk mainin *smartphone* gue yang dia pinjem tanpa izin. Katanya mau cek jadwal rilis episode terbaru *isekai* musim ini.
"Tadi lo liat kan? Orang di balkon itu? Yang pake seragam Dewan Kedisiplinan?"
Luci nggak nengok, tapi jempolnya berhenti gerak di layar hp. "Liat. Bau-bau orang sombong yang ngerasa dirinya wakil Tuhan di sekolah ini. Kenapa emangnya?"
"Gue ngerasa dia bakal nyari masalah sama kita," bisik gue. "Biasanya kalau ada murid yang manggil familiar 'nggak wajar' kayak lo, mereka bakal ngelakuin audit. Gue takut kontrak kita ketahuan ilegal. Lo tau kan, gue manggil lo gara-gara lidah gue keseleo pas baca mantra?"
Luci akhirnya naruh hp gue ke meja. Dia natap gue datar. "Bim, dengerin gue. Kontrak kita itu udah terikat sama jiwa. Mau dewan itu bawa malaikat sekalipun, mereka nggak bakal bisa mutusin hubungan kita kecuali salah satu dari kita mati. Dan lo tau kan? Gue susah matinya."
"Tapi gue gampang mati, bego!" seru gue pelan tapi penuh penekanan. "Gue cuma manusia yang pengen lulus sekolah dengan nilai pas-pasan terus dapet kerjaan yang gajinya gede tapi kerjanya dikit. Kalau gue dikeluarin dari sekolah karena bawa iblis kelas kakap, masa depan gue suram!"
Luci malah nyengir. "Ya elah, kalau lo dikeluarin, tinggal ikut gue ke neraka. Gue kasih jabatan jadi manajer media sosial gue di sana. Gaji oke, dapet fasilitas wifi super kenceng dari kabel bawah laut Atlantis."
"Ogah! Di sana nggak ada tukang seblak!"
Pas banget gue ngomong gitu, Mpok Nur dateng bawa dua mangkok besar yang uapnya aja udah bikin mata perih. Bau cabenya bener-bener brutal. Yang punya Luci warnanya merah gelap cenderung hitam, kayak cairan lava yang udah basi.
"Ini ya, neng... eh, tong. Selamat menikmati penderitaannya," kata Mpok Nur terus buru-buru kabur.
Luci matanya langsung berbinar. Dia ngambil sendok dengan khidmat, kayak lagi ngelakuin ritual pemanggilan arwah. Pas suapan pertama masuk ke mulutnya, gue nahan napas. Gue nunggu dia teriak, nangis, atau minimal keselek.
Tapi apa yang terjadi?
Si kampret ini malah merem, terus ngunyah pelan. "Hmm... tekstur kerupuknya pas. Kenyal-kenyal kayak jiwa yang tersesat. Dan pedasnya... ah, ini baru namanya hidup!"
Gue melongo. "Lo nggak ngerasa panas gitu? Tenggorokan lo nggak kebakar?"
"Panas sih, tapi nagih," jawab Luci santai sambil nyendok ceker. "Ini lebih mending daripada disuruh dengerin ocehan malaikat di gerbang langit. Bim, serius, lo harus coba dikit."
"Nggak, makasih. Gue masih pengen hidup panjang." Gue mulai makan seblak level satu gue yang sebenernya udah cukup pedas buat ukuran gue.
Sambil makan, gue nggak bisa berhenti mikirin soal tatapan dari gedung utama tadi. Gue ngerasa kayak ada benang merah yang mulai narik gue ke masalah yang jauh lebih gede dari sekadar ujian sekolah. Bima si pemalas yang biasanya cuma duduk di pojokan kelas sambil tidur, sekarang malah jadi sorotan karena punya 'peliharaan' yang bisa ngeratain satu kota kalau lagi bad mood.
"Tuh kan, bener dugaan gue," Luci tiba-tiba ngomong sambil mulutnya penuh sosis.
"Apaan?"
"Ada yang ngikutin kita dari gerbang sekolah tadi. Sekarang dia lagi berdiri di balik pohon mangga seberang jalan. Pake kacamata, rambut klimis, auranya kayak orang yang kalau beli buku harus disampul rapi," ucap Luci tanpa noleh sedikit pun ke arah jalan.
Gue hampir aja keselek. Gue nyoba ngelirik pelan ke arah jalan lewat celah tenda. Dan bener aja. Ada cowok jangkung dengan seragam rapi, lencana emas mengkilap di dadanya, lagi pura-pura baca koran sihir tapi matanya terus-terusan ngarah ke warung seblak ini.
Itu dia. Anggota Dewan Kedisiplinan. Namanya Arka, kakak kelas yang katanya jenius tapi kaku banget kayak kanebo kering.
"Aduh, mati gue. Itu Arka," bisik gue panik. "Dia itu tipe orang yang bakal laporin lo kalau lo telat semenit atau kalau kaos kaki lo beda warna sebelah. Kalau dia tau lo itu iblis beneran..."
"Santai aja," potong Luci. Dia minum es tehnya sekali teguk sampe abis. "Dia cuma manusia yang terlalu banyak belajar teori. Dia nggak bakal bisa bedain gue sama jin penunggu sekolah kalau gue nggak nunjukin wujud asli."
"Tapi dia liat lo berantem tadi di arena!"
"Tadi itu gue pake sihir ilusi dikit, Bim. Di mata orang awam, gue cuma kelihatan kayak cowok emo yang punya kekuatan bayangan biasa. Nggak ada yang tau kalau gue ini Lucifer, kecuali lo sama si Saras itu."
"Saras? Kok dia tau?"
Luci angkat bahu. "Penyihir jenius biasanya punya insting yang lebih tajem. Tapi tenang, dia kayaknya lebih milih buat jadiin lo rival daripada laporin ke guru. Masalah kita sekarang cuma si kacamata di luar itu."
Tiba-tiba, Luci berdiri. Dia ngelus perutnya yang kayaknya mulai bereaksi sama seblak level lima. Muka dia agak memerah dikit sekarang, dan ada butiran keringat di dahi indahnya.
"Bim, gue perlu ke belakang bentar. Seblak ini... ternyata punya efek samping yang cukup 'magis' di perut gue," kata Luci dengan nada agak mendesak.
"Woi, jangan ditinggal! Itu si Arka masih di luar!"
"Urusin sendiri gih. Belajar jadi berani dikit napa. Gue mau cari toilet yang ada semprotan airnya. Darurat!"
Dan dalam sekejap, Luci ngilang ke arah belakang warung, ninggalin gue sendirian sama mangkok seblak yang masih sisa setengah dan seorang mata-mata Dewan Kedisiplinan di luar sana.
Gue bener-bener pengen nangis. Kenapa nasib gue gini amat?
Gue nyoba tenang. Gue lanjutin makan seblak gue, pura-pura nggak tau kalau lagi diawasin. Tapi nggak sampe dua menit, bayangan di lantai tenda berubah. Seseorang masuk ke dalam warung dan duduk tepat di depan gue, di kursi yang tadi didudukin Luci.
Gue dongak. Jantung gue kayak mau copot.
Arka.
Dia natap gue tajem dari balik kacamatanya. Mukanya datar, nggak ada ekspresi sama sekali. Dia naruh sebuah map cokelat di atas meja, tepat di samping mangkok seblak gue yang berminyak.
"Bima Adiwangsa. Kelas 2-C. Jurusan Pemanggilan dan Kontrak Sihir," suara Arka dingin banget, tipe-tipe suara yang bikin lo pengen langsung minta maaf padahal lo nggak salah apa-apa.
"Eh, Kak Arka. Mau jajan seblak juga? Rekomendasi saya level satu aja, Kak. Yang level lima bisa bikin khilaf," kata gue sambil nyengir kuda, nyoba cairin suasana.
Arka nggak bales candaan gue. Dia malah buka map itu. Isinya adalah foto-foto gue pas lagi di arena tadi. Ada satu foto yang nge-zoom ke arah Luci pas dia lagi ngeluarin aura hitamnya.
"Familiar yang kamu panggil tadi pagi... itu bukan makhluk yang ada di buku panduan sekolah," kata Arka langsung ke intinya. "Energinya terlalu pekat. Terlalu 'tua'. Dan tadi saya liat dia makan seblak dengan kecepatan yang nggak masuk akal buat makhluk dimensi rendah."
Gue nahan tawa denger bagian seblaknya. "Anu, Kak... dia itu emang rada unik. Jenisnya... makhluk langka dari dimensi pinggiran. Makanya nafsu makannya rada gede."
Arka condongin badan, wajahnya makin deket ke muka gue. "Bima, jangan main-main sama Dewan Kedisiplinan. Sekolah ini punya aturan ketat soal makhluk yang boleh dibawa ke area kampus. Kalau familiar kamu itu terbukti berbahaya atau berasal dari golongan yang dilarang, kamu bukan cuma dikeluarin, tapi ingatan kamu soal sihir bakal dihapus secara permanen."
Deg. Dihapus ingatan? Itu artinya gue bakal jadi orang biasa lagi dan semua kerja keras gue masuk sekolah ini sia-sia.
"Dia nggak berbahaya kok, Kak," kata gue serius. "Dia cuma... cuma suka main game sama makan. Beneran. Dia nggak ada niat buat hancurin dunia atau apa gitu."
"Itu menurut kamu," Arka berdiri, ngambil balik mapnya. "Mulai besok, saya bakal ngawasin kamu secara pribadi. Jangan coba-coba ngelakuin hal aneh. Dan satu lagi..."
Arka ngelirik ke arah belakang warung, tempat Luci tadi pergi.
"Bilang ke temen kamu itu... bau cabe level limanya kecium sampe luar. Itu menjijikkan."
Setelah ngomong gitu, Arka jalan keluar dengan gagahnya, ninggalin gue yang lemes kayak jeli. Sumpah, ini lebih nakutin daripada duel lawan Saras. Diawasi sama ketua Dewan Kedisiplinan itu ibarat punya CCTV yang bisa kasih lo surat DO kapan aja.
Nggak lama setelah Arka pergi, Luci muncul dari balik tirai belakang. Mukanya udah seger lagi, tapi napasnya masih bau kencur.
"Udah pergi?" tanya Luci santai sambil duduk lagi.
"Udah. Dan gara-gara lo, gue sekarang jadi target utama dia! Kita bakal diawasin terus, Luc! Gimana kalau lo nggak sengaja ngeluarin sayap atau ngebakar gedung sekolah?!"
Luci cuma ngupil santai. "Ya tinggal kita bakar aja sekalian si Arka itu. Gampang kan?"
"NGGAK GAMPANG, BEGO!" gue tereak sampe seisi warung noleh.
Gue mijet pelipis gue yang mulai berdenyut. Gue sadar, hidup gue yang tenang dan penuh rebahan udah resmi berakhir. Di satu sisi ada dewan sekolah yang curigaan, di sisi lain ada iblis wibu yang nggak bisa dikontrol.
"Udahlah, Bim. Jangan dipikirin terus," kata Luci sambil ngambil krupuk terakhir di mangkok gue. "Mending sekarang kita balik. Gue mau lanjutin main PS. Lo janji kan mau bantuin gue lawan bos di game semalem?"
Gue natap mangkok seblak gue yang udah kosong. Terus natap Luci yang lagi asik nyedot sisa kuah.
"Luc," panggil gue.
"Apa lagi?"
"Lo... sebenernya kenapa mau-mau aja ikut gue? Maksud gue, lo itu petinggi neraka. Lo bisa aja bunuh gue pas kontrak itu terjadi terus balik ke sana, kan?"
Luci diem sebentar. Dia natap ke luar tenda, ke arah langit yang makin gelap. Untuk sedetik, gue ngelihat tatapan yang beda di matanya. Bukan tatapan tengil atau nakal, tapi tatapan yang kelihatan... kesepian?
"Di neraka itu ngebosenin, Bim," jawabnya pelan. "Semua orang isinya cuma teriak, marah-marah, atau saling sikut buat kekuasaan. Nggak ada yang berani ajak gue makan seblak pinggir jalan atau debat soal siapa karakter anime terbaik. Di sini... hidup lo berantakan, tapi seenggaknya lo nyata."
Gue tertegun. Nggak nyangka bakal dapet jawaban se-deep itu dari makhluk yang baru aja abis boker gara-gara cabe.
"Tapi tetep aja, PR matematika gue lo yang kerjain ya?" kata gue ngerusak suasana.
Luci langsung balik ke mode tengilnya. "Dih, ogah! Gue iblis, bukan guru les privat! Tapi kalau lo beliin gue DLC game terbaru... mungkin kita bisa bicarain lagi."
Gue ketawa kecil. Oke, mungkin punya iblis di kamar nggak buruk-buruk amat. Asalkan dompet gue kuat menanggung bebannya.
Kita berdua akhirnya jalan balik ke sekolah, lewat jalan tikus biar nggak ketemu Arka lagi. Tapi di balik bayangan pepohonan, gue tau kalau ini baru permulaan. Tatapan Arka tadi bukan cuma sekadar peringatan, itu adalah pernyataan perang.
Dan gue, Bima si tukang mager, harus siap-siap jadi tameng di tengah-tengah perang antara aturan manusia dan ego iblis.
"Eh Bim," Luci manggil pas kita udah deket asrama.
"Apa?"
"Besok nyobain bakso mercon yuk? Katanya ada yang isinya cabe rawit utuh."
Gue langsung lari ninggalin dia. "CARI AJA SENDIRI, DASAR IBLIS CABE!"
Malam itu, di kamar asrama nomor 404, suara tawa dan umpatan gara-gara kalah main game kedengeran sampe luar. Di luar, seseorang dengan jubah hitam berdiri di balik pohon, nyatet sesuatu di buku catatannya.
*Subjek Bima Adiwangsa. Tingkat ancaman: Belum terukur. Catatan tambahan: Familiar subjek sangat menyukai kuliner pedas. Perlu investigasi lebih lanjut.*
Permainan baru aja dimulai. Dan gue cuma berharap, besok pagi gue nggak bangun dalam keadaan sekolah udah jadi abu.