Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34
Allyssa tidak butuh basa-basi. Berhasil keluar dari sana saja ia sangat bersyukur. Ia langsung keluar, dan pergi dari tempat terkutuk ini.
Ia segera turun dan kembali ke halaman di mana pesta diadakan. Ia langsung menghampiri meja tempat keluarganya duduk.
Aruna menoleh ke arah Allyssa. Raut saudarinya terlihat tidak nyaman.
“Kenapa Lo? Ketiduran di toilet?” tanyanya setengah berbisik.
“Diam Lo!” Jawab Allyssa ketus.
“Mah, aku mau pulang.” Lanjut Allyssa membuat mamanya kaget.
“Lho acaranya belum selsai, sayang. Ini baru juga jam 9.”
“Mah Allyssa mau pulang.” Rengek Allyssa. Tak ada pilihan ia harus membujuk ibunya.
“Dress Allyssa ketumpahan jus. Sekarang basah, lengket, dan gak nyaman bangat Mah.” Lanjutnya lagi.
“Ya ampun kok bisa sih, sayang?” Ibu Allyssa mengambil tisu dari dalam tasnya. Lalu menyodorkannya pada Allyssa.
“Tadi sudah bersihin di toilet, tapi tetap saja lengket, Mah. Makanya Lyssa pengen pulang.” Ujar Allyssa.
Ibu allyssa menatap suaminya. Seolah meminta persetujuan.
“Yaudah pulangnya dijemput pak Suripto ya, mama telepon dulu.” Ujar sang ibu mengeluarkan Handpone miliknya. Ia langsung menghubungi supir keluarganya itu.
Sementara Aruna yang mendengar kata pulang, langsung meletakkan gelasnya.
“Kalau Allyssa pulang, aku ikut ya Mah!” ujar Aruna.
Sang ibu menghela napas. Ia sangat mengtahu watak anak-anaknya. Begitu yang satu pergi yang lain pasti akan ikut.
“Yaudah terserah kalian. Tapi sebelum pulang, pamit dulu sama teman mama sama papa ya. Gak sopan main kabur.” Ujar sang Ibu lembut.
Allyssa merasa enggan setengah mati. Berteemu orang baru, senyum, basa-basi itu hal yang tak ingin ia lakukan. Tapi karena sudah diizinkan pulang, ia mengangguk patuh. Sedangkan Aruna, seperti biasa, hanya mengikuti tanpa bantahan.
Ibu dan ayahnya berdiri, menuntun kedua putrinya ke pasangan yang duduk di meja di depannnya.
“Halo Jeng Lidya Pak Mahendra, kenalin ini kedua putri saya.” Ujar sang ibu.
Seseorang yang bernama Lidya tersenyum ramah.
“Ya, ampun cantik-cantik bangat!”
“Hallo om-tante saya Aruna” Aruna meraih tangan orang yang memiliki hajatan tersebut.
“Allyssa om-tante.” Lanjut Allyssa.
“Kalian lucu-lucu dan gemesin banget sih!” Puji Lidya Mahendra.
Mendengar pujian itu keduanya hanya tersenyum kecil.
“Jeng Lidya bisa saja! Oh ya, mereka berdua mau pamit duluan, soalnya besok harus berangkat pagi ke sekolah!” Alasan Ibu keduanya.
“Cepat bangat pulangnya. Kapan-kapan main ke sini lagi ya, sayang.” Tawar Nyonya Lidya Mahendra.
‘OGAH’ Batin Allyssa.
Setelah basa-basi yang terasa seperti seabad, sang ibu pun menyuruh keduanya pulang. Sementara ayah mereka sudah pergi se jak tadi dengan Pak Mahendra.
‘”Yaudah, sana tunggu pak Suripto di lobby depan. Mama papa di sini dulu.”
Sebelum menuju Lobby keduanya tak lupa menyalami pada sang ibu.
“Siap Mama” Ujar keduanya serentak.
Allyssa dan Aruna berjalan beriringan menuju lobby. Karena keduanya merasa sama-sama lelah, merka tak banyak berbicara. Menunggu supir beberapa menit lalu pulang ke kediaman yang nyaman.
...****************...
Acara di kediaman Mahendra benar-benar usai. Tawa yang tadi memenuhi halaman kini hanya tersisa gema samar. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan jejak langkah yang perlahan memudar.
Tuan Marvelle dan istrinya berjalan berdampingan menuju mobil mereka yang terparkir di halaman depan. Langkah mreka santai, tidak tergesa oleh malam yang terasa biasa saja.
Mereka masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju perlahan meninggalkan kediaman Mahendra. Mereka melaju menyusuri jalan malam yang sepi. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca depan. Sesekali kendaraan lain melintas, tapi tidak begitu banyak.